Patah Hatimu (Bisa) Ditebus dengan Naik Pesawat

in Hibernasi by

Kalau harga tiket pesawat sama dengan tiket kereta api, populasi orang-orang galau di Indonesia akan berkurang secara signifikan. Saya percaya itu. Saya nulis beginian memang nggak pakai teori-teorian, karena pada kenyataannya, belum satu orang pun yang merilis buku atau tesis bertajuk Efek Naik Pesawat terhadap Kegalauan Seseorang. Kegalauan tidak mesti dikait-kaitkan dengan peristiwa putus cinta, lho.

Tapi supaya celotehan ini lebih menjurus, atau bahasa kerennya: spesifik, anggap saja tulisan ini memang dipersembahkan buat kamu yang sedang patah hati. Supaya lebih mudah, saya mencomot Lubuklinggau sebagai ilustrasinya, ya. Kita semua sudah tahulah, ya, keunggulan perjalanan udara adalah waktu tempuhnya yang lebih cepat. Nah, menurut penulis nih, yang beginian kudu dimanfaatkan oleh yang sedang merana, ehm, maksudnya kamu yang patah hati, Mblo. Apa hubungannya? Ya ada, lah. Nalar sajalah, ya, masak kamu yang sedang meratapi nasib diputusin kekasih di bawah Jembatan RCA atau baru aja menangkap basah gebetanmu sedang suap-suapan sate sosis di Taman Kurma atau bahkan seumur hidup kamu belum pernah menikmati sensasi hubungan merah jambu itu, kudu menempuh perjalanan darat yang luamaaa pake buangets ke Jakarta atau Palembang?!

Belum lagi kalau saban rehat untuk makan-minum-shalat, eeehh kamu ngeliat cowok/cewek yang mirip mantan, kan luka lama itu malah makin benyek. Mending kalau doi melempar senyum hangat, tapi kalau malah manggilin suami atau istri plus anak-anak untuk memamerkan kebahagiaan di hadapan kamu, masak kamu harus nangis tereak-tereak dekat roda bus! Atitt, atitt ati, Bro!

Masih kurang?

Perjalanan darat tak jarang membuatmu berhadapan dengan masalah klasik ini: keadaan kendaraan yang kamu tumpangi ternyata kurang fit! Mau itu bus, travel, atau kendaraan pribadi (kalau kamu punya lho, yaaa), bakal nyebelin bin ngeselin kalau mogok di jalanan. Apalagi di tengah hutan. Apalagi dapetnya sopir manja bekas pegawai salon yang hari itu merupakan hari pertama doi masuk kerja. Nggak bisa ganti ban, nggak ngerti mesin. Apes!

Nah, sekarang bayangin kalau kamu bepergian dengan pesawat. Kamu sangat disarankan duduk dekat jendela lho, ya. Pemandangan dari ketinggian akan membuatmu makin relijiyes. Alih-alih ingat mantan, yang ada malah membuat mulutmu terus komat-kamit baca Alfatiha dan surat Qulhu (secara cuma itu yang kamu hafal!). Kamu diajak ngebayangin bagaimana seandainya pesawat kehabisan bahan bakar, berpapasan dengan badai, atau baling-baling di sayapnya terlepas karena dipake penumpang ibu-ibu untuk kipasan karena AC pesawat mati (huahahha asyeeem!), dijamin kamu bisa olahraga alias keringetan sepanjang perjalanan. Apalagi pas ngebayanginnya, pesawat mengalami guncangan hebat dan dedek balita di kursi sebelah pipisnya melipir ke jin kamu satu-satunya, tidakkah keadaan itu akan membuat kepribadianmu makin matang karena tempaan ujian? Cuaakeep!

Atau… anggaplah semuanya baik-baik saja, lancar-lancar saja, perjalanan udara tetap nggak memberi kesempatan bagi kenangan tentang mantan itu bisa bertandang. Why? Lha kamu bisa melihat pramugari yang bening-bening.

Kalaupun masih juga si mantan mengganggu pikiranmu, jangan khawatir, Lubuklinggau-Jakarta cuma 70 menit, kok (ke Palembang, lebih cepat lagi). Pramugari keburu ngumumin kalau burung besi bakal mendarat.

Kamu sudah akan menyongsong Jekardah, Mblo!

Dijamin, kemacetan plus polusi ibu kota akan membuatmu melupakan doi sebab kamu lebih khusyuk ngedumel sebab teriakan klakson atau makian para pengendara yang merasa punya kepentingan paling mendesak akan membuatmu sakit telinga, lalu sakit kepala, lalu muntah-muntah. Mantep tep tep, kan?!

Akhirul kalam, khidmatilah saran bepergian di atas. Sekali lagi, Lubuklinggau cuma ilustrasi, kok. Kamu konversikan saja jarak dan waktu tempuh dengan pesawat dengan tempat tinggalmu dan tujuan bepergianmu.

Tapi… (yaaa… ada tapinya), jangan lupa ya, tulisan ini buat kamu yang punya duit buat beli tiket pesawat. Kalau kemampuanmu cuma beli tiket kereta, travel, atau mencegat mobil sayur di tengah jalan, anggap saja ini hiburan, selingan buat hidupmu yang merana. Udah jomblo, melarat pula, huahaha.

Kerja gih, Mblo! Nabung! Naek pesawat!***

 

Lubuklinggau, 23-24 Juli 2017

Benny Arnas
Follow Me

Benny Arnas

lahir, besar, dan berdikari di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Dua buku mutakhirnya; Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu (Diva, 2017) dan Curriculum Vitae (GPU, 2017).
Benny Arnas
Follow Me