Perempuan yang Melayang di Atas Jalan

in Cerita Pendek by
perempuan yang melayang
pinterest.com

Seorang perempuan melayang di atas jalan mirip segumpal besar kapas berwarna abu-abu yang rusak akibat cuaca buruk. Kejadian itu serta-merta membuat jalan pinggiran kota yang sehari-hari jarang ramai—kecuali jalan utama sedang ditutup untuk umum agar tidak mengganggu perjalanan rombongan pejabat tinggi dari Jakarta—macet parah. Kendaraan roda empat dan dua menumpuk di ruas jalan menuju pusat kota. Suara tangis bayi terdengar di dalam salah satu kendaraan bersamaan dengan datangnya sebuah mobil berkecepatan tinggi dari arah depan bagai benda asing yang aneh hingga terdengar bunyi ban berdecit keras. Kemudian sunyi kembali. Tak ada yang peduli dengan bunyi ban itu, seperti tak ada yang peduli dengan tangis bayi. Pikiran semua orang barangkali hanya terpaku kepada perempuan yang kini melambung-lambung di tengah jalan—dan saya menduga perempuan itu sedang mencoba ilmu meringankan badan atau ia tengah kemasukan arwah seekor burung.

Lalu, pertunjukan itu mendekati titik akhir ketika perempuan yang melayang bergerak pelan ke tepi bagai orang menari dalam keadaan ekstase dan ia sedikit terhuyung-huyung, hingga tiba-tiba sesuatu mengempaskannya dan seketika tubuhnya melorot, jatuh terdiam dalam selokan yang, umumnya, berbau busuk dan penuh larva.

Satu detik, dua, tiga, empat, suasana hening dan mencekam. Detik kelima, terdengar suara-suara mesin dan kendaraan mulai kembali bergerak, mengurai kemacetan yang cukup panjang. Sebagian kendaraan tampak tergesa—seakan segera ingin lepas dari sihir perempuan itu. Sebagian yang lain bergerak ragu-ragu seolah masih penasaran: sesungguhnya apa yang sedang terjadi?

Saya masih termangu di tengah hujan klakson yang memekakkan. Mungkin dunia sudah gila. Itu yang bisa saya pikirkan. Kejadian-kejadian tidak masuk akal bermunculan di mana-mana, tapi baru sekali ini seorang perempuan melayang di atas jalan di kota ini. Perempuan yang kini menjadi seonggok daging tidak berdaya dalam selokan setelah ia menghibur orang-orang dengan pertunjukan singkat yang memukau dan membuat semua pemilik kendaraan berhenti dengan pikiran hanya terpusat kepadanya. Bisa jadi, ia terluka. Bisa jadi, ia tidak sadarkan diri dan butuh pertolongan.

Secara spontan, saya membuka pintu mobil, menjulurkan kaki sebelah kanan ke luar, tapi seorang teman yang sejak tadi merapatkan kedua lengan ke bagian dada untuk menahan tubuhnya yang gemetar dan terus-menerus bergumam tentang betapa buruk harinya dan meracau soal dosa apa saja yang ia lakukan sampai bertemu kejadian ini, menahan tangan saya, “Kita tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi,” katanya dengan napas berat.

Seketika saya memasukkan kaki lagi dan segera menutup dan mengunci pintu. Tubuh saya mendadak ikut gemetar. Saya kembali mengenal perasaan takut. Saya ingin sekali pergi, tapi rasa berat menahan saya. Saya menoleh ke belakang, sudah kosong. Tak ada mobil atau motor yang tersisa. Tak ada sama sekali, selain mobil saya. Saya ingin sekali menoleh ke arah selokan, ingin tahu apa yang terjadi pada perempuan yang tadi melayang sebelum meninggalkan jalan yang barangkali tidak ingin saya lalui lagi di hari-hari nanti.

“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini,” kembali terdengar suara teman saya, kali ini terasa mendesak.

“Tidak ada orang yang datang menolongnya,” kata saya menghirup dan melepas napas pelan-pelan agar tetap tenang.

 “Nanti pasti ada.”

“Tapi sekarang tidak ada.”

“Cukup!” kata teman saya. “Bawa aku pergi dari sini!” ia melepaskan suara atau segala yang tersangkut di dadanya. Tak lama, ia terkulai di samping saya dalam ekspresi pasrah yang menakutkan.

***

Saya berdiri di jendela lantai dua dan perempuan yang melayang itu tak pernah hilang dalam ingatan saya. Dari kecil, saya memang tergila-gila pada sepasang sayap, karena hanya sayap yang bisa membuat sesuatu bisa terbang tinggi dan saya sangat menginginkannya. Namun, saya yakin sekali, perempuan yang melayang di atas jalan sama sekali tidak memiliki sayap di bagian mana pun di tubuhnya. Ia yang hanya diam, pelan-pelan mengambang, lalu melayang begitu saja seolah tubuhnya tak memiliki beban. Saya pejamkan mata, saya ingin merasakan tubuh saya pelan-pelan mengambang.

Akan tetapi, jendela bergetar keras dan mengejutkan saya. Badai angin mulai berembus lagi sore ini. Saya membuka mata. Saya memandang ke bawah jendela. Sepi sekali. Seperti kota mati. Kota ini memang sebuah tempat yang nyaris tanpa gejolak, tanpa gosip besar, selain tentang  wali kota yang telah berbulan-bulan pergi ke luar negeri untuk mendalami agama—dan itu pun sesuatu yang tidak memengaruhi orang-orang di sini atau bahkan tidak menyadarinya kalau saja sekelompok aktivis tak melakukan demonstrasi kecil di depan gedung wali kota: demonstrasi yang tidak menarik perhatian sebagian besar warga ketimbang kedatangan rombongan sirkus di sore Minggu yang cerah dan mulai hari itu orang-orang tidak henti-henti datang ke sana untuk melihat singa yang melompat ke dalam cincin api raksasa, kartu tarot, permainan lempar gelang ke leher botol, hingga rumah hantu dengan lorong-lorong gelap dan bermacam rupa setan yang alih-alih bikin takut malah membuat orang menjerit dan tertawa-tawa—dan memang itulah tujuannya.

Inilah kota yang sakit, tulis salah seorang aktivis di sebuah spanduk besar di hari terakhir demonstrasi yang diliput televisi lokal milik lawan politik wali kota berkuasa dan setelah itu ia tak pernah muncul lagi di mana pun. Beberapa orang berspekulasi ia sudah berhenti jadi aktivis dan memilih menjadi peternak lele di kampungnya. Beberapa yang lain menanggapinya lebih santai dan menyimpulkan kalau hilangnya si aktivis itu hal biasa dan tidak penting untuk dibesar-besarkan. Televisi itu terdengar mengoceh sendirian di belakang saya. Sekian lama saya menunggu berita yang saya nanti-nanti, tapi tetap soal aktivis itu saja yang muncul, berikut sepak terjangnya beberapa waktu lalu, dan keberadaannya yang misterius pada hari ini, kemudian menghubung-hubungkannya dengan demonstrasi di depan gedung wali kota. Saya bukan tidak suka berita politik. Hanya saja, saya berharap sekali, paling tidak, kabar tentang perempuan yang melayang itu, muncul dalam berita teks di bagian bawah layar, bercampur baur dengan berita kriminal atau harga cabai dan tomat yang melambung tinggi.

Badai angin kembali membuat jendela bergetar-getar. Saya tetap tak ingin berhenti memikirkan perempuan yang melayang itu. Saya ingin sekali tahu: siapakah dia? Perempuan itu, dari dunia mana pun ia datang, semoga baik-baik saja dan suatu hari kembali melayang di atas jalan—benar-benar melayang tinggi hingga menjadi bagian dari awan-awan dan turun lagi sebagai hujan yang indah, dan saya akan memandanginya dari balik jendela ini.

“Kau tidak menutup jendela di tengah serangan badai?” tanya ibu saya.

Saya berbalik. Ibu saya berdiri di pangkal tangga. Ia membawa pulang panci besar—hampir sama besar dengan tubuhnya yang bulat dan pendek. Sebelum berangkat tadi siang, ibu saya melontarkan sebuah lelucon tentang uang praktik jual-beli suara calon gubernur dalam pemilihan dua bulan lalu sebaiknya dibelikan sejenis panci biar bisa dikenang lama sebagaimana dulu ia melakukan hal sama saat pemilihan wali kota dan ibu saya bersama rombongan besarnya berencana segera melaksanakan niat itu. Saya tidak tahu apa itu semacam ejekan atau ketulusan yang lugu. Namun, di kota ini, segalanya memang tumbuh paradoks, antara kebaikan dan keburukan, antara kegilaan dan kewarasan.

Ibu saya berlalu tanpa benar-benar ingin mendengar jawaban saya, tapi ia segera berbalik lagi, dan bertanya, “Apa kau tidak berminat nonton sirkus?”

Bayangan arena sirkus yang dipadati pengunjung terpampang di mata saya. Suara riuh. Potongan karcis yang berserakan. Sampah plastik. Rengekan anak-anak yang menarik-narik tangan ibunya.

“Semua orang pergi ke sana,” kembali terdengar suara ibu saya.

“Nina terkena demam tinggi setelah kami pergi kemarin sore. Aku tidak terbiasa pergi tanpa Nina,” kata saya sentimental karena teringat teman saya yang barangkali masih meringkuk di tempat tidur dan tidak berhenti mengigau.

“Sebaiknya kau pergi sendirian saja. Kalau beruntung, kau dapat melihat pertunjukan perempuan yang bisa mengambang di udara, bahkan terbang hingga jauh ke luar. Bukankah kau penggemar segala sesuatu yang bisa terbang? Waktu kecil, kau suka sekali memasang kain di punggungmu. Apa kau ingat? Kau mengira kain itu bisa mengembang seperti sayap burung.” Ibu saya menarik napas, membentuk jeda pendek, “Pergilah, besok sirkus itu akan pindah ke kota lain. Setelah besok, tak ada yang menggairahkan di kota….”

Saya tidak mendengar lagi apa yang ibu saya katakan selanjutnya. Saya buru-buru mendekat ke layar televisi yang menayangkan berita terbaru soal wali kota yang sudah kembali dari perjalanan panjang dan gambarnya muncul dengan pakaian serba putih seolah ia malaikat yang tiba-tiba jatuh dari langit dan di bandara para pendukung menyambutnya dalam gerak yang serba tergesa. Hanya saja, bukan malaikat itu yang membuat mata saya benar-benar tidak dapat berkedip, melainkan sosok perempuan yang tengah melayang di udara, tidak berwarna abu-abu, melainkan lebih putih, lebih terang, tapi sepertinya tak seorang pun yang melihatnya. (*)

GP, 2016

Yetti A.KA

Yetti A.KA

tinggal di kota Padang, Sumatera Barat.
Yetti A.KA

Latest posts by Yetti A.KA (see all)

  • Yusuf alfianto

    Mbak pengen tau maksudnya siapa kah perempuan itu mbak ?

    Hantu kah ? Malaikat kah ?

  • nur addynna

    Salam dari Malaysia! 🙂