Pemeluk Agama Nyinyir

in Hibernasi by
Sumber gambar
Sumber gambar annida-online.com

Belakangan ini banyak yang memperdebatkan tentang agama. Bahkan ada beberapa orang di media sosial yang ngajak bertemu untuk berdebat seputar agama. Untuk apa bertemu untuk memperdebatkan agama? Agar semua orang tahu bahwa kita ini pintar ilmu agama, menguasai ilmu agama, atau hanya semacam hiburan agar orang melihat sebuah perdebatan sosok-sosok cerdas yang memukau dalam bersilat lidah?

Seharusnya cara berpikir kita sedikit beranjak, pelan-pelan berkembang, mulai dari sebatas agama sebagai ilmu, menjadi agama sebagai amal. Sebab landasannya sangat jelas, al-ilmu bi laa amalin, ka as-syajari bi laa tsamarin, artinya ilmu tanpa tindakan bagai pohon tak berbuah. Geli rasanya melihat tokoh-tokoh muda yang di twitter “Islam itu tidak seperti itu, kalau tidak terima, ayo ketemu di SPBU, kita berdebat”. Lho, kok malah mau berdebut di SPBU, Bro!

Sebagian yang lain, begitu ada kericuhan, membuat akun-akun nyinyir dan fitnah yang mengatasnamakan agama tertentu. Dalil-dalil dogmatis diobral, padahal secara tekstual banyak yang keliru. Hadits dibilang ayat. Maqalah dibilang hadits. Pokoknya serba ngawur.

Ajaran agama diturunkan ke muka bumi ini sebagai metode berpikir dan metode bertindak. Itulah sebabnya, dalam agama ada istilah ijtihad, sebagai wujud refleksi, berpikir, berfilsafat, dan petualangan pemikiran hingga di puncak. Setelah melakukan ijtihad melalui metode berpikir seharusnya beranjak dalam bentuk jihad, yakni merealisasikan hasil temuan-temuan dalam bentuk nyata.

Contoh sederhana misalnya, jika kita telah berijtihad seputar poligami, mempelajari berbagai tafsir poligami, menganalisa asbabul nuzul dan asbabul wurud dari ayat dan hadits poligami, kemudian ditemukan sebuah kesimpulan, bahwa secara syariat poligami itu sah dan tak dapat diganggu gugat oleh berbagai model berpikir Barat. Oleh karena itu, yang terpenting adalah bagaimana kita mampu merealisasikan jihad poligami itu dalam bentuk nyata, baik sifatnya personal maupun sosial.

Analogi lain yang bisa kita hadirkan adalah perihal shalat. Betapa banyak orang yang secara ilmu pengetahuan mengerti, mulai sejak sejarah asal mula diperintahkannya shalat, hukum shalat, hingga fiqih tasawuf dari shalat. Bahkan mereka berdebat tentang filosofi shalat bisa tujuh hari tujuh malam tidak selesai. Tetapi mereka-mereka itu malah terjerumus pada golongan orang-orang yang meninggalkan shalat (tarikus shalat). Lhaa, iki piyee, Bro!

Poin selanjutnya adalah mujahadah yang bersifat ritual, doa, pendekatan personal antara “aku kecil” dan “Aku Besar” dalam konsep Mohammad Iqbal (1993:87). Pendekatan personal kepada Tuhan ini merupakan sebuah iktikad agar hasil ijtihad dan jihad yang kita lakukan sebelumnya juga mendapat sokongan sepenuhnya dari kuasa-Nya.

Tiga konsep tersebut, dalam bahasa orang-orang pintar zaman sekarang yang ndakik-ndakik dan pegangannya laptop atau gadget disebut refleksi (ijtihad), aksi (jihad), dan transendensi (mujahadah). Dan ketiga konsep tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, agar agama sebagai metode berpikir dan metode bertindak tidak gugur adanya. Dengan demikian, akhlaqul karimah yang menjadi orientasi diutusnya Nabi Muhammad Saw. dapat tergambar dalam cara berpikir, cara bertindak, dan cara mendekatkan diri kepada-Nya.

Lalu buat apa perlu bertemu saling mengejek, pamer ilmu pengetahuan, saling hujat di media sosial, apalagi model sweeping ala kelompok sebelah, toh sejatinya skenario keberagaman itu hasil “pemikiran Tuhan” agar umat manusia menyadari bahwa Tuhan memberikan kebebasan dalam memilih metode berpikir, bertindak, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Kewajiban kita sebagai umat beragama hanya menyampaikan. Itu saja. Sekali kewajiban kita sebagai umat manusia hanya me-nyam-pai-kan. Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Persoalan ketika sudah disampaikan orang lain mau berubah atau tidak sudah bukan urusan manusia lagi. Kita berpikir bahwa ada sekelompok tertentu yang perlu diberi pencerahan. Oke. Kita sampaikan pada mereka bahwa apa yang dilakukan mereka kurang tepat menurut hasil ijtihad. Oke. Tetapi mereka tetap tidak mau berubah. Yo wis too. Tidak perlu kita membawa pentungan. Tidak perlu kita menghujat di sosmed. Nyinyir dan kawan-kawannya. Sebab kita mestinya sadar, yang memberi mereka hidayah untuk berubah bukanlah hasil ijtihad dan jihad kita, melainkan hak prerogratif Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat oleh setingkat Nabi sekalipun. Apalagi kite yang tempe-tempe dan nasi kucing ini. Apalagi kita yang ‘kos-tekos kampong’ ini.

Beragama dengan Cara yang Indah

 Agama semestinya diambil sisi-sisi keindahannya. Sebab Tuhan yang menurunkan “agama” sangatlah indah. Dan perlu saya klarifikasi, bahwa agama yang diturunkan Tuhan ke bumi ini bukanlah agama yang telah terinstitusi sebagaimana keberadaan agama-agama seperti sekarang.

Persoalan institusi agama menjadi kepingan dari agama yang utuh sebagaimana Nabi itu sendiri, tentu iya. Agama yang telah terinstitusi melahirkan rezim agama, strukturasi agama, kesenjangan, dan bahkan penyelewengan agama sesuai dengan kepentingan politik.

Kitab suci al-Qur’an yang setiap hari kita baca itu adalah karya sastra yang maha hebat. Yang keindahannya mengalahkan semua karya sastra yang pernah ada di muka bumi ini. Di sisi keindahan daya ungkap dan komponen-komponen kesastraan, al-Qur’an tentu menjadi penanda bahwa Tuhan ingin mengajak manusia menjalankan petualangan keagamaannya secara indah.

Bagaimana menjalankan agama yang indah? Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan akhlaqul karimah yang baik. Bagaimana cara bertutur kata yang baik? Bagaimana yang lebih muda hormat pada yang lebih tua? Bagaimana yang lebih tua sayang kepada yang muda? Bagaimana mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita? Bagaimana menyikapi apabila ada orang lain yang menyakiti kita? Hingga hal-hal detail kecil tata mulai dari cara makan, masuk WC, hingga mau tidur.

Al-Qur’an sebagai sumber keindahan setidaknya dapat diaksentuasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga keseimbangan (equilibrium) antara refleksi yang berbiak dari pikiran mampu ditanamkan dalam aksi sehari-hari yang dibarengi dengan langgam transendensi. Selamat menempuh kehidupan yang indah.***

Ahmad Muchlish Amrin

Ahmad Muchlish Amrin

Lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan lain-lain.Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud, Bali. Kini mengelola Komunitas Tang Lebun di Yogyakarta.
Ahmad Muchlish Amrin

Latest posts by Ahmad Muchlish Amrin (see all)