Narasumber dan Remeh-Temehnya

in Celoteh by
googleusercontent.com

Sewaktu saya pergi ke rumah paman yang jaraknya berkisar 250 meter dari rumah, saya bertemu dengan seorang santri yang juga sedang berkepentingan untuk menghadapnya (bukan menghadap-Nya, lho) di depan pintu rumahnya. Begitu si paman muncul, kami dipersilakan duduk.

Karena si paman itu tahu kalau si santri tampak berwajah kuyu, ia yang ditanya lebih dulu, apa keperluannya. “Pukul 9 ini ada materi kepesantrenan di aula. Kiai Halimi tidak bisa hadir. Kata santrinya, beliau pergi kondangan, mungkin beliau lupa.”

“Kok bisa mendadak begini? Tidak ada konfirmasi sebelumnya?”

“Kurang tahu. Saya hanya ditugaskan untuk melapor. Yang ngurus teknisnya Pak Aliem.”

“Kalau begitu,” kata paman seraya mengubah arah pandangan ke saya, “kamu yang gantikan. Bisa?”

“Loh?”

Iya, kamu saja!”

“Baik,” kata saya, datar, tidak sambil mengangkat kedua bahu seperti di film-film.

Jam sudah pukul 08.35. Waktu tersisa tinggal 25 menit lagi.

Kali ini, Paman melihat si santri, memastikan kesiapan saya sebagai pemain pengganti. Andaikan saya ada di lapangan hijau, posisi saya itu… mmm… jangankan duduk di tribune, masuk stadion saja belum, tapi malah langsung disuruh bermain di menit-menit terakhir menjelang laga. Lebih parah lagi karena si paman melupakan sesuatu. Apa itu?

“Eh,” kata saya kepada si paman, “Kepentingan saya kan belum ditanya, Paman? Kok malah langsung disuruh menggantikan peran orang?”

***

Gambaran di atas mungkin membuat Anda berasumsi dua hal tentang saya: “mudah menerima perintah” dan “gampangan”. Gampangan terkadang bermakna asyik tapi juga terkadang dianggap “murahan”. Sungguh, mengambil “sikap gampangan” itu tidak gampang, harus punya bekal kepasrahan dan kesantaian. Namun, sikap yang akan membuat orang lain gampang senang ini juga berpotensi akan merusak “nilai jual” seseorang karena akan diperlakukan “gampangan” di masa berikutnya. Ada beberapa contohnya.

Saya sering diundang sebagai narasumber pengganti dengan surat undangan yang menyertakan manual acara di mana pemateri aslinya (yang tidak bisa hadir) masih tertera di sana, entah lupa dicoret atau panitia memang enjoy karena yang dihadapinya adalah orang gampangan. Bahkan, suatu waktu, bukan cuma di surat yang nama pemateri asalnya masih tertera, di banner pun masih begitu, bukan nama saya. Ini sepele, tak masalah bagi saya.

Salah satu prinsip gampangan adalah mengambil sikap “tidak merepotkan” di dalam hal fasilitas (Saya akan tetap pakai contoh saya sendiri karena saya tahu tidak semua orang suka dengan sikap seperti ini). Contoh: ketika saya diundang ngomong di—anggaplah—kota Malang, biasanya, panitia akan menawarkan diri untuk menjemput ke Terminal Arjosari dengan mobil, atau bahkan hingga penjemputan ke Surabaya. Menurut saya, terutama opsi kedua, sangat tidak penting karena transportasi publik ke Malang sudah baik dan mudah. Begitu pun, dari terminal banyak angkot ke berbagai tujuan. Kota Malang itu, bahkan hingga ke gang kecil pun, dilewati angkot. Akan beda urusannya jika acaranya diletakkan di Puncak Gunung Sumbing, misalnya, atau di dalam ngarai yang tidak ada jalan akses apa pun ke sana. Jadi, wajar jika panitia menawarkan kuda sebab kita tidak mungkin bawa kuda sendiri dari rumah.

Kita maklum, cara seperti itu (menjemput/penjemputan) tentu saja terkadang memang merupakan SOP atau semacam bentuk penghormatan kepada pemateri/narasumber. Nah, di saat inilah perlunya kerjasama, lebih-lebih bagi narasumber. Menurut saya, narasumber mestinya melalukan “orientasi medan” terlebih dahulu ketika dia hendak hadir atau diundang ke sebuah acara, baik dengan cara cari informasi lewat internet atau tanya langsung ke panitia. Jika sudah tahu angkutan ke lokasi itu sangat mudah, ngapain juga minta dijemput? Borosnya akan bertingkat-tingkat, lho: boros energi, boros tenaga, boros waktu (bagi penjemput), boros emisi karbon (perspektif lingkungan), pokoknya tidak efektif.  Akan tetapi, akan beda ceritanya jika si narasumber memang butuh penjemputan dengan mobil pribadi karena punya satu atau beberapa alasan, misalnya:

  1. Tidak biasa naik angkutan umum, bikin mual dan muntah
  2. Ingin mampir-mampir di warung, wisata kuliner
  3. Ingin sambil nulis makalah atau esai atau tugas jurnalistik di mobil
  4. Ingin tidak terlalu tampak “gampangan”

Yang repot itu kalau begini: narasumber masih segar-bugar, dan—maaf—ngetopnya juga tidak seberapa, tapi, eh, minta dijemput dengan banyak syarat, seperti harus pakai mobil premium, hotel ini-itu, dan lain-lain. Tentu saja panitia akan meladeni meskipun setengah terpaksa. Menyedihkan jika panitia harus harus sewa mobil di saat sistem transportasi massalnya sudah sangat baik dan menjangkau lokasi.

Di antara narasumber yang paling gampangan yang saya tahu adalah Wak Khalid Salleh. Ketika saya mengundang aktor dari Malaysia itu, media yang saya gunakan hanyalah Facebook. Bersama seorang teman yang sama sepuhnya, beliau datang untuk pentas monolog lakon “Jual Ubat”, di desa saya, di Guluk-Guluk. Dari Malaysia, beliau itu langsung ke Surabaya. Beliau baru menghubungi saya ketika sudah tiba di Sumenep. Dan pada saat saya akan menjemputnya ke kota, tiba-tiba beliau bilang kalau beliau sudah sampai di lokasi dengan angkutan umum.

***

Dari sini, saya dapat menyimpulkan bahwa tiap narasumber itu memang beda-beda tipenya. Ada yang gampangan karena memang santai, ada yang ruwet karena jadwalnya memang rapet. Ada pula yang sebetulnya santai tapi bawaannya (biasanya karena protokolernya yang) kadang suka bikin ribet cara mengundangnya. Jika ingat situasi narasumber yang sibuk, saya ikut merasa ngeri membayangkan ada narasumber, terutama penceramah, yang jadwalnya rapat padat merayap kayak lalu lintas kota Jakarta. Kalau pas di waktu acara beliaunya demam berat? Flu berat? Gimana, ya? Padahal mereka biasanya tidak punya dokter pribadi, bahkan cenderung lemah kontrol kesehatannya karena sering kecapekan.

Makanya, saat kita akan mengundang narasumber, baik itu penceramah, dai, motivator, haruslah bikin acuan targetnya. Apa alasan mengundang dia? Mengapa harus dia? Apa hanya karena terkenal atau karena memang berbobot di bidangnya? Kita dapat tanya-tanya dulu perihal materi yang biasa disampaikannya. Kita juga cari tahu lebih dulu “Wikipedia”-nya dari lembaga lain yang pernah mengundangnya. Semua pertanyaan di atas itu adalah acuan standar. Soalnya, ada narasumber yang kapasitas keilmuannya mumpuni, tapi “penguasaan panggung”-nya rendah sehingga kerap kali pesannya tidak sampai ke hadirin.

Jadi, jika Anda diundang ke sebuah forum atau majlis, baik sebagai pemakalah, panelis, dai, dll.), cobalah sekali waktu mikir, mengapa panitia itu mengundang Anda dan tidak mengundang yang lainnya. Apakah Anda diundang karena kapasitas keilmuan Anda atau karena sebagai “pemain cadangan”? Apakah Anda diundang karena kemasyhuran Anda atau karena “tarif bersahabat”? Mempertanyakan hal-ihwal dengan model pertanyaan seperti di atas—sekurang-kurangnya—akan membuat kita akan menjadi lebih sabar (kalau sadar) andaikan para audien atau mustamiin di forum/majlis itu kurang peduli atau bahkan tidak mempedulikan kita. Maaf, ya, barangkali kita ini memang suka terlalu tinggi menilai diri sendiri sehingga merasa setiap omongan kita wajib didengarkan dan diikuti.

M. Faizi

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)