Pemakan “Buah Surga”

in Memorabilia by

Pada masa 1950-an, murid-murid SMP belajar mengenai tumbuhan bersumber dari buku berjudul Ilmu Tumbuh-Tumbuhan susunan T Uit Bos dan BM Adnan. Buku terbitan JB Wolters, Jakarta-Groningen, 1951. Buku berhiaskan gambar-gambar apik. Sekian gambar berwarna di kertas halus. Di Indonesia, buku mengenai tumbuhan sering ditulis orang asing. Murid-murid belajar setelah para sarjana asing mengadakan riset dan membahasakan secara ilmiah untuk kepentingan pendidikan-pengajaran. Murid-murid cuma memiliki pengalaman dengan tetumbuhan di desa atau kampung tapi masih harus “mengilmiahkan” sesuai patokan-patokan ilmu modern.

Di halaman 38-40, murid-murid mendapat penjelasan mengenai pisang. Di Indonesia, pisang bertumbuh di kebun, pinggir kali, dan halaman rumah. Di mata murid-murid, pisang itu telah diketahui sejak kecil meski belum sampai ke pengertian ilmu. Di buku ada konklusi: “Hampir tak ada halaman rumah orang kampung jang tidak ada pohon pisangnja.” Kalimat itu berasal dari penelitian dan bukti. Orang-orang Indonesia terbiasa makan pisang. Di mata orang berilmu, pisang itu melampaui buah.

Kita simak alinea memukau di buku pernah dipelajari murid-murid masa 1950-an: “Buahnja ini adalah buah-baka jang tidak berbidji. Mendjadi makanan dan amat disukai sebagai buah ‘pentjutji mulut’ sesudah makan. Kalau kita perhatikan namanja dalam bahasa Latin itu, berarti ‘buah surga’, maka maklumlah kita bahwa pisang digemari semua orang.” Alinea mengabarkan orang makan buah pisang matang tanpa olahan. Di Indonesia, pisang itu lazim direbus atau digoreng. Pisang pun ada di kolak atau pembuatan kue-kue tradisional. Pisang boleh pula menjadi keripik. Penjelasan tiga halaman di buku dianggap cukup oleh para penulis merangsang murid-murid di Indonesia berpikiran pisang sampai jemu.

* * *

Pada masa lalu, pisang terpilih menjadi cerita lucu. Cerita ditulis oleh AB Dahlan di buku berjudul Si Ajow jang Heboh, terbitan Djambatan, 1963. Buku cerita untuk dibaca bocah, berisi kelucuan dan kesialan. Cerita berjudul “Dihukum Pisang” membuat pembaca terpingkal dan merasa kasihan pada si tokoh (Ajow). Si bocah itu tertipu omongan pedagang buah keliling: “Mulanja begini, langganan tukang buah itu mengatakan kepadaku bahwa djagoan-djagoan olahraga jang bertubuh tegap-tinggi, semuanja karena dojan makan pisang. Djika aku ikut pula makan pisang banjak-banjak, tentulah tubuhku akan demikian pula. Aku pertjaja sadja. Sebab itu djika ibu membeli pisang, dan tidak disimpannja baik-baik pastilah kuhabiskan.”

Ajow memang makan pisang di taraf kecanduan. Satu pisang tak cukup. Ia bisa makan melebihi 3. Ibu marah melihat kelakuan Ajow. Di rumah, pembantu berani menjuluki Ajow adalah “djuragan pisang.” Bocah itu memaksa makan pisang setiap hari, pembuktian dari omongan si pedagang buah. Hari-hari melulu pisang. Bocah keparat itu mulai ragu jika rajin makan pisang menjadikan tubuh tegap-tinggi. Sekian hari berlalu, Ajow tak menjadi tegap-tinggi: “Demikianlah beberapa waktu lamanja aku dojan makan pisang, sungguh pun aku tetap dojan makan telur ajam atau makanan-makanan lainnja. Tambah gendut seperti genderang perang, dan tubuhku tidak pula bertambah tinggi. Ah, pembohong tukang buah itu. Tetapi aku tidak sadar. Kukira mungkin sekali aku harus makan pisang lebih banjak lagi. Misalnja, setandan.”

Keinginan itu terkabulkan. Di samping rumah, pohon pisang Ambon sudah berbuah. Menggiurkan! Setandan pisang disimpan di peti agar lekas matang. Orang-orang mengenali jurus dikarbit. Tiga hari berlalu, semua pisang matang. Ajow tampak ketagihan dan bernafsu. Si “djuragan pisang” mendatangi gudang, membuka peti berisi pisang untuk pesta menghasilkan kutukan. Bocah berperut gendut berpikir: “Wah, bagaimana tjaranja aku menghabiskan semua pisang ini? Sehabis tenaga aku mengupas kulitnja, memasukkan kemulutku penuh-penuh, mengunjahnja dan menelan kedalam perutku. Banjak sekali.” Ia berlaku curang, makan pisang sendirian di gudang. Bernafsu menghabiskan, tak ingin memberi sisa bagi keluarga. Ajow telanjur menganut paham pisangisme.

Kutukan tiba tanpa permisi. Ajow mengalami sakit perut. “Sedjak sore itu aku sebentar-sebentar berlari kebelakang. Perutku kutekan-tekan sambil mengeluh, dan botjor-botjor ulah pisang setandan tadi,” pengakuan Ajow. Pisang memberi sakit, gagal menjadikan tubuh tegap-tinggi. Ajow terkapar di ranjang, tak mau mengimpikan pisang. Bocah itu dikutuk pisang! Ia mungkin enggan belajar serius jika di buku pelajaran terdapat bab mengenai pisang. Ia mungkin trauma melihat pohon pisang di samping rumah. Pisang itu bukan “buah surga” tapi “buah neraka.” Cerita kocak gubahan AB Dahlan mirip “kritik” untuk pelajaran pisang di buku Ilmu Tumbuh-Tumbuhan dibaca murid-murid masa 1950-an.

Ajow tak pernah tahu kemunculan iklan pisang untuk santapan manusia kecil belum bisa ngomong atau berlagak ingin tegap-tinggi. Di majalah Kartini edisi 23 Februari-8 Maret 1987, iklan bubur susu mencampur beras dan pisang. Pengiklan mengatakan pisang asli, bukan pisang gadungan atau palsu. Iklan Cerelac berpesan ke orangtua: “Bubur beras dan buah pisang adalah makanan tradisional untuk bayi.” Tradisional dijadikan modern dalam teknik pengolahan dan pengemasan. Orangtua tak melihat ada wujud pisang di kaleng. Keaslian pisang dibuktikan pengiklan dengan menaruh gambar pisang di dekat kaleng Cerelac.

* * *

Pada masa lalu, pisang tak cuma bertokoh bocah atau pelajaran. Pisang bercerita Indonesia. Tulisan di majalah Merdeka edisi 4 Desember 1954 agak mengejutkan bagi pembaca. Tulisan dijuduli “Makan Pisang jang Telah Dikupaskan.” Pembaca jangan berharap mendapat petunjuk cara makan pisang secara baik dan benar. Judul itu “menipu”. Tulisan penuh kritik: “Berpuluh djuta, ja barangkali beratus djuta rupiah uang negara, jang diperoleh dari padjak rakjat sudah dikorbankan untuk kepentingan satu golongan ketjil atas nama ‘nasional’. Jang beruntung hanja beberapa puluh atau beberapa ratus orang sadja, tetapi masjarakat seluruhnja bertambah menderita.” Kritik itu disampaikan Hatta saat mengetahui tata ekonomi di Indonesia berantakan dan berisi orang-orang haus keuntungan. Mereka menginginkan kebijakan-kebijakan pemerintah asal meraup untuk berkelimpahan.

Kritik demi kritik disajikan di tulisan. Di tengah, pembaca mulai berjumpa pisang. Duh, pisang itu bukan makanan seperti di tatapan mata Ajow. Pisang itu pepatah. Pisang dipilih untuk kritik: “Dilihat dari sudut ini memanglah pengusaha-pengusaha impor/ekspor Indonesia, pedagang-pedagang jang seratus persen berdjiwa dagang beruntung. Tetapi ditilik dari sudut lain, umumnja mereka bisa dapat untung karena djalan sudah dibukakan. Makan pisang jang telah berkubak (telah terkupas), kata pepatah.” Pembaca mulai mengerti penjudulan tulisan memang tak mengarah ke tata cara makan. Pisang menjadi metafora menanggapi situasi ekonomi bernalar untung bagi pedagang tulen tapi memberi derita ke jutaan orang.

Tulisan itu disaingi gubahan lagu bocah. Di mata bocah, pisang tetap makanan, bukan pikiran rumit membikin pusing. Pada 1961, terbit buku berjudul Njanjian Kanak-Kanak susunan AF Kau Besin, terbitan Balai Pustaka, Jakarta. Buku itu memuat lagu berjudul “Pisang Goreng”. Lagu kurang tenar di kalangan bocah seantero Indonesia. Lagu telah digubah dan terbit di buku. Kita membaca lirik tanpa motif ekonomi-politik berlatar masa 1960-an: Pisang goreng, pisang goreng, pisang goreng/ itu enak rasanja/ Pisang goreng, pisang goreng, pisang goreng/ amat enak bergula. Lirik pendek dan gampang disenandungkan bocah-bocah.

Tahun demi tahun berlalu. Rezim Orde Baru tegak, memilih pisang dalam pengisahan pembangunan. Soeharto dan Tien Soeharto memberi makna pisang, berbeda dari buku pelajaran, cerita bocah, dan lagu bocah. Pisang ada di naungan perintah-perintah kesuksesan pembangunan nasional. Majalah Kartini edisi 24 Februari-9 Maret 1986 memuat pengumuman sehalaman. Pisang! Isi pengumuman: Pesta Pisang diselenggarakan di Balai Sidang, Jakarta, 22-23 April 1986. Pesta atau lomba memperebutkan Piala Tien Soeharto.

Keterangan penting untuk disimak: “Suasananya serasa di kebun pisang. Dan kue pisang raksasa akan menakjubkan pandangan mata. Ada operet tentang tragedi pisang harum. Sejumlah finalis akan adu terampil mendemonstrasikan cara mengolah pisang menjadi hidangan utama, kue dan sebagai minuman penyegar. Tidak lain bertujuan meningkatkan gizi masyarakat Indonesia, dan melestarikan resep-resep pisang. Lomba ini,  pionir di Indonesia, dan pertama di dunia.” Pengumuman berharap pujian dan tercatat di rekor dunia. Pesta Pisang itu direstui pemerintah dan disokong oleh pelbagai perusahaan. Dulu, mereka berpikiran pisang itu menjadikan Indonesia “lezat” dan mulia di mata dunia. Kita tak mengetahui pemenang atau dampak dari Pesta Pisang. Penulis cuma mengliping pengumuman, tak dilengkapi kliping setelah acara berlangsung.

* * *

Kita berpindah ke negeri jauh, tetap mengurusi pisang dengan cerita berbeda. Bob Dylan, seniman ampuh peraih Nobel Sastra itu memilih pisang untuk metafora. Di buku berjudul Chronicles (2018), Bob Dylan mengenang konser dan perjumpaan dengan perempuan bernama Carla Rotolo. Kisah berlanjut dengan kemauan Carla mengenalkan adik bernama Susie pada Bob Dylan. Perjumpaan mencipta metafora berpisang. Bob Dylan menulis: “Sejak awal saya tidak bisa mengalihkan pandang dari dirinya. Dia orang yang paling erotis yang pernah saya jumpai. Dia berkulit cerah dan berambut emas, berdarah Italia. Mendadak udara dipenuhi dengan daun-daun pisang. Kami mulai mengobrol dan kepala saya mulai berputar.”

Seniman digemari para pujangga di Indonesia itu belum mengetahui bahwa daun pisang di Jawa digunakan untuk membungkus makanan. Pembuatan metafora dari tatapan mata dan hasrat mengenali perempuan dengan “daun-daun pisang” terasa fantastis. Kita digoda mengimajinasikan pohon pisang di halaman rumah orang-orang di Amerika Serikat. Pohon pisang mungkin bertumbuh dan memikat di New York. Bob Dylan sering berada di New York. Di buku, kita cuma membaca daun pisang, belum menemukan pengakuan Bob Dylan suka makan pisang. “Buah surga” itu pilihan santapan di detik-detik penggubahan lagu atau jeda dari rekaman dan konser? Di biografi Bob Dylan, daun pisang atau pisang tak secengeng atau seromantis imajinasi “pisang” di Indonesia saat muncul sebagai lagu-lagu dangdut.

Di Indonesia, pisang pun puisi. Si penggubah puisi bernama Piek Ardijanto Soeprijadi. Ia menulis puisi berjudul “Di Kebun Pisang” dengan suasana dan perasaan mengena, menjauh dari metafora buatan Bob Dylan: pisang mauli Neng/ pisang mauli/ bertandan-tandan/ masak di batang/ menjelang senja/ kita tebang/ setuntas getah menetes/ kita bungkus klaras/ biar kuning menyeluruh/ bagai bulan penuh. Pembaca diajak datang ke kebun pisang, melihat pesona “buah surga”. Pohon pisang memang memberi perasaan bersurga saat kita membaca bait terakhir: Neng masukkan hatiku / ke dadamu/ gantungkan jantungmu di lenganku/ jadi petani kita betah/ berkebun buah/ dan bersawah. Pada pisang, lelaki berhak romantis dan ingin termanjakan perempuan. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)