Perempuan di Balik Kecemerlangan Karier Einstein

in Rehal by

Judul               : The Other Einstein

Penulis            : Marie Benedict

Penerjemah     : Lulu Fitri Rahman

Penerbit           : Bhuana Sastra

Halaman          : 373

Cetakan ke      : I

Terbit              : 2018

ISBN              : 978-602-455-253-4

Nama Albert Einstein sebagai ilmuwan genius telah mendunia. Namun barangkali masih banyak yang asing dengan Mileva Maric, istri pertama Einstein yang diduga sangat berpengaruh pada kecemerlangan karier suaminya. Bahkan boleh jadi, teori relativitas khusus sebenarnya ditemukan olehnya.

Berasal dari Serbia, Mileva pergi ke Zurich untuk berkuliah di jurusan Matematika dan Fisika di Politeknik Federal Swiss. Pada masa itu, bukan perkara mudah untuk perempuan dapat berkuliah, apalagi jika berasal dari Serbia seperti Mileva. Perempuan-perempuan yang dapat berkuliah adalah orang-orang pilihan. Mereka memiliki kecerdasan tinggi dan keberanian memperjuangkan mimpi.

Meski memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Mileva kerap kurang percaya diri dan sulit berteman. Sejak kecil ia sering diolok-olok, dijauhi, bahkan diperlakukan semena-menajustru karena kecerdasannya itu ditambah kakinya yang cacat. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus, ia pun harus menghadapi tatapan dan ucapan penuh prasangka dari dosennya. Temannya yang semuanya laki-laki membuatnya makin tak yakin akan diterima dengan baik.

Tekad untuk menguasai fisika dan matematika-lah yang membuatku masuk Politeknik, bukan keinginan untuk berteman atau menyenangkan orang lain. Aku berusaha mengingat fakta sederhana ini saat menguatkan diri menghadap dosenku. (Hal. 4)

Namun justru di kampus inilah ia bertemu dengan Einstein yang juga teman sekelasnya. Einstein selalu mengagumi kecerdasan Mileva terutama dalam perhitungan. Lambat laun, hubungan pertemanan itu berubah menjadi hubungan asmara. Tetapi hubungan ini ditentang oleh ibu Einstein yang memandang rendah Mileva.

Einstein dan Mileva tidak memedulikannya. Hubungan mereka tetap berlanjut hingga Mileva hamil di luar nikah. Kehamilan ini membuat kuliah Mileva terganggu hingga akhirnya ia gagal mendapatkan gelar akademisnya. Namun rasa cintanya pada sains tak pernah terhenti. Ia terus membaca buku-buku dan membantu Einstein dalam berbagai penelitian.

Einstein dan Mileva menikah setelah putri mereka, Lieserl, lahir. Setelah menikah, sifat asli Einstein yang temperamental makin terlihat. Di luar ia dikenal sebagai ilmuwan muda yang baik. Namun di rumah ia bukanlah seorang suami dan ayah yang baik. Einstein selalu memikirkan kepentingan-kepentingannya sendiri dan sering melanggar janjinya pada Mileva untuk bersama-sama hidup dalam sains dan menjadi pasangan bohemian. Dari hari ke hari, Einstein justru kian membebani Mileva dengan tugas-tugas domestik, terutama sebagai pelayan dari kebutuhan-kebutuhannya.

Kematian Lieserl oleh demam Scarlet dan ketidakpedulian Einstein sangat memukul Mileva sekaligus mengilhaminya tentang teori relativitas khusus. Ia mengemukakan gagasannya pada Einsten lalu keduanya menelitinya lebih lanjut dan menggarap makalahnya bersama-sama. Makalah itu kemudian dikirimkan ke jurnal ilmiah Annalen der Physik dengan dua nama sebagai penulisnya, Albert Einstein dan Mileva Maric.

Namun alangkah terkejutnya Mileva ketika akhirnya makalah itu dimuat, yang tercantum hanya nama Einstein. Rupanya, Einstein dengan sengaja telah menghapus nama Mileva dengan dalih Mileva tidak memiliki gelar formal dan itu membuat pihak Annalen der Physik ragu. Masalahnya, ini bukan pertama kalinya Einstein menghapus nama Mileva dalam makalah-makalah yang mereka kerjakan bersama. Di kemudian hari, Einstein pun dinominasikan sebagai peraih Nobel atas makalah teori relativitas khusus tersebut. Tentu saja hanya Albert Einstein yang dinominasikan. Nama Mileva Maric tak terdengar gaungnya.

Hal ini makin menyadarkan Mileva jika Einstein hanya hendak mengejar kemasyhurannya sendiri dan meninggalkannya di belakang seolah-olah ia tak memberi kontribusi apa pun dalam semua penelitian dan penulisan makalah itu. Dalam penampilan-penampilan Einstein di muka publik, ia bahkan seolah-olah malu memiliki istri seorang Mileva Maric.

Konflik rumah tangga itu kian runcing setelah dua kali Mileva mengetahui perselingkuhan Einstein dengan dua wanita berbeda. Mereka pun akhirnya bercerai setelah Mileva tidak mau menyepakati aturan-aturan yang dibuat Einstein secara sepihak dan makin menempatkannya sebagai pelayan Einstein, bukan istri apalagi partner sains. Mileva pergi dengan membawa kedua putra mereka, Hans Albert dan Tete. Hanya beberapa bulan setelah perceraian, Einstein menikahi kekasih gelapnya.

Novel yang mencoba merekonstruksi kehidupan Mileva Maric ini sedikit banyak akan memengaruhi penilaian pembaca tentang sosok Einstein. Terlepas dari kebenaran yang sesungguhnya dan fakta bahwa nasib Lieserl sebenarnya tak diketahui dengan pasti, apakah ia meninggal oleh demam Scarlet atau justru diadopsi dan hidup hingga dewasa, penulis telah melakukan riset sedalam mungkin dengan menggali banyak sumber, termasuk surat-surat antara Mileva dan Einstein yang masih tersimpan. Sungguh suatu karya yang patut diapresiasi tidak hanya karena risetnya, tetapi juga untuk keberanian menuliskannya. Jika pembaca berkenan, pembaca dapat mencoba menelusuri beberapa sumber riset yang disebutkan penulis dalam buku ini.

Sementara itu, dalam catatan pengarang di halaman 359-360 tertulis:

Sudah tentu The Other Einstein mengandung spekulasi. Toh, pada dasarnya ini buku fiksi. Sebagai contoh, takdir Lieserl yang sebenarnya masih misterius, kendati ada upaya menyingkapnya …

Begitu pula bagaimana kontribusi Mileva yang setepatnya terhadap teori tahun 1905 yang dianggap diciptakan oleh Albert tidaklah diketahui meskipun tak ada yang bisa menyangkal peran pentingnya sebagai pendukung emosional dan intelektual selama masa-masa penting ini …

Tujuan The Other Einstein bukanlah untuk mengecilkan kontribusi Albert Einstein terhadap kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, melainkan untuk menyuarakan kemanusiaan di balik kontribusi ilmiahnya. The Other Einstein bermaksud menyampaikan kisah seorang perempuan cerdas yang kehilangan cahayanya dalam bayangan besar Albert—kisah Mileva Maric.

Saya tidak suka dan tidak akan mengatakan Marie Benedict tengah meragukan tulisannya sendiri. Saya memaknai catatannya sebagai keterbukaannya pada segala kemungkinan, termasuk yang bertolak belakang dengan hasil risetnya. Sebab pada dasarnya, menelan mentah-mentah isi buku ini—dan buku apa pun—sangatlah tidak dianjurkan. Sementara serta-merta menolak isi buku ini lantaran penulisnya terbuka pada segala kemungkinan lain juga bukan sikap bijaksana.

Dari kisah ini, tampaknya peribahasa tak ada gading yang tak retak benar adanya. Kegeniusan seorang Einstein tidak membuatnya menjadi pribadi yang sempurna. Meski demikian, tentu sangat disayangkan jika benar pencipta teori relativitas khusus yang sesungguhnya adalah Mileva Maric atau Mileva Maric dan Albert Einstein, namun nama yang menggema ke seluruh dunia dan melintasi banyak zaman hanyalah seorang Einstein.

Popularitas memang bukan segala-galanya dan seyogianya tidak menjadi tujuan utama dalam berkarya. Namun pengakuan dan apresiasi yang memadai untuk setiap penemu atau pencipta tentu tetap dibutuhkan. Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun untuk senantiasa berhati-hati menjaga buah pikirnya, karyanya, supaya tak disalahgunakan oleh orang lain sekalipun itu orang terdekat, apa pun alasannya. Tak pernah ada kursi kosong untuk orang-orang yang mencoba memasuki ruangan dengan menggunakan sidik jari orang lain.

Marliana Kuswanti

Marliana Kuswanti

Artikel-artikel psikologinya telah dimuat di Majalah Psikologi Plus. Cerita pendeknya telah dimuat di Tabloid Memorandum, Koran Merapi, Batam Pos, Harian Satelit Post, Story Teenlit Magazine, Majalah Ummi, Majalah Femina. Cerita bersambungnya telah dimuat di Majalah Femina dan menjadi juara 1 di Sayembara Cerber Femina 2013/2014. Telah menerbitkan buku cerita anak Semut Pesolek (Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai) dan kontributor dalam antologi Kisah Awal Menulis (AE Publishing).
Marliana Kuswanti