Obrolan Paris di Dinding Facebook

in Esai by
facebook pray for paris
Sumber gambar ibtimes.co.uk

Tuan dan Puan tentu bersedih hati mendengar Paris diguncang teror bom yang mematikan. Meski saya yakin tidak sampai sesedih ditinggal pacar karena diselingkuhi teman sendiri.

Ada banyak alasan untuk bersedih. Seorang penikmat bola yang polos akan bilang, “Bagaimana kalau bom itu kena pemain bola favorit saya? Ini bisa-bisa mengganggu perhelatan Piala Eropa 2016.”; mahasiswa UIN lebih kesal, “Asutenan! Aksi teror ini akan mencoreng nama baik Islam.”; para follower Jonru beda lagi, “Ah. Paling itu perbuatan orang Paris sendiri, lalu dituduhkan kepada Islam!”

Sejujurnya saya juga bersedih. Apalagi Paris adalah kota impian. Impian setiap mahasiswa yang belum lulus-lulus seperti saya. Lagi pula, mahasiswa mana sih yang tidak ingin kencan dengan pacarnya di bawah pendar kemegahan Eiffel? Saya galau bukan main karena tak mampu membayangkan bagaimana kota yang terkenal paling romantis di dunia itu mendadak horor dan menakutkan. Karena itulah, tanpa berpikir panjang, saya menulis dengan sedikit mengalami tekanan psikologis di dinding facebook.

“…Mengapa tragedi bom yang menewaskan banyak orang di Paris begitu menghebohkan dan semua orang seolah ditarik ke dalam pusaran duka yang tiada tara perihnya? Padahal hampir setiap hari bom meledak di Syiria, Palestina, Lebanon dan Irak dengan jumlah korban yang jauh lebih besar, toh Barat malah bersikap kecut dan suara para pengutuknya dianggap sumbang sesumbang-sumbangnya?!”

Sumpah itu pertanyaan saya sendiri. Bukan pesanan Om Jonru atau Ustadz Hafidz Ary. Pertanyaan itu muncul dari dalam kotak memori saya yang pernah membaca buku Edward Said. Ya…, apa lagi kalau bukan Orientalism.

Senada dengan kritik Said, harus diketahui, Paris adalah jantung Barat. Ia hadir dan eksis sebagai Yang-Pusat (meski pemikir-pemikir besar Prancis akan menolak pelabelan ini). Yang-Pusat juga berfungsi sebagai Subjek. Karena Paris adalah Yang-Pusat, yang juga hadir sebagai Subjek itu, maka Paris harus stabil. Atas dasar itu, segala bentuk instabilitas, seberapa pun kecilnya, akan segera menggema ke mana-mana. Reaksi cepat akan diambil untuk memastikan bahwa segala rupa instabilitas itu tidak sampai mengacaukan Yang-Pusat.

Tentu berbeda halnya dengan Suriah, Palestina, Lebanon, dan Irak. Negara-negara ini hanyalah kepingan dari Timur (Orient), yang dalam pandangan Said, sudah menderita bahkan sebelum bom-bom laknat menghujaninya. Penderitaan mereka mula-mula disebabkan oleh statusnya sebagai Yang-Bukan-Pusat, dan karenanya selalu ditempatkan sebagai Objek. Objek dari segala hal. Termasuk instabilitas.

Lantaran Sang Objek memang diandaikan tidak stabil, otomatis segala macam instabilitas, seberapa pun besarnya, tak akan sampai menghebohkan dan menarik semua orang untuk menyorongkan kadar keprihatinan yang sama. Sekalipun satu dua orang ada yang melakukan pembelaan gigih, pada akhirnya ia akan dianggap penyimpang, patut dicurigai, bahkan dimusuhi pembela kemanusiaan kaliber kutu belaka.

Kira-kira itulah (dalam kalimat dicoret) yang terjadi pada Said: ia lebih banyak dibenci daripada dicintai. Jadi, jika Tuan dan Puan ingin dicintai, belalah Paris sekeras-kerasnya sambil mengunci rapat untuk Suriah, untuk Palestina, dan untuk tragedi-tragedi besar lainnya.

Tuan dan Puan jangan sampai gagal paham. Saya tidak bermaksud membanding-bandingkan Paris, Suriah, Palestina, dan teman senasibnya dengan kacamata kuda, apalagi kacamata batok kelapa. Tidak. Mustahil membandingkan tingkat kepedihan yang satu dengan yang lain. Penderitaan tak dapat diukur dengan statistik. Sebagaimana mustahil memberi peringkat pada korban, kita juga tidak mungkin menyediakan susunan berundak pada penderitaan (kampreeett…, ini kan bahasa GM!).

Kembali ke facebook. Ada dua Mahalli yang mengomentari status facebook saya. Dua-duanya berkomentar dengan serius.

Yang pertama adalah Mahalli tetangga saya yang sekaligus keponakan sendiri. Dia adalah dosen di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumenep. Dia berkomentar begini: “Sampai kapan pun mereka (nonmuslim) tidak akan pernah rela agama Islam dan orang-orang Islam hidup dan berkembang di muka bumi, sampai orang Islam mengikuti kehendak mereka. Akan selalu ada alibi yang mereka pakai untuk menjatuhkan Islam dan orang Islam, seperti teroris dan istilah-istilah lain. Kasus di Paris akan semakin membuat mereka punya alasan kuat untuk membasmi umat Islam yang mereka kecam sebagai teroris. Padahal, bisa jadi pelaku di Paris adalah rekayasa mereka sendiri untuk dijadikan alibi, selanjutnya untuk menyerang simbol Islam di Suriah dan lainnya… Armagedon. Sekadar analisis ringan saja dan mungkin juga tak bisa dipertanggungjawabkan. Sekadar menghangatkan otak. Sudah lama otak ini tidak bermain-main.”

Beberapa kalimat dalam komentar asli sengaja saya potong. Analisisnya saya pikir jelas menunjukkan tipikal dosen-dosen Perguruan Tinggi Islam swasta (Hehe…, peace! Just kidding, my nephew).

Lalu saya tegaskan dalam komentar balasan: “Saya pikir ini bukan lagi soal muslim/nonmuslim atau Islam dengan bukan Islam (itu kan bahasa al-Qur’an saja). Lebih dari itu, ini soal kepentingan ekonomi, politik, budaya, dan terlebih lagi dominasi-kuasa. Kondisi Timur Tengah hari ini, pada tahun 50-an, terjadi di negara-negara komunis, di Amerika Latin macam Kuba, Venezuela, El Salvador, dan lain-lain. Kalau mereka membawa-bawa Islam, itu tak lain karena mereka tahu bahwa orang Islam sangat sensitif dengan keislamannya. Islam bukan “ancaman” bagi mereka sebab Islam dipandang the second class. Mereka akan menyasar negara mana saja, apa pun agamanya, jika kebetulan berguna bagi kepentingan politik-ekonomi mereka.”

Yang kedua adalah Mahalli teman seangkatan di pondok. Sekarang menjadi asisten dosen sosiologi di Universitas Brawijaya Malang. Komentarnya pendek, “Kamu sudah baca Cosmopolitan Vision-nya Ulrich Beck?” Saya tahu, komentar sependek itu memiliki maksud yang panjang. Itu adalah tipikal Mahalli untuk menguji, menyanggah, atau mengoreksi lawan obrolnya. Saya lalu pindah ke kotak pesan. Saya kejar dia dengan pertanyaan-pertanyaan. Karena saya lagi-lagi paham untuk menjajaki keseriusan teman yang paling setia dalam urusan cinta ini, tidak cukup berdiskusi di kolom komentar.

Mahalli pun mulai menjelaskan: “Satu hal yang ditinggalkan Beck sebelum meninggal adalah visi kosmopolitan yang ia bangun berdasarkan ‘masyarakat yang rentan’. Visi kosmopolitan merupakan paparan panjang lebar untuk melihat ‘manusia’ tidak lagi berdasarkan dari mana ia berasal, tapi siapa dia secara ontologis. Dan tidak ada satu manusia pun (bahkan yang setengah setan pun) akan mengaku kalau ia bukan manusia, paling banter mengaku bajingan karena takut dituduh homo….

“…Beck melihat post national war, seperti serangan ISIS ke Paris, atau penguasaan ISIS pada sebagian daerah Suriah dan Irak, sebagai bentuk dari mulai hilangnya sekat negara, atau yang disebut kondisi kosmopolit. Tapi ini edisi efek negatif kosmopolitan, karena negara tak mampu membuat warganya lepas dari keterlenaan batas teritorial atau nasionalisme yang seringkali bullshit itu.

“…Apa tujuan Perancis menyerang ISIS? Menegakkan kemanusiaan. Kok mengaku menegakkan kemanusiaan dengan cara yang militeristik? Karena ISIS itu militeristik.

“…Yang menjadi persoalan bukan lagi distingsi Barat-Timur, atau Islam dengan non-Islam, tapi kerentanan atas (ancaman) teror. (Yang jelas ini masih mengesampingkan pola dan tindakan arus media yang cenderung mendiskreditkan Timur).

“…Arus kuat pemberitaan itulah yang menyebabkan simpati pada Paris menyebar. Zaman ini, di mana lebih mudah ngeklik pake kursor tikus daripada membaca panjang lebar sambil menganalisis peristiwa yang sedang berlangsung, pengarus-utamaan berita tentang Paris menunjukkan kemenangan teknologi informasi dan kuasa di belakangnya.

“…Pihak Amerika mengaku membuat Al Qaeda untuk mengusir Rusia dari Afganistan. Setelah menang, mereka tinggalkan anjing itu dalam keadaan bersenjata. Lalu menjadi sangat hewani jika ada piaraan menggigit tuannya sendiri. Ini bukan pagar makan tanaman, tapi pintu gerbang mematahkan tangan.

“…ISIS adalah adik kecil Al Qaeda. Seperti Perancis adalah adik kecil Amerika. Lalu kemarin lusa Presiden Rusia yang ganteng itu bilang kalau ISIS dibiayai beberapa negara besar yang tergabung dalam G20, ia berkata demikian berdasarkan data yang dikumpulkan intelijennya. Apakah itu benar? Sangat barangkali iya.

“…Kondisi kosmopolit memperlihatkan kalau national boundaries telah melemah, tapi pemusatan isu HAM dan penunjukan Amerika sebagai Bunda Teresa global adalah kekeliruan paling naif sepanjang sejarah, seakan cuma mereka yang bisa jadi polisi. Buat apa? Biar mereka dianggap paling kuat dan paling bisa memberantas terorisme. Bukan Barat dan Timur, tapi kerentanan antara siapa yang punya kuasa dan dianggap layak untuk mengatasinya dengan siapa yang dianggap tidak bisa apa-apa sekaligus terbelakang keadaannya.”

Itulah komentar panjang Mahalli. Saya terakan semuanya. Biar Tuan dan Puan percaya bahwa teman saya yang satu ini adalah sosiolog jempolan. Walaupun dia sering kali menjawab tidak pede ketika saya mendesaknya menjadi penulis prolifik. Padahal dia cocok mengisi situs-situs keren macam mojok.co, pindai.org, basabasi.co, hingga situs-situs jurnal tempat tulisan elite nangkring. Sebut saja indoprogress.com atau islambergerak.com.

Dengan nada lesu, Mahalli mengakhiri obrolannya: “Persoalan dunia ini ruwet sekali. Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup menjadi Yahudi ketika Nazi sedang berkuasa, menjadi teman sekelas Hannah Arendt dan mengintip Heidegger bercinta pacaran dengannya.”

Tentu saja saya tidak perlu membubuhkan komentar balasan untuk Mahalli. Lamannya tidak cukup. Cukup Tuan dan Puan catat: berawal dari sebilah status, terjadilah obrolan serius. Mengasyikkan, bukan?!

Tapi akhirnya saya tidak bisa serius lagi ketika Edi AH Iyubenu ikut mengomentari status facebook saya. “Analisis keren,” tulisnya singkat. Saya tidak paham apakah itu pujian sungguhan atau basa-basian. Atau, jangan-jangan itu benar-benar pujian—lantaran belum tahu bahwa sesungguhnya saya adalah pengagum Marc Marquez. Salam.

Naufil Istikhari Kr.
Follow Me

Naufil Istikhari Kr.

Naufil Istikhari Kr. Alumni PP. Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura. Masih tercatat mahasiswa psikologi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan mengasuh Komunitas Lingkaran Metalogi Yogyakarta.
Sejumlah tulisannya telah dimuat di media lokal maupun nasional, antara lain Jawa Pos, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Bali Post, Duta Masyarakat, Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, Republika. Sebagian juga terkumpul dalam beberapa buku, yang terbaru berjudul Me-Wahib: Memahami Toleransi, Identitas, dan Cinta di tengah Keberagaman (PusadParamadina, 2015).
Naufil Istikhari Kr.
Follow Me

Latest posts by Naufil Istikhari Kr. (see all)

  • Muara Ibrahim Husein

    Setuju Bung, terkadang kita sendiri malah terpaling dari kenyataan dan
    terlena dengan betapa ‘mulianya Eifel’ ketimbang makam para pejuang
    Kebenaran.