Pengabdi Setan dan Horor yang Mengabdi ke Kuasa Religius

in Esai by
@jokoanwar

Pengabdi Setan besutan Joko Anwar akan menduduki tempat yang ganjil dalam khazanah film horor Indonesia. Istimewa? Boleh jadi. Tetapi, untuk sebuah film yang nekat membangkang dari standar aman genrenya, ganjil adalah term yang lebih padan.

Ada dua modus film horor Indonesia, setahu saya, dalam memperlakukan sosok agamawan. Ia akan menghadirkan mereka sebagai sosok suci yang di hadapannya semua kekuatan jahat akan punah. Mereka hanya akan muncul menjelang akhir film karena kehadiran mereka terjamin ampuh mengenyahkan setan, iblis, atau jin yang mengganggu para protagonis. Dan film-film yang tak mau menempatkan para agamawan di pusat dari narasinya, apa pun alasannya, tak akan melibatkan mereka sedari awal sama sekali. Film-film ini mengambil pendirian yang—sebut saja—agnostik terhadap keberadaan agamawan.

Pengabdi Setan memunculkan sosok agamawan dalam filmnya. Sang ustadz hadir menyediakan dukungan sekaligus wejangan moral kepada para protagonis yang dilanda krisis, dan yang saya duga awalnya, film ini akan berkubang lagi dalam klise film horor Indonesia. Namun, tak lama, Pengabdi Setan menikung tak terduga. Sang ustadz kehilangan anaknya. Ia menjadi gamang, tak bisa diandalkan—dan bahkan pada satu kesempatan terlihat antipati—dalam menyelamatkan keluarga protagonis dari makhluk halus yang mengincar mereka. Sang ustadz bahkan kehilangan nyawanya ketika ia, karena keterpukulannya, tak bisa membedakan antara makhluk halus yang menyaru menjadi anaknya dengan anaknya sendiri.

Saya, jujur, terperangah dengan manuver ini. Alurnya tak tertebak? Sedikit-banyak. Namun, ia masih dalam kategori terantisipasi bila kita getol menonton film horor mancanegara. Exorcist yang ikonik itu berakhir dengan kematian para pendeta yang berusaha mengusir iblis yang merasuki sang korban. Dalam film seperti Carrie, kita bahkan dapat menyaksikan figur religius tak berdaya di hadapan kekuatan sihir. Apa yang saya takjubkan dari manuver Pengabdi Setan adalah keberaniannya menempatkan sosok ustadz sebagai figur yang fana dan manusiawi dalam sebuah film Indonesia.

Dan Pengabdi Setan tak sekadar berhenti di sana. Sosok yang akhirnya tampil sebagai penyelamat keluarga protagonis? Sang dukun. Sang dukun, memang, bukan sosok gagah yang menaklukkan sang titisan iblis maupun pasukan mayat hidupnya. Namun, dengan pengetahuannya, ia dapat mengantisipasi apa-apa yang akan terjadi. Berkat pengetahuannya juga, ia lantas bisa datang menyelamatkan keluarga protagonis di momen-momen paling genting dari film ini.

Saya belum mendengar suara-suara miring terhadap Pengabdi Setan—mungkin, toh, karena saya belum menelusurinya. Namun, saya sudah bisa membayangkan, di suatu tempat sana cercaan menghardik film ini. Entah di mana—di sudut-sudut senyap jagat Twitter atau Facebook mungkin?—saya punya keyakinan, orang-orang tengah mencerca Pengabdi Setan. Agamawan kalah? Dukun lebih mampu menolong para korban kekuatan jahat? Pengabdi Setan mungkin tak menistakan agamawan secara telanjang. Tetapi, tetap saja, orang-orang punya alasan religius untuk menghalau sanak-saudara dan rekan-rekan terdekat mereka untuk menontonnya. Bila mereka agamawan, mereka lebih-lebih lagi punya alasan melarang umatnya pergi ke bioskop.

Kendati demikian, dalam ketakjuban saya dengan Pengabdi Setan, saya mengapresiasinya. Pendirian saya terhadap film ini cukup sederhana: saya melihatnya sebagai representasi yang lebih jujur perihal kehidupan spiritual di Indonesia.

Awal mula film horor di Indonesia menjadi tak terpisahkan dengan “dakwah” tidak lepas dari pertimbangan-pertimbangan bisnis dan politis. Agamawan mulai dihadirkan, menurut katalog film yang disusun J.B. Kristanto, pada kisaran akhir 1970-an. Pengabdi Setan orisinal garapan Sisworo Gautama Putra, ironisnya, menjadi salah satu film yang memantapkan sentralitas ustadz dalam khazanah horor Indonesia. Ustadz tampil di dalamnya sebagai pihak yang mewejangi keluarga protagonis yang diganggu makhluk halus untuk kembali beribadah. Ketika keluarga protagonis dikejar mayat hidup di akhir film, sang ustadz menghadang pengejarnya, merapalkan surat al-Qur’an, dan mereka pun terbakar.

Selepas sejumlah film horor awal mencetak sukses dengan menampilkan figur ustadz, menurut Katinka van Heeren dalam bukunya Contemporary Indonesian Film, film-film selanjutnya diproduksi dengan bayangan penghadiran agamawan memudahkan sebuah film lolos sensor. Alasannya bukan sekadar terkait kelarisan. Pada waktu itu, Badan Sensor Film merupakan momok. Lebih-lebih, Kode Etik Produksi Film Nasional yang diberlakukannya sejak 1981 menuntut film nasional agar berfaedah bagi ketakwaan penonton terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya, setiap strategi yang dianggap teruji efektif meloloskan film dari sensor diulang terus-menerus. Kehadiran ustadz, akhirnya, menjadi standar yang seakan wajib diterapkan pada sebuah film horor.

Dan selanjutnya, situasi ini memunculkan spesimen hibrida yang tragis. Tak sedikit dari antara film horor yang berpangku pada dakwah juga mengandalkan adegan-adegan erotis untuk menjajakan komoditasnya. Dasawarsa 1980-an hingga 1990-an, akibatnya, horor menjadi identik dengan dakwah sekaligus seks. Ia menjadi kombinasi carut-marut antara resep laris di pasaran dan resep aman dari sensor.

Tak lupa, gejala yang juga lantas mencuat adalah film horor Indonesia menjadi ajang penistaan terhadap kepercayaan-kepercayaan di luar agama besar. Praktik-praktiknya senantiasa ditampilkan sebagai lelaku yang awalnya menggiring para tokoh ke masalah mereka. Ajaran-ajarannya mencelakakan sang tokoh. Paling baik, ritual-ritualnya dianggap sebagai metode mengusir kekuatan jahat yang sama sekali tidak ampuh dibandingkan rapalan ayat-ayat agama.

Pada kenyataannya? Kehidupan klenik tak pernah benar-benar menjadi sisi hitam yang terpilah secara biner dari agama sebagai sisi putihnya. Di benak para pengatur negeri ini yang terpelajar saja, misalnya, santet adalah ancaman yang nyata. Pada akhir 2016 silam, toh, DPR dan pemerintah menyetujui dimasukkannya pasal santet dalam Rancangan KUHP yang akan mengatur negeri yang besar ini. Menjelang pemilu 2009, seorang dukun mengaku, klien yang berdatangan kepadanya adalah para caleg. Dan kalau Anda menginginkan cerita yang lebih menarik lagi, ambil saja satu kisah yang dibocorkan Wikileaks. Pada September 2010, dalam kabar dari kabel ini, SBY absen dari pertemuan antara ASEAN dengan AS karena adanya kasak-kusuk santet di istana kepresidenan.

Ke mana kita pergi, kita selalu dituntut menistakan kepercayaan setempat. Dengan pejalnya tempat bagi agama monoteis di konstitusi negara ini, ini bukan hal yang mengherankan. Mereka yang menghayati aliran kepercayaan dituntut menyembunyikannya atau mereka tidak akan memperoleh hak-hak dasar mereka sebagai warga negara. Tetapi, dengan kenyataan 69 persen orang Indonesia menurut jajak pendapat Pew Research Center percaya ilmu gaib, lebih tinggi dibandingkan di negara-negara Muslim lainnya, meninggalkan lelaku klenik tak pernah menjadi urusan sederhana.

Ketika rekan saya melakukan etnografi di Desa Masihulan, Seram Utara, Kekristenan, yang masuk sejak 1930-an, sudah mengakar kuat di sana. Satu dari tiga pilar desa adalah gereja. Kendati demikian, ketika orang-orang ingin berobat, mereka mendatangi figur-figur yang bisa menyambungkan mereka kepada roh leluhur. Gereja dapat menyembuhkan tetapi ia hanyalah satu di antara banyak kekuatan supranatural yang bisa menolong mereka. Situasi ini terdengar tidak asing? Ya, seharusnya. Anda akan menemukan ini di banyak tempat seharusnya. Namun, kenyataan semacam ini pulalah yang selalu ditutupi atau diakui hanya dengan rasa malu.

Alasan saya mengatakan Pengabdi Setan menjadi gambaran meyakinkan kebudayaan kita, terlepas padanya ada adegan-adegan yang masih bisa digarap lebih memadai, adalah serenteng kenyataan di atas. Pengabdi Setan bukan film dokumenter. Ia jelas-jelas merupakan film horor, dan tak pernah berpretensi merekam fakta kebudayaan kita secara menjemukan. Akan tetapi, nuansa dari jagat yang dibangunnya merespons kenyataan kebudayaan yang terjadi alih-alih yang normatif. Di jagatnya, pada saat para insan dihadapkan dengan sejumlah keyakinan untuk dianut, mereka akan membuat pilihan-pilihan yang manusiawi. Mereka akan mencari apa yang paling mungkin menjaga, menenangkan, serta menyelamatkannya. Adakah Tony, sang anak kedua dalam Pengabdi Setan yang memilih untuk percaya dengan teori sang dukun, berbeda dengan Ibu Maria yang mendatangi leluhur agar anaknya diangkat penyakitnya?

Dan di jagat Pengabdi Setan pula, pemuka agama menjadi sosok manusiawi yang tak selalu ada secara gaib untuk semua persoalan insan pengikutnya. Ia merupakan sandaran moral namun juga mempunyai kerapuhannya. Ia merupakan harapan namun bukan tembok yang selamanya bergeming. Ia menjadi Anda, saya, dan setiap insan yang pada akhirnya akan terantuk pada keterbatasan-keterbatasannya.

Saya pribadi tak percaya dengan klenik. Tetapi, di tengah-tengah politik yang menyusu dari citra sempurna, tak bercacat apa-apa yang dilekatkan dengan agama, saya mendukung upaya-upaya yang dapat menggoyahkan keabsolutannya tersebut.

Film Pengabdi Setan, saya percaya, perlu kita baca sebagai salah satunya.

Geger Riyanto

Geger Riyanto

Esais. Mengajar Filsafat Sosial dan Konstruktivisme di Universitas Indonesia.
Geger Riyanto
  • Nurul Cahyaning yulianti

    1. cerita akhirnya susah dimengerti keterkaitan biji merah yang ditemukan di hutan dan dikumpulkan di toples dengan keluarga tersebut, padahal si anak (titisan iblis) sudah tidak bersama keluarga itu.

    2. Mahluk sebelum jaman yang disebutkan itu siapa? iblis? malaikat? atau “Son of God”?

    3. Fahri Achmad dan istrinya sebagai pengabdi setan memakai peta untuk menulusuri siapa? kenapa harus pakai peta jika mereka punya kemampuan supranatural?

    Mohon diskusi berlanjutnya… 😊😀
    Terimakasih 🙏