Orang Kafir

in Cerita Pendek by

Aku bertemu dengan Nul untuk pertama kalinya di sebuah warung di pinggiran Surabaya. Ia muncul dengan segala yang menandakan keletihan: baju kumal, celana robek-robek, muka kusut, rambut panjang tak terawat, sandal jepit tipis, dan bau keringat yang menyengat. Namun bukan itu yang menarik perhatianku, melainkan sebuah peti dengan empat roda di bagian bawah yang ia seret-seret. Ia segera mengingatkanku pada cerita Panji Tengkorak yang mengembara dengan sebuah peti mati berisi jenazah Nesia.

Aku menawarkan untuk membayar makan dan minum yang ia pesan. Ia menatapku selama sepuluh detik sebelum mengangguk. Ia menyantap hidangannya seperti orang kesurupan. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah kampung di Lereng Welirang. “Orang-orang menyebutku kafir,” katanya, yang membuat pengunjung warung lain menoleh dan menatap kami dengan pandangan aneh. Aku tidak tahu apa yang ia maksudkan, namun kemudian ia mengajakku melihat isi petinya. Dan begitulah aku berjumpa dengan Yanti yang menakjubkan, sang Putri Tidur yang menanti seorang pangeran mengecup bibirnya dan ia akan bangun dengan segala keanggunannya.

“Sudah berapa lama ia tidur?” tanyaku.

“Ia tidak tidur. Ia mati,” Nul menjawab seraya mencungkil serat daging ayam di giginya. “Sejak lima tahun yang lalu,” tambahnya yang membuat aku semakin terpukau. Orang yang sudah mati selama lima tahun semestinya tinggal tulang belulang. Namun untuk Yanti, aku bahkan bisa melihat pipinya yang masih merona merah, seperti orang yang sedang malu. Bibirnya beku dalam senyum yang cantik. Dan bagaimana aku akan berpikir bila ia tak lebih dari seonggok mayat bila Nul, alih-alih membungkusnya dengan tujuh lembar kain kafan, justru menyempurnakan penampilan Yanti dengan daster bermotif kembang-kembang yang membuat pesona alaminya kian terpancar?

Yanti, kata Nul, mati begitu saja pada suatu pagi, ketika mereka menyesap kopi, setelah tiga kali terbatuk. Tanpa sakit tanpa apa. Ia mati karena memang ia harus mati. Nul menangis selama setengah jam sebelum ia teringat ia mesti mengabarkan hal itu kepada tetangga dan keluarga mereka hanya untuk menerima kekecewaan dan kesedihan yang lebih besar dari kesedihan ditinggal mati oleh Yanti. Alih-alih segera pergi untuk menggali kuburan dan memperlakukan jenazah sebagaimana mestinya, mereka hanya tertawa dan berkata, “Akhirnya mampus juga itu anak.”

Nul berusaha mengerti bagaimana respons seaneh itu yang mesti ia terima. Dan ia, pada akhirnya, memang mengerti. Yanti, bagaimanapun, bukanlah orang yang normal dalam pandangan masyarakat di mana mereka tinggal. Ia terlahir dari keluarga baik-baik sebagai seorang laki-laki, namun tumbuh dengan menunjukkan tanda-tanda keperempuanan. Ia, misalnya, lebih suka bermain pasar-pasaran dan mengenakan daster ketimbang main topeng atau memakai celana. Menjelang umur tujuh belas tahun, ia memutuskan bergabung dengan kelompok ludruk Budaya Jaya sebagai tandak sekaligus menerima keputusan keluarganya untuk memutus ikatan darah di antara mereka. Ia segera mendapatkan ketenarannya lantaran kemampuan tak tergantikannya dalam memerankan Simbok dari Sarip Tambak Oso yang mampu membangkitkan si anak dari kematiannya, hanya dengan selarik teriakan.

Nul adalah salah satu dari sekian banyak penggemar Yanti. Ia menyaksikan Yanti pertama kali ketika ludruk Irama Budaya nobong di kawasan Gedeg. “Ia terlihat seperti sekuntum mawar,” kata Nul. Pilihan kata yang ia gunakan benar-benar basi dan itu membuatku hampir tertawa. Namun cara dia mengatakannya, serta pancaran sinar matanya, membawa kalimat klise itu ke suatu dimensi yang berbeda, suatu dimensi yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang pernah merasakan bagaimana rumitnya jatuh cinta. “Dan sejak itu, aku tahu dengan siapa aku mesti menghabiskan sisa hidupku,” lanjutnya.

Nul datang ke tobong itu selama empat belas kali dari empat belas kali pertunjukan yang digelar oleh kelompok ludruk Budaya Jaya. Ia tak peduli lakon apa yang dimainkan, selama Yanti yang bermain, ia akan menatap panggung dengan keterpukauan yang sama dan mata yang hampir-hampir tak berkedip. Dan ia senantiasa menunggu hingga pentas buyar, hanya demi menemui Yanti di krombongan untuk memberikan sekuntum mawar merah.  “Aku bukan lelaki pertama yang memberikannya kembang. Tapi jelas, aku satu-satunya lelaki yang selama tiga belas hari memberikannya kembang, satu kuntum tiap harinya. Satu-satunya hari di mana aku tidak memberinya sekuntum mawar adalah hari di mana aku pertama kali melihatnya. Dan itu membuatnya membuka pintu hatinya. Dan begitulah kemudian kami memutuskan hidup bersama.”

Ada dua kondisi yang membuat orang awam sekalipun bisa berubah menjadi filosof atau penyair. Pertama, berada dalam kungkungan cinta. Dan yang kedua, terjebak dalam penderitaan. Nul dan Yanti mengalami keduanya. Kepadaku, Nul yang sebelumnya hanya mampu mengeluarkan kalimat klise untuk menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Yanti, tiba-tiba bisa berkata indah untuk melukiskan kehidupan mereka setelah memutuskan untuk tinggal bersama: cinta memang tampak seperti segalanya, tapi kehidupan, ternyata, tidak lantas menjadi mudah karenanya. “Keluargaku memintaku memilih antara mereka atau Yanti. Dan aku, pada akhirnya, bernasib sama seperti Yanti; dibuang keluarga sendiri,” lanjutnya.

Masyarakat, kata Nul, bersikap mendua terhadap para pelaku ludruk, khususnya pada tandak, atau wedokan, atau tranvesti. “Mereka memujanya di atas panggung. Beberapa laki-laki bahkan terang-terangan ingin tidur dengan mereka. Namun di lain pihak, mereka juga menyebut para tranvesti itu, banci-banci itu, sebagai sampah masyarakat. Mereka mengatakan bahwa para tranvesti itu, bagaimanapun, adalah orang-orang penuh dosa dan bakal mempercepat kiamat.”

“Tapi kalian bisa hidup bersama dan masyarakat mengizinkannya,” kataku.

“Sudah kubilang, masyarakat bersikap mendua. Mereka mengizinkan kami hidup bersama di antara mereka tapi tidak mengizinkan Yanti dikubur di kuburan desa. Ketika aku berkeras, mereka mulai mengatakan aku kafir seraya mengungkit-ungkit apa yang telah aku dan Yanti lakukan. Mereka mengatakan aku umat Luth. Dan pada akhirnya, aku terpaksa pergi. Aku mencari tempat di mana orang-orang bakal mengizinkan aku menguburkan Yanti. Tapi setelah lima tahun, aku tetap tak menemukan tempat itu.”

“Dan Yanti tidak membusuk?”

“Dan Yanti tidak membusuk.”

“Itu keajaiban.”

“Mungkin bagimu itu keajaiban. Namun bagi banyak orang, itu merupakan bukti bahwa bahkan Tuhan pun menolak Yanti kembali ke haribaan-Nya. Sebuah penegas bahwa Yanti memang kafir. Dan secara otomatis, mengingat hubunganku dan segala yang kulakukan untuknya, aku juga kafir.”

Seharian itu aku bersama Nul. Aku membantunya menyeret peti berisi Yanti ke mana-mana. Ketika malam menjelang, aku menawarinya menginap di rumahku. Dan ia menerimanya. Tujuh hari kami tinggal bersama dan ia menceritakan segala pengalamannya. Ia orang yang jujur, sejauh pengamatanku. Kejujuran yang menyebabkan ia selalu mengatakan seluruh yang terjadi atas dirinya kepada orang yang baru ia kenal. Dan itu sesungguhnya menyusahkannya, alih-alih memudahkan urusannya. Menurutku, dengan melihat jenazah Yanti, orang tak akan menduga kalau ia adalah seorang banci. Yanti tampak seperti seratus persen perempuan. Namun setelah mendengar ceritanya, alih-alih simpati, orang-orang justru menjauhinya dan ikut-ikutan menyebutnya kafir serta merasa berkewajiban untuk buru-buru mengusirnya.

Pada hari kedelapan, Nul memutuskan pergi setelah mengatakan bahwa ia mesti meneruskan perjalanan dalam rangka mencari tempat untuk menguburkan jenazah Yanti. Aku melepasnya dan berpesan bahwa ia bisa kembali ke rumahku kapan pun ia mau. Namun ia tak pernah kembali dan aku tak lagi mendapatkan kabarnya. Aku hampir melupakan Nul dan Yanti sampai beberapa hari yang lalu, sewaktu aku membaca berita yang dipacak salah satu kawanku di beranda Facebooknya yang mengabarkan bahwa di Jakarta sekelompok masyarakat menolak menguburkan jenazah dari seseorang yang dituduh kafir meski sesungguhnya mereka menyembah Tuhan yang sama namun menempuh jalan yang berbeda dalam memilih kepala daerah, aku kembali teringat mereka. Sudah dua puluh tahun berlalu dan aku merasa pesimis kalau Nul sudah berhasil menemukan tempat untuk mengubur Yanti.

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)