Pemuda Pejalan Kaki, Malangnya Nasibmu!

in Extra by
jalan kaki itu mengesankan
Sumber gambar leadsa.co.za

Buang jauh-jauh anggapan bahwa jalan kaki itu menyehatkan. Karena anggapan itu rasanya sudah basi. Sudah bukan zamannya lagi. Kini jalan kaki itu mengesankan, Mblo! Catet!

Mengesankan gimana?

Jalan kaki saat ini menjadi fenomena yang unik dan jarang dijumpai. Jadi, bikin orang lain kagum. Terlebih zaman sekarang, zaman di mana orang-orang pada gampang terpukau. Gumunan. Kagetan.

Hampir setiap hari, saya berangkat kerja dengan jalan kaki. Karena (menurut saya) jarak 1 kilometer dari rumah ke tempat kerja itu cukup dekat. Jadi tak perlu menggunakan motor atau sepeda untuk menempuhnya. Lagi pula, saya memang tak punya kedua kendaraan itu. Hehe….

Awal-awal saya masuk kerja, teman-teman sering bertanya: “Kamu naik apa kemari? Kok saya ndak lihat motor kamu.”

Dengan enteng saya menjawab: “Saya jalan kaki, Mas.”

Karena tahu jarak antara rumah saya dengan tempat kerja, reaksi mereka langsung kaget. Gumun. Mereka lalu melontarkan pertanyaan yang semakin menegaskan kekaguman mereka: “Apa ndak capek, Mas? Jauh lho itu.”

Pertanyaan mereka membuat saya tersanjung. Saya merasa diri saya bukanlah manusia Bumi. Melainkan manusia sejenis dari planet Krypton.

Tetapi, kemudian saya menyesal telah berbangga diri. Sebab mereka lalu menyarankan saya agar beli atau kredit sepeda motor. Ah, masak manusia super disuruh kredit motor. Ndak gaul banget tho!

Maka buru-buru saya pasang alibi, agar ndak terkesan nelangsa: “Saya sudah biasa, kok, jalan kaki. Jadi ndak merasa capek.”

Dari kekaguman teman-teman kerja itulah, saya jadi berpikir bahwa zaman sekarang bukan lumrahnya orang untuk jalan kaki. Orang-orang mungkin berpikir bahwa menggunakan kaki (untuk jalan dengan jarak lumayan jauh) itu berbahaya. Bahkan orang-orang sekarang mudah khawatir ketika melihat perempuan cantik berkulit mulus menjadi tukang tambal ban atau penjual gethuk.

Mungkin kita lupa bahwa leluhur kita pernah berpesan: Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman (Jangan mudah kagum, jangan mudah merasa kecewa, jangan mudah terkejut, jangan manja).

Saya khawatir orang-orang bakal menjadi manja dan enggan mengandalkan kakinya untuk berjalan dan lebih mengandalkan naik motor, hanya demi menempuh jarak sekian meter.

Yang lebih saya takutkan lagi, jika virus aleman (manja) itu merambah pada kalangan gadis-gadis di lingkungan saya. Dan, tampaknya tanda-tanda tersebut sudah muncul. Salah satu buktinya adalah: status jomblo yang masih melekat pada saya hingga sekarang.

Saya curiga gadis-gadis yang masuk dalam incaran saya sebagai gebetan mulai berangsur-angsur menjauh karena tahu kebiasaan (jalan kaki) saya. Ndak modal motor.

Mungkin kebiasaan saya tersebut secara otomatis telah menyuguhkan pertanyaan di otak mereka: “Jika aku jalan kaki, masihkah engkau selalu ada untukku, Dik?”

Yo, emoh, Mas!

Shofyan Kurniawan
Add Me

Shofyan Kurniawan

Pria asal Surabaya. Penyuka karya fiksi, non-fiksi, dan film.Bisa dihubungi di Blog: shofyankurniawan.blogspot.com.
Shofyan Kurniawan
Add Me

Latest posts by Shofyan Kurniawan (see all)

  • Alim Hajar

    Kalo jalan di tengah kota, masih gak terlalu kentara, tapi kalo jalannya di kampung apalgi cewek sambil gendong ransel ‘SEMUA MATA TERTUJU PADAMU’ (*pengalaman pribadi :D, dikira orang minggat/ galau akut kali)

  • dyah apri rohayati

    hahahahhah…. ada yang promosi jomblo…. hahahahha….

  • herman yoze

    he he he … begitu ya? ditunggu ‘he he he’nya yang lain!