Ngawruhke

in Celoteh by

Di gembur tubuhmu

Lelaki menanam benih

Sebab engkau ladang

Yang mengeram kehidupan.

Royyan Julian, “Tabung Hayat”

Gerangan apakah yang mampu menggerakkan seseorang menempuh perjalanan Jogja–Purbalingga sehabis Subuh, setelah semalam begadang sampai pukul tiga dini hari? Letih, payah, ngantuk, lemas, berkunang-kunang, sudah pasti. Gerangan apakah yang berhasil menaklukkan segala rasa tak nyaman itu?

Kasur bantal nan empuk tentu lebih diharapkan. Desir AC yang dingin dijamin makin mendengkurkan lelap. Lunas segala letih dan kantuk terbayar. Gerangan apakah yang mampu manjadikan seseorang melupakan fasilitas-fasilitas nyaman itu?

Seseorang memilih berangkat ke pernikahan seseorang lainnya, yang umpama pun tak dihadirinya, lalu cukup ia bertutur via WhatsApp: “Maaf, ya, saya berhalangan tak bisa menghadiri pernikahanmu. Semoga sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.”, itu sudahlah cukup.

Apa gerangan yang mendorongnya memilih bertarung dengan segala penat dan ketaknyamanan yang luar biasa?

Pukul sebelas siang tibalah ia di lokasi acara yang sangat asing. Tak ada yang dikenalnya kecuali mempelai yang kawannya. Ia pun bersalaman, menebar senyum dan tawa, seturut merayakan bahagia. Setengah jam berselang ia undur diri, kembali ke Jogja. Kembali dihajar penat, letih, ngantuk, lemas, dan kepala berkunang-kunang.

Sekali lagi, gerangan apakah yang sanggup menggerakkan semua “ketidaklogisan” perjalanan dan keadaan itu?

Ngawruhke, kata orang Jawa. Nguwongke. Memanusiakan manusia; memanusiakan teman yang lagi berbahagia.

Temannya tentu bahagia, berbunga, lalu seusai resepsi pernikahan mendengkurlah dengan pengantinnya—tepat saat ia masih berjibaku di jalanan yang kembali gelap dan bayangan rumah, anak-anak, istri yang masih jauh di mata.

Semakin kerap memikirkannya, saya makin meyakini bahwa puncak capaian eksistensial hidup kita sebagai manusia ialah menjadi manusia itu sendiri dan lalu menempiaskan capaian tersebut menjadi ekspresi-ekspresi memanusiakan manusia lainnya.

Mulla Sadra, seorang filsuf, alim ulama, dan sufi dari Iran, membuat satu istilah yang saya ingat betul: tasykikul wujud (hierarki eksistensial). Ia menjelaskan maksudnya setamsil pendar-pendar cahaya di atas sana yang tertangkap oleh sejumlah pasang mata. Cahaya yang benderang itu memantul-mantul di langit, di udara, di antara benda-benda, dan lindap ke banyak kelopak mata. Semuanya menghadirkan tangkapan atas cahaya itu, Wujud itu.

Apakah itu benar-benar kesejatian Cahaya?

Jelas tidak. Itu hanyalah pendar-pendar cahaya, gradasi-gradasi cahaya, lalu kita menyebutkan sebagai cahaya.

Cahaya itu kiranya adalah Kewujudan kita, Eksistensi kita, Realitas Ultim kita, dalam segala konteks dan ekspresi kemanusiaan kita.

Cahaya itu bila sederhananya kita sebut Kemanusiaan kita, maka ia adalah puncak paripurna dari segala apa yang menjadi impian semua ras manusia lintas apa pun.

Mari tanyakan: adakah nilai yang lebih diimpikan oleh kita semua selain diwongke, dikawruhke?

Boleh saja ada seseorang menyatakan bahwa impian terbesarnya dalam hidup ini ialah mencapai kesuksesan pangkat. Baiklah, itu tak salah—tapi ingat dalam skema Mulla Sadra bahwa itu hanyalah pendar-pendar cahaya, bukan cahaya itu sendiri. Seseorang lainnya pengin sekali menjadi penulis besar. Orang lainnya pengin membangun bisnis sambal manyung atau mendoan nasional yang memberinya omset bersih neto minimal seratus juta per bulan. Dan sebagainya, dan selainnya.

Sebutlah Anda telah mencapai semua “pendar cahaya” itu. Sudah cukup? Jelas tidak. Jelas pengin lainnya lagi, di atasnya lagi, dan terus begitu.

Lalu, kalau begitu, sekali lagi, adakah impian terbesar di atas segala pendar impian hidup ini selain diwongke, dikawruhke, sebab ternyata label itu tak lagi menghasratkan apa lagi di atasnya?

Anda yang kaya raya ingin dihargai, dihormati, diperlakukan sepantasnya sebagai manusia yang punya perasaan, impian, dan harapan.

Anda yang kurang beruntung secara materi juga memiliki ekspektasi yang sama dengan mereka yang taipan-taipan, bukan?

Anda yang sedang di atas angin dalam kekondangan dan kejayaan sangat ingin dihargai privasinya, diberi hak pantas untuk punya waktu yang tenang dan cukup bersama para sahabat dan keluarga.

Anda yang sedang berjuang dengan sangat berdarah-darah untuk menjadi penyair menyimpan impian untuk dianggap ada, berguna, dan menyenangkan sebagaimana para pesohor yang dielu-elukan para pemujanya.

Semua kita ternyata hanya menyimpan ekspektasi yang sama, yang utama, yang kita akan sangat guncang dan murka jika diremukkan siapa pun, yakni diwongke, dikawruhke.

Kata kerja pasif tersebut (diwongke, dikawruhke) sudah niscaya kita memafhuminya bekerja secara mutualis dengan kata kerja aktifnya (nguwongke, ngawruhke). “Di” tidak mungkin bekerja tanpa pelakunya, “me”. “Dimanusiakan” akan tiada wujudnya tanpa ada yang “memanusiakan”. Dan, mutlak benar bahwa kedua kata kerja itu (pasif dan aktif sekaligus) menjadi hak dan kewajiban yang inheren pada siapa pun dan kapan pun, tanpa kecuali. Muskil terpisahkan. Dalam pelbagai konteks dan ekspresinya.

Atas kesadaran tersebutlah lantas kita semua memafhumi—minimalnya secara kognitif yang paling purba dan sederhana, bahkan relevan disebut “instingtif”—bahwa kita siap dan rela melakukan hal-hal yang tidak logis dan ganjil demi merawat mekanisme simbiosis ngawruhke, nguwongke itu. Ini tak perlu diterakan secara tertulis, diregulasikan. Sama sekali tak perlu. Ia otomatis selibat di dalam suatu relasi, apa pun, dan siapa pun yang menistanya niscaya akan menuai risiko yang setimpal dengan perbuatannya.

Jika Anda diundang orang, misal, lalu Anda tak datang, bersiaplah untuk mendapatkan perlakuan yang sama tatkala Anda mengundang mereka. Jika Anda tidak memenuhi mekanisme simbosis ngawruhke, nguwongke, bersiaplah untuk ditimpuk batu kesedihan di kemudian hari.

Selalu begitu, selalu begitu.

Bahwa dalam pelbagai praktiknya lantas wujud ekspresi ngawruhke, nguwongke itu tidaklah sama antarorang, antarwilayah, antartradisi, itu hal lain yang akan sepantar dengan kemampuan menangkap pendar-pendar Eksistensial itu. Dan di titik inilah istilah tasykikul wujud itu memperlihatkan ekspresi kemajemukannya.

Siapa yang berhasil menangkap pendar tinggi pada tangga tasykikul wujud itu, maka ekspresi wujudnya dalam ngawruhke, nguwongke akan setinggi itu pula. Siapa yang menjangkau di tahap bawahnya, maka kualitasnya dalam ngawruhke, nguwongke juga akan begitu. Begitupun yang ada di atasnya, atasnya lagi, bawahnya, bawahnya lagi, dan seterusnya. Kita lazim menyebutnya sebagai “standar moral”, misal, yang jelas takkan sama antarhati yang peka dengan hati yang dibiasakan bebal.

Apa pun itu level pendar cahaya yang ditangkap oleh kelopak mata kita, di situlah kita akan menuai plus atau minusnya ngawruhke, nguwongke. Mutu ekspresi yang kita produksi dan tuaian ekspresi yang kita terima akan sejajar benar dengan level standar moral itu.

Ibda’ binafsik, mulailah dari dirimu sendiri, begitu nasihat Nabi Saw.

Kafe Basabasi, 30 Januari 2018

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu

Latest posts by Edi AH Iyubenu (see all)