Pencarian Bakat

in Cerita Pendek by
georgetownframeshoppe.com

Tiga orang—satu perempuan dan sisanya laki-laki—duduk di balik meja panjang dengan masing-masing dari mereka menghadap mikrofon berbatang kecil berwarna hitam. Melalui mikrofon itulah mereka menyalurkan segala komentar pedas terhadap siapa saja yang berada di panggung di seberang meja panjang tersebut. Seorang perempuan dengan rok setinggi paha berwarna merah dan kemeja flanel ketat yang didominasi warna hijau lengkap dengan riasan yang mencolok mata mereka sebut sebagai jelmaan kakatua. Perempuan itu, yang usianya pasti belum lebih dari dua puluh dua tahun, menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangan. Kedua bahunya berguncang-guncang. Lalu, setelah berhasil menenangkan diri, sedikit menenangkan diri, perempuan itu berkata, “Tapi bukankah kalian seharusnya menilai suaraku?”

Si perempuan di balik meja berkata: Suaramu seperti lengkingan monyet yang sedang kawin.

Lelaki berjas hitam di balik meja berkata: Suaramu seperti seruling. Namun seruling yang habis terlindas truk kontainer.

Lelaki berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu berkata: Lolongan kucing yang tengah beranak jauh lebih baik ketimbang suaramu.

Perempuan di atas panggung tak kuasa menahan air matanya. Air mata yang beberapa saat sebelumnya baru saja berhasil ia redakan. Ia berusaha tegar berdiri. Namun kakinya mulai gemetar. Dan beberapa detik kemudian, dua orang lelaki berbadan tegap masuk ke dalam panggung, lalu memapah perempuan yang jatuh pingsan itu dan membawanya keluar.

Setelah perempuan itu, sebelas lelaki memasuki panggung. Mereka mengenakan seragam berwarna hitam. Seragam ketat terusan dari ujung kaki hingga leher. Tampang mereka menunjukkan ketegangan. Mereka membungkuk ke ketiga makhluk mengerikan di balik meja panjang. Makhluk-makhluk yang telah malih rupa jadi malaikat pengadil. Perempuan di balik meja langsung nyerocos: Bagaimana kalian memakai pakaian itu? Apakah penjahit menjahitnya langsung di tubuh kalian seperti itu? Lalu bagaimana kalian nanti melepasnya? Dengan mengguntingnya?

Dua lelaki yang mengapit perempuan itu tersenyum masam. Si laki-laki berjas hitam bertanya: Apa yang akan kalian lakukan?

“Akrobat.” Salah satu dari mereka, sepertinya ia yang ditunjuk kawan-kawannya sebagai juru bicara, menjawab pertanyaan itu. Suaranya gemetar. Enam lelaki lain menyeka keningnya.

“Kalian akan gagal,” kata lelaki berkemeja putih berdasi kupu-kupu. “Aku tahu bahkan sebelum kalian memulainya. Kenapa kalian tidak pulang saja?” tambahnya.

“Kau jahat sekali,” perempuan di balik meja menyahut. Namun wajahnya menunjukkan ekspresi menahan geli. Dan selarik senyum menghias bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. “Mereka harus melakukannya dulu, kan? Itu peraturannya.”

“Terserah merekalah. Aku hanya ingin mengatakan kalau usaha mereka akan sia-sia belaka. Hayo… segeralah mulai.” Lelaki berkemeja putih berdasi kupu-kupu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi setelah membanting beberapa lembar kertas ke atas meja.

Sebelas lelaki itu kembali membungkukkan badan bersama-sama. Mereka kemudian memencar dan keluar dari panggung. Lima detik kemudian, empat dari mereka masuk dari sisi kiri panggung kembali seraya menggotong trampolin besar. Empat yang lain menggotong trampolin yang sama besarnya dari sisi kanan panggung. Lantas, tiga sisanya berlari—d a dari sisi kiri dan satu dari sisi kanan—dan langsung meloncat ke atas trampolin. Tubuh mereka melenting tinggi. Mereka berjumpalitan, berputar-putar, dan kembali jatuh dengan kaki terlebih dulu di trampolin lantas melenting kembali. Delapan laki-laki lainnya segera pula turut dalam permainan itu. Dua trampolin itu, meskipun berukuran besar, nyatalah terkesan terlalu sempit untuk sebelas orang yang melenting-lenting di atasnya, berjumpalitan, berputar-putar, untuk kemudian jatuh ke atas trampolin dan kembali melenting-lenting. Mereka melompat dan mendarat di trampolin lain, bertukar posisi. Kadang-kadang, mereka tampak seperti akan bertabrakan sewaktu melenting di udara dan menyeberang ke trampolin lain. Beberapa penonton yang memadati kursi-kursi di belakang tiga orang yang duduk di belakang meja panjang tak mampu menahan teriakan. Para penonton itu kaget. Mereka takut sebelas orang itu saling bertumbuk dan mendapat celaka karenanya. Namun sebelas orang itu menunjukkan keterampilan yang memukau. Mereka lincah. Dan lentingan mereka kian tinggi, semakin tinggi, hingga pada satu titik, lentingan mereka nyaris menyentuh langit-langit panggung. Beberapa penonton kembali berteriak tertahan. Dan begitu sebelas orang tersebut mengakhiri pertunjukannya, penonton bertepuk tangan. Panjang. Dan menggema.

Sebelas orang itu berdiri terengah-engah. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat pakaian yang mereka kenakan, yang sudah begitu ketat, tampak lebih ketat lagi.

Perempuan di balik meja berkata: Kalian seharusnya menyadari bahwa penampilan kalian hanya menghasilkan keringat yang banyak. Oleh karena itu, kalian seharusnya memakai deodoran yang lebih banyak lagi.

Perempuan itu mengibas-ngibaskan tangan kirinya di depan hidung, sedangkan tangan kanannya sibuk menulis entah apa di kertas yang berserakan di depannya.

Lelaki berjas hitam di balik meja berkata: Anak-anakku berjumlah empat. Yang terbesar berusia dua belas tahun dan yang paling kecil empat tahun. Dan mereka bisa melompat lebih indah dari yang kalian lakukan bahkan tanpa bantuan trampolin.

Lelaki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu di balik meja berkata: Lumba-lumba juga bisa melompat seperti itu. Yang kami mau adalah sesuatu yang luar biasa. Bukan sesuatu yang biasa-biasa saja seperti itu. Kalian tahu, jika kalian melompat, maka bukan lompatan yang asal tinggi yang kami mau. Kami mau lompatan yang bisa membuat pelompatnya meninggalkan kenyataan.

Sebelas lelaki di atas panggung menundukkan muka. Penonton bersorak huuu… panjang dan bergema. Sebelas lelaki di panggung tak tahu kepada siapa sorakan huuu itu ditujukan; kepada mereka atau kepada komentar tiga makhluk yang seolah-olah terlahir tanpa hati nurani itu.

Mereka beringsut. Hendak keluar dari panggung.

Perempuan di balik meja berkata: Kalian memang tidak layak. Kalian bahkan tak tahu sopan santun. Begitukah cara orang tua kalian mengajari kalian?

Sebelas laki-laki di atas panggung berhenti. Si juru bicara tampak hendak menyampaikan sesuatu. Namun suaranya tenggelam ke dalam kerongkongannya dan hanya meninggalkan desisan panjang di ujung lidah.

Perempuan di balik meja meneruskan: Kalian seharusnya mengucapkan terima kasih terlebih dahulu sebelum pergi.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu menambahkan: Lihatlah. Seperti yang kubilang, mereka benar-benar memuakkan. Mereka bahkan tak menghargaimu yang membela mereka tadi.

Laki-laki berjas hitam mengibaskan tangan. Dan sebelas laki-laki keluar dari panggung. Lunglai.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu berkata: Apa-apaan ini? Kenapa kita berada di sini dan disuguhi tumpukan sampah seperti ini? Benar-benar menyebalkan.

Laki-laki berjas hitam mengafirmasi: Aku setuju. Aku hampir-hampir tak sanggup menahan muntah. Untung saja aku ingat kalau tadi aku menghabiskan tiga ekor lobster asam manis. Dan itu harganya tidak murah.

Setengah menit kemudian, di atas panggung, berdiri seorang perempuan. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai, menjuntai hingga betis. Ia mengenakan celana kain berwarna hitam. Kemeja berwarna hitam. Sepatu berwarna hitam. Celak mata berwarna hitam. Gelang dan kalung berwarna hitam.

Perempuan di balik meja berkata: Untuk seorang perempuan, selera fashionmu benar-benar payah.

Perempuan di balik meja berdiri. Memamerkan dirinya sendiri. Gaun hijau dengan manik-manik berkilauan membungkus tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggulnya, menonjolkan sepasang payudaranya yang agung.

Laki-laki berjas hitam berkata: Benar-benar tak ada harapan.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu berkata: Sampah lain lagi.

Laki-laki berjas hitam berkata: Apa yang akan kau lakukan? Cepatlah, kami tidak punya waktu seharian menunggumu melakukan hal bodoh. Mari kita akhiri dengan cepat.

Perempuan di atas panggung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menyapu tiga pengadil tak bercela di balik meja, menyapu para penonton. Cahaya lampu panggung yang mengguyur tubuhnya membuat semua orang yang ada di sana tahu bahwa matanya berkaca-kaca.

“Aku hanya meminta kalian semua mendengarkan bunyi tepukan tanganku,” kata perempuan itu. Lantang. Suaranya bergema.

Terdengar suara tawa menyambut ucapannya. Suara tawa dari perempuan di balik meja. Suara tawa dari lelaki berjas hitam. Suara tawa dari lelaki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu. Suara tawa dari beberapa penonton.

Sebelum suara tawa berakhir, perempuan di atas panggung telah bertepuk tangan. Satu kali saja. “Dan kalian akan tertidur,” katanya dengan kelantangan yang tak berubah.

Dan ruangan itu hening. Semua yang berada di sana, selain perempuan di atas panggung, telah jatuh ke dalam tidur yang dalam. “Dan kalian akan bermimpi menjadi sebatang pohon. Dan kalian akan terbangun setelah aku pergi dari sini,” tambahnya.

Lantas ia pergi. Suara langkah kakinya memecahkan keheningan. Tepat ketika ia keluar dari panggung, seisi ruangan terbangun dari tidurnya. Dan masing-masing dari mereka—penonton dan tiga orang di balik meja—terkejut mendapati betapa rambut mereka telah berubah menjadi dedaunan. Dedaunan yang lebat dan bewarna hijau.

Dan dari sela-sela kerimbunan daun itu, muncul kepala seekor ular yang mendesis-desis dan menjulurkan lidahnya yang bercabang.

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)