Pelukan Bayang-Bayang

in Cerita Pendek by

Adit memutuskan tidak akan tidur dengan istri, selama bayang-bayang perempuan itu masih menghantuinya. Dia mulai gelisah, setelah ikut pengajian Ustadz A beberapa hari yang lalu. Ustadz yang baru-baru eksis di media sosial itu mengatakan, membayangkan mantan saat berhubungan suami istri, sudah tidak mendapatkan pahala, dapat dosa pula.

Adit hanya nunduk waktu itu. Keringat mengalir di dadanya yang berdebar. Dia ingin bertanya, tapi perasaan malu mengunci bibirnya.

Hampir setiap malam Adit hanya mondar-mandir tak jelas lalu memangku dagu di ruang tamu. “Aku harus melupakannya!” Kalimat itu terus menggema di dadanya. Dia juga memutuskan tidak lagi menjalin komunikasi dengan mantannya. Dia mulai sadar bahwa komunikasi itulah salah satu yang menyebabkan dia selalu ingat dengan mantan saat berhubungan dengan istrinya, bertahun-tahun.

Adit tidak hanya susah mengubah kebiasaannya tapi mulai dikendalikan oleh bayangan perempuan itu. Beberapa hari setelah mengikuti pengajian Ustadz A, dia tidur dengan istrinya—dengan niat tidak ingin mengingat mantan, tapi bibir, pelukan, dan lekuk tubuh mantannya bermunculan, bahkan wajah istrinya berubah jadi wajah mantan di kepalanya.

“Ingatan itu bahkan hadir sendiri tanpa diminta, Pak. Padahal istriku sudah perawatan ke salon dan oleh raga.” Adit tampak malu-malu di hadapan Efri, konselor yang sudah lama dikenalnya.

“Apa yang kamu lakukan dengan mantanmu, dulu?” Efri melirik. Adit hanya diam.

“Mungkin ada yang belum tuntas, misal sering beli baju yang sama atau sampai membeli barang yang pembayarannya dicicil berdua. Bisa juga ada janji yang tidak sempat ditepati malah putus duluan.” Konselor itu menghardik Adit yang membayangkan masa-masa pacaran dengan mantannya.

“Janji?” Suara Adit pelan, hampir tak terdengar. Dia terus mengingat-ingat, tapi yang terlintas remang jalan dan pelukan si kekasih saat mengantar pulang naik motor, dagunya menempel di pundak Adit. Dia bayangkan pula pertama kali mengulum bibir kekasihnya di pojok kos. Dan di atas kasur busa itu…. “Hus…, jangan membayangkan yang bukan-bukan.” Efri menggoyang tubuh Adit yang tampak semakin kurus itu.

Hampir setiap malam Adit memikirkan cara untuk mencuci otaknya yang kotor itu.

“Coba buang atau diberikan kepada orang jika ada barang yang berkisah tentang mantanmu,” pinta Efri kemudian. Lantas baju, jam tangan, sandal, buku, dan barang-barang lainnya Adit berikan ke orang yang tidak dikenal. Dia sengaja tidak memberikan barang-barang itu pada teman dekat atau keluarga meski membutuhkan. Dia khawatir jika masih melihat barang-barang itu masa lalunya terus menghantui.

Semua barang yang berkaitan dengan mantan sudah tidak tersisa, tapi ingatan itu masih saja hadir seperti hantu, Adit semakin bingung. Dia alihkan dengan menyibukkan diri di kantornya. Jika sedang sendiri, dia main game atau buka media sosial. Upayanya gugur perlahan saat lihat gambar perempuan berbaju seksi muncul di laman akun miliknya. Kali ini bukan mantan saja yang mengganggu pikirannya tapi libido yang sudah lama tak tersalurkan itu mulai mengusik pikirannya.

“Jangan dulu. Tahan…, tahan.” Adit meletakkan HP lalu buru-buru keluar menyiram bunga, menyapu halaman, atau mencabut rumput untuk mengalihkan bayang-bayang itu. Sudah dua bulan lebih dia tidak tidur satu kamar dengan istrinya. Dia tidak tahan jika disentuh sedikit saja. Karena itu dia sering pulang malam dan menjaga jarak.

“Jangan sering menghindar,” kata Efri.

“Aku juga tidak mau. Tapi aku sedang berusaha untuk menghilangkan ingatan tentang mantan.”

“Mungkin kamu janji sesuatu sama mantanmu dan belum ditepati. Coba diingat-ingat.” Adit mengernyitkan dahi. Dia ingat pernah berjanji pada diri sendiri untuk menikahi mantannya itu, tapi janji itu tidak pernah diungkapkannya.

***

“Mungkin dia belum ikhlas,” terka Adit sambil duduk di tempat biasa bertemu mantannya, dulu. Adit duduk sambil terus mengingat-ingat. Dia juga ke warung makan dan ke alun-alun tempat biasa menghabiskan malam berdua sambil makan nasi kucing dengan tahu bacem dan sate keong kesukaannya.

“Sial! Kenapa semakin ingat.” Adit menggelengkan kepala, menggaruk kepala, seperti berusaha menghempaskan bayang-bayang kenangan yang semakin bertebaran di pikirannya. Buru-buru Adit pergi ke tempat lain. Tempat yang tidak ada hubungannya dengan mantan. Agar tidak bengong, dia baca buku atau artikel di media sosial.

Adit semakin panik saat menerima pesan mantannya lewat Facebook. Dia ragu-ragu membuka. Tangannya gemetar saat membaca pesan mantan yang ingin ketemu. Ingatannya langsung tertuju ke istrinya. Terlebih beberapa hari terakhir istrinya tampak curiga dengan Adit yang jarang tidur bersama. Biasanya seminggu sekali dia meminta jatah pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan dia tidak menyentuh istrinya.

“Bagaimana kalau dia tahu mantanku menghubungiku. Bisa gawat, apa lagi dia sangat benci sama mantan yang satu ini.” Adit menghapus pesan itu.

“Bagaimana kalau dia kembali menghubungiku dan kebetulan dibuka istriku, duh!” Adit mendengar getaran dada sendiri. Entah berapa lama dia bergulat dengan getar yang membuatnya lemas, gemetar antara takut dan senang. Apalagi mantannya belum punya pasangan.

“Itu kesempatanmu untuk meminta maaf ke mantanmu jika ada salah,” kata Efri. Adit hanya diam dan terus mengatur debar dadanya yang semakin tak terkendali.

“Bagaimana kalau ada yang foto diam-diam. Ah, bisa rame ini.” Adit semakin bingung.

“Atau kamu bilang terus terang ke istrimu,” kata Efri.

“Aku sudah pernah mengajak tapi selalu gagal, entah karena ketiduran, anaknya rewel atau lupa, dan lain-lain….”

“Coba lagi!” desak Efri. Adit mengangkat kepala, menimbang-nimbang.

***

Seperti saran Efri, malam itu Adit sudah menunggu istrinya yang masih di kamar. Istrinya sudah berjanji akan menemuinya setelah anaknya tidur. Dia bahkan membuatkan kopi gelas besar agar Adit tidak ngantuk. Adit membulatkan tekat untuk terus terang perihal bayang-bayang itu.

Jarum jam menunjuk ke angka sepuluh lewat. Kopi tinggal separuh. Adit mengisap rokok sambil membaca buku cerita. Dia melihat kanan kiri sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya menatap langit-langit rumah.

“Bagaimana kalau dia marah dan menganggap anak yang dilahirkan adalah anak hasil bayang-bayang dengan mantannya. Lalu dia tidak mau mengurus anak, Duh!” Adit menghela napas.

Adit paham betul sifat istrinya jika marah. Pernah suatu waktu istrinya tidak menegur berhari-hari setelah membuka hard disk yang isinya foto Adit dengan mantan masih disimpan. Istrinya mau menegur setelah Adit jelaskan bahwa, “Itu hanya kenangan. Hanya mantan yang dikenang. Sedangkan kamu tidak untuk dikenang.” Adit menyenggol istrinya.

“Kamu hanya untuk disayang,” kata Adit kemudian, membuat istrinya leleh dan mulai mengajaknya bercanda setelah seminggu lebih tidak mau bicara. Di ruang tamu Adit menggeleng-geleng kepala seperti tidak yakin jika menggunakan cara itu bisa meluluhkan istrinya.

“Bisa jadi dia marah dan mendiamkanku selama berminggu-minggu atau malah diam-diam pergi membawa anak ke rumah mertua, jika aku terus terang tentang bayang-bayang mantan itu.” Adit mengusap wajahnya, kemudian memangku dagu dengan tangan. “Aku harus menjawab apa jika dia tanya, kenapa masih ingat mantan, apa masih ada yang belum selesai, apa pernah punya utang, misal janji. Atau kamu pernah tidur dengannya? Kamu masih mencintainya dan berbagai pertanyaan lainnya.” Adit meraba dadanya yang gemetar atas terkaan sendiri. Dia semakin merasa bersalah saat ingat istrinya yang tak kenal lelah mengurus anak, rumah, dan dirinya yang selalu minta dibuatkan kopi, ambilkan makan, dan lain-lain. Bahkan istrinya tetap melayani meski sambil menggendong anak. Adit menghela napas.

Napas Adit semakin kencang setelah mendengar suara pintu dibuka. Langkah kaki istri terdengar seirama dengan debar dadanya. Buru-buru rokok dimatikan dan pura-pura baca buku sambil menyusun kalimat-kalimat sebelum istrinya menghampirinya.

“Sebelumnya Ayah mohon maaf karena telah….” Adit berhenti, lalu mengganti dengan kalimat lain. “Aku mencintaimu karena itu aku ingin jujur.” Adit menggeleng, merasa kurang cocok dengan kalimat yang disusunnya. Sejenak dia menghela napas panjang dan terus memikirkan kalimat yang tidak menyinggung perasaan istrinya nanti saat menjelaskan.

“Kamu punya masa lalu, aku pun juga. Aku akan menerima masa lalu sebagai dari kedewasaan. Aku pun dewasa karena masa lalu….” Adit berhenti, memikirkan kalimat selanjutnya.

Belum sempat menemukan kalimat yang tepat Adit sudah mencium bau parfum menyeruak diikuti langkah kaki istri ke arahnya, semakin dekat. Dia nunduk. Tidak, dia tidak sedang membaca meski matanya menghardik tulisan di buku. Debar dadanya meletup-letup setelah istrinya duduk di sampingnya. “Duh!” serunya dalam hati sambil mengatur napas.

Buku ditutup, Adit memasang aba-aba. Tampak canggung. Setelah dirasa siap, dengan segenap keberanian dia menoleh ke istri yang tiba-tiba merangkul tangannya. Debar dada Adit seketika berubah saat bibir istrinya yang merah itu nempel ke bibirnya.

Malam dingin semakin dingin dan semakin mendebarkan. Adit mendengar endusan hidungnya, buas tak terkontrol. Kursi bergoyang. Tubuhnya tegang dan, stop.

Tolong jangan membayangkan apa-apa. Adit tidak akan menceritakan apa yang terjadi setelah itu. Dia tidak mau kalian diperbudak bayangan, terlebih setelah membaca cerita ini.

Jejakimaji2018

Sule Subaweh

Sule Subaweh

Aktif di Kemunitas belajar Sastra Jejak Imaji, ini bekerja di UAD, suka musikalisasi puisi. Kumpulan cerpen Tunggalnya “Bedak dalam Pasir”, Pustaka Pelajar, 2017. Tinggal di Bantul, Wirokerten, Yogyakarta.
Sule Subaweh

Latest posts by Sule Subaweh (see all)