Patahan

in Cerita Pendek by

gambar ilustrasi

[1]

Cara bunuh diri paling tepat adalah melemparkan tubuh dari ketinggian. Dari atap gedung, misalnya. Meloncatlah.

Kau bisa minum racun, memang, tak perlu resep dokter untuk itu. Pakai saja obat nyamuk. Boleh sedikit bereksperimen dengan mencampur beberapa bahan. Air, sabun, gerusan bawah putih, dan minyak tanah. Aduk. Ayak dengan kain. Atau kalau malas, beli saja obat nyamuk cair. Tersedia di toko-toko terdekat, harga terjangkau. Ukuran kecil saja. Mungkin dengan aroma lavender, ekstrak lemon, jeruk, atau yang lainnya. Aroma stroberi sepertinya nikmat. Bayangkan, betapa manisnya bunuh diri. Tapi, catat ini, menenggak racun butuh waktu cukup lama sebelum dapat bertemu kematian.

Bunuh diri yang juga cukup lama adalah menyayat nadi dengan silet. Memang, cara ini tidak terlalu menyedihkan. Kau bisa menulis catatan pada kertas putih, lalu sobek nadi tanganmu tepat di atasnya. Darah merah mengaliri kertas putih. Warnanya bersatu. Merah dan putih. Ini adalah cara bunuh diri nasionalis, meskipun waktu sekaratmu lama. Sebab tubuh ternyata punya mekanisme unik, sel darah selalu berusaha menyembuhkanmu saat terjadi luka. Jadi barangkali perlu satu atau dua jam untuk melepas nyawamu. Itu pun didahului dengan kepala pening, tubuh melemas, kesemutan, tidak sadarkan diri, kemudian mati. Lama, bukan?

[2]

“Lama, ya?”

“Banget.” Lalu perempuan itu tertawa. “Aku rasa itu ciuman terlama kita.”

Rumah itu sepi. Halamannya cukup luas. Kamar itu pun cukup luas. Di dinding, terdapat tempelan gambar kembang-kembang mawar berlatar merah jambu. Romantis sekali. Mungkin jam dinding cemburu dengan cumbuan itu, jarumnya bergerak seolah lebih cepat. Sementara itu, sebuah meja akan tetap diam di antara kecupan. Juga kursi kecil di sana.

Tirai jendela itu membuka, sepasang itu berpagut sembari memandang senja. Dan ketika pandangan diarahkan ke kaca itu, pohon-pohon bergerak di kejauhan, rumah-rumah sedikit menutupi, tapi tenggelam matahari tetap tertangkap oleh retina.

“Cindy, apa kamu menghitung waktu ciuman kita barusan?”

“Tidak.” Perempuan itu menggeleng. “Aku hanya merasa bibir kita lekat teramat lama. Kamu menghitungnya?”

“Tidak, sih.”

“Kukira kamu menghitungnya.”

“Tidak. Aku hanya menikmatinya. Rasanya tak ingin melepas kedekatan bibirku dengan bibirmu.”

“Dasar perayu!”

“Hei, hei. Jangan menggelitiki begitu, Cindy. Aduh. Aku tak tahan geli. Memang begitu, kok. Hei, aduh, aku tidak sedang merayu.”

Dan jam pun benar cemburu. Ia memutar jarum detiknya lebih cepat. Jarum panjang dan jarum pendek tentu saja mengikut. Lalu langit semakin turun, awan-awan mulai bosan, dan sore hari semakin larut.

“Cindy, mau minum sesuatu? Biar aku buatkan.”

[3]

“Kopi hitam,” kata Lebai Karat. Bulat topinya dilepas, ditaruh pada sebuah meja.

“Wajahmu murung. Becakmu mogok atau karena BBM naik kemarin dulu?” tanya si penjual warung.

“Aih…, becak kayuh mana perlu bensin, Bu Midah,” sahut seorang satpam. Kancing teratas seragamnya terbuka, entah sedang gerah atau ingin pamer dadanya yang kotak. Tangannya menepuk pelan pundak Lebai Karat. Mendengar ceplosan satpam itu, isi warung menahan gelak tawa.

Lebai Karat hanya meranum senyum. “Jangan begitu, Bang Alai.”

“Lha, lalu kenapa?” tanya Bu Midah sambil menyodorkan segelas kopi. “Muka kok ditekuk begitu. Sore ini belum dapat penumpang atau bagaimana?”

“Bukan itu, Bu Midah. Terima kasih kopinya.”

“Aih,ceritalah, Lebai Karat,” sahut Alai. Satpam itu kembali menepuk pundak Lebai Karat dengan pelan. Dua kali tepukan.

“Iya, mbok ya Mas Lebai cerita gitu, lho,” kata Bu Midah.

Lebai Karat tersenyum lagi. Diseruputnya kopi, menguarkan bunyi lega, kemudian berujar, “Teman saya meninggal tadi siang, Bu Midah.”

Innalillahi.”

“Aih, Lebai. Serius kau? K-kok bisa mati?” tanya Alai.

“Katanya, teman saya itu jatuh dari bus. Ia biasa naik bus, begitupun hari itu. Nahas, atau mungkin ia memang sedang mengantuk, ketika bus melaju cepat, ia berjalan ke pintu depan. Entah karena pegangannya terlepas atau bagaimana, ia terjatuh. Roda belakang bus itu menggilas tubuh teman saya.”

“Astaga, Mas Lebai.” Bu Midah tampak kaget.

“Ngeri kali cara teman kau itu mati,” kata Alai. Ia manggut-manggut, sambil lagi-lagi menepuk pelan pundak Lebai Karat. “Tabah, Kawan. Masih untunglah teman kau itu tidak mati menggantung diri.”

“Huss, cangkem Mas Alai itu mbok ya dijaga!” timpal Bu Midah.

[4]

Sebaiknya kau memang tak mencoba gantung diri, meskipun tergolong simpel dan efektif. Maksudnya, kau cukup ikatkan seutas tambang pada langit-langit kamar atau dahan pohon. Buat simpul di bawah sebagai tempat leher masuk. Setelah berlalu lima hingga dua puluh menit, kau mati. Simpel dan efektif, tapi cara itu sudah terlalu banyak masuk televisi. Lagi pula matimu melotot, lidah terjulur, berak dan kencing di celana. Duh, tidak keren. Menjijikkan.

Menyumbat aliran napas barangkali bisa jadi opsi. Tergolong cepat. Jika aliran oksigen tersumbat, tentu kau mati. Barangkali otakmu terkena efek lebih dulu, lalu organ-organ dalam tubuh mulai berhenti berfungsi. Hingga pada akhirnya, detak jantung menjadi berantakan. Lalu… lalu mati.

Tapi, siapa yang sanggup menghentikan arus oksigen? Mustahil kau mampu menahan napas hingga mati. Terlalu mudah mencari udara lagi ketika terasa sesak. Akan lebih masuk akal, jika ada orang yang membekap mulut dan hidungmu. Tapi hal itu bukan tergolong bunuh diri, melainkan pembunuhan.

Menembak diri memang bikin cepat mati, tapi apa kau punya pistol? Terlalu mahal membelinya. Lebih perlu uang daripada membeli minyak tanah lalu membuat obat nyamuk cair. Belum lagi mengurus izin kepemilikan senjata api. Alah, ruwet!

[5]

“Hubungan kita memang rumit, Ana.”

Perempuan yang dipanggil Ana membuang pandang ke arah jendela. Mata itu menatap jauh. Amat jauh. Tangannya sedikit tremor, seolah kesemutan tiba mendadak. Bukankah senja ini, batinnya, diciptakan untuk siapa pun yang ingin menakjubi arsirnya di ufuk barat? Untuk kutu buku yang membaca teori relativitas sembari bersandar pada sebatang pohon. Untuk buruh-buruh yang pulang kerja rodi. Untuk seseorang yang menyeruput kopi di warung atau teras rumah. Untuk anak kos kere, untuk bocah-bocah kecil, dan untuk maniak dunia maya. Tidakkah kamu juga diciptakan bagiku?

“Cindy, kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?”

Perempuan bernama Cindy itu diam. Ia justru balik bertanya, “Mengapa kamu mencintaiku?”

“Aku….” Ana masih menatap jendela. “Aku tak tahu, Cindy. Maksudnya, aku tak begitu tahu apa kesibukanmu atau bagaimana mesranya kamu dengan suamimu. Tapi aku tetap katakan, aku mencintaimu. Apakah kita perlu alasan untuk itu?”

“Itu yang kadang membuatku bertanya-tanya. Tapi aku merasa tidak perlu cerita pada siapa pun tentang hubungan kita, Ana. Tidak juga cerita tentang hubungan dengan suamiku.”

“Cindy….”

“A-aku rasa,” kata Cindy, “banyak orang bertanya tentang ini dan itu, aku hanya menjawab sembarangan dan membiarkan orang lain bercokol dengan perkiraan mereka.”

“Sudahlah,” ucap Ana pelan.

“Apa menurutmu kita memang harus saling melupakan, Ana?”

“Cindy, hei!” Ana sedikit menghentakkan suara. Ia menghela napas, lalu berkata, “Aku bukan orang yang mudah melupakan dengan sengaja, Cindy.”

Kedua perempuan itu lantas diam, tapi sebuah ponsel berdering nyaring.

“Angkatlah, Cindy, HP-mu bunyi. Untuk sekarang, kita nikmati saja kisah ini, sebaiknya jangan terlalu dipikirkan.”

[6]

Pikirkan baik-baik!

Bunuh diri dengan meloncat dari gedung adalah paling tepat. Melompat dari lantai lima sudah bisa membuat kau mati. Lebih tinggi lebih bagus.

Agar lebih lancar, kau harus jatuh dengan posisi kepala di bawah. Hal itu lumayan sulit. Berat kepala lebih ringan daripada tubuh. Sehingga saat melayang, kepala cenderung terdorong ke atas. Berlatihlah begitu. Posisi terjun yang tak sempurna bisa menyebabkan kau tak langsung mati begitu menyentuh bawah. Akan konyol jika kau jatuh dan masih bergerak-gerak, bernapas, dan tulang-tulang hanya remuk. Lalu orang-orang menolong, membawa ke rumah sakit, dan kau hidup lagi. Lebih menyakitkan.

Kegagalan itu menyakitkan, karenanya bunuh diri yang baik tetap perlu direncanakan. Meski begitu, kau tetap harus bebas bermain-main. Misalnya, meloncat dari lantai enam atau sepuluh, kau bebas memilih dari lantai berapa terjunmu. Supaya lebih efektif, usahakan kau tak jatuh di air atau pepohonan. Mereka meredam benturan. Pastikan tempat jatuhmu pada benda keras, seperti semen, aspal, atau beton trotoar.

Sebagai contoh….

[7]

“Misalkan pemakamannya besok, berarti nanti malam kau pulang kampung?”

“Itu dia, Bang Alai. Aduh, bagaimana ya, tapi mana cukup penghasilan tukang becak untuk pulkam mendadak.”

“Ya sudah, kau pakai uangku dulu. Ayo ikut ambil tabungan di ATM. Setelah itu, berkemas dan kau cari itu bus di terminal. Pokoknya kau harus datang ke pemakamannya.”

“Tapi, Bang….”

“Ayo!” potong Alai. “Aih, apa itu ramai-ramai di kantor?”

Lebai Karat menoleh. Dilihatnya orang-orang berdatangan. Berlari, berkerumun di depan gedung kantor tempat temannya yang satpam itu bekerja. Alai memicingkan mata, memusatkan pandangan. “Bu Midah, aku tinggal sebentar. Ada ramai-ramai di depan. Ngebon dulu, ya. Ayo, Lebai Karat, sekalian nanti ke ATM.”

Mereka berjalan mendekati kelimun. Satpam itu berteriak, “Apa ini kok keroyokan begini? Minggir. Minggir, beri jalan.” Alai dan Lebai Karat membelah kerumunan itu.

“Lebai, astaga….”

“Bang?”

“Itu Mister Lemuria. Dia bosku di kantor. Dia orang baik. Dia….”

Lebai Karat telah tahu apa yang akan diucap temannya.

“Mati, Lebai.”

[8]

Terdengar panggilan telepon dimatikan. “Siapa?” tanya Ana.

Semburat langit menghujani retina dua perempuan itu. Deras. Warna oranye itu telah berulang kali menembus bola mata, masuk ke relung-relung saraf, melewati pembuluh, menuju pusat otak. Cahaya itu bertambah tajam di ujung barat. Garis-garis arsir menjadi corak. Matahari merentangkan sayapnya memenuhi ufuk. Seolah memberi kesenangan, memerikan harapan, atau mencetuskan kata-kata untuk dituliskan.

Perempuan bernama Cindy terdiam lama. Matanya memandang entah dan tampak semakin basah. Ia kemudian berucap datar, “Suamiku, Ana…. Satpam kantor menelepon. Suamiku mati, Ana.”

Malang, 2015

Alra Ramadhan

Alra Ramadhan

lahir di Kulon Progo, 9 Maret 1993. Golongan darahnya B. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya. Tergabung dengan Malam Puisi Malang.
Alra Ramadhan

Latest posts by Alra Ramadhan (see all)

  • Widya Candra Dewi

    Keren sangat, butuh cukup konsentrasi karena seperti setting sinetron yang tetiba pindah latar. Twist endingnya keren, tak terduga.

  • Ali Nashokha

    Woowwww… Keren banget bos… Perpindahan alurnya rapi, terncana banget… Kaya’ tiga buah cerita berbeda, tapi endingnya ketiga cerita itu bisa nyambung… Keren banget… Makasih ilmuya…

  • kadarwati TA

    keren bangetttt, cara menyambungkan ketiga ceritanya bisa banget. TOP deh 🙂

  • Alra Ramadhan

    Terima kasih. Ilustrasinya terbaik. 🙂

  • Menurut saya, ini cerpen terbaik yang dimuat basabasi.co sejauh ini. (y)

  • riyan

    Keren. Bisa nyambung dr ketiga cerita, enggak nyangka pada endingnya. Tarik napas, ajukan jempol.

  • Lusi

    Keren

  • Keren mas …. ada humornya juga 😀 hihihi

  • Alra Ramadhan

    Selamat membaca. 🙂

  • Angel Rose

    TOP mas, membaca,sesekali tahan nafas, sesekali deg-degan, baru sadar dari awal-akhir nggak mengedipkan mata. Keren sangat!! inspiratif plotnya. Selamaat!!!

  • Kartini Nurhasanah

    Selamat mas. Ada cerpen yang cantik. Keren banget Mas. Bener-bener lancip dan endingnya keren banget :’)