Pantulan Yahudi dalam Roman Indonesia

in Esai by
surrealismtoday.com

Ezekiel masih dalam tahanan sampai sekarang. Namun, nama Robert Suurhof tak pernah diumumkan [sebagai pelaku pencurian itu]. Soalnya, dia berstatus Totok Eropa, Ezekiel Yahudi” [Pramoedya, 1981: 9]

Saya ingin membuka tulisan ini dengan menceritakan pengalaman suatu hari pada tahun 2014 saya akhirnya terhubung dengan salah seorang keturunan Yahudi Indonesia. Saya mengenali identitasnya sebagai anggota UIJC (United Indonesian Jewish Community) yang berpotensi menjadi salah satu narasumber dalam riset Indonesian Jewish history yang sedang saya lakukan. Ucapan terima kasih segera saya layangkan begitu ia mengonfirmasi permintaan pertemanan facebook dari saya dan upaya untuk menilai apakah ia layak untuk jadi narasumber segera saya mulai. Perbincangan online belum genap berjalan setengah jam, namun komunikasi tiba-tiba terputus karena ia membuang saya dari pertemanan facebook hanya gara-gara ia dapati informasi dari Paman Google bahwa saya juga adalah pengarang sastra, padahal posisi saya ketika itu jelas sebagai mahasiswa pascasarjana dalam rangka penelitian untuk sebuah karya akademik tesis master.

Bahwa saya punya rekam jejak sebagai penulis cerita pendek (sastra) adalah benar, namun persepsinya yang terkesan negatif pada pengarang sastra telah menafikan bahwa posisi saya ketika itu sesungguhnya adalah sebagai peneliti yang identitasnya jelas dari Program Studi Master (S2) Sejarah Unand. Sejumlah pertanyaan menghinggapi kepala saya. Mengapa ia begitu cemas pada orang yang punya rekam jejak pengarang sastra? Apakah ia takut bahwa sejarah Yahudi yang dimilikinya akan diblender menjadi karya sastra dan lalu dalam persepsinya yang menakutkan itu akan dikonsumsi oleh pembaca luas dan menurutnya itu bisa berdampak pada keselamatannya? Suatu penelitian yang kemudian saya publikasikan pada bulan April 2018, Di Bawah Kuasa Antisemitisme: Orang Yahudi di Hindia Belanda (1861-1942), nyatanya menunjukkan bahwa antisemitisme di negeri ini tidak terhubung langsung dengan kehadiran orang-orang Yahudi.

Saya ingin menyatakan bahwa di tengah-tengah ketersurukan sejarah Yahudi di negeri ini justru karya sastralah yang pertama-tama menangkap dan menghadirkan persoalan-persoalan seperti apa saja yang menimpa orang-orang Yahudi khususnya Yahudi Aceh dan Yahudi Surabaya era kolonial. Saya menemukannya dalam salah satu Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, berjudul Anak Semua Bangsa, serta sebuah roman (sastra) kolonial yang ditulis oleh pengarang Indonesia bernama pena M. Choosen, berjudul Rentjong Atjeh.

Dalam roman Pramoedya itu dikisahkan seorang Yahudi Surabaya bernama Ezekiel yang dituduh oleh polisi kolonial sebagai tukang tadah atas barang curian yang dilakukan Robert Shurhoof (lihat Pramoedya, 1981: 9). Soal-soal mengapa diskriminasi hukum kemudian menimpa Yahudi Surabaya itu ditampilkan dengan baik oleh Pramoedya. Pasal tukang tadah yang tadinya dipersiapkan untuk Yahudi Surabaya yang bernama Ezekiel itu tiba-tiba dialihkan oleh pihak berwenang kolonial sebagai pelaku utama pencurian. Antisemitisme kolonial dihadirkan sebagai latar dalam karya Pramoedya Ananta Toer tersebut. Salah seorang keturunan Yahudi Indonesia yang saya ceritakan di atas pastilah tidak mengetahui bahwa suatu upaya positif justru dilakukan oleh pengarang sastra bernama Pramoedya dalam menangkap dan memantulkan kembali soal-soal kehadiran nenek-moyangnya yang telah lama terkubur dalam sejarah negeri ini.

Sejarawan positivistik pastilah menolak apabila dikatakan bahwa roman sastra adalah karya sejarah, namun tidak di kalangan sejarawan postrukturalis di mana karya sastra dinilai menyediakan pantulan kenyataan yang jauh lebih detail dan sublim yang tidak mampu ditangkap oleh arsip-arsip sejarah. Seorang sarjana dari Universitas Cornell, Ben Anderson, memahami pantulan sejarah nasional Filipina pertama-tama justru lewat novel karya Jose Rizal. Juga tidak sedikit dari indonesianis pemula yang sangat terbantu oleh roman-roman Pramoedya dalam membentuk pemahaman awal mereka tentang sejarah Indonesia awal abad ke-20. Pemaknaan dangkal terhadap sastra oleh seorang keturunan Yahudi yang telah membuang saya dari daftar pertemanan facebook itu jelas menyedihkan.

Saya ingin menampilkan satu lagi karya sastra Indonesia yang berhasil menangkap dan memantulkan kembali soal-soal kehadiran orang Yahudi di negeri ini pada era kolonial. Suatu roman terbitan 1940 berjudul Rentjong Atjeh (terbitan Moestika Alhambra) yang ditulis oleh M. Choosen adalah karya sastra lainnya yang menghadirkan seorang Yahudi di Aceh lengkap dengan keberadaan perusahaannya serta konflik seperti apa yang berlangsung antara dirinya dan pribumi Hindia Belanda bernama Nizam. Meskipun politik kolonial menempatkan roman itu sebagai bacaan liar, roman itu jelas menyebut Boulchower sebagai Tuan Tanah (beretnik Yahudi) yang betul-betul ada dan diakui keberadaannya dalam sejarah masyarakat Aceh. Firma Jew & Co adalah nama perusahaan Yahudi itu, berlatar tempat di utara Sumatra dengan latar sosial Aceh tahun 1930-an.

Kehadiran orang-orang Yahudi di Aceh berlangsung ramai sejak 1873 hingga awal abad ke-20. Suatu perkuburan Yahudi terdapat di Peutjut, Banda Aceh, dan keturunannya masih hidup menetap di utara Sumatra hingga era Indonesia moderen. Pengarang sastra seperti M. Choosen, yang hidup sezaman dengan kehadiran orang Yahudi itu sendiri (era kolonial), menangkap dan memantulkan kembali keberadaan orang Yahudi lengkap dengan dinamika eksternalnya dengan penduduk Aceh. Peran sejarawan Indonesia yang selama ini alpa dalam menangkap kehadiran Yahudi di negeri ini nyatanya justru diisi oleh pengarang sastra.

Pengarang sastra seperti M. Choosen adalah generasi awal yang mengisi kekosongan peran sejarawan dalam mencatat dan memantulkan soal-soal kehadiran Yahudi di negeri ini, di samping tentunya traveller, seperti Jacob Saphir. Pramoedya Ananta Toer kemudian melihat dan memantulkan sejarah kehadiran Yahudi Surabaya yang tidak diakomodir dalam arsip-arsip resmi kolonial. Bahkan jauh ke belakang, sebelum kedatangan Jacob Saphir di Batavia abad ke-19, seorang pengarang Melayu bernama Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi telah mencatat kehadiran orang Yahudi di seberang Pulau Sumatra.

Ketika sejarawan alpa, sastrawan mencatat. Toda raba!

Romi Zarman

Peneliti, penulis buku Di Bawah Kuasa Antisemitisme: Orang Yahudi di Hindia Belanda 1861-1942 (Tjatatan Ind & JBS, 2018).

Latest posts by Romi Zarman (see all)