Pergulatan Batin si “Gadis Tembakau”

in Rehal by

Identitas Buku

Judul              : Genduk
Penulis            : Sundari Mardjuki
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : Pertama, 2016
ISBN               : 978-602-03-3219-2

Nama aslinya Anisa Nooraini. Tetapi, orang-orang telanjur mengenal dan nyaman memanggilnya Genduk. Ia lahir di lereng Gunung Sindoro, ketika Desa Ringinsari sedang kuyup oleh hujan bulan Desember. Tepatnya, satu tahun sebelum peristiwa Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) meletus dan menelan banyak korban. Ia buah cinta antara santri (Iskandar) dengan abangan (Sutrisni).

Genduk merupakan simbol perlawanan, kesederhanaan, dan cinta yang selalu menuntut pengorbanan. Sundari Mardjuki, penulis novel Genduk yang termasuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori prosa ini, mengaduk emosi pembaca sejak lembar pertama.

Sundari memulai kisah dengan membuka jati diri tokoh utama, yaitu Genduk. Genduk tinggal di desa tertinggi di antara desa-desa lain yang mengelilingi kaki Gunung Sindoro. Sejak lahir, ia hanya melihat dan tinggal bersama Yung, ibunya. Ia tidak pernah melihat wajah bapaknya. Maka, dalam kesendirian kelak, ia sering bertanya-tanya penasaran tentang jati diri bapaknya.

Anehnya, Genduk selalu memperoleh jawaban ketus setiap kali bertanya tentang bapaknya kepada Yung. Satu-satunya orang yang bersedia menjawab pertanyaan seputar bapaknya ialah Kaji Bawon. Meski tidak pernah mampu menghilangkan rasa penasarannya, setidaknya jawaban Kaji Bawon sanggup membantunya menutup mata sambil membayangkan wajah bapaknya. Dan, diam-diam, ia bertekad akan menemukan bapaknya suatu hari nanti.

Hidup berdua bersama Yung dalam rumah sederhana berdinding gedek membuat Genduk harus melalui hari-hari getir penuh perjuangan. Kalaulah ada sosok perempuan panutan pekerja keras, bagi Genduk, Yung-lah orangnya. Yung ibarat matahari, dan ia tak ubahnya planet kecil yang akan selalu mengelilingi matahari.

Meski demikian, Genduk berbeda dengan Yung. Yung tidak peduli soal pendidikan. Seolah-olah, bagi Yung, hidup adalah perkara bekerja keras dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Genduk yang besar di tengah keluarga petani tembakau justru memiliki ketertarikan terhadap dunia pendidikan. Ia terbilang siswa yang cerdas dan tekun di sekolah. Bakatnya menulis puisi selalu mendapatkan pujian dari Bu As, satu-satunya guru di sekolahnya.

Demi menghidupi keluarga, Yung harus berjibaku memaculi ladang serta mencabuti rumput liar dengan tangannya sendiri. Itu sebabnya, tangan Yung berbeda dari kebanyakan tangan perempuan lainnya. Ada jelujur otot menyembul di tangannya. Mirip seperti kacang panjang. Jangan ditanya bagaimana telapak tangannya. Kulitnya kapalan. Kalau dipegang terasa keras. (hal. 21)

Pergulatan batin Genduk semakin menjadi saat musim tembakau tiba. Musim tembakau adalah musim labuh. Apa yang dimiliki petani dipertaruhkan agar penanaman tembakau hingga panen nanti berhasil. (hal. 23) Bocah sebelas tahun itu harus ikut prihatin memikirkan nasib Yung. Tembakau sebagai gantungan harapan petani membutuhkan banyak uang untuk modal. Dan ia tahu, satu-satunya cara yang bisa ditempuh Yung guna mendapatkan modal adalah dengan berutang kepada rentenir.

Rentenir menyebabkan orang-orang lemah seperti Yung tidak memiliki banyak pilihan. Rentenir semakin memperlebar jarak petani dengan garis kesejahteraan. Dalam ketidakberdayaan, tidak jarang petani hanya bisa pasrah dalam lilitan utang. Kita ini kan hidup mung mampir utang. Kalau sampai utang ndak kebayar di panenan tahun ini, ya tinggal dibayar di panenan tahun berikutnya. (hal. 92)

Bukan hanya jeratan rentenir saja yang mesti dihadapi petani tembakau di lereng Gunung Sindoro. Tingkat pendidikan yang rendah membuat tengkulak semakin leluasa mempermainkan harga tembakau. Ditambah lagi dengan harga tembakau yang sepenuhnya berada dalam kendali para cukong dan pemilik modal.

Tembakau tidak hanya memaksa petani memeras pikiran saat ditanam saja. Ketika hendak dipanen pun, petani harus memutar otak supaya tembakau bisa terjual dengan harga yang layak. Tidak terkecuali bagi Genduk. Dalam usahanya supaya Yung dapat menjual tembakau dengan harga yang pantas, ia harus berurusan dengan Kaduk, raja tengkulak yang selama ini dibencinya.

Demi sang ibu, Genduk rela berkorban. Ia bahkan harus menahan geram manakala Kaduk melecehkan harga dirinya sebagai perempuan. Sungai Tuksari menjadi saksi bisu bagaimana setiap hari Rabu, seorang gadis, secara terpaksa, menerima perlakuan tidak senonoh itu.

Nyatanya, Kaduk hanya mengelabuinya dengan janji-janji palsu. Alih-alih dihargai tinggi, lima belas keranjang tembakau Yung yang dibawa Kaduk ke Kota Parakan tidak jelas juntrungnya. Genduk hanya bisa menelan kekecewaan itu sendirian. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Yung. Ia menyimpan rapat-rapat peristiwa memilukan di Sungai Tuksari.

Tembakau bagi petani bisa menjadi simbol kebahagiaan. Tetapi, di sisi lain, tembakau juga bisa menjadi simbol kesedihan yang tak terperikan. Tembakau itu barang panas, Nduk. Kalau tidak hati-hati, bisa rusak persaudaraan, rusak tatanan jagat. (hal. 100)

Terbukti, gara-gara tembakau, banyak orang silau lalu memilih mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Demi keuntungan, seseorang tega mencelakai orang lain. Bahkan, di Desa Ringinsari, frustrasi akibat tembakau berakhir dengan kematian yang paling hina: bunuh diri.

Beruntung, dalam pencarian bapaknya, Genduk dipertemukan dengan Tjo Tian Djan, juragan tembakau terkaya se-Kota Parakan. Ia mendapatkan hadiah istimewa berupa gelang keluarga besar Tjo Tian Djan atas jasanya telah menyelamatkan cucu Tjo Tian Djan dari kecelakaan maut.

Gelang itulah yang kemudian sanggup menjadi pemangkas cerita pilu bagi petani tembakau di lereng Gunung Sindoro. Gelang itu menjadi penawar atas kabar duka yang diterima Genduk dalam pencarian kabar bapaknya. Bapaknya mati dalam kegaduhan dan kesalahpahaman antara santri dan PKI beberapa tahun silam. Lagi-lagi, Genduk harus menelan kepahitan itu sendirian.

Sundari piawai melukiskan kesahajaan desa. Proses pengolahan tembakau dari awal sampai akhir diceritakan cukup detail dalam novel ini. Sebagaimana diakuinya, novel ini dibuat selama kurang lebih empat tahun. Dimulai dengan riset dan wawancara langsung terhadap beberapa petani sepuh di Desa Mranggen Kidul, Parakan, Kabupaten Temanggung.

Pengambilan setting tahun 1970-an membuat kekhasan tersendiri dalam novel ini. Hal ini memungkinkan Sundari tidak melulu berkisah tentang pergulatan batin Genduk, si “gadis tembakau”. Kegaduhan konflik sosial politik serta perdebatan seputar agama dan kepercayaan yang sempat meruncing pada masa itu tidak luput dari perhatian Sundari. Zaman itu, telunjuk ini lebih berbahaya daripada bedil. (hal. 152)

Sundari mengemas jalinan kisah dengan bahasa yang mengesankan. Kadang disertai humor yang akan membuat pembaca mengulum senyuman. Trikotomi priyayi, santri, dan abangan juga diteropong Sundari dari sudut pandang sederhana seorang gadis desa yang cerdas. Maka tidak berlebihan kalau Ahmad Tohari, penulis novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk, mengimbau bagi mereka yang merasa terurbankan untuk membaca novel ini. Alasannya jelas, agar mereka mengenal kembali nilai budaya dan kehidupan desa. [*]

Wahyudi Kaha

Wahyudi Kaha

pembaca buku dan peminum kopi.
Wahyudi Kaha

Latest posts by Wahyudi Kaha (see all)