Pelacur dan Tumpahan Kopi dan Microsoft Word dan Kepergianmu

in Cerita Pendek by
pinterest.com

Akhirnya kau pergi dan aku menemukanmu di mana-mana.[1]

Hari ini aku di tempat pelacuran. Sedang berbicara padamu yang duduk di hadapanku sebagai perempuan agak tua. Seumuran ibuku yang janda.

“Kenapa kamu ke sini, Anak Muda?” tanyamu sambil membenahi letak kutang warna ungu.

“Aku tidak bisa membayangkan diriku sampai tua nanti dan belum mengerti bagaimana rasanya….”

“Nanti kamu tidak perjaka lagi.”

“Aku sudah tidak perjaka sejak kelas satu SMP.”

Kau hanya mengangguk-angguk. Tanganmu merapikan rambutmu yang sebenarnya tidak benar-benar berantakan. Kucing sedang melipir ke tembok, kulihat dari balik jendela, ia sedang kencing dan kemudian pergi tanpa dosa. Aku yakin pasti tembok itu akan memaki-maki jika ia bisa bersuara. Aku lihat kau juga memperhatikan kucing itu.

Di kamar mandi belakang sekolahan, aku dan Makaroni sedang melakukan hal yang tidak baik. Sesungguhnya, ini bukan ulahku. Makaroni yang mengajakku. Ia mengatakan bahwa ada kencing yang paling enak sedunia. Bayangkan Bu Lastri, yang sering memakai rokmini itu, sedang mandi. Lalu main-mainkanlah burungmu dengan tangan sendiri. Bayangkan saja, terus bayangkan, mainkan saja, terus mainkan.

Akhirnya tubuhku bergetar dan di kepalaku muncul pertanyaan untuk guru agama di SMP: apakah memainkan kelamin dengan tangan sendiri membuat orang tidak perjaka lagi?

Kau sudah sempurna menjadi lelaki, kata Makaroni. Ah, ya, sesungguhnya, ia tidak bernama Makaroni. Tetapi Markoni. Teman-temannya, yang itu termasuk aku, sering memanggilnya Makaroni. Tidak tahu mengapa. Dan sesungguhnya, ini bagian paling tidak penting dalam ceritaku ini.

“Kamu yakin, Anak Muda?”

“Maksudnya?”

“Kamu yakin dengan ini semua?”

“Maksudnya?”

“Kamu masih kuliah atau bagaimana?”

“Aku masih kuliah. Tapi hari ini aku sedang malas melihat wajah dosen. Melihatmu lebih baik.”

Kau diam. Matamu memandangku dengan teliti seolah tidak yakin kalau aku ke sini. Kau ini rupanya mirip ibuku (sekali lagi kukatakan begitu). Mempunyai anggapan bahwa di dunia ini sesungguhnya cuma dusta. Dan, ya, setiap dusta harus diwaspadai.

“Baiklah.” Kau membuka kutang dan aku pelan-pelan melorotkan celana.

Akhirnya, aku menemukanmu. Benar-benar menemukanmu.

**

Kau pergi dan aku tidak pernah merasa khawatir atas kepergianmu. Hari ini aku menikmati pagi paling indah sedunia. Secangkir kopi yang baru saja kuminum seteguk, tumpah membasahi meja warung. Sikutku yang bajingan ini tidak sengaja menyenggolnya. Aku kira, ini bukanlah hal yang buruk.

Pelan-pelan, tumpahan kopi itu menggambar wajah seseorang. Aku mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dan menunggu gambaran wajah itu benar-benar jelas dan bisa kukenali tanpa bias sambil mengembuskan napas penuh asap.

“Mas, ini ada tisu.”

Aku mendengar suara itu ketika aku sedang tidak ingin membersihkan tumpahan kopi yang perlahan-lahan seperti menggambarmu. Bagaimana bisa aku menghapus wajahmu begitu saja? Aku akan berdosa jika rambutmu yang menjuntai itu harus hilang dan pipimu yang tembem itu menjadi meja warung yang datar, dan… bersih. Aku juga akan berdosa kalau mata mungilmu kuambil paksa dan aku tidak akan melihat surga dunia dari situ.

“Mas, ini ada asbak.”

Seseorang menyodorkan asbak dan aku tetap tidak peduli. Ya, bagaimana mungkin aku bisa mengalihkan pandanganku darimu? Aku bisa menaruh latu rokok tanpa melihat asbak. Tanganku sudah terlatih melakukan itu sejak SMP.

“Mas, ini ada….”

“Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali tumpahan kopi,” balasku dalam hati, padahal tidak ada pertanyaan apa pun.

**

Kau pergi ketika aku benar-benar tidak bisa merasakan patah hati. Dari bayi aku tidak pernah diajari tatacara patah hati oleh orang tuaku, apalagi guru sekolahku.

Aku membuka laptop di pagi yang tidak ada keajaiban apa-apa ini. Di meja, tidak ada apa-apa, kecuali asbak yang penuh bekas rokok dan cangkir kopi yang isinya tidak bisa diminum karena sudah menjadi kerak.

Agak lama kemudian (sungguh, ini aturan waktu yang klise), aku membuka Microsoft Word. Tidak tahu kenapa, aku ingin menuliskan sesuatu.

Seorang perempuan menangis di sebuah kafe, di hadapan laki-laki yang dilihat dari struktur mukanya bisa dikatakan ganteng, di hadapan secangkir kopi, di sekitar kursi-kursi. Ia sesenggukan sambil menceritakan bahwa dirinya tidak mungkin menikah dengan lelaki itu. Ia benci orang tua yang gemar menjodoh-jodohkan anaknya. Apakah ada anak yang dijodohkan orang tuanya di zaman begini, kata lelaki itu sambil mengembuskan napas yang sesak, barangkali karena terlalu banyak asap di dadanya atau barangkali memang benar-benar sesak karena mendengar ucapan perempuan itu. Ada, kata perempuan itu. Aku anak kiai. Ingat itu. Aku dijodohkan dengan anak kiai teman abahku.

Kafe itu sedang sepi, seperti kuburan. Ah, tidak-tidak. sesepi apa pun sebuah kafe, tidak mungkin seperti kuburan. Laki-laki dan perempuan itu terdiam sejenak, barangkali sedang berpikir apa yang harus mereka lakukan setelah itu. Malam telah larut dan dalam kata-kata malam telah larut itu sesungguhnya ada penekanan tersendiri terhadap kata larut.

Kafe hendak ditutup dan dua orang itu masih merasa bahwa tidak perlu ada kafe yang tutup. Seharusnya kafe tidak perlu menutup diri, ya, setidaknya malam itu juga. Ada hal-hal yang perlu dibicarakan lebih banyak lagi.

Terus bagaimana? Si lelaki bertanya dengan muka datar, meskipun hatinya benar-benar gentar. Bagaimanapun, tak ada sesuatu yang menyesakkan dada kecuali ditinggal pergi orang yang dicintanya. Maafin aku, ini bukan salahku, kamu harus tahu, balas perempuan itu. Aku heran, zaman sekarang kok masih ada yang namanya perjodohan. Itu namanya tidak adil. Kamu jadi tidak bisa memilih sesuai yang kamu suka.

Perempuan itu menghela napas panjang, seolah-olah tidak ada helaan napas selanjutnya. Dan kalimat sebelum ini sesungguhnya sudah dipakai seseorang (atau mungkin banyak orang dan tak terhitung jumlahnya) untuk menuliskan cerita, entah siapa.

Aku tidak mau melanjutkan tulisan itu. Sebab tiba-tiba mataku perih. Sepertinya kelilipan. Aku perlu cuci muka, kemudian meneruskan tulisan itu.

Tetapi aku tidak mau cuci muka dan memilih memencet ctrl+A dan Delete dan menutup Microsoft Word dan menutup laptop tanpa perlu mengalihkan kursor ke tombol Shut Down.

Seandainya aku meneruskan tulisan tadi, aku akan mendeskripsikan perempuan itu lebih detail. Seperti ini kira-kira: rambutnya menjuntai, pipinya tembem, kulitnya putih, dan kau harus tahu, ini bagian paling penting dari cerita ini, matanya seperti memancarkan cahaya surga dunia. Barangkali aku sedang bercanda, apakah surga dunia itu bisa memancarkan cahaya. Barangkali aku sedang bercanda, apakah surga dunia itu ada. Barangkali aku sedang bercanda, apakah surga itu ada. Barangkali aku sedang bercanda, apakah ada itu ada.

**

Kau menikah dengan seseorang yang tak kukenal tepat di hari ketika aku sedang santai menikmati kopi di warung langgananku. Aku tidak menghadiri acara pernikahanmu. Aku benci harus melihatmu memakai baju pengantin dengan mata yang basah dan dengan wajah yang gelisah. Menyedihkan sekali jika hal itu terjadi.

Aku mengakui, tidak baik membuat hati perempuan bersedih, apalagi dengan cara memberinya kenangan-kenangan yang akan memberatkan. Aku khawatir jika aku datang ke tempat pernikahanmu, kau akan mengenangku. Kau akan mengingat bagaimana indahnya saat-saat bersamaku.

Aha, aku sedang ngelantur dalam bahasa yang membosankan. Bahasa yang mungkin nun jauh sana, orang lain sedang menuliskannya, meski dalam bahasa yang sedikit berbeda namun maksudnya sama.

Hari ini, seseorang menemuiku di sebuah taman ketika aku sedang tidak ingin berbicara kepada siapa-siapa. Ketika aku sedang tidak ingin masuk ke kampus dan melihat dosen-dosen yang membosankan. Aku tidak tahu kenapa seseorang itu tiba-tiba memelukku sambil menangis. Aku melepaskan pelukan itu dan bertanya, kau kenapa?

Seseorang itu, perempuan yang barangkali pernah kukenal di alam lain itu (alam lain sesungguhnya berlebihan), menceritakan sesuatu yang membuatku mengerutkan wajah. Aku bingung. Hei, siapa dia? Tiba-tiba saja membicarakan suaminya yang terlalu kasar ketika di ranjang. Ia seperti babi yang tidak pernah diajari tatacara bersetubuh dengan baik dan benar sesuai kaidah yang berlaku bagi babi-babi.

Ia juga bercerita betapa suaminya sebetulnya tidak pernah benar-benar cinta padanya. Lelaki itu hanya ingin menikmati tubuhnya. Bajingan. Asu. Lonte. Tai. Lelaki macam apa itu?

Pipinya bertambah basah. Pesona pipi yang tembem itu hancur-lebur karena air mata. Matanya yang indah itu menjadi seperti taman yang gersang. Di situ hanya ada burung pemakan bangkai dan serangga-serangga kecil yang menderita.

Angin kencang membuat rambutnya berantakan dan aku tidak tahu lagi bagaimana cara menata rambut perempuan. Sesungguhnya, kau siapa? Aku bertanya kepadanya karena memang tidak mengenal ia siapa. Ia malah menangis tersedu. Aku akhirnya pergi dan merasa tidak menemukan siapa-siapa di dalam perempuan itu.

Langkahku menjadi ringan ketika menuju ke arah motor yang berdiam diri di parkiran. Motor kuhidupkan dan ia membawaku ke tempat pelacuran. Barangkali aku menemukan dirimu. Barangkali aku menemukan diriku. Barangkali aku menemukan….[]

2017

[1] Puisi M Aan Mansyur

Daruz Armedian

Daruz Armedian

Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan Garawiksa Institut. Tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan rakyat, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, Suara Merdeka, Nova, dll.
Daruz Armedian

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.