Orkestrasi Jiwa Sang Pencinta

in Hibernasi by
Orkestrasi Jiwa Sang Pencinta
Sumber Gambar: http://s9.favim.com

Angin yang berembus pelan dan udara segar tanggal 10 Januari 1810 pagi itu, tak berpadu-kelindan dengan biduk cinta yang ditabuh mesra, setelah semalaman larut dalam ketegangan.

Mungkin saja rasa sesal menghablur. Mungkin saja rasa puas menghempas begitu rupa karena kejengkelan dan rasa sakit yang mendera telah diungkap, atau gugusan kebencian yang disebabkan oleh kebohongan telah ditudingkan.

Itulah ihwal gemuruh jiwa Napoleon Bonaparte dan Josephine de Beauharnais meluap-luap pagi itu.

Ketegangan telah menguji dua orang yang saling mencintai. Tudingan-tudingan perselingkuhan dan ketidakpercayaan kian mengemuka. Kata-kata berloncatan dari lidah-lidah yang dikuasai rasa marah.

Josephine mempertanyakan pacar rahasia Napoleon, seorang gadis berkebangsaan Polandia, Maria Walewska. Pertengkaran semakin meruncing. Malam berlangsung begitu duka, begitu neraka. Malam itu—ya, malam itu keduanya bagai menelan batu-batu sungai.

Tetapi di pagi hari, meskipun pertengkaran berapi-api telah membakar jiwa-jiwa yang kecewa, Napoleon sempat menulis surat kepada Josephine, yang sebagian bunyinya begini: “Saya mengirimkan kepadamu tiga ciuman; satu untuk hatimu, satu untuk bibirmu, dan satunya lagi untuk matamu.”

Salah satu bukti surat asli yang memuat tulisan dipenuhi coretan revisi itu, sempat dilelang di London dan terjual seharga 557 ribu dolar Amerika, sekitar Rp7.519.500.000,00.

 

***

Pada mulanya, percintaan keduanya terjalin romantis, surat-surat cinta terkirim gayung bersambut. Napoleon muda begitu tergila-gila kepada Josephine. Meskipun seorang janda yang lebih tua dan telah memiliki dua orang anak, ia tetap memikat hati Jenderal Napoleon Bonaparte.

Keduanya bertemu pada tahun 1795, setelah perempuan cantik dengan leher indah itu diajak ayahnya pindah ke Prancis. Sebelumnya, ia tinggal di kampung kelahirannya; Martinique, sebuah negara persemakmuran Perancis di dekat Laut Karibia bagian timur; di bagian selatan berbatasan dengan St. Lucia, dan di barat laut berbatasan dengan Dominika.

Sementara, Napoleon Bonaparte adalah seorang Jenderal Militer yang kelak menjadi Kaisar Prancis. Napoleon berhasil menguasai seluruh daratan Eropa, baik melalui pendudukan dan perang. Ia lahir dari keluarga bangsawan Italia yang bermigrasi ke Corsika. Napoleon dilahirkan di tanah rantau, tepatnya 15 Agustus 1769—tiga bulan setelah kematian Paus Markus VII di Aleksandria Mesir—dan Mesir adalah salah satu wilayah yang karena kekuatannya kelak tak dapat ditaklukkan oleh Bonaparte.

Meskipun hidupnya berdekatan dengan dunia militer, senjata, perang,  dan kekuasaan, Napoleon memiliki keahlian dalam merajut cinta dan kasih sayang. Ia tidak saja menguasai seni berperang untuk menaklukkan lawan-lawannya, tetapi juga seni mencintai yang membuat wanita-wanita takluk ke pangkuannya.

Romantisme percintaan Napoleon ini terlihat dalam sebuah surat yang dikirimkannya kepada Josephine:

 

Paris, Desember 1795

 

Aku bangun dalam keadaan memikirkanmu. Fotomu dan sore yang memabukkan itu di mana kita menghabiskan waktu bersama, dan sekarang tinggallah perasaanku yang kacau-balau.

Josephine manisku, yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun, yang berpengaruh aneh terhadap hatiku! Apakah kamu marah padaku? Apakah benar yang kulihat ini bahwa engkau bersedih hati? Apakah engkau khawatir? Jiwaku tersiksa oleh kesedihan yang mendalam yang karenamu tak pernah bisa beristirahat, Sayang.

Tetapi masihkah kau ada untukku? Jiwa dan perasaanmu kau serahkan padaku? Masihkah kan kudapatkan dari bibirmu, dari hatimu, cinta yang membakarku seperti api? Ah! Malam itu aku menyadari sepenuhnya betapa salahnya aku membayangkanmu dari foto yang kau berikan kepadaku.

Kamu meninggalkanku siang itu; Aku hanya melihatmu selama tiga jam. Sampai kemudian, mio dolce amor, seribu ciuman; tetapi jangan berikan padaku lagi, karena ciuman itu telah menjadikan darahku terbakar.

 

***

Seorang pemikir terkenal berkebangsaan Jerman, Erich Fromm (1900-1980) pernah menulis buku berjudul The Art of Loving. Baginya, cinta merupakan sebuah seni yang selayaknya diperjuangkan dan dimengerti. Cinta bergelayut di kedalaman emosi dan rasio, dan cinta menemukan napasnya sendiri dengan cara yang indah untuk menyatukan dua eksistensi ke dalam satu visi.

Itulah sebabnya, Fromm kemudian menyusun prinsip-prinsip penting seni mencintai. Pertama, setiap orang yang mencintai seharusnya memberi perhatian (care). Perhatian atas nama cinta mengakar pada ketulusan. Cinta, seperti bunga-bunga di taman, ia butuh disiram setiap waktu. Ia butuh di-openi. Ia butuh dibersihkan.

Dua entitas tubuh dari dua orang manusia yang saling memadu cinta, saling bertukar energi, bertukar emosi, bertukar kisah, bertukar segalanya. Di dalamnya terdapat persamaan sekaligus perbedaan. Sementara perhatian tidak untuk menyamakan perbedaan, tetapi perhatian selalu mendudukkan perbedaan sebagai perbedaan yang dapat bersentuhan atau beradaptasi.

Kedua, setiap orang yang mencintai harus bertanggung jawab (responsibility). Pertanggungjawaban itu tidak sekadar berupa dampak atas pilihan untuk mencintai. Tanggung jawab yang paling nyata adalah kesanggupan untuk memberikan perhatian di segala hal.

Bertanggung jawab untuk mencintai merupakan ketersediaan diri untuk mengalami bahagia, duka, lara, perih, dan seterusnya. Sang pencinta tidak akan pernah mengeluh, meskipun ia seperti lilin; ia tak peduli, api cinta terus menyala, meskipun lambat laun tubuhnya terbakar dan leleh. Fromm mengistilahkan model cinta ini sebagai gejala masokhistik.

Ketiga, setiap orang yang mencintai perlu saling menghargai. Bila dua entitas manusia secara eksistensi memiliki perbedaan; kekurangan sekaligus potensi, maka perlu kiranya dua belah pihak saling menghargai atas potensi yang dimiliki. Dan tentu kedua-duanya perlu menyadari bahwa kekurangan bukanlah aib yang harus diumbar atau bahkan dicela. Tetapi kekurangan seharusnya dilengkapi.

Apresiasi yang dilakukan setiap individu pasti berbeda dengan individu yang lain. Luapan cinta yang mendalam akan mudah diilustrasikan melalui sikap yang sesuai dengan karakter masing-masing individu. Dan orkestrasi jiwa para pencinta akan terus berdenting di setiap senyuman, perhatian, tanggung jawab, dan penghargaan yang diberikan.

Keempat, setiap orang yang mencintai perlu saling memahami. Secara eksistensial, manusia memiliki tingkatan kapasitasnya sendiri-sendiri. Sang pencinta selalu mengerti apa dan bagaimana cara mendekati “objek” yang dicintainya—untuk melansir logika subjek-objek dalam relasi cinta.

Sang pencinta selalu ada dalam situasi dan kondisi apa pun. Keduanya bertepuk dua tangan. Keduanya tahu apa yang harus dilakukan dan dihindari. Keduanya pun mengerti apa yang disukai dan tidak disukai. Itulah sebabnya, sang pencinta akan bertindak seperti sepasang kupu-kupu, yang tidak akan pernah menanyakan kembali; apakah kamu cinta padaku atau tidak?

Fromm menguraikan prinsip-prinsip cinta manusia secara eksistensial. Fromm juga menjelaskan bahwa relasi cinta tidak sekadar yang terjalin antara manusia dengan manusia, melainkan cinta terhadap lingkungan alam raya.

***

Dan ternyata, di pagi hari itu, tanggal 10 Januari 1810, perahu cinta Napoleon Bonaparte dan Josephine bersandar di jangkar perpisahan. Air mata kesedihan membasahi jiwa keduanya setelah sekian waktu mendayung bersama di lautan rumah tangga.

Memang menjalankan kendali rumah tangga tidak semudah memainkan kata-kata, tidak semudah mengarahkan senapan, tidak setaktis dalam strategi berperang. Jalinan cinta dalam rumah tangga memiliki misterinya sendiri yang sulit dijelaskan melalui logika dan seabrek teori.

Begitu banyak teori-teori cinta disusun, begitu banyak puisi-puisi cinta dikumandangkan, begitu banyak bangunan-bangunan monumen cinta dibangun, begitu banyak buku-buku cinta diterbitkan, tetapi cinta dan misterinya tidak pernah selesai dijelaskan. Itulah sebabnya, seorang sastrawan dan dramawan besar dari Inggris, William Shakespeare, pernah berkumandang dalam Hamlet II-nya: Ragukan bahwa bintang itu batu/ Ragukan bahwa matahari bercahaya/ Ragukan bahwa kebenaran itu dusta/ Tapi jangan ragukan cintaku.

Ahmad Muchlish Amrin

Ahmad Muchlish Amrin

Lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan lain-lain.Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud, Bali. Kini mengelola Komunitas Tang Lebun di Yogyakarta.
Ahmad Muchlish Amrin

Latest posts by Ahmad Muchlish Amrin (see all)