Perayaan Puisi

in Cerita Pendek by
artistrunwebsite.com

“BUKU puisi ini akan mengantarkan kalian menjadi sastrawan hebat,” kata Nurul Kiwari sembari menunjukkan perwajahan buku puisi duet kami di layar komputer Pentium 4-nya. Aku tersenyum seraya memendam rasa bangga dan bahagia di lubuk sanubari, sedangkan Agus Bakar hanya mengisap dalam-dalam rokok Djarum 76-nya. Kulihat wajahnya tak menunjukkan ekspresi berarti. Khas wajah sastrawan sejati yang kebal puja-puji.

“Kalau memungkinkan, buku ini akan kumintakan kata pengantar pada Aburizal Makna,” imbuh Nurul Kiwari yang membuat bunga-bunga di hatiku kian mekar. Aburizal Makna adalah penyair idolaku. Aku mengoleksi semua buku puisinya. Kredonya tentang instalasi kata-kata telah lama memukauku, walau sebenarnya tak begitu aku pahami. Kesulitanku mengikuti jalan pikirannya dan kegagalanku merekonstruksi proses kreatifnya ketika menulis puisi tak membuat cintaku pada karyanya patah. Kebetulan Aburizal Makna, penyair Indonesia bertaraf internasional itu, sedang berada di Kota Gawok. Dengar-dengar beliau sedang menyiapkan buku puisinya di kota ini. Jadi, ucapan Nurul Kiwari itu dekat dengan kenyataan. Aku pernah melihat mereka angkringan bareng di Taman Budaya Gawok (TBG). Rasanya impianku memiliki buku puisi yang dipengantari penyair idola bukanlah hal yang mustahil lagi.

Agus Bakar masih menanggapi ucapan Nurul Kiwari itu dengan dingin. Rautnya demikian konstan. Kelakuannya khas sastrawan kugiran. Aku tahu pasti, baginya, ada atau tidaknya kata pengantar dari sastrawan kondang, tak akan berpengaruh banyak pada buku puisi kami. Kata pengantar itu tak akan mampu mendongkrak kualitas puisi kami. Kalau perkara gengsi, mungkin ada pengaruhnya. Agus Bakar sangat percaya pada kekuatan teks. Puisi-puisi yang bersih dari intervensi semacam kata pengantar, penutup, dan endorsemen, selagi ia kuat, tetaplah akan mampu menggarong pukau pembaca. Kalau boleh memilih, pastilah ia akan membiarkan buku puisi duet kami tampil apa adanya tanpa embel-embel yang lebih mirip gula-gula sastra. Kami pernah membahas perkara ini sampai jam 3 pagi, meski mulainya baru jam setengah tiga pagi sembari menunggu partai Liga Champion antara Liverpool lawan Barcelona yang ajaibnya bisa dimenangi Liverpool, di kamar indekosnya yang lebih mirip kapel seni. Di ruangan berukuran 2,5×3 meter itu hampir semua karya seni murni ada, mulai dari lukisan abstrak, patung yang tampaknya juga abstrak, hingga seni instalasi pengganti eternit yang buram maksud dan tujuannya. Aku sering rebahan dan menatap seni instalasi itu dan yang terbayang di benakku hanyalah pikiran kawanku itu yang tampaknya sungguh ruwet. Benda-benda macam gayung, sempak, bola plastik, sandal jepit, helm, dan lain-lain diikat dan dihubungkan dengan tali rafia sehingga menyerupai sarang laba-laba. Terkadang aku membayangkan helm itu jatuh dan menimpa kepala orang yang berada di bawahnya, pastilah orang itu akan kelenger. Dan, jadilah seni berbuah Unit Gawat Darurat. Sebuah preseden buruk bagi seni instalasi. Namun, aku maklum. Jalan pikiran seniman sejati memang kadang susah dipahami, apalagi oleh mata tak terlatih penulis anyaran sepertiku ini. Aku boleh masuk ke kamarnya tanpa berwudu atau tayamum saja, sudah patut aku syukuri.

Buku puisi duet kami ini sebetulnya adalah proyek rintisan penerbitan buku sastra oleh TBG. Kesadaran untuk mendokumentasikan karya sastra yang telah lama digadang-gadang tiba-tiba menemukan wujudnya. Ada alokasi dana yang tersedia, yang entah diajukan oleh siapa. Dan, Nurul Kiwari, aktivis seni yang biasa nongkrong di TBG, ditunjuk sebagai pengeksekusinya. Setelah merenung dan menimbang-nimbang yang tampaknya cuma setengah matang, akhirnya Nurul Kiwari memilihku dan Agus Bakar. Puisi-puisi kami akan tayang di terbitan perdana. Aku sempat bertanya mengenai alasan keterpilihan kami. Nurul Kiwari dengan kalem menjawab bahwa kami adalah representasi penyair muda di Kota Gawok yang produktif dan berprestasi, terlepas kami adalah karib sekelas jurusan Sastra Indonesia di satu-satunya perguruan tinggi negeri di kota ini yang potensial membikin cemburu sastrawan-sastrawan muda dari perguruan tinggi swasta.

Perkara prestasi barangkali bisa diperdebatkan, meski kami beberapa kali menjadi jawara dalam turnamen sastra, baik yang berkelas nasional, lokal, maupun rumahan. Puisi-puisi kami juga acap menghiasi koran-koran dan ini tentu tak lepas dari pantauan para pengarsip koran, macam Nurul Kiwari. Pada tataran produktivitas inilah sebenarnya keunggulan nyata kami. Kami sepakat untuk menulis puisi-puisi baru untuk dihimpun dalam buku duet ini dengan tema kematian. Tema ini sengaja kami pilih karena citranya yang sangar, horor, meneror, sekaligus kental dengan unsur spiritualitas dan religiositas. Waktu seminggu yang diberikan kiranya tak menyulitkan kami untuk menulis masing-masing 20 puisi. Bukannya sombong, aku tahu produktivitas Agus Bakar dan mampu menakar kemampuanku sendiri. Kalau sedang keranjingan menulis puisi, sehari kami bisa menulis minimal 10 puisi. Patut dicatat, puisi-puisi yang kami tulis itu adalah puisi-puisi panjang. Kalau sekadar menulis puisi pendek, itu seperti cegukan saja bagi kami. Lebih-lebih kami tahu bahwa puisi-puisi kami akan dibukukan, dibacakan, dan didiskusikan, semangat menulis kami membara tiada tara.

Sebenarnya aku menyembunyikan kebanggaan yang lain dari Agus Bakar. Aku sungguh bangga bisa berduet dengannya dalam satu buku. Tak sebatas kawan, sesungguhnya dia adalah idola sekaligus guru menulisku. Dialah yang mengentaskanku dari kasta mahasiswa sastra yang wagu ke derajat penulis muda yang bermutu. Terus terang, aku merasa terpuruk setelah dua kali gagal mencapai jurusan studi idamanku, yakni Psikologi dan Ekonomi Akuntansi, dan harus berakhir di jurusan Sastra Indonesia ini. Aku merasa kuliah segan, drop out tak mau. Bagaimana mungkin aku bisa menggapai gelar sarjana di tempat yang tembok kelasnya lebih riuh ketimbang Tembok Ratapan, yang tulisan-tulisan curhat di temboknya lebih norak dibanding tembok SMA-ku? Kiranya Agus Bakar adalah mesiah yang dikirimkan Tuhan untuk menaikkan derajatku. Agus Bakar sudah menggeluti dunia sastra sejak SMA. Di masa yang sama, aku sedang sibuk-sibuknya meracik takaran yang pas antara ciu dan air rendaman sempak supaya cepat bikin mabuk dan tahan lama pusingnya. Semenjak mengenalnya lebih dekat, aku merasa perkuliahanku jadi lebih berarti. Dari semula yang cuma membaca-baca biografi Amien Rais dan sempat mengutil dua bukunya dari perpustakaan, aku diperkenalkan dengan puisi-puisi Rendra. Pada awalnya aku susah memahami puisi-puisi itu, tetapi lambat laun karya Rendra itu terbuka sendiri untuk aku pahami. Dan, ketika Agus Bakar menunjukkan padaku jilidan hvs puisi-puisinya, aku seakan sempurna menjadi milik sastra. Aku baca puisi-puisi Agus Bakar itu dengan kekaguman yang tiada habisnya. Bagaimana mungkin ia bisa menulis puisi-puisi sedahsyat itu dengan aneka tipografi yang imut-imut? Kukira puisi-puisi Agus Bakar saat itu lebih bagus daripada puisi-puisi Rendra di buku Blues untuk Bonnie. Diam-diam aku berguru kepada Agus Bakar dan berusaha membaca setiap buku yang direkomendasikannya.

Kali pertama aku menulis puisi pun, tak bisa dilepaskan dari Agus Bakar. Saat itu Agus Bakar sedang kedanan teman sekelas kami asal Kota Kadas yang bernama Betta Metallica. Dari namanya saja sudah ketahuan bahwa bapak Betta ini penggemar berat band metal itu, meski beberapa tahun setelah kelahiran Betta, ia banting setir jadi penggandrung berat Megadeth karena merasa Metallica kian presto saja. Sesungguhnyalah ia telah menyiapkan bancakan untuk mengganti nama anaknya menjadi Betta Megadeth, tetapi ancaman sang istri yang siap menempelengnya dengan penggorengan menggagalkan niatnya itu. Akhirnya, nama ini disematkan pada adik Betta, Dwitejo Megadeth. Aku mendengar kronologi nama ini dari Betta Metallica sendiri yang kebetulan duduk di sebelahku dalam bus yang membawa kami karyawisata ke Jembatan Bacem. Aku sendiri sebagai fans berat Muhammad Sodiqin alias Cak Dikin tak terganggu dengan penjelasan yang sebenarnya tidak kuminta itu.

Kembali ke Agus Bakar. Cinta yang diidapnya ini adalah sejenis cinta yang sulit dan menyiksa karena Betta Metallica sudah memiliki kekasih di kota asalnya. Agus Bakar sebenarnya tahu hal ini, tetapi cinta kadung merajam dirinya dan suara Betta Metallica yang serak-serak lengket seperti hujan cuka di nganga kangennya. Ia menderita, tetapi bahagia. Tak terhitung puisi yang lahir dari siksa cinta itu yang di dalamnya ada Betta Metallica. Puncaknya adalah ketika puisi-puisi Agus Bakar dimuat di Gawok Pos dan ada satu puisinya yang secara gamblang ditulis untuk perempuan berhijab modis itu. Ada nama Betta Metallica di bawah judul puisi “Puspa Luka”.

Di hari Senin pagi, kawan-kawan ramai membicarakan puisi itu. Koran berpindah dari tangan ke tangan hingga lecek. Aku mendapat giliran membacanya dan terkesima cukup lama, sebelum menyerahkan koran itu kepada Betta Metallica yang menerimanya dengan wajah merona. Kurasa ini adalah cara menyatakan cinta yang sangat elegan. Tak hanya Betta yang tahu, tetapi seluruh pembaca koran Gawok Pos dapat membacanya. Rasanya mustahil jika ungkapan cinta sekeren ini tak berterima. Dari parasnya, aku tahu bahwa Betta Mettalica juga mulai terjangkit ayan cinta.

Pada akhirnya, mereka memang menjalin asmara terlarang. Namun, sayang, umurnya tak lama. Hanya hitungan minggu. Khasiat puisi ada kedaluarsanya. Meski mahasiswi Sastra Indonesia, ternyata Betta Metallica tak cukup bahagia dengan sajak-sajak cinta. Ia tampak lebih bahagia ketika dijemput pulang dan dimanjakan oleh pacarnya yang bermobil. Betta Metallica seakan tersadar dari khilafnya dan kembali ke khitahnya. Jadilah Agus Bakar merana berkepanjangan dalam kekereannya. Wajah teduh Betta Metallica tak disangka-sangkanya mampu membacokkan mahaduka. Di masa itu pula lahir salah satu puisi masterpiece Agus Bakar yang berjudul “Sembelit Jiwa” yang terdapat delapan kata ‘oh’ di dalamnya.

Agus Bakar boleh saja terluka, tetapi caranya menyatakan cinta lewat puisi di koran itu sungguh menginspirasiku. Sejak saat itulah aku diam-diam menulis puisi di luar sepengetahuan Agus Bakar. Karena banyak membaca puisinya, secara tak langsung diksinya tercuri olehku. Kurasa ini adalah hal yang wajar. Masalahku sekarang tinggal menyapih keterpengaruhan yang berlebihan itu. Secara diam-diam pula aku mengirimkan puisi-puisiku ke koran lokal, terutama Gawok Pos. Ternyata untuk dimuat di koran tak segampang kelihatannya. Sudah belasan kali aku kirim puisi, tetapi tak ada yang dimuat. Namun, aku tak putus asa. Aku rutin menulis puisi tiap hari. Sehari minimal tiga puisi. Biasanya kutulis setelah bangun pagi, menjelang tidur siang, dan sebelum tidur malam. Kurasa puisi terbaikku tercipta dalam kondisi setengah mengantuk. Karena puisiku tak kunjung dimuat koran sedangkan persediaannya kian melimpah, aku berinisiatif untuk membukukannya saja. Aku menyeleksi sendiri antologi puisi pertamaku kemudian memfotokopinya dalam bentuk buku. Proses pencetakannya secara eceran, yang penting kelipatan genap. Aku bisa memilih warna kertas manila sebagai sampul buku sesuka hati. Kertas manila di kios fotokopi langgananku beraneka warna. Jadilah dalam sekali cetak, semisal 8 buku, sampulnya bisa warna-warni yang bila ditumpuk mirip dengan kue pelangi. Namun, keanekaragaman warna sampul itu tak mengubah esensi puisi-puisiku yang muram dan bertema besar pahitnya percintaan sebagaimana tersari dalam judul buku Biografi Luka Batin.

Untuk pemasarannya, aku turun sendiri sebagai pengedar buku puisi stensilan ini. Banyak kawan yang menjadi target pasarku tak berminat membeli buku puisiku, tetapi mereka setengah kupaksa membeli. Ada yang lewat intimidasi kasar, ada pula yang melalui intimidasi tipis-tipis. Intimidasi kasar biasa kuberlakukan pada konsumen puisi laki-laki yang juga adalah teman-temanku. Apabila penawaran secara halusku mereka tolak, aku akan menggunakan rentetan kalimat mautku yang secara garis besar mengancam. “Aku sudah capek-capek nulis puisi ini, masa kau tak mau beli? Kawan macam apa kau ini? Ingat kau cuma ganti ongkos cetak. Aku tak ambil untung. Dengan beli buku ini, berarti kau menghargai perkawanan kita.”

Biasanya, setelah kuberondongkan kalimat-kalimat dengan nada tinggi itu, kawan-kawan lelakiku akan segera membeli buku puisiku.

Bagi kaum hawa, pendekatan pemasaranku beda lagi. Biasanya aku nongkrong di dekat mereka lama-lama atau dolan ke rumahnya. Aku akan mengajak mereka ngobrol dan diam-diam menggiring mereka untuk merogoh dompetnya. Syukur-syukur kalau obrolannya pendek dan mereka segera beli bukuku. Kalaupun harus mengobrol panjang-lebar tetap aku lakoni sampai mereka muak dan mual, hingga akhirnya membeli bukuku. Strategi pemasaran ini punya tingkat keberhasilan tinggi. Beberapa kasus memang mentok di obrolan pertama. Ucapan seperti, “Maaf, aku lagi kere berat. Tak bisa beli bukumu,” adalah peroboh kilat usaha marketingku. Duafa macam ini tak bisa ditolong lagi. Mereka tidak minta buku gratisan saja sudah alhamdulillah.

Apakah buku puisiku itu benar-benar dibaca atau tidak oleh pembelinya, itu bukan lagi urusanku. Yang penting aku dapat modal untuk cetak buku lagi dan teberkatilah mereka yang mendapat buku puisiku edisi terbaru karena bisa dipastikan ada tambahan beberapa puisi baruku. Saban kali fotokopi ulang, aku selalu menambahkan puisi baru karena aku senantiasa kagum dengan karya-karya terbaruku. Kukira capaian estetikanya selalu lebih tinggi dibanding puisi sebelumnya. Karya terbaikku adalah karya terbaruku.

Cara edar buku puisi stensilan ini rupanya diikuti juga oleh Agus Bakar. Sebelumnya ia membaca puisi-puisiku dalam buku itu dan berkomentar pendek, “Lumayan.” Rautnya tanpa ekspresi berarti ketika mengucapkan kata itu, khas seniman adiluhung yang membuatku makin kagum kepadanya. Komentar pendek itu sekaligus menjadi pelecut bagiku untuk lebih giat lagi menulis puisi. Itu adalah tanda bahwa tulisanku belum bagus. Jangankan medioker, semenjana saja mungkin belum.

Aku sendiri yang mengantar Agus Bakar ke kios fotokopi langgananku. Ia juga mencetak puisinya secara eceran. Bedanya ia memilih sampul kertas manila yang sewarna yakni kuning gigi untuk buku antologi puisinya yang berjudul Melayat Seonggok Daging Tumbuh. Pilihan sewarna ini menunjukkan keseriusannya dalam berbuku. Aku yang memilih warna sampul warna-warni merasa harus instrospeksi diri. Aku merasa seperempat tertampar. Sementara, pilihan judulnya menunjukkan betapa dalam dan kompleks perenungannya terhadap kesedihan. Aku jadi merasa kemuraman yang kubawa dalam buku puisiku sungguh receh. Kiranya aku harus lebih dalam lagi menghayati kesedihan bawaanku. Pada akhirnya dalam pemasaran Agus Bakar mengikuti jejakku. Dari penyair kamar yang serius dan miskin senyum, ia bermetamorfosis menjadi pengedar buku stensilan puisi.

Hidayah puisi akhirnya datang juga kepadaku. Tidak pernah dimuat di koran lokal, justru beberapa puisiku dimuat majalah sastra prestisius di ibu kota yang menjadi salah satu barometer sastra di negeri ini. Sontak namaku mencuat dan semua mata mahasiswa sastra pencinta puisi di kampus tertuju padaku. Barangkali hal inilah yang menjadi pertimbangan bagi Nurul Kiwari untuk memilihku menjadi pengisi perdana proyek buku sastra TBG, bersanding dengan nama Agus Bakar, yang sudah harum dan malang melintang di jagat sastra Gawok Raya.

Buku puisi duet itu kami sepakati berjudul Agitasi Setengah Diam. Judul ini diambil dari gabungan judul dua puisi kami. Aburizal Makna batal memberi kata pengantar karena terlalu sibuk studi. Menurut Nurul Kiwari, beliau sedang asyik-asyiknya mendalami dan mengagumi nilai artistik aneka botol kecap dan sedang menyiapkan antologi puisi tentang kerabat botol saus tomat tersebut. Keurungan ini sangat kusesali, tetapi begitu disyukuri oleh Agus Bakar. Kelegaan Agus Bakar diwujudkan dengan mentraktirku gorengan di kantin fakultas. Kami ngobrol banyak sambil menyikat bakwan, mendoan, dan kawan-kawannya. Tak terhitung banyaknya gagang cabai rawit yang berserakan di sekitar kami. Tema obrolan sentral kami adalah acara perayaan buku puisi kami yang akan digelar di Gemeter Arena TBG. Pengumuman acara itu telah disebar, bahkan salah satunya tertempel di papan informasi kantin ini. Tumben Agus Bakar seantusias dan seoptimis ini. Ia membayangkan kemeriahan acara dan puisi-puisi yang akan dibacanya. Sementara aku membayangkan gadis-gadis hippie puisi yang akan menjadi penggemar fanatik kami. Aku bayangkan satu gadis yang tak terlalu cantik akan menggebet hati Agus Bakar dan menjadi salep bagi koreng perasaan yang ditinggalkan oleh Betta Metallica. Syukur-syukur mereka bakal jadi pasangan abadi. Aku sendiri membayangkan akan mendapatkan pacar yang jelita dan cerdas, setia berbagi dan berdiskusi. Segala keindahan itu dijanjikan dalam perayaan buku kami.

Pada malam acara, hadirin melimpah. Kalangan birokrat, seniman, dan masyarakat umum berbaur di Gemeter Arena. Aku takjub dengan banyaknya hadirin. Tidak biasanya acara sastra seramai ini. Setelah bertanya pada Nurul Kiwari, aku mendapat jawaban bahwa kebanyakan mereka adalah undangan. Karena ini adalah proyek perdana program buku antologi sastra TBG, para birokrat kebudayaan di kota ini diundang dan kebanyakan dari mereka hadir bersama keluarganya. Barangkali kehadiran mereka untuk membuktikan bahwa proyek ini bukanlah fiktif belaka. Undangan resmi juga dikirim ke seniman-seniman senior sehingga tampaklah kembali wajah-wajah yang sudah berkalang tanah karena sudah mandek berkarya. Mereka yang tinggal nama seakan bangkit dari kuburnya.

Acara dibuka dengan pembacaan puisi dari kami berdua secara bergantian. Seperti biasa, Agus Bakar memukau penonton dengan pembacaan puisinya. Sosoknya yang tinggi ramping menjulang dengan rambut gondrong yang dibiarkan acak-acakan membakar panggung. Ia selalu tampil heroik untuk pembacaan puisi jenis apa pun. Heroik di sini adalah tetap berteriak-teriak lantang meski di hadapan mulutnya sudah terpasang mikrofon. Wajar saja kalau banyak hadirin yang neratap dan gemetar saat ia membaca puisi. Barangkali mereka mengira bahwa Agus Bakar ini benar-benar penyair udik yang tak tahu fungsi mik. Aku sendiri menikmati pembacaan semacam itu. Karena selain memberi suasana tegang, sangar, dan horor, hadirin juga akan mengalami sensasi dimarahi dan dibentak-bentak. Bagi birokrat kelas atas, ini tentu sebuah sensasi asing yang jarang mereka temui di kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang tak paham dan tak suka puisi, ini bisa berarti sebagai obat ngantuk. Ya, kantuk mereka bisa saja akibat dari pembacaan puisiku yang terlalu melankolis. Rasanya tak perlu kuceritakan lebih detail mengenai pembacaan puisiku di sini. Tak ada yang menarik. Aku memang cuma pantas membaca puisi di kamar, di hadapan gerombolan nyamuk yang sedang arisan.

Setelah kami, giliran hadirin baca puisi secara spontanitas. Beberapa birokrat yang notabene adalah seniman pelat merah turun gelanggang membaca puisi, juga beberapa mahasiswa. Yang terbanyak adalah dari golongan seniman partikelir senior yang sudah tak berkarya, tetapi rindu panggung. Merekalah macan panggung yang sebenarnya. Mereka sangat betah berada di panggung, bercerita ngalor-ngidul mengenang masa jaya ketika muda dengan durasi yang lebih panjang ketimbang baca puisinya. Kaum ini berlarut-larut memonopoli panggung, sedangkan MC tampak canggung menghentikan ulah kecentilan mereka itu. Karena dibiarkan merajalela, kelakuan mereka kian menjadi-jadi dengan saling panggil kawan yang sebenarnya enggan baca puisi untuk ke panggung. Akhirnya, terjadilah keajaiban dunia yang ke-11 itu: para penyair gaek membacakan puisi yang baru ditulisnya saat acara berlangsung. Aku menoleh ke Agus Bakar. Wajahnya dingin, tetapi aku tahu pasti hatinya sedang membajing-bajingkan reuni tanpa modal ini.

Acara diskusi buku kami pun molor. Banyak hadirin yang keburu jengah dan memutuskan pulang cepat. Tinggal beberapa gelintir saja manusia yang bertahan di Gemeter Arena. Kukira ini justru baik karena bisa diharapkan bahwa mereka adalah orang-orang yang serius meminati puisi.

Perkiraanku tak meleset meski tak sesuai harapan. Mereka yang datang ternyata sudah berniat mencincang kami dari rumah masing-masing. Dari yang semula memberi ucapan selamat, mereka secara bergiliran menghabisi puisi kami. Aku dan Agus Bakar yang berada di tengah tempat duduk penonton yang berbentuk huruf U itu lebih mirip terdakwa sastra. Kami tak bisa bicara banyak dan saking derasnya cercaan yang dihujankan, kami justru makin santai menghadapinya.

Ketika Salim Gede, seorang pengamat kebudayaan swasta, mengakuisisi mikrofon, kami sudah dalam kesantaian level tinggi. Salim Gede sudah kondang sebagai kritikus berlidah belati dalam setiap acara diskusi. Kami sering melihatnya secara langsung menguliti hidup-hidup penulis atau narasumber di panggung. Kini giliran kami merasakan kata-katanya yang berlada. Namun, kami sudah keburu kalem. Bahkan, kami tersenyum-senyum saat Salim Gede angkat suara.

“Saya baca sekilas puisi Trijoko dalam antologi ini dan saya kecewa. Ini belum puisi, masih prosa. Terlalu banyak kata yang sebetulnya bisa dipadatkan lagi. Kuantitas kata yang berlebihan ini mengganggu dan berpotensi….”

“Masih prosa katanya?” bisik Agus Bakar di sampingku sebelum Salim Gede menyelesaikan tausiahnya.

“Gimana lagi, Bung? Niat awalku bikin cerpen, lha kok malah jadinya puisi. Keajaiban menulis ini, Bung,” balasku juga dengan bisik-bisik.

“Untuk Agus Bakar, puisi-puisimu ini terlalu gelap. Beda dengan puisi-puisi Aburizal Makna yang remang-remang. Dalam keremangan itu, aku bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak. Tapi dalam puisimu yang gelap, aku sesak napas. Puisi-puisimu seperti mencekikku….” Kali ini giliran Salim Gede memberi tambahan kuliah Telaah Puisi gratis pada Agus Bakar.

“Puisimu gelap, Bung. Apa kamu tulis pas pemadaman bergilir dari PLN?” bisikku pada Agus Bakar supaya dia tidak tegang.

“Gelap kayak jembut ya, Bung? Padahal aku menulis puisi-puisi itu di bawah pancaran sinar petromaks.”

“Tapi dia sesak napas lho, Bung. Kalau dia sampai opname, puisimu bisa jadi narapidana.”

“Lha apa aku harus ngasih dia bonus pembatas buku berupa Feminax, Bung?”

“Napacin kali, Bung? Kalau Feminax itu kayaknya obat untuk gangguan datang bulan.”

“Terserahlah Bung, yang penting obat mengi.”

Jadi, kemuring-muringan Salim Gede itu resmi tak kami gubris. Kurasa ini bagus bagi perkembangan mental kami. Anjing menggonggong, instruktur tetap senam.

Kami siap menunggu pembantai berikutnya. Dan, seseorang yang kami kenal sebagai dosen puisi yang santun mengacungkan tangan. Kami merasa tak begitu waswas dan siap berjibaku dengannya kalau diperlukan. Namun, yang terjadi kemudian di luar dugaan kami, juga semua peserta diskusi. Sang dosen puisi meraih mikrofon kemudian membawanya ke tengah panggung. Sosoknya yang tinggi besar mencuri fokus siapa saja yang hadir di tempat itu.

Setelah mengucapkan kalimat, “Dalam puisi, segalanya boleh-boleh saja,” beliau langsung membacakan puisinya yang berjudul The Power of Kepepet. Kurasa ini adalah sebuah tindakan yang penuh percaya diri, seakan-akan beliau ingin menunjukkan pada khalayak yang hadir bahwa puisi yang baik itu adalah seperti yang dibacakannya.

“Apa-apaan ini, Bung?” tanya Agus Bakar.

“Kopet, Bung!” jawabku masih dengan takjub.

“Apa maksud puisinya itu, Bung?”

“Kopet, Bung!”

Setelah puisi itu, beliau masih membacakan lagi dua puisi karyanya. Kiranya tadi beliau terlambat datang sehingga terlewatkan sesi baca puisi, dan beliau balas dendam di sesi ini. Dosen puisi itu meninggalkan panggung dengan gagah walau tak ada tepuk tangan bagi aksi militannya. Aku melihat kelegaan mendalam terpancar di wajahnya meski telingaku juga sempat menyadap napas bengeknya ketika meninggalkan medan laga. Aksi baca puisi itu sekaligus digunakan moderator untuk menutup sesi diskusi. Acara perayaan puisi itu resmi berakhir. Para peserta diskusi bubar sendiri-sendiri.

“Selamat datang di kejamnya dunia sastra Indonesia,” kataku seraya mengulurkan tangan dan langsung dijabat oleh Agus Bakar. Kami keluar Gemeter Arena dengan senyum kecut. Tak ada orang yang meminta tanda tangan di buku puisi kami. Tak ada gadis-gadis histeris seperti yang kami angankan. Semua harapan seperti ditelan suramnya lampu-lampu TBG. Pada momen itu aku terpahamkan bahwa bersastra adalah sesungguh-sungguhnya ujian bagi ketabahan.

Nurul Kiwari datang menghampiri kami. Ia memberi kami amplop sekaligus membesarkan hati kami. “Sudah jadi rahasia umum kalau seniman senior di kota ini justru menjadi batu sandungan bagi seniman-seniman mudanya. Jangan terlalu diambil hati diskusi tadi. Bagaimana mungkin mereka bisa khotbah panjang lebar sedangkan mereka baru baca puisi kalian ketika datang? Komentar mereka ngawur dan kelas teri. Medan perang kalian sesungguhnya adalah koran dan buku-buku sastra kalian yang akan datang.”

Kami mengangguk-angguk dan sayup-sayup mencerna kebenaran kata-kata Nurul Kiwari. Malam itu ia tampak seperti nabi tiri yang baru saja dilemparkan keluar dari kitab suci khusus untuk menyelamatkan hati kami.

Ketika hendak menuju angkringan, seorang perempuan muda tampak tergesa-gesa menghampiri kami. “Selamat malam. Saya Sundari, wartawan budaya dari Gawok Pos. Mohon maaf, saya terlambat datang ke acara ini. Tadi ada liputan di tempat lain, bisa saya minta waktunya untuk wawancara?”

Aku dan Agus Bakar mengiyakan, sedangkan Nurul Kiwari melanjutkan langkah ke angkringan. Setelah memperkenalkan lebih lanjut bahwa dirinya adalah wartawan magang, Sundari yang usianya sepantaran dengan kami itu, mengajak duduk di emperan Gemeter Arena. Kemudian pertanyaan-pertanyaan standar pun diajukannya, mulai dari latar belakang dan jalannya acara hingga visi dan misi kami menulis puisi. Kami menjawabnya dengan semangat menggebu-gebu meski Sundari lebih banyak bengong dan mencatat di kertas. Keamatiran Sundari sebagai wartawan magang tertutupi dengan sikap kooperatif kami yang bahkan sampai berbusa-busa menjelaskan hal yang kami anggap penting meskipun tidak ditanya olehnya. Wawancara itu berlangsung selama setengah jam. Sebelum pamit Sundari berkata, “Saya tidak menjamin acara dan wawancara ini akan dimuat koran kami karena banyaknya kegiatan budaya malam ini, tetapi akan saya usahakan. Andaipun dimuat tidak bisa esok pagi, tetapi lusa karena ini sudah lewat tenggat cetak. Terima kasih atas waktu kalian.”

Kami berjabat tangan. Dan seiring dengan kepergian Sundari, aku melihat binar-binar keriangan merambat di wajah Agus bakar, juga di dalam hatiku. Kiranya wawancara itu mampu menawar segala sayatan pedih selama diskusi puisi tadi. Setidaknya nama kami akan harum selama sehari dalam koran itu, dapat kami kenang sepanjang masa, dan diceritakan ke anak-cucu. Perayaan puisi ini sebagai kejadian tak akan lewat begitu saja. Ia akan abadi dan terarsip di koran. Dengan begitu, tugas kami sebagai penyair malam ini tidaklah begitu sia-sia.

Malam itu sepulang acara, aku berdoa lebih khusyuk dari biasanya, memohon kemurahan Tuhan agar berita tentang acara dan wawancara kami tadi dimuat koran. Aku kira Agus Bakar pun melakukan hal yang sama.

****

DUA hari setelah acara perayaan puisi itu, aku menjemput Agus Bakar di indekosnya. Kami berangkat ke kampus bersama. Ada kuliah Kritik Film pagi ini dan Agus Bakar sedang malas mengayuh sepeda kebonya. Begitu meninggalkan parkiran dan melewati kantin, Mac Anam menghampiri kami. Tak seperti biasanya yang berwajah sendu, kali ini kawan kami yang setiap kuliah selalu memakai kaus bola itu menyapa Agus Bakar dengan riang, “Hei Sahabat, ontamu diparkir di mana?”

Aku yang tak paham dengan arah pertanyaannya cuma memandangi kaus PSG (PS Gawok) yang dikenakannya. Demikian pula Agus Bakar yang berusaha meluruskan pertanyaan itu, “Keboku ada di kos. Aman. Sudah kuikat dengan dadung di pohon waru.”

Namun, Mac Anam tetap mengulangi pertanyaannya, “Duhai Sahabat, jadi benar kamu kuliah naik onta, ya?”

“Sahabat? Kamu lagi kesurupan setan teater ya, Bung?” tanggap Agus Bakar.

“Tidak Sahabat, aku sedang sangat sehat,” kata Mac Anam dengan tawa yang ditahan kemudian memberikan koran Gawok Pos edisi hari itu kepada Agus Bakar.

Dengan terburu-buru, Agus Bakar membuka-buka halaman koran itu dan mencari halaman budaya. Aku yang tidak ikut membaca koran hanya mengamati wajah Agus Bakar. Dalam hitungan detik, aku mendapati perubahan ekspresi wajahnya dari antusias menjadi kecewa.

Ndladug!” umpatnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Baca saja sendiri!” ucap Agus Bakar penuh emosi dan melemparkan koran itu kepadaku.

Aku segera membaca koran itu tepat di kolom yang ditunjuk Mac Anam. Selama membaca berita pendek sepanjang lima paragraf di pojok kiri bawah itu, aku mati-matian menahan geli dan jadi paham apa maksud Mac Anam seraya bersyukur bahwa aku tak bermasalah dengan segala yang tertera di berita.

Aku sepenuhnya bisa memahami kemarahan mendadak Agus Bakar yang tak mau lagi memegang koran itu. Pada berita pendek itu, namanya disebut tiga kali, termasuk di judul dan semuanya ditulis dengan Abu Bakar.

Keabadian macam apa ini, Sahabat Nabi? Ya salam.

Solo, 2018

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)