Nongkrong Yang Tidak (Perlu) Membanggakan

in Celoteh by

3840x2400-martini_digital_coffee_building_drink_building_in_the_drinks_art_whiskey_wine-8664

Jika Anda tidak tahu nama sebuah kafe yang disebut kawan Anda untuk meet up, rasanya seketika Anda sangat kedaluwarsa jadi manusia. Expired! Sebuah label yang amat mengerikan, semengerikan menjadi tua dan tak bermakna.

Inilah masa di mana Anda tertuntut untuk tahu semua spot di kota Anda untuk makan, minum, dan nongkrong. Kongkow. Kualitas ke-tahu-an Anda secara psikososial berbanding lurus dengan kualitas “eksistensial kemanusiaan” Anda. Mengharukan sekali, bukan?

 Boleh saja Anda sebernas Nurul Hanafi, seorang kawan, yang ahli betul tentang Yasunari Kawabata, sampai bisa menjelaskan apa itu cerpen “telapak tangan” yang digagas Kawabata semasa hidupnya. Tetapi, lagi-lagi, bila Anda tidak tahu di mana saja ada kafe yummy di Jogja, kok rasanya Anda belum kaffah jadi manusia. Manusia kekinian.

Tentu saja, penyimpulan ini tidak perlu ditarik pada tafsir “dehumanisasi” atas kelompok sosial yang tidak mengakses gegap gempita jagat kongkow. Bahwa sudah pasti ada kelompok sosial yang tak peduli pada sebuah tren, termasuk nongkrong, bersebelahan dengan kelompok sosial yang berdenyar di dalamnya, dua kutub tersebut letakkan saja sebagai takdir semesta. Dan, pastinya, saya tidak dalam posisi secuil pun mensalingnohokkan keduanya, sebab itu tidak adil ditilik dari disiplin apa pun, karenanya tidak memberikan manfaat diskursif sama sekali.

Semutlaknya ini tentang “dinamika budaya” yang dalam konteks aktivitas nongkrong bergemayutan dengan “dinamika alam”. Dua sisi mata uang yang, dalam studi “makna semiotika” Marcel Danesi (2011), mengejawantahkan hasrat purba manusia untuk memiliki “tanda, simbol, dan representasi”.

Hasrat purba?

Tentu. Umpama selama ini Anda hanya mengingat kemelut Habil dan Qabil sebagai insiden awal pertumpahan darah dalam sejarah ras manusia akibat konflik seksualitas, sesungguhnya tepat di dalamnya sekaligus termuat perkara hasrat purba untuk eksis, dan itu nama lain untuk “tanda, simbol, dan representasi”. Demikian halnya dalam konteks nongkrong yang meruah sebagai lifestyle, menyeret perihal “tanda, simbol, dan representasi”. Dalam ungkapan ekstrem, bukankah logis belaka untuk diandaikan bahwa Habil dan Qabil pun niscaya akan ikut nongkrong bila hidup di masa milenial ini?

Di tahun 1955, Raymond A. Kroc yang terkesan pada kecepatan pelayanan gerai McDonald’s membujuk sang pemilik untuk mengizinkannya membuka gerai-gerai lainnya dengan menggunakan nama yang sama. Kroc lalu membuka gerai McDonald’s pertamanya di Des Plaines, Illinois. Enam tahun kemudian, 1961, Kroc berhasil membangun lebih dari 200 gerai!

Kroc yang cerdik peka betul bahwa kecepatan adalah kekuatan! Selling point! Ia lalu menyempurnakan nilai jual McDonald’s dengan tidak hanya merangkul mobilitas segmen muda yang menghasrati kecepatan, tetapi juga segmen orang tua dengan cara menyelibatkan hal-hal prinsipil, sistem nilai, yang meliputi “tanda, simbol, dan representasi” mereka.

Silakan tatap kini betapa McDonald’s tidak hanya menjual makanan yang disajikan dengan cepat, tetapi juga wahana bermain untuk anak-anak, pesta ulang tahun yang siap mendekorasi rumah Anda dengan seabrek properti, dan tentu saja “ajang kumpul-kumpul” para keluarga dan kolega. Di beberapa gerai, bahkan telah disediakan “ruang pengobatan” untuk pelanggan yang tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan di saat kongkow. “Kami melakukan segalanya untuk Anda”, demikian kira-kira brand McDonald’s. Inilah yang dimaksudkan Marcel Danesi dengan “alam” dan “budaya” itu: di sini Anda bisa memenuhi kebutuhan alamiah untuk makan dan minum sekaligus kebutuhan eksistensial untuk bersemuka, bercengkerama, atau berbisnis.

Tentu saja McDonald’s tidak lagi sendirian. Ada Starbuck, Excelso, Black Canyon, KFC, J.Co., Sushi Tei, dan sebayanya. Di level bawah, berjejalan pula kafe proletar yang seturut menyediakan “sistem nilai” setamsil. Semua brand itu finalnya menyuguhkan “sistem nilai” yang sama,  yang oleh Seno Gumira Ajidarma disebut “wacana lama”, dengan menghadiahkan seperangkat “tanda, simbol, dan representasi”. Jika ditukik dengan kritik wacana semiotika, yang disebut semiologi oleh Roland Barthes, inilah bukti nyata motologisasi dalam konstelasi budaya massa.

Kini, ada baiknya, kita ulik dulu apa itu mitologisasi dalam kacamata Barthes?

Kita tahu, melalui semiologinya, Barthes menelanjangi mitos-mitos dunia modern sebagai praktik busuk ideologisasi, tak terkecuali ikon-ikon budaya Prancis sendiri. Segala mitologisasi mendenyarkan distorsi realitas demi efek ideologis, tegasnya ideologisasi: menarik massa, menjadikan mereka jamaah, demi meraup kepentingan ideologisnya. Dalam konteks budaya nongkrong, kepentingan ideologisnya tak lain adalah kapitalisme.

Maka ketika Barthes mengkritisi mitos-mitos dunia modern, tepat di waktu yang sama ia tengah menyerukan perlawanan dalam bentuk demistifikasi, berikutnya deideologisasi. Sebuah upaya kritis untuk mendobrak bias dan prasangka yang telah kadung diyakini sebagai sejarah, tepatnya sejarah yang dibengkokkan, dan tentu saja atensi ini sangat berharga untuk dicermati.

Esensi yang didistorsi oleh budaya nongkrong kini sampai termitoskan, sampai terideologikan, sampai tersejarahkan, adalah sepenuhnya perihal “tanda, simbol, dan representasi” tadi. Perihal suatu sistem nilai yang sangat eksistensial pada kehidupan kita, yang dari masa ke masa selalu berkelindan, yang ironisnya telah merangsak sampai pada “bentuk tekstual sistem tanda dan kode-kode budaya”.

Bila sebuah mitologisasi telah sampai pada jenjang demikian akut, Barthes menyebutnya berbahaya. Dan ia hanya akan bisa didudukkan sebagaimana pantasnya melalui jalan “membongkar struktur penandanya”.

Apa yang dimaksud Barthes dengan istilah “bentuk tekstual sistem tanda dan kode-kode budaya”, bila dipakai untuk membedah budaya nongkrong, bisa diketemukan pada mewabahnya gerai-gerai penjaja makanan dan minuman, kafe atau resto. Faktanya, inilah hari di mana tempat makan dan minum tidak lagi natural dalam pengertian purbanya untuk menjual “makanan dan minuman”. Semuanya telah berejawantah secara nyata (baca: bentuk tekstual) menjelma budaya (gaya, lifestyle, dan “cara mengada”). Lantas, sebuah brand, misalkan saja Starbuck, di kepala kita tersugestikan tanpa ampun sebagai “kualitas eksistensial” (baca: sistem tanda dan kode-kode budaya) kita. Bila kita awam dengannya, terseolahkan kita tidak eksis; jika kita duduk di dalamnya, terandaikan “keakuan” kita tampil penuh gaya.

Tak usah heran lagi bila sebuah arisan kini digelar di sebuah kafe, sebuah acara halal bihalal digelar di sebuah resto, atau bahkan sebuah launching buku Marxisme dirayakan di sebuah kafe. Inilah wujud nyata (bentuk tekstual) sebuah sistem tanda dan kode-kode kebudayaan yang meriasi opini dan sugesti di kepala kita. Ini adalah sebuah gaya, sebuah prestise, sebuah nilai eksistensial.

Perkaranya sekarang adalah kenyataan bahwa sebuah sistem tanda dan kode-kode budaya yang telah menancap kuat dan masif senantiasa meniscayakan mitologisasi. Inilah titik didihnya. Lantas tertabalkanlah secara tak tepermanai betapa aktivitas nongkrong di sebuah kafe adalah sebuah pencapaian eksistensial yang luar biasa kerennya, dan tepat di sinilah kejahatan “bias dan pembengkokan sejarah” itu bekerja secara ideologis.

Sudah pasti, ini bukan tentang apakah nongkrong itu salah atau benar. Kalkulasi demikian sungguh merupakan bentuk lain dari ideologisasi yang lebih mengenaskan. Ini asalinya tentang bersikap kritis pada suatu sistem tanda dan kode-kode budaya, bahwa ia bukanlah suatu pencapaian eksistensial yang sama sekali perlu dibanggakan, apalagi sampai didudukkan sebagai sebuah “Realitas Ultim” yang pantas dirayakan sebagai kualitas kehidupan, tetapi sekadar sebuah dinamika budaya yang membalut sempurna dinamika alam.

Ketika Marcel Danesi menjadikan McDonald’s sebagai sampel riset “makna semiotika” yang digelutinya di hadapan budaya massa, ia mengilustrasikan dengan bernas bahwa kebutuhan manusia untuk makan dan minum (dinamika alam) telah diubah sedemikian ideologisnya oleh kecerdikan kapitalistik Raymond A. Kroc menjadi sebuah “sistem tanda” lifestyle (dinamika budaya). Kroc tidak salah pada posisinya sebagai pebisnis genius, tetapi seyogianya kita pun peka bahwa makan dan minum di kafe atau resto tidaklah perlu dikuduskan semitologis apa pun; ia sama sekali tidaklah lebih berkelas dibanding makan dan minum di warung pecel Bu Ramelan atau angkringan Joss.

Jika Anda tidak kritis, dapat dipastikan bahwa Anda merupakan bagian dari tumbal mitologisasi kapitalisme, korban ideologisasi kapitalisme, dan budak pembengkokan sejarah kapitalisme. Lalu, mari tanya: kebanggaan eksistensial apa lagi yang perlu dirayakan dalam pangkat tumbal, korban, dan budak?

Jogja, 1 Oktober 2016

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu

Latest posts by Edi AH Iyubenu (see all)

  • Ibee

    Saat menikmati tulisan-tulisan karya Cak Edi, imaji saya tembus di wajah sang pengucap. Bilamana saat tegas/serius alangkah wow-nya, dan padasaat memelintir logika alangkah ngikiknya, keren plus buku-bukunya.