Pada Dasarnya Suci

in Cerita Pendek by
artstation.com

“Pada dasarnya aku suci.” Itulah kalimat pembuka yang kamu katakan waktu ditanya bagaimana sebenarnya kisah perjalanan hidupmu. “Ya, memang begitu adanya,” lanjutmu. Kemudian kamu menjelaskan bahwa di awal-awal hidup, dirimu kamu ibaratkan serupa tunas yang baru muncul. Perlahan tumbuhnya, dan saking pelannya orang-orang tidak pernah tahu kapan waktunya kamu berkembang menjadi besar. Bahkan kamu juga mengatakan, kamu sendiri pun hampir tidak menyadari perkembangan itu. Tetapi karena ada beberapa peristiwa yang menandai tahapan hidup yang seharusnya memang kamu lalui, akhirnya kamu memahaminya. Katidaksadaran dirimu akan perkembanganmu itu juga karena kamu merasa bahwa kondisi tubuhmu yang bersifat elastis. Kamu menyebut tubuhmu elastis karena dalam waktu-waktu tertentu tubuhmu bisa berubah-ubah ukuran, terkadang bisa tiba-tiba membesar dan memanjang tetapi kadang tiba-tiba bisa mengecil, seperti mengkerut. Karena hal itulah maka jika memang ada pertumbuhan pada tubuhmu menjadi terkesan tidak terasa.

Sebelum kamu menceritakan perkembanganmu selanjutnya, kamu menyisipi dengan cerita kisah masa lampau, di mana waktu sebelum kamu hadir di bumi ini. Kamu bilang bahwa waktu itu kamu sudah bisa mengerti apa yang orang-orang katakan mengenai dirimu. Kamu bisa mengetahui semua itu karena kamu mempunyai tuan, yang dari hari ke hari semakin sempurna wujudnya. Tuanmu bisa mendengar percakapan-percakapan mereka. Kamu mengatakan pada waktu itu orang-orang berlomba-lomba menebak, kamu laki-laki atau perempuan. Demikian juga dengan kedua orang tua tuanmu, tetapi bagi mereka lebih bersifat sebagai sebuah harapan, yang satu berharap menginginkan laki-laki, dan yang lain berharap perempuan. Lalu kamu juga menceritakan, begitu  kamu hadir di dunia ini, pada saat itu kamu tahu, ada dua ungkapan dari orang-orang yang melihat dirimu. Ungkapan pertama adalah ungkapan kegembiraan, bahkan ada yang berteriak hore, karena apa yang mereka tebak, benar–bahwa kamu laki-laki, dan tanggapan lainnya seperti sebuah ungkapan kekalahan. Mereka sedikit kecewa karena tebakannya salah, ternyata kamu bukan perempuan. Satu-satunya tanggapan yang tak memasalahkan jenis kelamin adalah kedua orang tua tuanmu.

“Tuanku menangis.” Itulah kalimat pendek yang kamu katakan untuk mengawali ceritamu selanjutnya. Kamu menerangkan bahwa tangisan itu biasanya akan dimaknai sebagai sebuah kegembiraan oleh orang-orang yang menyaksikan. Menurut mereka, dengan adanya tangisan itu menandakan bahwa tuanmu dalam keadaan normal. Kelak ia akan bisa berbicara sebagaimana mestinya. Pada saat itu segala doa dan harapan tercurah agar tuanmu nanti bisa menjadi manusia yang dapat berguna bagi agama dan dunianya. Dan kamu juga mengatakan pada masa-masa awal kehidupan itu, kamu dianggap sebagai sesuatu yang suci, dan kamu sendiri juga menganggap memang pada dasarnya hal itu adalah kesucian.  Kamu menjelaskan pengertian suci itu dengan sebuah gambaran bahwa keberadaan dirimu yang kasat mata itu tidak pernah sampai memunculkan pemikiran jorok atau sesuatu yang tidak pantas, Meski kamu dibiarkan terbuka tanpa penutup sekalipun, kamu akan dipandang sebagai sesuatu yang manis. Sesuatu yang wajar. Lalu kamu buru-buru juga menambahkan, bahwa pemaknaan itu tentu saja hanya teruntuk bagi orang-orang yang normal, karena menurutmu ada sebagian orang yang tidak normal, yaitu orang-orang yang mengidap penyakit aneh, orang-orang yang suka mempermainkan golonganmu.

Lalu kamu merasa perlu untuk menjelaskan bahwa kedudukanmu di kehidupan ini tidak bisa mandiri. Kamu merasa tidak bisa bersikap dan berperilaku sesukamu. Apa yang semua kamu lakukan semata karena ada yang menggerakkan. Kamu sangat tergantung kepada tuanmu. Kamu juga mengatakan bahwa kamu tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi tuanmu. Kamu hadir di bumi ini langsung melekat pada tuanmu. Ketidakbisaan memilih itu sama halnya, tidak bisanya tuanmu memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya. Meski begitu, sebenarnya hal itu tidak pernah kamu jadikan masalah, paling tidak hingga saat tuanmu sampai di usia akil balik. Kamu merasa dari sejak kamu hadir di bumi ini hingga tuanmu akil balik, hidupmu baik-baik saja. Kamu menikmati proses pertumbuhan dengan wajar dan tanpa masalah. Bahkan kamu pun sangat menikmati ketika sedikit dari kulitmu dipotong untuk keperluan kesehatanmu. Apalagi di saat dirimu mengalami peristiwa mandi besar sebagai tanda kedewasaan, di saat itulah kamu merasa benar-benar dapat menjadi dirimu sendiri. Bahkan saat peristiwa itu terjadi kamu menggambarkannya sebagai percintaan suci, kamu merasa dihadiahi sebuah pasangan yang benar-benar membuatmu bergairah, dan gairah itu dapat memuncak sampai pada titik kenikmatan yang sejati. Pada saat itu kamu merasa hidupmu dipenuhi dengan kerinduan akan kenikmatan serupa.

“Tetapi harapanku itu rupanya tak pernah kesampaian.” Begitu kalimat yang kamu ucapkan untuk mengatakan bahwa sejak peristiwa itu justru hidupmu penuh dengan kemaksiatan. Kamu mengatakan bahwa rupanya tuanmu adalah seorang bajingan. Suka main perempuan. Meski masih usia remaja, tuanmu telah berpetualang dari perempuan satu ke perempuan lain. Dan sejak saat itu kamu merasa hidupmu penuh derita. Kamu sering dipaksa bekerja untuk memuaskan banyak perempuan. Dari sekian perempuan itu kamu meyakini sebagian besar dari mereka adalah perawan. Saking banyaknya kamu dipaksa bekerja, kamu sampai tidak ingat, sudah berapa banyak perawan yang telah bobol olehmu.

“Orang tua tuanku, bukan orang sembarangan. Maksudku bukan orang sembarangan, mereka adalah tergolong orang-orang kaya di bumi ini.” Kamu mengatakan, bahwa menurutmu keadaan tuanmu yang seperti itu merupakan sebuah keuntungan bagi tuanmu. Kamu meyakini, keadaan itu justru membuat tuanmu semakin keranjingan nakalnya. Kamu merasa hidup tuanmu telah terjamin. Oleh karena hal itulah kamu tidak merasa heran jika tuanmu suka hidup berfoya-foya, menganggap hidup ini hanya pesta belaka. Tak pernah mau peduli dengan penderitaan orang lain. Hingga kamu menganggap, puncak dari kenikmatan tuanmu adalah saat tuanmu terpilih menjadi salah satu anggota dewan di negeri ini. Kamu menilai, hal itu sebagai sebuah keadaan yang ironis. Anggota dewan yang seharusnya memberi contoh hidup yang baik, yang sederhana dan memperhatikan kepentingan rakyatnya, ternyata hanya diduduki oleh orang macam tuanmu. Jika mengingat itu semua, kamu ingin pergi dari kehidupannya. Kamu ingin berpisah darinya. “Tapi mana mungkin bisa?” tanyamu lesu, menyesali keadaan dirimu yang semakin hari semakin merasa layu.

“Sesungguhnya bukan hanya aku yang menderita.” Kamu berkata begitu saat kamu akan menceritakan bahwa sebenarnya ada banyak, selain dirimu yang menderita hidupnya karena tuanmu. Salah satu yang kamu anggap paling menderita itu adalah istri tuanmu, Kamu mengatakan, sebenarnya perempuan itu adalah salah satu perempuan yang menjadi korban tuanmu, tapi karena perempuan itu tak mau menyerah, akhirnya tuanmu terpaksa menikahinya. Setelah pernikahan dilakukan bukan lantas hidup istri tuanmu menjadi bahagia, tapi justru sebaliknya. Meski dia telah mendapat status istri tetapi sesungguhnya tuanmu telah menginjak-injak harga dirinya lebih parah. Bahkan tuanmu tidak pernah punya gairah lagi kepadanya. Kamu juga menambahkan, tentu saja termasuk dirimu yang tidak pernah lagi diajak tuanmu untuk memuaskannya. Kadang kamu merasa kasihan kepada istri tuanmu itu, tetapi lagi-lagi takdir dirimu menjadi penghalang bahwa kamu tidak bisa melakukannya sendiri. Pikiran tuanmulah yang bisa menggerakkan tubuhmu. Bahkan sering terjadi, kamu telah berada di hadapan istri tuanmu yang telanjang tetapi hal itu tidak juga membuatmu bisa berdiri. Bahkan kamu menyakini, bagi tuanmu daripada bergumul dengan istrinya, dia pasti akan lebih memilih untuk memuaskan dirinya sendiri dengan mempermainkan dirimu sepuasnya.

“Bangsat!!” Tiba-tiba kamu mengumpat. Kamu merasa jengkel kepada tuanmu yang telah memperlakukan kamu berkebalikan jika tuanmu sedang mencumbui perempuan-perempuan yang lainnya. Kamu mengatakan bahwa tuanmu memang orang yang tidak berperikemanusiaan, karena kebejatan seperti itu tetap saja dilakukan, meski dirinya dalam posisi kejerat hukum atas dakwaan merampok uang rakyat seenaknya. Kamu juga menceritakan kebiasaan yang dilakukan tuanmu saat hendak bergumul dengan perempuan-perempuan lacur. Untuk menunjang kerjamu, tuanmu tidak segan-segan meminum ramuan khusus penguat yang mempunyai kasiat untuk menegangkanmu lebih kuat dari yang sewajarnya. Di saat-saat seperti itulah, kamu merasa hidupmu benar-benar tersiksa. Lalu kamu mengandaikan jika kamu punya pikiran sendiri, kamu akan melumpuhkan tubuhmu sendiri agar kamu tidak bisa kaku. Kamu akan membuat dirimu lunglai di hadapan perempuan-perempuan itu. Tapi lagi-lagi hal itu hanya harapan kosong yang tak pernah bisa terwujud. Kenyataannya justru tubuhmu semakin diperas.

“Aku lega.” Kalimat pendek itu sepertinya sebuah tanda bahwa ceritamu akan segera berakhir. Kamu mengatakan sekali lagi tentang pengertian bahwa pada dasarnya adalah sebuah kesucian. Kini kamu merasa terbebas dari segala kemaksiatan dan kebrutalan. Kamu mengawali cerita bagian ini dengan sebuah kisah percekcokan tuanmu dengan istrinya untuk yang kesekian kali. Katamu, di malam itu karena istri tuanmu tidak pernah dianggapnya ada, bahkan tuanmu pernah mengatakan kalau istrinya telah dianggap mati, dia menuntut cerai dan meminta sedikit bagian harta untuk bekal pergi dari rumah itu. Tetapi tuanmu tidak sudi menanggapinya. Tuanmu justru mengusirnya begitu saja dan istri tuanmu tak kuasa melawan. Kamu mengatakan, malam itu istri tuanmu benar-benar pergi.

Kamu melanjutkan ceritamu. Malam itu ternyata istri tuanmu kembali lagi. Kembali ke rumah tuanmu, tetapi bukan datang dengan baik-baik, melainkan dengan cara mengendap-endap, lewat pintu belakang. Begitu dia bisa masuk rumah, dia langsung menuju kamar di mana tuanmu sedang terlelap. Dia mendekati tuanmu dan pada saat itu, dalam waktu dan gerakan yang cepat, tangannya telah meraih tubuhmu. Sedetik kemudian, sebuah gunting telah berada di hadapanmu. “Kress.” Putus sudah tubuhmu, terpisah dari tuanmu. Pada saat itu sebuah teriakan melengking panjang menggema. Kamu mengatakan, pada waktu kamu mendengar teriakan itu kamu masih bisa menyadari bahwa dirimu ternyata sudah tidak mempunyai tuan lagi. Dari situ kamu merasa heran dengan kondisimu, yang meski sudah tidak lagi menempel pada tuanmu, kamu masih bisa mendengar dan merasakan segala sesuatu, termasuk waktu kamu bisa merasakan bahwa kamu justru bahagia saat kamu mendapati dirimu telah terlepas dari tuanmu. Pada saat itu kamu merasa telah terbebas dari derita. Kamu merasa telah kembali kepada sebuah kesucian.***

Yuditeha

Yuditeha

Alumni De Britto dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini, dikenal sangat santun dan menyenangkan. Tapi karya-karyanya, memiliki keliaran yang kadang mengejutkan. Ia menulis puisi, cerpen, dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku kumpulan cerpennya, Balada Bidadari , diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2016.Akan segera terbit kumpulan cerpen terbarunya, Matinya Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya di Penerbit Basabasi. Pelukis wajah yang hobi bernyanyi puisi ini, adalah penyuka bakpia dan onde-onde.
Yuditeha

Latest posts by Yuditeha (see all)