Narasi Realisme Magis dan Kemesraannya dengan Kita

in Esai by
nicofineart.com

Diawali dari aktivitas para seniman sejak tahun 1920-an, dengan gaya lukisan yang tak proporsional—penyimpangan objek dari yang biasa menjadi tak biasa. Gerakan realisme magis muncul ke permukaan, menggempur stagnasi nalar manusia akan kemodernan an sich. Semisal, dalam lukisan tersebut tiba-tiba tubuh manusia dijadikan bengkok, kusam, karatan, dengan menampilkan bentuk-bentuk estetika yang aneh dan ganjil. Proyek realisme magis ini digarap pertama kali oleh kritikus seni asal Jerman, Franz Roh, 1925.

Melalui lukisan yang magis dan menyimpan banyak misteri, Roh menyihir dunia, memporak-poranda kreativitas para seniman pada waktu itu. Bagi Roh sendiri, lini terpenting dalam lukisan realisme magis adalah misteri pada objek konkret harus dimunculkan dalam bentuk lukisan realis.

Dimensi baru kesenian (seniman) yang dibuka oleh lembar-lembar seni lukis magis kemudian berimplikasi pada dunia sastra, yaitu terbitnya fajar realisme magis dalam karya sastra yang dipelopori oleh pengarang-pengarang Amerika Latin seperti Miguel Angel Asturias dan Jorge Luis Borges. Bahkan lewat buku kumpulan cerpen A Universal History of Infamy (1935) Jorge Luis Borges didaulah sebagai bapak realisme magis dalam bidang kesusastraan.

Suci Sundusiah menyebut karya sastra realisme magis berupaya memunculkan unsur magis berupa takhayul, kepercayaan masyarakat, dan agama yang berada di luar nalar manusia ke dalam realitas kehidupan sehari-hari. Dalam diskursus ini, realisme magis tidak termasuk dalam kajian teori sastra, melainkan lebih dekat pada genre karya sastra. Benturan antara yang realis dan magis dalam satu ruang dan saling bertubrukan hingga menjadi unsur kesatuan yang disebut realisme magis. Suatu genre sastra yang mempertemukan dua dunia yang nyata dan takhayul—kedekatannya dengan kepercayaan kuno—dongeng dan legenda—membuat genre ini akrab dengan dunia masyarakat, termasuk masyarakat kita.

***

Mari sedikit menengok kepercayaan masyarakat Indonesia mengenai hal yang mistis. Orang Jawa, misalnya, masih kental dengan ritual mistis. Falsafah orang Jawa yang bisa disebut ilmu kejawen ini merupakan perpaduan kepercayaan kepada segala bentuk ruhaniyah, mistis dan takhayul. Meyakini roh nenek moyang, makhluk halus, dan cerita rakyat kuno sebagai tegaknya keyakinan religiusitasnya. Kepercayaan dan keyakinan ini oleh masyarakat Jawa dipegang teguh dengan melestarikan ritual sesajen, selametan, dan bakar dupa kala malam Jum’at bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada yang menggerakkan.

Akulturasi budaya Hindu dan Islam juga turut memoles warna masyarakat kita, keberagaman cara pandang dan keyakinan yang bersumber dari ajaran agama. Hindu maupun Islam lantas mengikat keimanan masyarakat pada hal-hal yang mistis dan ruhaniyah. Kepercayaan ini terus dilestarikan untuk tetap mengukur baik buruknya tingkat religiusitas suatu masyarakat. Demikianlah, semesta masyarakat Indonesia yang memang kaya akan kepercayaan-kepercayaan mistis semakin kokoh dengan potret kesusastraan realisme magis di tengah gemerlap medernitas.

Maka dari itu misi realisme magis diterima oleh pengarang-pengarang Indonesia sebagai medium sekaligus respons atas kekayaan budaya dan tradisi yang ada di negara ini. Di gelanggang kesusastraan kita, tema-tema magis dan mistis dapat kita jumpai dalam cerpen-cerpen Danarto. Danarto dengan tema-tema cerpennya yang disandarkan pada dongeng, kepercayaan masyarakat akan kekuatan di luar rasio, disebut-sebut sebagai penggerak jalannya realisme magis di Indonesia. Salah satu cerpennya “Mereka Toh Tidak akan Menjaring Malaikat”, merupakan sekian dari cerpen Danarto yang bertemakan realisme magis. Sepintas, siapa yang bisa melihat malaikat? dalam cerpen Danarto tersebut Jibril dihadirkan ke dunia nyata dan bermain dengan anak-anak, dan anak-anak tersebut bisa melihat Jibril yang serupa burung tertangkap dalam jaring tukang kebun.

Dalam nalar biasa, Jibril hanya hidup dalam dongeng yang diperjelas oleh al-Quran untuk menyampaikan wahyu kepada nabi; dia gaib, tak tersentuh, tak terlihat. Namun dalam cerpen “Mereka Toh Tidak akan Menjaring Malaikat”, Jibril dapat dilihat oleh anak-anak dan bermain riang dengan mereka. Dengan alasan-alasan kategoris realisme magis cerpen Danarto kemudian bisa diterima akal: bahwa anak-anak yang belum baligh itu suci, jiwanya masih tak ternoda, hatinya bersih dari prasangka-prasangka, makanya anak-anak dapat melihat malaikat.

Perspektif Danarto tentang yang magis berkait erat dengan budaya dan tradisi Jawa. Ketika ada orang mati, misal, kita sering mendengar hikayat magis dari orang tua dan nenek kita, bahwa anak-anak yang masih belum baligh dilarang dekat dengan orang mati, karena anak kecil bisa melihat arwah orang mati yang pergi meninggalkan jasadnya.

Peleburan dunia Jibril yang khayali dan dunia manusia yang nyata dalam cerpen Danarto dengan medium anak-anak dapat diterima oleh publik luas, karena unsur cerpen yang dibangun Danarto ternyata bersentuhan dengan tradisi dan nalar manusia. Konteks magical dalam cerpen realisme magis Danarto memang sesuatu yang ada di ruang interaksi masyarakat dan dapat dipercaya oleh masyarakat, pesta pora takhayul yang bertubrukan romantis dengan realitas dapat dirayakan di dunia masyarakat dan dunia sastra sekaligus.

Hingga dekade ini, cerpen-cerpen yang muncul ke permukaan baik melalui kualifikasi media atau buku berkecendrungan berlatar realisme magis. Genre realisme magis yang diterima di kalangan masyarakat kita sealur dengan ungkapan Donald L. Shaw (2005), bahwa pada saat ini mitoslah yang muncul sebagai topik utama secara berulang dalam sebuah karya. Peran modernitas yang digaduhkan dengan mimpi semu positivistiknya Auguste Comte ternyata tidak benar-benar menyelamatkan nalar manusia mengenai yang takhayul, mistis, dan aneh. Malah, kegiatan manusia terus bersandar dan meyakini yang takhayul dan yang mistis adalah bukti dari ke-Ada-an manusia. Barangkali basis inilah yang juga mendorong Muchtar Lubis dalam ceramah kebudayaannya di Taman Izmail Marzuki tahun 1977 mengungkap bagian karakter manusia Indonesia yang “percaya takhayul”.

Anwar Noeris

Anwar Noeris

Mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif berkesenian di Komunitas Kutub Yogyakarta.
Anwar Noeris

Latest posts by Anwar Noeris (see all)