Perihal Felix Siauw yang Dinyinyiri Para Mahmud Slimicinguk

in Celoteh by

Ust.-Felix-Siauw-komen-BKIM

Sumber gambar: 2.bp.blogspot.com

Di novelnya, Salju, Orhan Pamuk menuliskan: …meskipun pasangan paling cocok untuk pria Gemini adalah wanita Virgo, namun kepribadian ganda dari pria Gemini, yang menjadikan mereka ceria dan berpandangan dangkal, dapat membuat wanita Gemini senang atau justru jijik.

Jika Anda seorang wanita Gemini, lantas mengambil sikap menolak siapa pun kelak lelaki Gemini yang mendekati Anda, sekalipun setampan dan secerdas Afthonul Afif, dengan berat hati saya harus katakan bahwa Anda telah “sesat opini” atas narasi Pamuk itu. Sesat opini, gagal konteks, limbung penyimpulan, akibat bergegas menarik makna dari sekadar membaca separagraf di halaman 335 dari 664 halaman novel hebat itu. Pamuk sama sekali tak memaksudkan demikian untuk Anda. Andalah yang semena-mena menggiring Pamuk seolah memfatwa demikian.

Nasib yang sama serentak menerjang novel Pramoedya Anantar Toer, Bukan Pasar Malam, bila Anda hanya membaca narasi ini: “Hidup ini, Anakku, hidup ini tidak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini.” Oh, Pram ternyata penista Tuhan! Terkutuklah mereka yang menjunjung Pram, macam Adiatia Purnomo, sekalipun ia sedang bersungguh-sungguh menghapal Yaasin, Tahlil, dan Juz ‘Amma demi memenuhi syarat pinangan Tiwi.

Itu terjadi lantaran Anda hanya membaca separagraf dari novel setebal 104 halaman itu, lalu menyimpulkan semena-mena.

Aku ingin mendengkur bagai ular sawah atau angin di sudut kamar, di tumpukan pakaian kotormu. Mereka hangat, dekat, mendekap, dan masih beraroma kita.

Dengan hanya membaca bait itu, Anda pun terseret menyimpulkan, “Wah, ternyata Aan Mansyur, pengarang Melihat Api Bekerja, joroknya tak ketulungan!”

Sesat opini, gagal konteks, dan limbung penyimpulan merupakan sederet problem tuaian bahasa tulisan yang dipicu oleh pembacaan tak tuntas. Membaca sebaris, dua baris, separagraf, sehalaman, lantas menarik kesimpulan, menjadi indikasi serius buruknya kehidupan sang pemalas yang semena-mena; menjadikan kita tak reflektif, reaktif berkesimpulan, dan tergesa menyocotkan komentar.

Begitulah yang belakangan menimpuki Ustadz Felix Siauw. Entah bagaimana hikayatnya, kultwit panjang yang telah diposting  29 Mei 2013 pukul 19.38 itu tiba-tiba melejit kembali, menuai komentar ganas para mahmud, utamanya, lalu menjadi viral. Komentar-komentar ganas itu dipicu mutlak oleh kemalasan membaca seluruh kultwit itu (jumlahnya 25), dengan mencukupkan diri hanya pada twit nomor 22: “Bila wanita habiskan untuk anaknya 3 jam sedangkan kantor 8 jam, lebih layak disebut ibu ataukah karyawan? 😀”.

Sudah pasti, nasibnya setamsil kepedihan hati Lintang yang menyimpulkan Geri mencintainya dalam film “Negeri van Oranje” hanya lantaran Geri rajin memberikan perhatian padanya. Geri ternyata seorang gay, Lintang pun terluka; segiliran sama Anda yang serentak malu begitu diingatkan untuk adil membaca keseluruhan kultwit itu.

Mari perhatikan hal-hal ini, ya, Mud.

Pertama, saya mengerti Anda, Mud, saya mengerti tangkasnya Anda tersinggung pada twit Ustadz Felix itu sebagai berkah emansipasi kaum Hawa yang dinarasikan dunia global, yang pas benar untuk Anda. Tak peduli seantidot apa pun Anda pada Syiah dan Yahudi, atau sefanatik apa pun Anda pada Erdogan yang Anda gadang-gadang jadi “New Al-Fatih”, dapat dijamin bahwa siapa pun yang “mendefinisikan” wanita baik adalah mereka yang menjadi ibu rumah tangga, tidak berkarier, tidak bekerja di luar rumah, yang mengandung konsekuensi makna bahwa para wanita yang bekerja berkuranglah kualitas mulianya, tanpa ba-bi-bu akan Anda sergah. Situasi ini segendang sepenarian betul sama serangan cepat yang selalu siap Anda panahkan pada siapa pun yang memfatwakan poligami sebagai jalan meluaskan keberkahan bagi lelaki yang mampu mengimami dan menafkahi.

Ini adalah era di mana perjuangan emansipasi Betty Freidan hingga Julia Kristeva sejak masa 70-an diamini oleh nyaris seluruh umat manusia. Para mahmud kekinian seperti Anda adalah penuai berkah perjuangan wacana lama itu.

Atas nama Yang Mulia HAM, baiklah, tanpa sekat gender pula SARA, para mahmud mendapat sponsor luas di spektrum ini. Dari kaumnya plus bangsa lelaki yang belum pernah menjadi suami pula ayah, sehingga mudah sekali berturut menyeru kesetaraan lelaki dan perempuan. Itu khittah HAM! Begitu slogannya. Bahkan mereka yang memekik-mekik kekirian saat membela kaum buruh, ke-Marxis-an, sejamaah pula memanggungkan bendera HAM kemahmudan ini, sekalipun kita tahu episteme HAM hari ini merupakan produk dominatif kelompok Kanan (Barat dan sekutunya yang proficiate kapitalisme global), bukan Kiri. HAM hari ini, faktanya, adalah episteme Amerika dkk. yang memerangi terorisme sembari menjajah otoritas bangsa lain. HAM hari ini, faktanya, adalah episteme Francois Hollande, presiden Prancis, yang mengutuk serangan teror pada Charlie Hebdo sembari membiarkan Nabi Muhammad dinista-nista. HAM hari ini, faktanya, adalah episteme Barack Obama yang mengembargo Korea Utara atas nama senjata nuklir sembari mentransfer miliaran dolar kepada Israel untuk meningkatkan stok nuklirnya. You seeHeuh!

Begitulah potret asali HAM kita kini: nongki ganjen dikawani ice coffee latte dan cream of mushroom soup di gerai Excelso sembari mengutuk Indomart dan Alfamart sebagai ekspansi kapitalisme global yang membiangi kebangkrutan warung-warung wong cilik.

Pada garis ini, Anda mendapatkan sepenuhnya pembenaran “kepentingan cara mengada” untuk egaliter dan emansipatif, dari perspektif ekonomis, kultural, dan sosial-global. Anda disahihkan untuk berkarier, keluar rumah, meeting, pula nongki cantik bersama klien dan relasi, dan tentu saja menampik ajaran poligami sebagai ayat diskriminatif, subordinat, dan kolonialistik. Ya, ayat Alqur’an yang, apa Anda bilang?, barbar….

Kedua, sekritis demikian Anda menyerukan egalitarianisme, bagaimana hikayatnya Anda lalai untuk sekadar membaca utuh-utuh semua kultwit Ustadz Felix itu? Anggap saja Anda kenal siapa Simone de Beauvoir, Julia Kristeva, Fatima Mernissi, atau Ratna Sarumpaet dan Ayu Utami, lantaran (anggap saja lagi) Anda rajin membaca, isyarat betapa cerdasnya Anda, lantas bagaimana silsilah logisnya Anda menjabarkan bagian dari kultwit Ustad Felix (catat: kultwit, ya, bukan twit saja) yang Anda tuding diskriminatif? Di bagian manakah ada premis mayor yang sahih disimpulkan bahwa beliau menciptakan dikotomi mulia versus hina antara ibu yang bekerja dengan ibu rumahan?

Kultwit itu terdiri dari 25 twit; masak sih orang sekritis Anda tega hanya membaca twit 22 lalu menyimpulkannya dengan marah-marah. Bagaimana mungkin Anda yang eksis-kekinian terjebak simpulan begitu dengan menegasi twit 23 ini: Kita tidak sedang bahas ibu yang TIDAK punya pilihan bekerja atau tidak. Kita bahas ibu yang PUNYA pilihan bekerja atau ditinggalkan.

Ibarat membaca novel Salju tadi, tak ada sanad logis bagi kita untuk menyimpulkan “jaket adalah pencipta perasaan aman” hanya berdasar satu kalimat. Anda akan gagal paham pada sosok Santiago bila hanya membaca dua halaman novel Paulo Ceolho, Sang Alkemis, lalu menyimpulkan bahwa Santiago sekarakter sama Fakhri dalam novel Kang Abik.

Mestinya, twit nomor 23 itu lebih dari cukup bagi Anda yang cerdas dan kritis untuk menjadikannya “irisan pengecualian” dari twit nomor 22. Bahwa twit nomor 22 telah dispesifikasi, di-illa-kan dalam kaidah bahasa Arab, di-except-kan dalam kaidah bahasa Inggris, di-kecuali-kan dalam kaidah bahasa Indonesia. Twit nomor 22 sama sekali tidak laik dicabut berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian mutlak dari 24 twit lainnya.

Jika nalar Anda fair demikian, sebagai cara adil, metodologis, dan bertanggung jawab  dalam menarik sebuah kesimpulan, pasti, pasti, pasti mudah benar bagi Anda untuk mengecualikan para mahmud yang “harus bekerja” (apa pun alasan dan sebabnya) bukan bagian dari fatwa Ustadz Felix itu.

Sesederhana itu caranya agar pikiran Anda tetap waras, agar batin Anda berakhlak karimah, agar Anda menuai guna atas bertambahnya usia, suami, dan anak, agar terlihat benar bedanya sebutan mahmud dengan cabe-cabean.

Sayangnya, bapernya cabe-cabean tak lekang digerus pangkat kemahmudan; baper yang (maaf) konyol betul lantaran sekadar terlecut dari kebiasaan alay tahunan silam yang gemar membaca sepintas dan sepenggal lalu menyimpulkan dengan komentar marah-marah. Mahmud, saya kira, harusnya jemawa untuk menginsafi nyinyiran bukan sebagai jagatnya, tetapi jagat cabe-cabean. Apalagi, nyinyiran yang berujung fitnah macam ini.

Lihatlah dampak serius kebaperan Anda: wacana pengingat dari Ustadz Felix yang terkumpul dalam buku How To Master Your Habits itu, serentak teropinikan di jagat virtual sebagai “pelecehan para mahmud pekerja”. Celakanya, Anda seturut ngeshare limbung penyimpulan yang dipantik oleh mahmud entah itu, mengambil peran aktif dari sebaran nyinyiran dan fitnah itu, menjadikannya viral. Mungkin agar tak kehabisan dosa. Pada sebuah peristiwa yang berdosa, siapa pun yang terlibat di dalamnya, langsung atau tak langsung, kita tahu, semuanya seturut menuai dosa-dosanya.

Jika Anda belum yakin bahwa hal demikian adalah dosa, kini ambil cermin dan perhatian wajah Anda dengan saksama. Seketika, Anda menjadi sedemikian ndak asyik lagi. Pemicunya, sekali lagi,  sangat tragis: sekadar malas membaca keseluruhan kultwit itu. Lebih mendahulukan mulut daripada pikiran. Lebih mengulur negative thinking daripada positive thinking. Lebih tangkas reaktif daripada reflektif. Lebih mendahulukan jempol daripada batin. Percayalah, komentar Anda niscaya akan berbeda setulen-setulennya andai Anda sejenak menempuhi proses kasunyatan dengan diawali membaca seluruh twit itu lengkap-lengkap.

Konon, di sosial media, tekun ditabalkan bahwa para mahmud adalah kelas Hawa yang matang usia, kebak rasional, penuh kesabaran, dan berkarakter keibuan. Tanyalah, misal, sama Kalis Mardiasih yang sungguh wise menasihati dedek-dedek aktivis BEM, meski belum pula lulus kuliah. Sahih pula Anda bertanya pada Iqbal Aji Daryono yang memangkati mereka kaya chemistry. Beda maqam sama cabe-cabean slimicinguk (pinjam diksimu, ya, Mas GTA) yang begitulah adanya.

Sayangnya, fenomena viral nyinyir-nyinyiran pada Ustadz Felix kali ini, yang secara posting time history sungguh tak masuk akal lantaran diposting 2013 untuk diributkan di 2016, menjadi antidot atas diferensiasi kelas itu. Apa bedanya kini mahmud yang mendaku mature (itu berarti rasional, reflektif, dan penuh kehati-hatian) dengan cabe-cabean yang slimicinguk (itu berarti emosional, reaktif, dan asal kekinian)?

Pada titik ini, patut diumumkan dengan penuh haru bahwa rupanya di sosial media telah lahir subspesies baru manusia bernama mahmud slimicinguk.

Ya, saya tahu, tak semua mahmud demikian, tapi Anda di antaranya. Hih….

Jogja, 8 Januari 2016

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu
  • Eko Bambang Trivisia

    maaf… tapi apa arti sebenarnya dari kata slimicinguk itu tuan paduka Edi?

  • Dwi Arba’ati Sri Rahayu

    Bapak Profesor Edi AH Iyubenu yang terhormat, mohon tulisannya diberi catatan kaki, jadi bisa menjadi kajian baru untuk pembaca yang sedang belajar ‘bijak membaca’ seperti saya ini, yang IQ-nya jauh dibawah rata-rata, punya kebiasaan baca ‘melewati yang tidak dimengerti’, Jadi terasa gak nyambung pada bagian yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia.
    Mmmmm, apa saya yang katrok ya???
    Wis saya tanya aja wis, istilah ini
    Baper
    nongki ganjen (mungkin ini nongkong ya?) memetakan dari kata selanjutnya yakni ‘nongki cantik’ dan tempatnya kok semacam Cafe-cafe gitu.
    Slimicinguk
    mahmud (mungkin ini dari bahasa arab ya?)
    mas GTA (atau ini nama orang yang disingkat)
    Ah, sepertinya perlu banyak belajar membaca. namun bila dijawab sangat terimakasih.

    • Dhany Nazir

      Baper = Bawa perasaan.. dibawa ke perasaan aka sensitif
      Nongki ganjen = nongkrong di cafe (mungkin ya)
      Mahmud = Mamah muda.. ibu2 muda..
      Slimicinguk.. ini saya juga belum ngerti, mungkin sifatnya cabe2an.. 🙂

      • Dwi Arba’ati Sri Rahayu

        terimakasih pak Dhany Nazir.
        kayaknya iya ya, slimicinguk tu mungkin sebangsa sifat yang disebut cabe-cabean itu.
        terus Mas GTA itu mungkin nama orang deh ya kayaknya.