Nyekikik Bersama Nostalgi(l)a Para Bajingan yang Menyenangkan

in Rehal by

Judul               : Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis             : Puthut EA

Penerbit           : Buku Mojok

Terbit               : I, Desember 2016

Tebal               : 178

ISBN               : 978-602-1318-44-7

Pada umumnya, cerita yang mengangkat tema nostalgia cenderung membangun suasana sentimental yang luar biasa. Terlebih jika cerita nostalgia tersebut menyelipkan kematian orang terdekat dengan si tokoh. Perasaan tokoh akan diaduk-aduk oleh kenangan-kenangannya, sehingga akan timbul perasaan tertekan bahkan tersakiti oleh kenangan itu sendiri. Dengan demikian, bernostalgia hanya akan menjadi bagian yang dihindari. Seperti yang ditulis Puthut dengan “Dan saking melankolisnya persahabatan kami, sampai sekarang saya tidak pernah berani mendatangi kuburannya.” (hal. 1).

Kehadiran nuansa batin yang sedu-sedan—karena mengingat seorang sahabat yang telah meninggal—pada halaman pertama tersebut menjadi mengecoh. Seolah novel ini akan mengisahkan suatu nostalgia dengan bayang-bayang emosi sedih yang dominan.

Akan tetapi pada kenyataannya novel ini membawa hawa yang berbeda untuk sebuah novel bertema nostalgia. Ketimbang menceritakan kenangan dengan cara yang melankolis, Puthut memilih membumbui cerita nostalgia ini dengan guyonan-guyonan. Suasana ceria dan nyekikik justru menjadi bangunan yang kokoh dalam kisah ini. Bahkan kematian seorang sahabat pun tidak lagi dikenang dengan derai air mata, tetapi dengan menghadirkan kelucuan.

Lebih dari sekadar menjadi titik awal dimulainya cerita judi rupanya memiliki peran lain, yaitu hadir sebagai katarsis, dalam istilah Freud dikenal sebagai pengalihan, dari realitas hidup. Para tokoh memiliki karakter yang unik dan bebas. Bentuk jiwa seperti itu membutuhkan ruang yang lebih luas dari sekadar ruang kuliah. Judi telah menyediakan ruang ekspresi untuk menuangkan kekonyolan mereka.

Katarsis ini kemudian mengikat para tokoh dalam hubungan persahabatan yang bahkan bisa berlangsung begitu lama. Mereka tidak hanya terikat secara fisik—berada di ruang dan waktu yang sama—tetapi juga telah terikat secara jiwa. Persahabatan yang hanya terikat secara fisik akan memudar perlahan. Akan tetapi, bagi mereka yang terikat secara jiwa, jarak dan waktu tidak akan memudarkannya, malah menjadi selamanya. Jiwa yang sama itu terbangun oleh slogan hidup yang serupa, yaitu “…tidak ingin dewasa” (hal. 2). Slogan ini menggiring mereka pada tindakan-tindakan lucu dan nyeleneh.

Puthut layak disebut sebagai seorang “pemandu wisata nostalgia”. Seperti pemandu wisata yang menjelaskan suatu tempat dengan rinci, Puthut menggambarkan dengan detail segala hal yang terjadi dan ada di masa lalu. Misalnya, dengan membandingkan harga rokok waktu itu dengan sekarang. Detail-detail itulah yang mampu menarik pembaca seolah berdiri langsung menyaksikan adegan demi adegan dalam cerita. Tidak hanya sebagai pembaca yang duduk manis berhadapan dengan buku di depan mata.

Menyajikan suasana Yogyakarta di akhir tahun 90-an dengan status para tokoh sebagai mahasiswa membuat pembaca akan berpikir novel ini akan sama dengan tulisan-tulisan Puthut sebelumnya. Ia memang tetap menyelipkan persoalan-persoalan yang terjadi pada periode itu, misalnya gali dan gerakan mahasiswa penentang Orde Baru. Akan tetapi persoalan-persoalan itu tidak menjadi cerita utama, melainkan sebagai pendukung cerita. Bahkan persoalan-persoalan yang identik dengan kekerasan, kesedihan, dan perjuangan itu diolah dengan peristiwa-peristiwa lucu yang justru menghilangkan citra negatif dari hal-hal tersebut.

Novel ini benar-benar berbeda dengan karya Puthut lainnya. Puthut biasanya menulis kisah-kisah dramatis dengan gaya bertutur melankolis. Pembaca selalu diajak bersedih atas cerita-ceritanya. Puthut sangat lihai dalam mempermainkan emosi pembaca, khususnya pada nuansa sedu-sedan. Setelah sampai pada akhir cerita pun, Puthut tidak lupa menghadiahi pembacanya dengan suatu perasaan yang menyesakkan dada yang tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa verbal. Hanya gejolak emosi yang merasa tidak puas dengan peristiwa-peristiwa yang menimpa para tokoh, bukan pada cerita yang dibangun.

Akan tetapi, Puthut yang pandai menghadirkan nuansa sendu dan murung rupanya tidak hadir dalam novel ini. Saya malah melihat novel ini sebagai alter ego Puthut. Puthut memang mempertahankan kesan santai dalam berceritanya. Tapi kali ini, tanpa sedu-sedan, gaya bertutur melankolis, dan cerita dramatis. Barangkali Puthut ingin mendalami kata almarhum temannya bahwa “…hidup ini hanya ada tiga: nyekikik, nyekikik, dan nyekikik.” (hal. 34).

Bernostalgia sewajarnya menimbulkan kesan melankolis yang luar biasa. Tetapi, melalui tangan panas-dingin Puthut EA nostalgia diramu menjadi sedemikian nyekikik gila. Benar-benar bacaan segar untuk menutup tahun 2016. Akhir kata, selamat nyekikik.

Riyana Rizki

Riyana Rizki

Alumnus Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Riyana Rizki

Latest posts by Riyana Rizki (see all)