Narsisme dalam Pilkada

in Hibernasi by
Sumber gambar SindoNews.net
Sumber gambar SindoNews.net

“Menjadi orang berkuasa mirip dengan menjadi seorang gadis. Jika Anda harus memberi tahu orang siapa diri Anda, biasanya Anda tidak tahu.” (Margaret Thatcher)

 

Pelaksanaan pilkada secara serentak di negeri ini sungguh menyuguhkan panggung drama politik yang sangat lucu—atau bisa menegangkan bagi mereka yang sedang masuk dalam arena pertarungan.

Calon bupati dan wali kota banyak yang tengah dibayang-bayangi tokoh dalam mitologi Yunani, Narcissus. Ia digambarkan sebagai sosok yang sangat tampan, bangga diri, sombong, dan tidak tahu malu.

Seorang peramal hebat mengatakan kepada ayahnya yang bernama Cephissus, bahwa si kecil mungil Narcissus akan beruntung dan berumur panjang bila tidak melihat atau bangga terhadap dirinya sendiri.

Karena tingkahnya semakin menjadi-jadi, tafsiran sang peramal itu benar adanya. Dewi Aphrodite menjebaknya ke sebuah kolam kecil yang jernih. Ia hendak minum di kolam kecil itu. Karena melihat bayang-bayang dirinya sendiri yang tampan, gagah, dan banyak dicintai wanita, ia sangat senang dan bangga, ia pun lupa diri bahwa ada bahaya di sekelilingnya.

Tak lama kemudian Eros, sang putra Aphrodite, meluncurkan anak panah tepat di ulu hatinya. Berakhirlah kisah sang pemuda yang tampan, bangga diri, dan sombong itu.

Dalam kajian psikoanalisis Sigmund Freud, hasrat untuk bersikap narsis bagi manusia masa kini didorong oleh insting mempertahankan diri, hasrat berkuasa, menggambarkan kekuatan diri sendiri, Freud menyebutnya Id.

Dorongan tersebut berlangsung secara alamiah dari dalam diri, membentuk sebuah gumpalan kecintaan terhadap diri sendiri, mengangkat potensi-potensi positif diri sendiri, menutup aib-aib diri sendiri, sehingga Id itu mendorong untuk semakin cinta terhadap diri sendiri dan orang lain di luar diri seolah-olah hanya bayangan kecil yang tidak penting.

Padahal bayangan-bayangan kecil itu menyimpan bahaya besar yang nantinya akan menamatkan riwayat diri sendiri. Ketika Id berkuasa sedemikian kuat, kecintaan terhadap diri sendiri itu akan berubah pola menjadi ego. Kekuatan ego menyusun rencana membangun kekuatan ke-aku-an yang mampu menguasai realitas.

Ego yang demikianlah tengah terjadi dalam pola pencalonan bupati dan wali kota dalam pilkada serentak kali ini. Lihat saja orang-orang yang tidak berperilaku sebagaimana biasanya—lebih tepatnya berperilaku bukan dirinya sendiri. Ia berpakaian rapi, memakai kopiah hitam, baju putih, lalu diarak dengan menggunakan mobil untuk mendaftar ke KPU, sebagaimana salah satu calon bupati Sidoarjo. Begitu di tengah jalan, mobil yang ditumpanginya mogok dua kali.

Sang tokoh drama politik yang narsis itu masih berdalih di televisi. “Itu sebenarnya tidak mogok, tapi sengaja dimatiin mesinnya, biar lebih dekat dengan masyarakat.” Bukankah dalih itu sudah “gila” (tidak biasa)—tentu dalam pemahaman masyarakat umum yang (mungkin) awam atau (mungkin) terlalu cerdas.

Topeng Politik

Politik memiliki peran sebagai alat berstrategi. Pertanyaannya kemudian, apakah bertopeng dalam gerakan politik bagian dari strategi? Orang-orang terdahulu menerima jabatan politik yang diamanatkan kepadanya dengan sangat sedih. Namun, realitas calon pemimpin saat ini justru berbondong-bondong dan berebut untuk menjadi pemimpin.

Cabup atau cawabup memaknai kursi kepemimpinan masa kini bukan sebagai bentuk tanggung jawab yang berat untuk mengarahkan masyarakat menuju sejahtera. Tetapi kursi kepemimpinan telah disimplifikasi sebatas ruang kerja. Mencalonkan diri menjadi cabup atau cawabup tak ubahnya melamar pekerjaan di sebuah perusahaan atau instansi.

Nilai-nilai tanggung jawab berat yang harus diusungnya telah sirna. Itulah sebabnya, mengapa para politisi baik di daerah maupun di pusat banyak yang memakai topeng untuk menutupi aib atau cedera sejarah masa lalu agar dapat lolos ke panggung pemerintahan selanjutnya. Jika diperlukan, mereka tak segan-segan menggunakan money politic.

Masyarakat belakangan ini semakin mengerti bahwa mereka semakin ditinggalkan oleh calon pemimpin mereka. Sebab itulah, masyarakat semakin cuek, apa pun aksi yang dilakukan oleh para calon bupati maupun calon wakil bupati. Masyarakat sudah banyak yang memiliki persepsi bahwa aksi cabup dan cawabup adalah aksi sesaat untuk meloloskan interest mereka di kursi nomor satu dan dua.

Sudah banyak yang beredar di media massa, para calon dalam pilkada kali ini adalah orang yang memiliki track and record yang buruk di pemerintahan, misal mereka telah terlibat dalam kasus korupsi. Tetapi dalam seleksi yang dilakukan oleh partai politik, masih saja diloloskan. Praduga sementara, mungkin saja mereka lebih banyak menyetorkan mahar politiknya.

Tradisi mahar politik yang diberlakukan sistem partai itulah yang dapat menghancurkan sistem kepemimpinan kita. Kapitalisasi partai politik sejatinya telah menjerumuskan nilai-nilai kepemimpinan ke dalam sebuah situasi yang sangat mengerikan.

Rakyat yang pada mulanya menjadi tumpuan paling agung dalam sistem demokrasi, kini dengan kapitalisasi partai politik dalam pilkada, uang bekerja seolah-olah lebih cerdas dari nilai-nilai kebaikan. Akhirnya, siapa pun yang memiliki banyak uang, akan menang. Itulah sejatinya hukum rimba yang mulai beroperasi alam sistem politik kita.

Revolusi Mental

Masyarakat sebenarnya memiliki harapan besar terhadap issue revolusi mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo. Tetapi, apakah revolusi mental itu dapat mengalir deras kepada para calon bupati dan wakil bupati dalam pilkada kali ini?

Bagaimanapun baiknya sistem yang kita buat, tetapi manusia yang menjalankan sistem tersebut masih buruk, tentu perlahan-lahan sistem yang baik akan dirongrong dari dalam oleh pemimpinnya sendiri.

Itulah sebabnya, mengapa mantan presiden Tiongkok menyediakan 101 keranda dalam perjalanan kepemimpinannya. 100 untuk para koruptor dan 1 keranda untuk dirinya sendiri.

Pemimpin yang baik semestinya tidak butuh narsis dan bertopeng sebagaimana yang telah ditampakkan oleh calon pemimpin dalam pilkada belakangan ini. Akan tetapi, pemimpin yang baik selalu berusaha untuk membangun nilai dan aksi yang baik di hadapan publik.***

Ahmad Muchlish Amrin

Ahmad Muchlish Amrin

Lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan lain-lain.Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud, Bali. Kini mengelola Komunitas Tang Lebun di Yogyakarta.
Ahmad Muchlish Amrin

Latest posts by Ahmad Muchlish Amrin (see all)