Naskah Agung

in Tajalli by
tacno.net

Karena Nabi Muhammad Saw. merupakan orientasi terpenting dari kehendak Allah Ta’ala yang azali dalam konteks keterkaitannya dengan penciptaan, maka dapat dipastikan adanya dua hal berikut ini. Pertama, tidak ada yang lebih sempurna, lebih istimewa, dan lebih mulia di antara seluruh makhluk di hadapan hadiratNya dibandingkan dengan beliau.

Posisi itu yang kemudian menjadikan beliau sebagai اقرب الوسائل atau paling dekatnya perantara kepada Allah Ta’ala. Sehingga dapat digaransi bahwa siapa pun yang mendekat kepada beliau secara spiritual bisa dipastikan dia akan menjadi orang yang mendapatkan kedudukan yang mulia di hadapan hadiratNya. Itulah sebabnya umat Islam dengan tegas diperintahkan untuk mencontoh tauladan-tauladan beliau dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan.

Kedua, secara substansial, tidak ada siapa pun dari kalangan makhluk yang lebih “mirip” dengan Allah Ta’ala dibandingkan dengan Nabi Muhammad Saw. Kemiripan di sini tidak ada sangkut pautnya dengan rupa, bentuk dan warna. Karena dapat dipastikan bahwa Allah Ta’ala itu Mahasuci dari hal-ihwal tersebut. Tapi lebih menunjuk kepada akhlak dan perilaku beliau secara esensial. Itulah sebabnya kenapa pada suatu hari beliau pernah melontarkan sabdanya, “Berakhlaklah kalian sebagaimana Allah Ta’ala.” Itulah pula sebabnya kenapa Siti ‘Aisyah, istri beliau, pernah menyatakan bahwa akhlak Nabi Pungkasan Saw. itu tidak lain adalah al-Qur’an. Artinya adalah bahwa tidak ada satu pun dari kalam hadiratNya itu yang tidak diamalkan dengan sepenuh hati oleh beliau.

Dari sini kemudian bisa ditarik sebuah konklusi bahwa kehadiran beliau di pentas sejarah kehidupan umat manusia secara hakiki merupakan salinan yang paling sempurna dan cemerlang dari kehadiran Allah Ta’ala itu sendiri. Beliau merupakan naskah agung paling autentik yang datang langsung dari hadiratNya. Sikap hidup dan sepak terjang beliau senantiasa dipandu oleh tangan kemahaanNya sehingga selalu terjaga dari keterperosokan dan perbuatan serong yang bisa menjadikan namanya tercemar.

Sebuah stempel transendental datang secara langsung dari suatu ayat di dalam al-Qur’an yang menjamin keterjagaan beliau dari kekalahan terhadap keburukan dan kekelaman nafsu. “Dan tidaklah beliau bertindak karena hawa nafsu melainkan dibimbing wahyu yang diturunkan kepadanya,” (QS. An-Najm: 3).

Dan karena Nabi Muhammad Saw. merupakan yang paling inti dari seluruh rangkaian penciptaan, merupakan naskah paling agung, merupakan realitas yang paling utuh dari segala wujud, merupakan ringkasan paling mulia dan paling sempurna dari seluruh yang ada, sangatlah pantas kalau beliau mendapatkan pertolongan yang terbesar dari Allah Ta’ala. Sebab, lewat perantara beliaulah rahmatNya itu mengalir dan memenuhi segenap alam semesta.

Ibarat sebuah wadah, beliau adalah wadah karunia yang paling luas, paling besar, dan paling tangguh. Sehingga beliau sangat memenuhi syarat untuk menerima sebanyak mungkin keberuntungan dan karunia dari hadiratNya. Sampai-sampai ada ungkapan tentang beliau di kalangan para sufi bahwa para nabi itu diciptakan dari rahmat Allah Ta’ala, sementara junjungan umat Islam Nabi Muhammad Saw. tak lain merupakan rahmat itu sendiri.

Dan rahmat terbesar dan paling bergengsi secara spiritual itu adalah karunia rohani. Seluruh karunia materi hanyalah secuil kalau dibandingkan dengan karunia rohani. Karena itu, tidak akan pernah ada siapa pun yang telah mencicipi dan mengunyah rahmat rohani akan menjadi tergila-gila dan memburu karunia materi semata. Tidak mungkin. Karena jarak perbandingan di antara keduanya itu sangat jauh, jauh sekali. Seperti jauhnya jarak nilai antara tumpukan kerikil dengan intan permata.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)