Nalar Laut Orang Nusantara

in Esai by
philipmantofa.com

Sebagian dari isi Nusantara adalah desa-desa maritim (pesisir): desa-desa yang bertebaran di pinggir-pinggir pantai dan di pulau-pulau kecil. Koloni-koloni maritim ini semakin tegas jika kita menyelam ke dalam arus sejarah, karena nenek moyang kita memang masyarakat “pelaut”.

Populasi dari masyarakat atau komune (pe)laut itulah yang membentuk jaring-jaring desa maritim; juga desa pesisir, di kepulauan kecil maupun besar di seluruh Nusantara. Dihuni oleh para nelayan dan orang-orang laut yang sebagian masih bisa kita saksikan hingga hari ini.

Dalam novel Romo Mangun, Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1987), kehidupan suku-suku laut di masa lampau itu dijadikan latar sebuah fiksi sejarah. Membaca novel ini, kita akan mendapatkan sedikit-banyak gambaran ihwal bagaimana suku-suku laut itu dulu hidup: mencari makan, bersosialisasi, serta mempertahankan diri dengan teritori lautan serta pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitarnya.

Tentang kampung-kampung nelayan atau desa-desa laut di wilayah pesisir di masa lalu, juga pernah dengan sangat baik digambarkan dalam, di antaranya, film buatan Thailand, Queens of Langkasuka (2008). Film ini berlatar masa lalu kerajaan Langkasuka, salah satu kerajaan Melayu Kuno. Negeri Langkasuka—yang juga pernah disebut dalam kakawin Negarakertagama ini—kini terletak di sekitar wilayah Pattani, Thailand Selatan. Kerajaan maritim ini di masa jayanya pernah diratui oleh tiga wanita hebat: Ratu Hijau, Ungu, dan Biru. Masa-masa ketika diratui oleh tiga wanita bersaudara itulah latar film ini diambil.

Dalam film tersebut, masyarakat/komune laut digambarkan hidup di pinggir-pinggir pantai; sebagian membuat rumah di tebing-tebing, dan berinteraksi dengan sesamanya dengan latar bahari. Anak-anak mereka sejak kecil diajari menyelam dan berenang di lautan. Bahkan sebagian mereka punya pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman yang cukup mendalam terhadap wilayah pesisiran dan lingkungan lautan, seperti ilmu menyelam di air dalam waktu yang lama, ilmu bergerak di dalam air selincah ikan.

Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu-kayu beratap rumbia berjajar di pinggir-pinggir laut (tebing dan karang di pantai). Film ini cukup menarik, selain soal perang dan korespondensi antarnegara, juga memberi kita gambaran ihwal kehidupan suku-suku laut: cara hidup, cara bersosialisasi, serta perkembangan perahu atau sampan-sampan mereka.

Kosmologi Laut

Wilayah Nusantara kaya dengan berbagai ilmu yang berlandaskan sistem keruangan (semacam ilmu planologi). Di masa kerajaan pedalaman (kerajaan agraris) misalnya, sebuah kota atau komune besar sering dibangun di antara sungai dan gunung (batas alam). Laut dan gunung adalah batas alam yang menjadi benteng dari penyerbuan dan serangan dari luar. Dan kota-kota yang pernah diduduki musuh dalam suatu peperangan akbar, tidak bisa untuk lebih lanjut ditempati. Kota yang telah dijarah (dimasuki musuh) ini, setelah direbut kembali, mesti dipindahlokasikan alias sudah tak pantas lagi dihuni. Ini juga bisa berlaku untuk kota-kota yang diluluhlantakkan bencana alam, seperti letusan gunung dan gempa bumi.

Perpindahan kota-kota ini justru dalam rangka mengaplikasikan pengetahuan yang berlandaskan pada kepatuhan terhadap kosmologi (ruang). Pengetahuan ihwal keruangan ini juga mengandung sistem orientasi. Pada masyarakat agraris, aktivitas ini senantiasa dilaksanakan, terutama oleh perancang kota dan penghuni-penghuni keraton.

Bagaimana dengan ranah maritim? Tentu tak jauh berbeda. Sebagai manusia laut(an), masyarakat Nusantara kaya akan pengetahuan mengenai seluk-beluk kebaharian. Karena ruang teritori mereka adalah samudera, sistem organisasi, orientasi ekonomi, dan susunan masyarakatnya juga berlandaskan nalar lautan.

Secara alamiah (given), Nusantara merupakan satu arsipelago. Nusantara sendiri berarti ’negara kepulauan’. Arsipelago secara esensial bukan berarti pulau-pulau yang dikelilingi air, melainkan perairan (lautan) luas yang ditebari pulau-pulau besar dan kecil. Air di situ (atau lautan), bukan mengemukakan sifat dan bawaan sebagai pemisah, melainkan faktor perekat satu sama lain: antarpulau besar dan kecil (Daoed Joesoef, 2014: hlm. 96).

Nilai kehidupan maritim itu, masih mengutip Daoed Joesoef, ternyata telah dihayati leluhur kita sedemikian rupa hingga rumah pun disamakan dengan kapal dan wadah mayat yang dikubur serta sarkofagus juga berbentuk perahu. Bukti-bukti akan penghayatan itu di antaranya, sebagaimana pernah diuraikan dosen arkeologi kelautan UGM, J.A Sanjaya, dari bentuk atap rumah adat Toraja dan Minangkabau serta bentuk penampakan rumah adat Nias yang sama bentuknya dengan kapal/perahu.

Orang Nias percaya bahwa leluhur pertama mereka berasal dari daerah Gomo. Menurut Johannes Hammerle yang dikutip Sanjaya itu—dan yang saya kutip dari buku Daoed Joesoef—gomo berasal dari kata ”omo” yang berarti rumah dan berarti pula perahu. Begitu pula pada Suku Dayak di Kalimantan, ketika mereka melakukan tiwah, upacara mengantarkan roh melalui tiang pantar ke langit, mereka meletakkan kerangka orang yang meninggal dalam miniatur jukung kayu yang kemudian diletakkan di atas bale-bale bambu atau kayu (Daoed Joesoef, 2014: hlm. 93-94).

Salah satu kontur budaya pesisir, sebagaimana dicatat oleh Adrian Vickers, memang adalah simbol kapal. Kapal, lazimnya dalam bentuk peti mati atau sarkofagus. Bentuk ini dipergunakan di berbagai daerah di Indonesia untuk merepesentasikan perjalanan jiwa. Dengan membandingkan kain tampan dan ritual Lampung misalnya, ada pendapat yang menyatakan bahwa kapal menyimbolkan gerak menempuh babak-babak kehidupan (Dijk dan de Jone, 1980; dalam Adrian Vickers, 2009: hlm. 61).

Rumah-rumah orang laut yang berada di daratan adalah miniatur-miniatur dunia maritim. Orang-orang laut, pada saat meluncur ke laut, membawa serta dengannya miniatur daratan berupa perahu yang mereka tumpangi. Perahu-perahu itu adalah miniatur-miniatur rumah di tengah laut. Begitu pula, orang-orang laut yang kembali ke daratan setelah berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan berada di lautan, mengkreasi tempat tinggal mereka di daratan dalam bentuk miniatur perahu dan benda-benda dari lautan.

            Dalam melayari lautan, para pelaut kerap menggunakan Angin Muson untuk bepergian dari darat ke laut, juga untuk kembali dari lautan menuju daratan. Angin Muson sendiri akrab bertiup dari barat laut ke tenggara, selama musim dingin tiba di belahan bumi utara; dan bertiup sebaliknya, dari tenggara ke barat laut, selama musim panas di utara. Jadi, mata angin semenjak dari dahulu memang berperan (besar) mengarahkan tujuan-tujuan perahu dan bahtera digesa-berlayar mengarungi hamparan samudera.

Nalar Laut Orang Nusantara

Jika badai adalah gangguan terbesar bagi perahu, maka angin adalah aspek yang mendasar dan penting bagi para pelaut dan perahunya. Angin Muson adalah angin yang mengarahkan gelombang migrasi manusia dari utara menuju Nusantara. Sebagaimana dicatat Agus Sunyoto, nenek moyang kita adalah pendatang ke Nusantara yang digesa oleh pergerakan Angin Muson ini. Gelombang migrasi yang kelak, antara lain, mewariskan agama Kapitayan. Kita tahu, zaman dulu para pelayar atau para pelancong Cina, yang hendak ke India mesti terlebih dahulu mampir cukup lama di Nusantara. Menunggu angin bertiup untuk melangsungkan perjalanan mereka ke Atas Angin.

Para pelancong ini di antaranya adalah I Tsing, Fah Hsin, dan mereka yang datang sebelum dan setelahnya. Kapal-kapal yang mereka gunakan mengibarkan layar dengan menggantungkan sepenuhnya pada arah angin. Dari Cina mereka berlayar ke selatan, mampir Nusantara menunggu angin membawa perahu mereka dari tenggara ke barat laut (India) atau ke negeri-negeri di Atas Angin. Dalam proses menunggu itu mereka memanfaatkan kesempatan untuk belajar di Sriwijaya yang notabene kerajaan maritim terbesar saat itu, yang di masanya menjadi salah satu pusat pengetahuan dunia.

            Angin yang bergerak di sekitar perahu itu oleh masyarakat nelayan ditandai, masing-masing diberi nama. Di antaranya, angin haluan dan angin buritan. Nama-nama angin ini menunjukkan dari mana ia bertiup. Angin haluan bertiup dari depan kapal ke buritan. Sementara agin buritan adalah angin yang bertiup dari arah belakang ke haluan (Adrian B. Lapian, 2008: hlm 2).

Menghafali angin dan menggunakannya untuk pelayaran merupakan bagian dari pengetahuan navigasi. Dan menjadi bukti bahwa kegiatan maritim di Nusantara memang sejak lama sudah mendominasi. Selain itu, pengetahuan astronomi sebagai bekal melayari lautan juga dihidupi. Konstelasi bintang yang khas ala kombinasi Indonesia antara lain dengan nama-nama sebagai berikut: mayang dan biduk, ini berasosiasi secara lekat ke dunia lautan/maritim (Adrian B. Lapian, 2008: hlm. 14).

Para pelaut Nusantara pun sudah sejak lama menguasai tata navigasi maritim. Misalnya di lautan mereka begitu sangat berkiblat pada angin. Arah angin ini memberi dorongan pada perahu mereka—selain untuk melaju—juga untuk mengalkulasi kecepatan perahu, arah, juga dapat membatasi ruang gerak ikan (hewan yang mereka buru). Menguasai karakter angin sama dengan menguasai arah dan jalur perahu.

Pengetahuan yang baik terhadap angin ini dapat membuat nelayan dan pelaut dengan mudah tahu, bahkan secara tepat, mengenai karakter ombak dan gelombang, terutama ihwal perubahan arus air laut saat mereka berlayar. Karakter dari tiga hal itu, di antaranya, memang digesa berdasarkan (atau mengikuti) arah angin. Begitu pula, perubahan cuaca di tempat yang agak jauh dari lokasi perahu, bisa diprediksi melalui pergerakan angin. Sebagaiman saat seperti itu kita alami di daratan: awan gelap di tempat yang agak jauh dari lokasi kita, akan sampai ke tempat kita atau tidak, bergantung pada (pergerakan) angin dan pembesaran awan gelap.

Dan, meski kita kaya dengan pengetahuan dan kearifan bahari, toh di masa kini—saya mengiyani pendapat Arif Satria (2015: hlm. 99)—bahwa upaya menemukan kembali identitas bahari itu tidaklah segampang balik ke masa lampau (romantisme sejarah) tapi juga ada makna berorientasi ke masa depan. Mengapa? Karena, meski secara geografis tak ada yang berubah dengan laut kita, secara sosial, ekologi dan faktor ekonomi, laut telah jauh berubah.

Dulu laut adalah jalan hidup para nelayan, masih kata Arif Satria, karenanya kearifan tradisional dan pengetahuan lokal kebaharian berkembang pesat. Kini, laut telah tereduksi salah satunya menjadi sekadar komoditas yang terus-menerus dieksploitasi tanpa kearifan dalam mengelola.

Akibat dari eksploitasi ini adalah krisis ekologi, krisis ikan dan pencemaran luar biasa tak tertanggungkan. Kerusakan terumbu karang, hilangnya beragam jenis spesies ikan misalnya, adalah di antara efek dari nafsu eksploitasi liar dan berlebihan. Belum lagi berbagai persoalan terkait lemahnya kedaulatan Indonesia di ranah bahari. Ada pertanyaan untuk direnungi, jika perlakuan kita terhadap laut tetap seburuk itu, kira-kira bagaimana generasi mendatang akan membentuk identitas kebahariannya?