Pelajaran Sedekah Ustadz Yusuf Mansur dan Iqbal Aji Daryono (Kritik Wacana Sedekah ala Julia Kristeva)

in Celoteh by
Sumber gambar
Sumber gambar ummi-online.com

Apa yang ada di permukaan bahasa (semiotik) niscaya tidak sejajar dengan apa yang ada di bawah permukaan bahasa (simbolis). Kalaupun persinggungan sejajar itu membuhul di suatu kali, ia tak lebih sekadar ulah interpretasi-subjektif yang kebak konfrontasi. Begitu ucap Julia Kristeva, murid Simone de Beauvoir, dalam bukunya, Polylogue (1977).

Kristeva sungguh telah mengingatkan saya bahwa merunyaknya individu-individu subjektif yang menyajikan penerjemahan-penafsiran semiotik atas teks apa pun, termasuk ayat-ayat suci, dengan sendirinya mengisbatkan keriuhan kontradiksi-kontradiksi. Keriuhan yang kian berisik lantaran level persinggungan semiotik (permukaan seperti bunyi, rima, hingga definisi, etimologi, dan kultur) dengan simbolisnya (esensi, moral-ethic, hakikat) kerap tereduksi akibat kerja-kerja individu itu terpenjara oleh melankolia-melankolia.

Ah, mari bikin lebih santai saja.

“Yang melankolis menandakan belum memasuki yang simbolis,” ucap Kristeva lagi. Benar, manusia memang makhluk melankolis, ya. Rasa cinta-benci, nilai baik-buruk, parameter benar-salah, seluruhnya merupakan ekspresi-ekspresi melankolis yang menyatu-biru dalam subjektivitas setiap kita, termasuk Iqbal Aji Daryono (IAD).

Sebagai subjek bernalar metodis-ilmiah, sudah pasti IAD tidak main-main dengan kritiknya tempo hari di Mojok.co pada Ustadz Yusuf Mansur (UYM) (idealnya, esai ini tayang di Mojok.co, tapi apalah arti saya di hadapan ketampanan Kak Bana yang menolak memuatnya…). Negasi nalar, akibat memuja suprarasional, begitu inti dakuan IAD, dalam pelajaran sedekah UYM, memantik anomali orientasi dan reduksi spiritualitas: berburu balasan sedekah yang dijanjikan berlipat-lipat puluhan dan bahkan ratusan kali. Penuh pamrih.

Benarkah ajaran UYM fakir nalar akibat dicandu suprarasional-spiritual? Saya ingin mengajak IAD membaca ayat-ayat sedekah di surat al-Baqarah ayat 261-264 itu secara simbolis ala Kristeva.

Kita harus mulai dengan cara memilah secara tegas apa yang semiotik (sebutlah syariat) dengan apa yang simbolis (sebutlah hakikat) dari ayat-ayat itu. Di ayat 261, semiotiknya berinti pada: “Sedekahlah 1, akan dibalas 700 kali lipatnya, bahkan lebih.” Orang-orang muslim awam pun tersugesti untuk bersedekah dengan membabi-buta, begitu kritik IAD. Dan ini akibat ulah UYM yang membiakkan sugesti dengan berderet kisah nyata mereka yang menjadi kaya raya berkat sedekah. Opik yang pernah menjual rumahnya seharga 800 juta, lalu disedekahkan semua, menjadi satu contoh yang secara langsung pernah disugestikan UYM kepada saya di suatu maghrib di Masjidil Haram. Saya pun tersugesti; tapi maaf, izinkan saya mengatakan “saya tersugesti bukan karena saya awam”.

Saya menjadi tidak awam digerus kisah sugesti itu lantaran saya memaklumi kisah (juga ayat 261) itu sebagai “motivasi syariat”. Anda pasti sepaham, anak-anak kecil yang minim nalar akan bersemangat sekali bila dijanjikan hadiah mentereng jika lulus ujian. Mereka akan belajar keras-keras demi lulus ujian, demi hadiah itu.

Tuhan mengambil sikap simbolis demikian di ayat 261 dengan melancarkan “syariat iming-iming” itu. Mengambil posisi bak orang tua kepada anak-anaknya yang lugu. Ini lho semiotiknya, ini lho hadiahnya, makanya sedekah sajalah dulu. Iya, lakukan saja dulu. Tentu, di sini sesak jubelan melankolia bernama pamrih. Tentu, dalam paham Kristeva, yang simbolis tidak hadir di sini.

Tetapi ini hanya kursi syariat. Di atasnya, ada lho kursi yang lebih elok lagi. IAD pasti sepaham di sini; jika saya berdiam di kursi syariat yang semiotiknya melankolia iming-iming, maka saya takkan pernah tiba ke kursi simbolis yang maha elok itu; yang tak lagi terbebat melankolia iming-iming.

Di ayat 262 dan 263, Tuhan membabat melankolia iming-iming itu dengan menyorongkan kursi hakikat. Simbolisnya ada pada lafazh “manna” (riya, pamer) dan “adza” (merendahkan penerima). Satu sisi (“manna”), Ia mengedukasi pelaku sedekah untuk down to earth, tidak ujub, pamer, di sisi lain (“adza”), Ia mengedukasi untuk melangitkan penerima sedekah. Bayangkan, pemberi dihunjamkan ke bumi; penerima diterbangkan ke langit. Ada simbolis berupa etika yang luar biasa di sini. Jika memakai istilah Fritjof Capra di sini, ayat 262-263 ini mendorong pelaku sedekah untuk menjunjung “organisme proses”: bahwa manusia merupakan organisme yang sangat mempedulikan proses. Iya, memuliakan “proses memberi” (anti adza) dan menyimpan rapat “proses berbangga diri” (anti manna).

Simbolis kursi hakikat ini diteguhkan lagi lewat ayat 264: orang yang bersedekah dengan riya’ dan menyakiti penerimanya, laksana batu licin yang di atasnya ada debu-debu lalu turunlah hujan sehingga enyahlah debu-debu itu dan yang tersisa hanyalah batu licin itu lagi.

Manna” dan “adza” adalah simbolis hakikat yang melampaui semiotika syariat. Bahwa ada sekelompok orang bersedekah dengan melankolia syariat sehingga terus mengharap balasan 700 kali lipat, mereka tidak perlu dipersalahkan; sebab mereka baru anak kecil, penjunjung melankolis, pemegang semiotik. Maklumi saja, jangan dibunuh, namanya juga anak kecil.

Bukankah IAD pasti tahu bahwa peranjakan-peranjakan kursi ini lazim belaka terjadi dalam mekanisme “organisme proses” yang kebak kontradiksi? Bukanlah, sebaliknya, membasmi “organisme proses” peranjakan ini, dari syariat ke hakikat, dari semiotik ke simbolis, dari melankolis ke thetic, hanya akan menjatuhkan kita pada jurang modernisme yang memuja berhala mesin-mesin yang beku, kaku, dan dingin?

Syariat adalah satu level; hakikat adalah level berikutnya. Keduanya mesti dilihat-sinergikan secara hierarki; bukan campur-aduk bagai gado-gado Bu Ramelan. Orang yang baru kenal syariat, tidaklah tepat untuk dipaksa menelan hakikat. Anak yang masih ABG tidaklah patut dipaksa membaca cinta dari sudut pandang ayah dan ibu Hayun. Pencampuradukan hierarki ini akan merompalkan “organisme proses” itu; sebab muhallah mendamba pesedekah yang baru melangkah setatih syariat untuk tidak bermelankolia pada balasan 700 kali lipat itu.

IAD tentu sepaham betapa Tuhan sungguh Maha Pengertian: Ia selalu mengerti siapa kamu, siapa saya, sehingga disediakan-Nya kursi-kursi hierarki untuk diduduki sesuai maqam “organisme proses”-nya; semiotik atau simbolis (syariat atau hakikat).

Dengan sudut pandang demikian, UYM saya kira tidak perlu diolok-olok karena mengajarkan melankolia-melankolia itu; toh pada gilirannya, para melankolis (penggenggam ayat 261) niscaya akan memasuki dunia simbolisnya (penggenggam ayat 262-264); para ABG pada gilirannya akan menjadi para orang tua. Ibarat guru, UYM hanya berposisi memikat murid-muridnya dengan mengajarkan rumus-rumus matematika 1 = 700; untuk langsung action ala ayat 261 saja; selanjutnya tentu menjadi tugas murid-murid sendirilah untuk memasuki “organisme proses”-nya.

Mas Iqbal, kalau udah balik Jogja, ngopi lagi, yuk, di Black Canyon….

 

Jogja, 24 Agustus 2015

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu
  • Mohammad Faizi

    Mungkin pandangan itu dibuat agar “berlaku umum”, artinya karena melihat pada umumnya manusia memang begitu dan karenanya ia diiming-imingi dulu. Dalam thariqat tertentu, diajarkan dzikir jahar (keras) dan selanjutnya dzikir khafi (samar). Tidak pantas mengolok-olok dzikir keras dengan sebutan “Tuhan kan Mahamendengar, ngapain lo bengak-bengok?’ jika tidak tahu bahwa dzikir keras adalah semacam pengantar agar elemen tubuh juga dapat berdzikir secara samar, bukan cuma mulut saja. Saya kira begitu analoginya, Pak

    • EDI AH IYUBENU

      Setuju sekali pak kiai Faizi.