Penyembah Setan

in Cerita Pendek by
akamaihd.net

Selalu setiap malam Jum’at, Mardi membakar kemenyan dalam kamar. Bunga-bunga mawar kesukaan Mastini ditabur di atas ranjang sebagaimana kamar pengantin. Mardi juga menyiapkan sepiring bubur sumsum kesukaan Mastini, istrinya. Mulut Mardi berkomat-kamit, kumisnya ikut bergerak. Disebut nama Mastini berulang-ulang. Angin menyelinap masuk dari celah jendela yang tertutup. Mardi mendongakkan wajah. Terpejam matanya. Terbayang wajah Mastini, yang hingga kini tak tahu di mana rimbanya.

Namun satu minggu kemudian, Mastini ditemukan terbujur kaku di ladang jagung. Tubuhnya telanjang, tanpa ada sehelai kain menutupinya. Dari liang-liang luka, darah merembes. Di sekelilingnya terserak potongan kayu, batu-batu, dan darah di ladang jagung milik Sukib. Angin mati. Bau busuk menguar dari jasad Mastini. Menurut Sukib, orang yang pertama kali melihat Mastini tergeletak mengira sudah tiga hari perempuan cantik itu tewas. Jejak-jejak kaki lima orang lelaki tertinggal di ladang jagung. Orang-orang masih menelusuri siapa lima laki-laki itu yang membantai Mastini.

Kabar kematian Mastini sampai kepada Mardi, ketika laki-laki gemuk itu hendak menyulut sebatang rokok. Seorang lelaki, teman Sukib, disuruh mengantar berita soal Mastini yang tewas di ladang jagung. Tak percaya Mardi dengan mulut laki-laki pengantar kabar itu. Ia tetap melanjutkan menyulut sebatang rokoknya di depan rumah. Tapi, Mardi mendadak bergetar, dan merasa seluruh persendian tubuhnya lunglai saat diperlihatkan padanya sobekan baju Mastini yang penuh darah. Jantung Mardi terasa akan copot saat itu juga. Mukanya keruh seketika.

Mardi mengikuti langkah lelaki tadi. Dengan terpiuh-piuh Mardi tiba di ladang jagung. Awan hitam bergumpal di permukaan langit. Mardi dapat menghirup anyir darah dari tubuh sang istri. Hujan deras mengucur dari ceruk matanya yang dalam. Ia merangkul tubuh Mastini. Tak lagi ia dapatkan aroma napas Mastini. Sukib menarik Mardi dari dekapan istrinya. Meminta Mardi bersabar dengan apa yang terjadi.

“Bersabarlah. Karena tak akan diuji seberat ini kecuali kau mampu menjalaninya,” kata Sukib. Masih terisak Mardi. Tangisannya dalam dan menyayat. Laki-laki mana yang sanggup kehilangan belahan jiwanya. Apalagi dengan cara kepergian tak wajar seperti ini. Pembantaian yang dilakukan terhadap Mastini terlalu mengerikan, kematiannya terlalu keji. Seingat Mardi, istrinya tak pernah punya persoalan dengan siapa pun, termasuk dirinya. Siapa yang sanggup melakukan pembantaian sekejam ini? Mardi menyimpan pertanyaan sekaligus duka dalam dadanya.

Jasad Mastini dikebumikan jam tiga sore di antara gerimis serupa helai rambut. Mardi menabur bunga di atas pusara. Kematian Mastini masih diselimuti misteri. Pipi Mardi basah oleh air matanya yang terus mengalir. Nisan istrinya ia pegang. Sesekali dikecupnya sampai-sampai ia menjatuhkan kepalanya di atas makam. Berdiri tak jauh darinya, Sukib ikut larut dalam sedih. Daun-daun kemboja bergesek, kemudian selembar dua lembar jatuh di atas pusara Mastini.

Tujuh hari setelah kematian Mastini. Ladang jagung milik Sukib ditebang. Laki-laki paruh baya mengalami ketakukan saat melintas di ladangnya. Masih terbayang tubuh Mastini terbujur, dengan mata melotot di ladang jagungnya. Mardi bilang kepada Sukib agar banyak mendoakan Mastini sehingga tak lagi dihantui pikirannya. Setiap selesai shalat, Sukib pun senantiasa menyertakan doa kepada Mastini.

Hampir genap tiga minggu setelah kematian Mastini, Kamis selepas maghrib, Mardi duduk di bawah pohon mangga di belakang rumahnya. Sudah tidak tahu bagaimana cara mengungkap siapa pembunuh istrinya. Tak bisa ia menduga-duga tanpa bukti. Bedah autopsi membuktikan bahwa Mastini diterkam binatang buas, versi lain menggarisbawahi kemungkinan Mastini mati memang dianiaya orang. Mardi tak bisa berbuat banyak, kecuali menerima ini sebagai suratan.

Tiba-tiba sore itu Mardi mendapat bisikan, mendesis-desis di telinganya. Ia kenal suara itu. Mastini memanggilnya ke dalam kamar. Tak pikir panjang Mardi menuruti apa kata bisikan tersebut. Dalam sebuah kamar, bisikan itu menyuruh Mardi menyiapkan kemenyan, bunga mawar yang mesti ditabur di atas ranjang, lembut memerintahkan agar Mardi segera mengerjakan. Tidak lebih dari lima menit, Mardi melihat sesosok bayangan menyusup dari jendela. Pasti Mastini, kata Mardi tak lain bicara sendiri.

Dalam temaram lampu kamar, sekilas wajah mirip Mastini duduk di atas ranjang. Rambutnya digerai sebahu. Aroma parfumnya dikenal betul oleh Mardi. Parfum yang melekat di tubuh istrinya saat malam pertama. Tidak dapat diukur kebahagiaan Mardi. Binar-binar di matanya terpancar. Sesosok bayangan yang dianggap Mastini oleh Mardi lenyap seketika. Ia menitip pesan, jika ingin menemuinya kembali, maka panggil seperti yang dilakukan tadi. Mardi tersenyum. Rindu terobati.

Sejak itu Mardi kerap melakukan ritual itu, setiap Kamis selepas maghrib. Empat minggu kemudian, Mardi berjalan ke rumah Sukib, bersiap menceritakan segala apa yang terjadi antara dirinya dan pertemuan gaibnya dengan Mastini. Ditemukan di rumahnya, Sukib tengah duduk di pinggir kali di samping rumah. Terkaget-kaget Sukib melihat Mardi terpincang-pincang menuju ke dekatnya. Karena Mardi tak pernah berkunjung ke rumahnya, begitu pula dengan Sukib. Keduanya seperti membuat jarak. Meskipun begitu, tak ada persoalan apa pun di antara keduanya.

Ketika Mardi mengajaknya bicara, gerimis pelan-pelan menerpa ubun-ubun kepala mereka. Sukib mengajak Mardi duduk di atas lincak, di amben rumahnya. Petir menggelegar, seakan memamerkan kehebatannya membelah angkasa. Gelap menyungkup langit seketika. Mardi mulai membuka mulutnya. Memandang wajah Sukib. Hujan berderai, sehingga Mardi mendekat agar suaranya sampai di telinga Sukib.

“Kau tahu tidak?” Mardi memulai dengan sebuah pertanyaan. Sukib menggeleng. Ia merogoh saku celananya, mencari sebungkus rokok. Langit tampak pekat. Terdengar petir bersahutan. Sejenak Mardi diam, menunggu hujan reda. Tak lama hujan agak lambat. Mardi mengambil sebatang rokok sebelum ia urai kisah-kisah gaibnya.

“Saya berjumpa dengan Mastini,” kata Mardi. Kening Sukib berkerut seketika bersamaan dengan bahunya yang terangkat.

“Ah! Kau bercanda. Bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa hidup lagi?” Perasaan Sukib kacau ketika ia menanyakan hal itu. Laki-laki itu seperti kembali diliputi ketakutan sekaligus kecemasan yang teramat dalam.

“Sungguh. Bahkan saya bisa memanggilnya setiap Kamis, selepas maghrib. Kamis depan ia janji akan cerita pada saya siapa yang membantai dirinya.” Mardi mengulas senyum di bibirnya. Sukib mengatur degup jantungnya. Pucat melingkar di wajahnya. Sebatang rokok pengusir dingin telah tinggal puntung. Sukib tak berhasrat lagi menyulut sebatang rokoknya.

“Kau percaya kalau itu benar-benar Mastini?” Mendengar pertanyaan itu, Mardi mengangguk. Mantap.

“Kenapa kau jadi gila? Itu setan yang menyamar jadi Mastini,” tegas Sukib. Menepuk-nepuk pundak Mardi guna meyakinkan omongannya sendiri. Namun Mardi terlampau percaya dengan sesosok berwajah mirip, tanpa sedikit cela yang membedakannya dengan istrinya. Mardi menggeleng-gelengkan kepala, menyangkal perkataan Sukib. Gemetar merambat dari tumit Sukib sampai-sampai sebatang rokok terlepas dari jepitan jari-jari tangannya.

“Ia benar-benar Mastini. Bukan setan!” Meradang wajah Mardi. Sesaat kemudian, ia meninggalkan Sukib. Membiarkan laki-laki berkulit gelap itu menelan ketakutannya sendiri. Mardi menerabas sisa-sisa gerimis. Tergesa-gesa langkahnya. Ia menoleh dan berkata, “Nanti saya ke sini lagi, akan saya ceritakan siapa pembunuh Mastini setelah ia bicara pada saya Kamis depan. Kita cari sama-sama pembunuh itu. Kalau perlu kita bantai seperti yang dilakukan pada Mastini,” ucap Mardi dari pengkolan jalan. Ia setengah berteriak. Napas Sukib semakin tak teratur.

***

Tak sempat Mardi memanggil arwah Mastini ke dalam kamarnya. Selasa malam, selepas isya, ia sudah ditemukan tewas di dalam kardus. Lehernya digorok. Bola matanya melotot. Lidahnya terjulur, dengan darah mengalir di ujungnya. Mardi sempat berteriak ketika sebilah pisau mengiris lehernya. Mata laki-laki itu juga melihat pasti siapa yang menghunus pisau ke perutnya.

Pulau Garam, Januari 2017

Zainul Muttaqin

Zainul Muttaqin

Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Juara III Lomba Cipta Cerpen Nasional (FCB VII 2015, INSTIKA Sumenep). Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (Edukasi Press; IAIN Walisongo Semarang. 2013). Perempuan dan Bunga-bunga (Obsesi Press; STAIN Purwokerto. 2014). Sepotong Senja, Sepenggal Sangka (FAM Indonesia, 2016). Tinggal di Madura. Email; lelakipulaugaram@gmail.com
Zainul Muttaqin

Latest posts by Zainul Muttaqin (see all)

  • Twistnya mantap, sepertiga ke bawah sudah bisa menduga, tapi memang gak pernah terbesit kalo MC juga bakalan ikut “kena.”