Ontologi Bahasa dan Politik Identitas Semua Kita

in Celoteh by
undark.org

*) Dipresentasikan dalam diskusi Jawa Pos, “Bahasa Indonesia dan Bahasa Koran”, Surabaya, 22-10-2018

Makna sebuah kata tergantung penggunaannya dalam sebuah kalimat;

makna sebuah kalimat tergantung penggunaannya dalam sebuah bahasa;

dan makna sebuah bahasa tergantung penggunaannya dalam sebuah kehidupan.

Ludwig Wittgenstein

Bahasa tidak pernah mati.

Ia selalu mengalami dinamika yang tak sederhana: ledakan makna dan penggunaannya (eksplosi) atau penyempitan makna dan penggunaannya (reduksi). Dalam aras makna, yang pertama bertipikal tumbuh, yang kedua bertipikal terbungkam/tergusur. Dalam aras penggunaannya, keduanya (yang eksplosi dan yang reduksi) diekspresikan dalam dua gaya, formal dan informal, lisan dan tulisan. Uniknya, di saat kita menggunjingkan dualisme otoritas tersebut, tepat di titik yang sama kita sejatinya tengah menerbangkan bahasa ke semesta politik identitas.

Jika selama ini Anda terbiasa membaca buku-buku yang “lurus” dalam berbahasa, cobalah Anda baca sesekali karya-karya lain yang memperlakukan bahasa dengan cara berbeda. Siapa tahu Anda menyukainya, lalu menjadi “terluaskan”. Ada buku Eka Kurniawan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas atau Gunawan Tri Atmodjo dengan Pelisaurus atau Joko Pinurbo dengan Buku Latihan Tidur.

Dalam cara yang bisa membuat Anda membahak atau merengut, Gunawan enteng saja menuliskan kata ngeloco (masturbasi), menyetubuhi, sperma, jembut, telek bebek, dan sejenisnya dalam cerpen-cerpennya. Pada Eka Kurniawan, dengan mudah Anda akan menemukan penggunaan kata kontol dalam berbagai narasinya.

Begitu pun pada Joko Pinurbo, bahasa dipilin-pilin sedemikian “sederhananya” layaknya permainan-permainan belaka. Language game ala Joko Pinurbo tentu saja membawa dampak serius pada makna-makna asalinya.

Apa gerangan kini yang Anda pikirkan?

Kemungkinannya akan bermuara pada dua aras:

Pertama, tersentak kaget dan membangun persepsi bahwa para penulis tersebut adalah sosok yang tidak sopan, amoral, karepe dewe, atau bahkan lebih jauh meyakini mereka sebagai pelaku amoralitas itu. Tentu saja, menghakimi penulis bermoral versus amoral berdasar teksnya sama belaka dengan mempercayai kecantikan atau kegantengan seseorang dari avatar-nya. Anda sangat rawan tertipu, kemudian kecewa.

Bila benar Anda  berada di posisi tersebut, sesungguhnya Anda tidak sedang membaca teks sebagai teks, tetapi Anda telah merangsakkan politik identitas Anda kepada teks–pula penulisnya. Catat sekali lagi: Anda memasangkan politik identitas Anda kepada orang lain, para penulis, termasuk media publikasinya, entah itu dalam skala dikotomis (antara Anda dan dia) atau integratif-holistik (Anda mendambakan penulisnya menjadi seperti diri Anda atau sebaliknya).  Mau Anda menukil pepatah “Teko hanya akan mengeluarkan isinya” untuk menegaskan persepsi tersebut, jelas Anda sedang berpolitik identitas.

Kedua, tertawa dan membangun persepsi bahwa para penulis tersebut adalah kelompok manusia yang menyempal dari arus mainstream(-episteme), atau rezim, yang mengibarkan kekehan-kekehan pada gunung-gunung doktrin identitas (sebutlah “kode etik” dan ini jelas adalah politik identitas, bukan?) di satu sisi dengan menampilkan dinamika realitas bahasa, penggunaannya, dan identitas lain di sisi sebelah-sebelahnya.

Pada tataran folosofis, segala cara kita dalam menggunakan dan memaknai kata, kalimat, dan bahasa jika ditakik dari perspektif moralitas (etika) sudah pasti rawan menggedorkan benturan-benturan antaridentitas. Namanya benturan, niscaya menjenterahkan klaim hierarki: atas versus bawah, benar versus salah, hitam versus putih, etis versis banal, dan bahkan otoritatif versus anarkis. Belum lagi dampak reduktifnya terhadap ketakterbatasan jelajah imajinasi dan kreativitas.

Tepat pada pusaran semacam ini, kita rawan betul untuk berkonflik. Bukan semata pada ranah berbahasa, berkomunikasi, tapi merangsak jauh hingga ranah antarmanusia yang sepatutnya bersandingan dalam keragamannya. Gawatnya, bagaimana cara meminggirkan politik identitas cum moralitas dari sebuah ekspresi berbahasa?

****

Ihwal identitas ini, saya tertarik untuk mendekatinya dengan menggunakan paparan filosofis Martin Heidegger. Mari sejenak mumet bersama.

Heidegger dikenal luas dengan satu istilahnya, Dasein. Ia sederhananya sepadan dengan “Wujud”, “Eksistensi”, “Ada”.

Dasein berasal dari “Da” dan “Sein”. Da adalah “suatu masa” (Waktu, Time) dan Sein adalah “ke-Ada-an” atau “keber-Ada-an”. Jadi, Dasein adalah cara kita mengada, cara manusia mengeksistensi, dalam suatu waktu, suatu kala. Sudah pasti, “masa” atau “kala” tersebut bukanlah ruang kosong belaka atau jatuh dari langit pada suatu Lailatul Qadar. Maka “ruang kita mengada” menjadi bagian absolutnya pula.

Dunia ini, kata Haidegger lebih lanjut, merupakan tempat manusia mengalami “keterlemparan”. Tahu-tahu saja Heidegger berada di Jerman, tahu-tahu saja saya terlempar dari keluarga Madura, besar di pesantren, lalu menua dan membusuk di Jogja. Saya dan Heidegger—sebut pula Remy Silado dan Ivan Lanin—sama saja dalam konteks “mengalami keterlemparan” tersebut, begitu pun semua Anda. Setiap kita.

Saya lalu terbangun dari puzzle-puzzle kebudayaan Madura yang secara religius lekat dengan tradisi Nahdliyyin, secara ekonomis intim dengan budaya berdagang, dan secara sosial karib dengan nuansa rural tradisional.

Dalam masa tumbuh itulah, sejak mula kanak, saya mengalami berjubel hal dan peristiwa yang tak pernah sama dengan galur-galur pengalaman siapa pun yang berbeda kultur–alias “dunia keterlemparannya” tak sama. Bahkan, jikapun dikekap kultur yang sama, cerapan-cerapan pengalaman yang sama itu tak pernah membuahkan nilai sorge yang sama.

Di antaranya, misal, saya karib saja dengan celoteh sejenis ini:

“Di Madura ini, Pak Mentri, alhamdulillah dapat dikatakan semuanya Islam, hanya sedikit yang Muhammadiyah….”

Sudah pasti, Anda yang Muhammadiyah, yang berkultur beda dengan saya, akan memerah wajah membaca bagian ini. Tetapi, tenang saja, ini hanya tamsil kekhasan proses mengada saya, dulu, yang sudah pasti telah berdinamika jauh, bergerak jumbuh, mengalami al-harakah al-jauhariyah, hingga terbentuklah saya kini. Jika kita panjang umur, sepuluh tahun bersua lagi, amat boleh jadi saya telah berubah sedemikian ekstremnya. Perubahan itu abadi dan manusia adalah perubahan itu sendiri.

Terlihat jelas kini betapa semua Anda, setamsil saya,  memiliki bangunan-bangunan lokal, khas, eksotis, dan pesonal-privat, lalu itu semua membentuk identitas Anda—dan di dalamnya sudah pasti seturut berkuntumlah kembang-kembang bahasa.

Begitulah cara setiap kita membangun diri dalam mekanisme keterlemparan tersebut, dalam “Da” tersebut.

Lantas, kuntuman fundamental pada fase berikutnya ialah bagaimana cara setiap kita membangun “Sein” itu. Kongsi “Da”, titi mangsa, dan “Sein”, kahanan, inilah yang finalnya akan menentukan cara kita berpikir pula berperilaku dalam segala aspek kehidupan.

“Mencandra keseharian”, inilah istilah seksi yang digunakan F. Budi Hardiman (2003) dalam membangun epistemologi identitas setiap kita. Keseharian, lanjutnya, adalah bersibuk dengan alat-alat, menunggu seseorang, membiarkan hal-hal terjadi, lupa akan sesuatu, ikut kata orang, mengambil keputusan, memahami, berbincang-bincang dengan teman-teman, main kartu di gardu jaga malam dan sebagainya—sehingga otomatis “kemewaktuan” juga dapat ditemukan di situ. Kita bisa tambahkan kini dengan: fesbukan, twiteran, wasapan, nongkrong, ngopi, hingga menonton atau terlibat dalam drama-drama Cebong Kampret yang sukses menggusur rekor mahabertelenya sinetron Tukang Haji Naik Bubur. Silakan lagi Anda tambahkan pencandraan habitat keseharian masing-masing, sebutlah Nella Kharisma dan Uut Selly.

Itulah identitas.

Bila pada suatu titi mangsa, seseorang berpindah ke suatu kultur, kebiasaan, adat, norma, dan regulasi yang berbeda, maka ia pun akan mancandra keseharian itu dengan sudut yang berbeda lagi. Lahirlah lalu identitas berikutnya: bisa sepenuhnya baru atau tidak benar-benar baru. Ian G. Barbour mengidentifikasikan mekanisme tersebut dalam tiga pola yang paling mungkin terjadi: akomodatif, resisten, atau kombinasi keduanya.

Segala bentuk “mencandra keseharian” itulah yang pada gilirannya mencetak verstehen dalam diri kita. Suatu pemahaman. Suatu understanding. Suatu pilihan sadar bahkan.

Nah, Dasein kita akan sangat ditentukan oleh corak verstehen kita. Orang yang mahir Ilmu Balaghah, misal, akan berbeda takwilnya  terhadap surat al-Maidah ayat 51 dibanding mereka yang awam perihalnya atau sengaja mengambil posisi takwil konfrontatif demi benefit bakulan politiknya kendati sama-sama sedang berkhotbah di mimbar masjid yang sama. Postur verstehen setiap kita itulah yang lantas mempostulasikan bentuk dan warna identitas kita.

Salah satu dimensi ontologis yang sangat mempengaruhi corak Dasein kita ialah bahasa.

Saya tunjukkan satu bukti.

Umpama Anda memahami (verstehen) kata bid’ah semata berdasar fatwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni kedustaan dan kebohongan; tidak sesuai tuntunan al-Qur’an dan hadis, dapat dipastikan cara pandang, pemikiran, dan sikap Anda kepada praktik-praktik bid’ah akan cukup ekstrem. Potensial betul bagi Anda untuk menuding para pelaku bid’ah sebagai muslim yang pendusta, pembohong, dan tidak mengikuti al-Qur’an dan hadis. KBBI pada lema ini tampak bertaklid pada pandangan Salafi Wahabi. Tenang, saya sedang bercanda kok, walaupun dampak KBBI kepada corak verstehen sejumlah orang jelas tak bercanda sama sekali.

Dikarenakan di dalam bahasalah identitas kita terbangun, menjadi keniscayaan bila sebuah kata, sebuah bahasa, menjadi complicated pula makna dan penggunaannya. Ya, sepelik identitas-identitas itu sendiri.

Bahasa manusia sungguh tak bisa dibayangkan sesederhana “media komunikasi” auman pada singa, kokokan pada ayam, atau gonggongan pada anjing. Ia adalah tentang manusia, Dasein-Dasein-nya, Kemewaktuan-Kemegadaannya, dan Verstehen-Verstehen-nya. Walhasil, bahasa adalah sungguh-sungguh Being and Time manusia.

****

Media massa, cetak dan digital, yang menyajikan berita-berita, informasi-informasi, opini-opini, hingga isu-isu, pada perspektif filosofi bahasa tersebut, jelas seturut terlibat bertanggung jawab dalam proses pembentukan Dasein seseorang. Oke, ia meliputi seperangkat kode etik jurnalistik yang menjadi regulasi formal dan sekaligus kadar intelektualitas insan-insan di baliknya.

Bahkan, media-media massa yang Dasein-nya semata menyembah statistik viewer dengan teknik klikbait yang menyedihkan pun, artinya mendulang harta dengan cara tak bertahta, tetap terlibat di posisi yang sama dibanding media-media massa yang berkomitmen tinggi pada idealisme keberadaban cum martabat jurnalisme yang adiluhung.

Saya takkan menyinggung perihal satu karakter media massa, seperti koran, yakni kecepatan. Betapa siapa yang lebih cepat menyajikan berita, maka semakin terdepanlah ia. Ia hanya “satu teknis”.

Ada hal yang lebih menggelisahkan saya di sini, yakni “Bagaimana strategi ‘bahasa media’ di era terkini mengambil posisi strategis di antara status luhungnya sebagai intelektual, agent of social change, dan dinamika realitas kebahasaan yang terus bergerak yang menjadi salah satu pembentuk Dasein pembacanya (khalayak).” Ihwal konstelasi bisnisnya, para pemuka media massa tak perlu diajari apa-apa lagi. Justru saya yang harus belajar banyak pada mereka.

Itu artinya saya sedang mengajak Anda untuk mendiskusikan hal-hal yang ideal-strategis.

Saya akan memantik dengan cara begini:

Pertama, imajinasi. Mungkinkah imajinasi diatur-atur oleh sebuah otoritas segempal apa pun?

Mustahil!

HTI boleh dilarang secara legal-formal, tapi seorang kawan saya yang darah dan tulangnya telah berkhilafah, imajinasi ideologisnya terus terbang jauh dan bebas kepada sebuah struktur pemerintahan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Sudah pasti, bahasa menjadi bagian dari medan imajinasinya. Hari ini kita mencandra secara nyata bagaimana binatang bernama “cebong dan kampret” yang tak tahu apa-apa perihal kontestasi politik elektoral begitu digdaya kondangnya sebagai jejuluk faksional yang bertabiat sama belaka: gemar menyalahkan, mendungukan, dan memprimitifkan. Cebong dan kampret yang semula adalah realitas binatang terimajinasikan sedemikian pejoratifnya, lalu terpostulasikanlah dalam “candra politik” yang sungguh riil di depan mata. Pada derajat tertentu, dualisme politis itu bahkan telah terimajinasikan lebih dahsyat menjelma dualisme kebangsaan: “Jika Anda bukan cebong, Anda pasti kampret; jika Anda bukan Kampret, Anda pasti cebong.”

Kata “dungu” pula, gara-gara Rocky Gerung, hari ini telah terimajinasikan sedemikian banalnya sebagai lema yang “biasa saja” untuk dipanggungkan. Seolah pengucap “dungu” telah talak tiga dari “dungu”, seolah mendampratkan “dungu” kepada orang lain adalah kebanggaan dan kebahagiaan yang paripurna.

Kata “santri”, begitu pun kita candra kini. Bertahun-tahun nyantri, sungguh baru pada tahun 2018 ini belaka saya mendengar istilah “post-santri”, yang diimajinasikan oleh pemuka PKS kepada sosok Sandiaga Uno yang gemar berjenaka itu sesaat setelah diresmikan sebagai calon wakil presiden. Mari misal bertanya: Apa korelasi filosofis lema “santri” (pelajar agama Islam) dengan “post” (artinya pasca, beyond) dan kontestasi politik elektoral?

Imajinasi bahasa pada tamsil-tamsil tersebut merupakan cara saya untuk memahami denyar-denyar “galaksi simulakra”, yang pada mulanya adalah ketiadaan lalu menjadi ke-ada-an dan sungguh bisa kita candra secara nyata. Walhasil, pencandraan keseharian kita yang meruah atau menyempit terhadap buah-buah imajinasi itu menisbatkan suatu Dasein baru kepada kita.

Kedua, ekspresi kreativitas. Ekspresi-eskpresi kreatif yang terus diproduksi oleh manusia dalam pelbagai bidang kehidupan sudah pasti bersumber dari imajinasi. Ini bukan hanya kerjaan Archimedes yang melihat apel jatuh lalu memekik “Eureka!”. Ini lokus semua kita, para pengguna bahasa, termasuk media massa.

Media massa semacam mojok.co, umpama, banyak sekali memproduksi kosakata-kosakata yang sampai pingsan pun takkan Anda temukan di KBBI terbaru. Kata “ya” ditulis “yhaa”, “enak-enak” ditulis “ena-ena”, “marah-marah” ditulis “mara-mara”, “saya” ditulis “sa”, “bajingan” ditulis “ingan”, mobil “Avanza” diistilahkan “kaleng Khong Guan”, “fasih dan tartil qiraah” diubah jadi “baik dan benar sesuai EYD dan KBBI”, dan lain sebagainya.

Lain cerita soal ekspresi bahasa Tribun, umpama. Di kalangan pembaca serius, beredar wejangan bahwa merupakan kemunduran intelektual bila Anda sampai mengklik link-link Tribun. Kita semua telah tahu pasal-pasalnya. Namun, faktanya, dengan cara demikianlah Tribun menguasai jagat bisnis berita digital negeri kita. Dalam candaan sarkastik berikutnya, fenomena ini membuktikan lebih limpah-ruahnya populasi awam dibanding intelektual di negeri ini. Mungkin karena kita didungu-dungukan melulu oleh Rocky Gerung, ya.

Bagaimana semua ini bekerja? Suka tak suka, Anda seyogianya tetap menyebutkan “candra keseharian” itu sebagai kreativitas yang dibiakkan imajinasi berbahasa. Dan, nyatanya, khalayak luas menggemarinya. Buktinya, Tribun masih jadi yang terdepan. Mojok begitu mudah membuat tulisan viral. Ini berarti candraan-candraan tersebut telah sampai pada fase membentuk Dasein.

Kita bisa apa di hadapan realitas kekinian tersebut?

Ketiga, konteks. Konteks berbahasa pada sebelah derajat menjadi garansi bagi “kesepahaman makna” yang dimaksudkan pengucap/penulis dengan pendengar/pembaca sehingga antarkeduanya tercipta fusion of horizons, namun di sebelah lainnya adalah belenggu.

Kita mengerti bahwa lema khilafah yang dikonsensikan kawan-kawan HTI ialah Negara Islam (daulah islamiyah). Parameter rujukannya adalah Kekhalifahan Ustmaniyah. Jika Anda syak, tanyakanlah pada Felix Siauw yang menyatakan paling ahli perihal sejarah Ottoman tersebut. Itulah garansi kesepahaman makna yang kita candra.

Namun pada sebelah lainnya, saya sepenuhnya memafhumi betapa khilafah adalah keniscayaan imani bagi umat Islam. Saya tak perlu menukil ayat di sini, kan?

Ketika produksi makna pertama yang berkonteks HTI dibanjarkan dengan makna kedua yang berkonteks naqli Islam, sontak lema “khilafah” HTI membelenggu konteks kedua dan konteks kedua yang asalinya sahih meliputi segala bentuk pemerintahan, termasuk demokrasi Pancasila kita, menjadi terbelenggu maknanya dan kehilangan relevansinya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Tegasnya, bagaimana bisa “yang partikular” (khilafah aqli-HTI) melumat “yang universal” (khilafah naqli)?

Keempat, politik identitas. Postulasi-postulasi yang tercetak di antara kita dalam kamajemukan cara kita berbahasa dan sekaligus memaknainya dalam jubelan konteksnya masing-masing itu, seperti tuturan Wittgenstein yang saya nukil di awal, mencerminkan “kehidupan” dan “kehidupan”. Ia adalah sebenar-benarnya kemajemukan. Saya pernah menulis makalah panjang di kelas doktoral “Hermeneutika dan Ulumul Qur’an” perihal language game yang membentuk “kehidupan” dan “kehidupan” ini, yang dalam konteks diskusi kita kali ini tiada lain adalah politik identitas.

Mengapa saya menyebutnya “politik”?

Ini bukan tentang politik elektoral, ya, tapi polarisasi segmentasi dan pilihan sadarnya yang ujungnya bermuara pada Dasein. Ada yang memproduksinya dan ada yang membelinya. Begitu relasi kausalitasnya.

Kata “kiri”, misal, jika konteks penggunaannya untuk kendaraan umum, ia bermakna “kehidupan” “stop, berhenti”. Jika dipakai dalam konteks rambu-rambu lalu lintas, ia berarti “kehidupan” “belok kiri”. Jika digunakan dalam konteks sebuah diskusi bertema perkelahian kapitalisme dan komunisme, ia menunjuk pada “kehidupan” “komunisme”. Jika dipakai dalam konteks studi Islam, ia bermakna “kehidupan” “kaum liberalisvis-a-vis kaum kanan (tradisionalis). Dan seterusnya.

Lalu kata “rumah”. Jika konteks penggunaannya menunjuk pada bangunan, ia berarti sebuah “kehidupan” “tempat tinggal”. Jika digunakan dalam konteks kebudayaan, ia berarti “kehidupan” “akar budaya”. Jika digunakan dalam konteks politik praktis, ia berarti “kehidupan” “partai politik”. Dan seterusnya.

Menjadi berbeda lagi tatkala sebuah kata dikaitkan dengan konteks formal atau tidak. Kata “aku”, misal, jika digunakan dalam konteks nonformal, menghadirkan makna “kehidupan” “dekat, akrab, dan intim”. Jika digunakan dalam konteks formal, sebutlah sebuah seminar, ia memantik kesan “kehidupan” “tidak sopan, kurang pas, dan bahkan tidak menyenangkan”.

Apa yang saya sebut “kehidupan” dan “kehidupan” ialah polarisasi identifikasi itu sendiri, yang tak terbendung di dalamnya mencakup segmen, kelas, bahkan kualitas. Kita dengan sorge identifikasi bahasa itu, otomatis (ya, sekali lagi, otomatis), sadar tak sadar, telah memasukkan diri ke dalam polarisasi segmentasi-segmentasi tersebut. Walhasil, tak usah ditampik, kita menjadi politis. Tegasnya, menjadi bagian dari sebuah politik identitas di hadapan politik-politik identitas lainnya yang dikaruniakan oleh candra-candra bahasa setiap kita.

Saya akan tutup esai ini dengan kisah nyata ini. Secara personal, saya kenal baik sama Ivan Lanin. Sangat baik, kendati dia selalu tega membuat saya minder jika berfoto bersama.

Berkali-kali dalam pelbagai obrolan, saya memohon padanya untuk membocorkan amalan apa gerangan yang membuatnya sedemikian tampannya. Saya berjanji padanya takkan mengamalkan amalan tampan tersebut dengan berlebihan agar ketampanannya yang kaffah tak terkudeta oleh kemustajaban amaliah tampan saya. Saya janji.

Sampai hari ini, ia tak pernah sudi berbagi amalan tersebut. Akhirnya, saya menyimpulkan, pada derajat ini, ia bukanlah kawan yang baik. Sebab kawan yang baik pastilah sedia berbagi apa pun yang ia punya. Apa pun.

Bagaimana kesan “kehidupan” identifikasi makna yang bisa Anda timba dari tuturan tersebut di saat Anda menyaksikan saya sedang duduk serius bersebelahan dengan Ivan Lanin di forum formal ini?

Saya yakin sekarang Anda tengah mengimajinasikan sebuah “pola identitas” perihal saya dan Ivan Lanin—yang tidak sama dengan “pola identitas” yang Anda tuai perihal saya dengan diri Anda atau Anda dengan Ivan Lanin dalam imajinasi yang sama-sama berlejitan di kepala Anda sendiri di waktu yang sama.

Tepat di titik inilah, izinkan saya mengatakan bahwa Anda sedang “berpolitik identitas”. Dan inilah “kehidupan”, lalu “kehidupan” lagi, dan kemudian “kehidupan” lagi.

Bahasa lalu memproduksinya ke permukaan sebagai Dasein.

Ihwal koran, mari diskusikan. Saya pikir, kata kuncinya adalah fairness. Dan ini adalah poin kelima.

Jogja, 17 Okober 2018

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu