Secuplik Kisah Penjaga Marwah Pegunungan Maratus

in Hibernasi by
Dok. Pribadi

Dari halaman penginapan ini terlihat jelas barisan gunung di sebelah Timur sana, Pegunungan Maratus.

Langit yang memayunginya berwarna abu-abu, memisahkan dari Kota Barabai yang langitnya begitu biru. A.W. Nieuwenhuis, seorang ahli etnografi dan antropologi asal Belanda, tak begitu rinci menyebut jumlah dan panjang barisan Gunung Maratus dalam bukunya Di Pedalaman Borneo. Yang dapat ia jelaskan hanyalah kehidupan penduduk pedalaman, kekayaan alam, serta flora-fauna pegunungan yang membentang dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan itu. Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan daerah yang dibentengi Maratus dari bagian timurnya. Punya banyak kisah yang membuatnya begitu penting menjaga marwah pegunungan Maratus.

Udara siang bertambah panas karena riuh sibuk kendaraan kota. Bulan September bulan yang kering. Terik hampir sepanjang hari di Barabai. Luas kota ini 40,71 km2 atau hanya 2,3% dari total keseluruhan wilayah HST. Sedikit lebih besar dari kota Yogyakarta yang luasnya 32,50 km2 dan tercatat sebagai salah satu kota dengan indeks pembangunan manusia terbaik di Indonesia dengan nilai 85,32 pada tahun 2016. Jumlah penduduk di Barabai mencapai 1.435 jiwa/km2 pada tahun 2016, dengan penggerak utama perekonomian kota ini ada di sektor pertanian.

Saya menemani lima tenaga ahli ilmu pemerintahan bertemu Abdul Latif Bupati HST di ruang tamu rumah dinasnya yang berhalaman langsung alun-alun kota Barabai. Waktu itu kami diberi kepercayaan melakukan sebuah kajian manajemen pemerintahan di kabupaten yang memiliki ikon Tugu Simpang Tiga Burung Anggang ini. Kami disambut dengan ramah. Jamuan sup ikan patin menjadi teman hangat kami berdiskusi tentang kondisi sosial-budaya masyarakat Suku Banjar, suku mayoritas di Barabai.

Abdul Latif menceritakan bahwa kondisi HST sebenarnya tak baik-baik saja. Beberapa perusahaan tambang melirik bentang Maratus di sebelah timur wilayahnya untuk dieksplorasi sebagai kawasan tambang. Namun hingga saat ini, ia dan masyarakat kukuh menolak adanya kegiatan tambang yang berisiko mengikis kegagahan Maratus itu. Komitmen bersama masyarakat untuk menjaga Maratus inilah yang pada akhirnya membuat perasaannya gelisah. “Masalahnya izin penambangan sekarang ada di provinsi, bukan di saya (kabupaten) lagi,” tegasnya. Terlebih, HST adalah satu-satunya kabupaten di Kalimantan Selatan yang bersih dari denyut tambang. Kabupaten terdekat HST seperti Balangan, Hulu Sungai Utara, Kotabaru, dan Hulu Sungai Selatan sudah mengeksploitasi Maratus sebagai wilayah tambang batu bara. “Kami akan terus berusaha menjaga Maratus,” tegas Abdul Latif.

***

Tiba-tiba saja mesin motor yang kami tumpangi mati. Rendra, teman yang satu motor dengan saya, sudah meramalkan sebelum kami berangkat. Tadi mesin Honda Vario ini brebet saat dihidupkan. Meski mesin agak rewel, kami memutuskan berangkat tanpa mengecek lagi kondisinya.

Benar saja, mesin mogok pada separuh jalan menuju Desa Haratai, dua puluh menit sudah perjalanan kami berlangsung. “Kita tunggu mesin dingin saja,” kata Rendra sedikit kesal. Empat teman saya yang tak bernasib sama pun ikut menunggu.

Sambil menunggu dinginnya mesin, saya menyapukan pandangan luas ke bukit-bukit Gunung Maratus, lalu sekeliling tempat saya duduk. Pohon-pohon kehijauan. Untunglah terik sedang teduh. Duduk termangu di tengah-tengah hutan pedalaman bukanlah panorama yang pas untuk menghabiskan siang.

Cerita Abdul Latif tentang keelokan bentang Maratuslah yang mengantarkan kami­—Rendra, Kelik, Husni, Yosi, Arif, dan saya—ke kawasan wisata alam Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kami mulai berangkat dari Barabai pukul 07.30, dua jam kemudian sampai di Kantor Pengelola Taman Loksado di Kecamatan Loksado. Dari titik inilah kami menyewa motor. Mobil kami tak memungkinkan masuk lebih jauh ke dalam kawasan hutan.

Setelah sepenanakan nasi, saya mengengkol mesin. Mesin lantas meraung tanpa brebet. Rendra dan empat teman saya nyengir melibaskan kejenuhan.

Motor matic ini kembali melaju. Posisi saya sebagai pengemudi tak berubah. Sedangkan Rendra asyik merekam perjalanan kami dengan video lewat ponselnya. Tak berselang lama, Rendra berseru, “Jembatan kayu!” Dia menudingkan telunjuknya ke arah tenggara.

Sebentar kemudian kami sampai di jembatan kayu yang Rendra maksud. Dengan sadar, masing-masing teman yang membonceng kemudian turun. Lalu berjalan menyeberangi jembatan dengan jalan kaki. “Aman!” seru Rendra memastikan konstruksi jembatan kuat untuk diseberangi dengan mengendarai motor. Di bawah jembatan yang tingginya saya perkirakan kurang lebih sepuluh meter ini, mengalir sungai kecil yang beriaknya sungguh memanjakan telinga. Airnya jerih, dengan batu-batu cadas terlihat mengilap disorot terik matahari. Hulu dari aliran sungai kecil inilah yang sebenarnya akan kami tuju: Air Terjun Haratai.

Petualangan kami ternyata baru dimulai usai menyeberangi jembatan kayu. Jalan mulai sempit berkelok dengan tanjakan terjal berbatu dan turunan yang licin. Di beberapa tanjakan, teman kami yang membonceng terpaksa melanjutkan perjalanan mereka dengan jalan kaki. Tebing curam yang ditutupi rerimbunan daun pohon karet pun tak kalah menjadi ancaman jika kami tak berhati-hati.

Setengah jam melewati trek mencekam, tibalah kami di Desa Haratai. Desa terakhir sekaligus terdekat dengan Air Terjun Haratai. Suasana desa begitu lengang. Hanya terlihat beberapa babi piaraan berteduh di kolong rumah panggung. Sesekali warga yang berpapasan dengan kami tersenyum tipis menyuguhkan keramahan. Satu hal ganjil yang menarik perhatian tentang desa ini adalah jajaran makam yang berdiri di samping tiap-tiap rumah. Jarak “makam keluarga”—begitu saya menyebutnya—hanya dua sampai tiga tombak dari bangunan rumah. Sedikit terlihat menyeramkan, gas motor kompak kami tancap untuk segera berlalu dari desa.

Lima menit berlalu, kami sampai di lahan parkir Air Terjun Haratai. Perjalanan selanjutnya harus dilakukan dengan berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit. Jalan setapak yang membelah bukit harus kami lewati terlebih dahulu.

Matahari mengambang di atas jari-jari pohon paku. Sinarnya jatuh di genangan air beriak yang jernih. Angin puncak menyibak ranting-ranting pohon yang tumbuh di sekitar tebing, menyisakan sepoi-sepoi di sekeliling saya termangu. Di depan mata memandang, Air Terjun Haratai terlihat elok. Tingginya sekitar sepuluh meter. Air yang terjun dari atas begitu deras, seolah membelah Maratus menjadi dua bagian.

Byur…, kedua teman saya—Yosi dan Husni—kompak melesakkan tubuh mereka ke genangan air terjun yang jernih dan bersih bak embun itu. Saya menunggu isyarat dari mereka bahwa air benar-benar segar dan manjur untuk melemaskan otot yang kaku setelah perjalanan melelahkan menuju Haratai. Ketika jempol mereka terangkat, barulah saya ikut menceburkan diri dan ikut merasakan buih air terjun yang sangat terasa dingin.

 

Dok. Pribadi

 

Beberapa pengunjung yang tak menceburkan diri pun terlihat asyik bermain air di atas lanting atau rakit bambu. Untuk yang tidak bisa berenang, mereka memilih posisi pinggir di mana kedalaman air hanya sepinggang. Tiga teman saya yang lain—Rendra, Kelik, dan Arif—lebih memilih mencari angle untuk berswafoto mengabadikan momen.

Siang itu, sinar matahari tak begitu terik. Menambah dingin dan sejuknya Air Terjun Haratai. Saya, Husni, dan Arif pun tak sanggup berlama-lama di air karena dinginnya terasa menusuk tulang.

Beruntung, di area sekitar air terjun berdiri warung kecil yang menjual berbagai minuman dan makanan. Kami keranjingan lalu memesan kopi panas dan mi instan untuk menghangatkan tubuh. Sembari menikmati kopi dan kudapan, masing-masing larut dalam suasana permai hingga senja menawarkan pilihan yang tak bisa kami tawar: kami harus segera kembali ke Barabai.

***

Siang itu cuaca masih sama ketika saya pertama kali datang menuju Barabai. Bedanya, kali ini saya akan pulang menuju Jogja.

Arak-arakan truk pengangkut batu bara sesekali terlihat di sepanjang perjalanan dari Barabai menuju Banjarbaru. Truk-truk itu melaju pelan melintasi jalur tambang yang terpisah dari jalan umum. Muatannya berat, terlihat dari pekatnya debu-debu kering yang beterbangan mengekor di belakangnya.

Bersamaan dengan itu, saya terbayang akan terancamnya keasrian Maratus yang terlihat selama perjalanan menuju Haratai. Di lain sisi, saya juga percaya akan masyarakat suku Banjar yang terus berupaya menjaga kelestarian pegunungan Maratus. Bagi masyarakat Banjar, Maratus bukan hanya bentang gunung yang mampu menghasilkan segalanya. Lebih dari itu, Maratus mempunyai marwah yang mengajarkan tentang kehidupan seimbang antara manusia dengan alam.[]

Isnan Waluyo

Isnan Waluyo

Gemar mencari inspirasi menulis di tribune stadion sebagai suporter bola.
Isnan Waluyo
Tags: