Perang Asyik LGBT vs Menristekdikti

in Hibernasi by

Perang Asyik LGBT vs Menristekdikti

The problem with labels is that they lead to stereotypes and stereotypes lead to generalizations and generalizations lead to assumptions and assumptions lead back to stereotypes.

— Ellen DeGeneres

Semenjak Bapak Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan pernyataan bahwa kelompok LGBT tidak boleh masuk kampus, perang antara SGRC UI dan sang menteri pun bergulir asyik di media sosial twitter. Saya mengikuti perkembangannya. Semua ini memang tidak menjadi api tanpa ada asap terlebih dahulu.

Kronologinya begini, Pak Menteri memberikan statement, salah satunya pada detik.com tertanggal 24 Januari 2016 yang kurang lebih menyebutkan bahwa LGBT tidak sesuai dengan tataran nilai dan kesusilaan bangsa Indonesia. Sikapnya itu mengomentari pergerakan Support Group And Resource Center on sexuality studies (SGRC) di kampus nomor satu di ibu kota, Universitas Indonesia, yang terendus memayungi gerakan LGBT.

Pernyataan Pak Menteri tersebut ditambah lagi dengan sejumlah pemberitaan tidak imbang versi Republika Online dengan embel-embel tagar #lgbt serang kampus #lgbt masuk kampus. Cari saja berita-berita terkait dengan tagar tersebut dan mungkin beberapa di antaranya akan memancing senyum Anda. Banyak sekali pihak yang diwawancarai oleh wartawan media yang bersangkutan demi menggali sikap anti-LGBT publik, mulai dari psikolog, ustadz, ketua organisasi keagamaan, hingga melebar entah ke mana-mana lagi. Bandingkan saja dengan detik.com yang bersikap netral. Kontra sih sebenarnya perkara wajar. Tapi bukan dengan memupuk kebencian dan mengumbar hujatan.

Sorotan media online R adalah bagian yang membosankan. Maaf kalau saya malas untuk membahas panjang lebar. Karena hanya itu-itu lagi dan lagi.

“Peperangan” menjadi asyik menurut saya karena SGRC UI menjadi bulan-bulanan pihak yang belum memahami apa aktivitas organisasi ini sebenarnya. Apakah benar SGRC UI adalah organisasi yang dibekingi para atase LGBT untuk mengubah kampus UI menjadi kampus LGBT atau setidaknya pro-misi dan visi LGBT? Lingkup yang coba direngkuh oleh SGRC ini sangat luas, yaitu gender dan seksualitas, termasuk tindak kekerasan seksual dan pemerkosaan itu di dalamnya. Jika ada mahasiswa yang merasa membutuhkan tempat konseling untuk permasalahan seksualnya, pergilah ke SGRC. Apakah hanya LGBT yang merasa bermasalah dengan seksualitas? Apakah seksualitas LGBT itu selalu bermasalah? Ataukah seks terlalu tabu untuk dibicarakan?

SGRC mendapatkan dukungan banyak pihak, termasuk sang founder yang sedang kuliah di Bangkok. Melalui akun twitter @ferenadebineva, ia meradang. Kicauannya memang pedas-pedas, mewakili ketersinggungannya akan pernyataan Pak Menteri. Juga kepada Republika Online yang dalam sehari bisa memposting 5 artikel yang isinya bernada sama. Ditambah lagi, konon UI mulai mempertimbangkan kembali nama besarnya yang melekat di SGRC. Organisasi ini sudah berdiri sejak tahun 2014. Kenapa baru sekarang dipermasalahkan, coba?

Namun, entah apa yang membuat Pak Menteri tiba-tiba memberikan pernyataan baru dengan beralasan bahwa dirinya “mendapat laporan bahwa media banyak memberitakan pernyataan saya yang melarang LGBT masuk kampus”. Beliau memposting 16 kultwit yang isinya makin berpotensi mengundang cibiran banyak orang akan cara pandangnya terhadap LGBT. Adalah fakta bahwa tanpa Alan Turing, di dunia ini tidak akan ada komputer. Alan menderita lahir batin demi orientasi seksualnya yang dianggap ilegal dan “sakit”. Pak Menteri ini mungkin akan bernasib beda jika tidak ada Alan Turing. Mana perlu Menristekdikti jika komputer tak eksis?

Salah satu kultwit Pak Menteri berbunyi begini:

“Larangan sy terhadap LGBT masuk kampus apabila mreka mlakukan tindakan yg kurang terpuji seperti bercinta, atau pamer kemesraan di kampus.”

Tunggu dulu, apakah twit ini benar-benar Pak Menteri sendiri yang menulis atau jangan-jangan kena hack? Mengapa figur semulia Pak Menteri anggapannya terhadap LGBT begitu rendah? Serendah dan sehina itukah sehingga homoseksual selalu dimaknai manusia yang cuma tahunya ngeseks? Tidak punya otak dan etika sampai bercinta pun harus di kampus? Jika suatu kali Pak Menteri masuk ke dalam area khusus LGBT, gay bar misalnya. Ya melihat cium-ciuman bibir laki sama laki memang biasa. Dan nggak ada larangan lho pria heteroseksual masuk ke gay bar. Kan tidak ada kartu identitas khusus gay yang bisa dijadikan penanda resmi mana gay yang iseng-iseng icip-icip senang kemudian.

Freud adalah akademisi yang berkeyakinan bahwa homoseksual tidak sepatutnya diperlakukan seperti halnya orang sakit (Lewis, 1988). Freud mengambil sampling dari para intelektual sepopuler Plato, Michelangelo, dan Leonardo da Vinci. Pendapat Freud ini baru diamini secara universal setelah WHO menghapus homoseksual sebagai gangguan jiwa di tahun 1990 dan oleh Depkes RI tahun 1993. Maka, saya mempertanyakan mengenai pandangan psikolog yang masih keukeuh mengatakan LGBT ini layaknya penyakit menular. Apakah si wartawan sebegitu susahnya menemukan psikolog yang memang berkecimpung dalam bidang psikoanalisis dan melakukan kajian terhadap gender dan seksualitas? Banyak kok psikolog yang tertarik dengan kajian ini.

Setelah melemparkan 16 kultwit, Pak Menteri lalu tidak lagi memberi pernyataan apa pun. Sepertinya Pak Menteri tahu poin-poin yang disampaikan tidak akan membuat perdebatan dua kubu ini mereda, tetapi makin memburuk dan mengundang simpati tidak hanya sebatas akademisi UI tapi juga tokoh-tokoh publik, di antaranya Richard Oh, Akhmad Sahal, Todung Mulya Lubis, hingga Okky Madasari lewat akun twitter masing-masing. Tentu saja dukungan dari kalangan LGBT tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka terus memberikan dukungan agar SGRC UI tidak berhenti di tengah jalan.

Dear Pak Menteri, saya tidak paham apa yang sebenarnya Bapak takutkan dari kaum LGBT ini. Saya tahu Bapak pun kuliah. Satu almamater pula dengan saya. UGM, bukan? Mungkin semasa kuliah Bapak pernah punya teman yang memiliki orientasi seksual berbeda. Saya tahu, UGM termasuk universitas yang “santai” dengan kehadiran LGBT berkeliaran dalam gedung-gedung mewahnya. Mereka berbaur dengan mahasiswa, makan satu meja dengan para dosen, leluasa membuat seminar tentang gender dan seksualitas. Tidak ada ruang yang memisahkan mereka. Karena mereka tidak berbeda. Mereka ya akademisi juga sebutannya. Jika diwisuda pun menyandang gelar yang sama, tanpa embel-embel LGBT.

Lalu pertanyaan saya, mengapa Bapak lebih khawatir dengan LGBT ketimbang ateis-ateis yang berkeliaran dalam kampus? Lebih muliakah menjadi ateis ketimbang LGBT, Pak Menteri?