Perkara Ngeloco Bikin Umur Panjang

in Cerita Pendek by

Perkara Ngeloco Bikin Umur Panjang - Cerpen BASABASI.CO

/1/ Cinta Segi Empat

Ngeloco adalah ujud kasih sayang dan derma bakti yang agung kepada diri sendiri.

Setelah merapal mantra itu, kututup pintu kamar. Kukeluarkan gambar Kalis Mardiasih, artis idolaku dalam pose yang bersahaja dari balik tumpukan baju di lemari lalu menatanya sedemikian rupa di ranjang. Gambar itu kugunting dari kalender toko mas langganan ibuku. Kutatap gambar itu sebagai pemanasan. Setelah merasa cukup, segera kulepas celanaku. Kuambil losion beraroma kerang, mengeluarkan isinya, lalu mengoleskannya pelan-pelan. Aku sangat suka aroma kerang dan segala yang berbau lautan, membuatku lebih terangsang, sama halnya dengan aroma minyak ikan yang menjadi aroma parfum favoritku. Kemudian aku memulai ritual senyap sembari mengimajinasikan gambar idolaku itu. Mataku akhirnya terpejam….

Bajingan.

Yang terlintas saat aku klimaks justru wajah Trijoko, lelaki komunis yang pernah beruntung memacari artis idolaku itu. Ia adalah noda bagi ritual ngelocoku barusan. Aku jadi makin benci kepadanya. Tapi tak apa, yang penting beban berahi sudah keluar semua. Dunia jadi lebih cerah. Tubuhku jadi lebih enteng. Segera kuberesi perkakas ngelocoku dan kubersihkan jejak yang tersisa.

Aku agak kaget ketika dari kolong ranjang keluar kucingku. Sudah beberapa kali ia menjadi saksi hidup ritual ngelocoku tapi aku selalu memaafkan perbuatannya yang tercela itu karena ia selalu aman menyimpan rahasia. Kugendong kucing jantan berbelang kelabu itu lalu menidurkannya di ranjangku. Andai saja kucing ini bisa ngeloco, tentu ia tak perlu repot-repot berburu kucing betina. Tak akan ada persetubuhan liar di malam hari yang luar biasa gaduh, yang membuat manusia naik darah dan berhasrat membunuh sepasang kucing yang sedang diamuk berahi.

/2/ Perempuan Munafik

Ngeloco yang baik tidak melibatkan bayangan mantan.

Pantangan terbesarku saat menggelar ritual ngeloco adalah membayangkan sosok mantan. Dengan kata lain, ngelocoku harus suci dari kenangan. Aku akan bercerita sedikit tentang sosok mantanku, satu-satunya perempuan laknat yang menodai hidupku yang bahagia.

Aku benci mantanku yang sok suci itu. Dia tahu kebiasaanku ngeloco. Dia tidak suka. Dia melarangku melakukannya tapi tidak memberiku kompensasi apa-apa. Misal, dibelikan mendoan. Dia hanya ceramah dan terus ceramah. Dia mengatakan bahwa ngeloco itu perbuatan setan dan memberiku doa-doa pendek yang harus kuhafal ketika keinginan untuk ngeloco sedang menggebu-gebu. Aku menurutinya karena aku mencintainya meskipun dia tak pernah mengizinkan aku menciumnya. Dia hanya memperbolehkanku menggenggam tangannya. Itu pun saat suasana sepi. Sesungguhnya dengan menggenggam tangannya saja aku sudah senang dan membuatku lumayan jenggirat.

Sering kubayangkan tubuh pacarku itu yang meski tidak bagus-bagus amat tapi cukup menggairahkan. Dia adalah kombinasi maut antara sosok Ellya Khadam dan Ida Royani dalam versi religius. Dia menawan dan melenakan seperti lagu dangdut tahun 80-an meskipun dia juga tak terjamah dalam kesalihannya. Terkadang, saat dorongan berahiku memuncak, sedangkan untuk menggenggam tangannya pun tak ada kesempatan, aku menuntaskannya dengan ngeloco sembari membayangkannya. Celakanya, selalu saja, setelahnya, aku dihantui rasa bersalah kepadanya. Aku seperti telah berkhianat dari wasiat takwanya. Aku merasa seperti berselingkuh dengan diriku sendiri. Sebagai penebusnya, setelah bersuci, aku membaca doa-doa pendek yang dicatatkannya. Ketika bertemu dengannya lagi, sembari membacakan satu doa pendek yang sudah kuhafal, aku membatin maaf untuknya dan merasa kian dalam mencintainya.

Sayang, usia asmara kami tak bertahan lama. Setelah rentetan kejanggalan yang kurasakan dan kekerapan bertemu yang kian renggang, hubungan kami berakhir. Pacarku meminta putus. Tentu saja aku tak terima tapi aku bisa apa. Aku patah hati dan kecewa serta dicekam tanda tanya mengenai alasan keputusannya. Aku menderita sedih berkepanjangan. Aku kehilangan banyak kantuk dan terancam menjadi penderita insomnia akut. Kadang, ayan. Aku kehilangan rasa lapar dan memutuskan menjalankan puasa sunah berkepanjangan. Aku jadi lebih mendekatkan diri kepada Ilahi.

Sebulan setelah putus, lewat kawan kami, aku memperoleh kabar bahwa mantan pacarku itu akan segera melangsungkan pernikahan dengan guru ngajinya. Pernikahan ini tak terelakkan karena mantan pacarku itu kadung mengandung benih guru ngajinya. Sontak aku meradang saat mendengar berita ini, tapi aku bisa apa selain membakar semua doa-doa pendek yang pernah dicatatkannya untukku. Aku mengumpat secara maraton selama hampir dua jam. Setiap mengingat berbagai wasiat takwanya dan juga larangannya terhadap ritual ngelocoku, kebencian dan kemarahanku jadi berlipat ganda. Kulanjutkan dengan mencaci-makinya beserta guru ngajinya dalam hati selama dua puluh lima menit. Jadi, totalnya dua jam dua puluh lima menit.

Setelah puas berkata-kata kotor aku pun merasa lapar dan setelah makan kenyang aku merasa mengantuk lalu tertidur pulas selama hampir empat jam. Kiranya segala umpatan dan caci maki itu telah mengembalikan porsi lapar dan kantukku seperti sedia kala. Begitu bangun aku segera mengambil perlengkapan ngelocoku: poster Kalis Mardiasih beserta losion beraroma teripang. Aku segera ngeloco dan begitu klimaks datang, aku merasa dilahirkan kembali seperti orang suci yang terberkati. Segala dendam dan kebencian pupus sudah.

Akan tetapi, rupanya perasaan penuh belas kasih itu tidaklah permanen. Dendam dan kebencian kepada mantan itu tumbuh lagi setelah dua jam dan detik itu pula aku berjanji pada diriku sendiri akan membersihkan sosoknya demi kesucian ritual ngelocoku.

Setelah kejadian itu, aku jadi merasa begitu akrab dengan kata munafik. Begitu terlintas bayangan mantanku itu, secara spontan bibirku akan mendesis, “Perempuan munafik!”

Kebiasaan menyebalkan ini berlangsung sekitar tiga bulan dan baru sembuh setelah lima kali kudengarkan lagu Ikke Nurjanah yang berjudul “Munafik”, yang di dalamnya terdapat lirik, “Itu munafik namanya. Itu munafik namanya.”

/3/ Jodoh Berdasarkan Serat Gindus

Karena tak ada yang lebih setia daripada diriku sendiri, maka aku ngeloco.

Ketika patah hati aku sempat berkeyakinan bahwa aku tak akan jatuh cinta lagi. Cintaku sudah habis digarong oleh mantan sialan itu. Aku akan mengingat baik-baik luka dan pedih ini. Lebih baik aku sendiri dan bisa ngeloco sepuas hati. Aku sempat berpikiran untuk menjalani hidup selibat. Akan tetapi, kenyataannya keyakinan itu hanyalah ilusi perasaan belaka. Waktu dengan cekatan menyembuhkan segala luka dan membugarkan kembali diriku untuk sebuah petualangan cinta yang baru.

Ilahi memberiku waktu patah hati selama dua tahun tiga bulan dan sebelas hari sebelum memulihkannya kembali. Sosok perempuan yang dikirimkan-Nya itu bernama Mariati Sumeh. Aku tak segan menyebut nama aslinya karena kelak perempuan ini akan menjadi istriku dan setia mendampingi sepanjang hidup. Sesuai namanya, dia adalah sosok perempuan ceria. Sumeh dalam bahasa Jawa berarti murah senyum. Sebuah wajah yang cocok dijadikan milik umum. Dalam kondisi apa pun, dia senantiasa tampak girang. Wajah Mariati berandil besar dalam meriangkan semesta di sekelilingnya. Senyum itu menular kepada kami, rekan-rekan kerjanya. Jika ada ketegangan di lingkungan kerja, Mariati-lah yang berandil besar mencairkannya. Aku sendiri tak pernah tahu apakah Mariati ini pernah sedih atau marah karena air mukanya selalu stabil menghibur. Tetapi, satu hal yang pasti, keberadaan Mariati patut disyukuri. Terpujilah kedua orang tua Mariati yang telah mensponsori kehadirannya di dunia ini.

Sejarah mencatat awal hubunganku dengan Mariati Sumeh terjadi di toilet kantor. Ada dua toilet di kantor itu, satu untuk cowok dan satu untuk cewek, letaknya berdekatan. Aku menggunakan toilet cowok dan ngeloco di sana di sela-sela jam kerja bila suntuk menghadapi beban kerja yang menumpuk. Biasanya, setelah ngeloco aku merasa lebih segar, kinerjaku jadi lebih cepat dalam merampungkan berkas-berkas pengiriman cumi-cumi ke pelosok negeri yang menjadi bidang usaha perusahaan ini. Jadi, ngeloco merupakan bagian dari kinerjaku.

Aku keluar kamar mandi dengan wajah berseri-seri. Dari samping kudengar panggilan Mariati. Rupanya dia sudah tidak kuat menahan air seni sedangkan kamar mandi cewek antre. Dia masih sempat berseloroh bahwa mungkin ada yang sedang krimbat di kamar mandi cewek sebelum memintaku menungguinya di luar. Aku berjaga sembari menyimak baik-baik segala aktivitasnya di kamar mandi. Begitu keluar, wajah Mariati tampak lebih sumringah dari sebelumnya. Kukira ini karena hajat kecilnya telah tuntas. Ternyata aku keliru. Dia mendekatiku dan berbisik, “Anak-anakmu belum berenang semua. Ada yang masih mangkrak di samping pispot. Tapi tenang saja, aku sudah menyentornya. Kini mereka sedang otewe menuju samudra raya.”

Dia pergi dan aku tersipu malu. Aku menyesali keteledoranku. Di tengah penyesalan, tiba-tiba aku teringat salah satu kalimat dalam Serat Gindus anggitan Gusti Raden Ayu Turuk Kinasih yang terjemahannya kira-kira berbunyi: perempuan baik-baik yang telah melihat air manimu akan menjadi jodohmu. Serat itu adalah bagian dari koleksi buku-buku langka bapakku. Aku mencuri-curi baca serat itu karena bapakku memasukkannya ke kategori buku terlarang. Pada saat itulah kiranya aku merasakan keterhubungan gaib dalam takdir hidup kami. Mariati Sumeh adalah patahan tulang rusukku yang ketlingsut.

Ketika aku mengungkapkan penerawanganku ini, Mariati hanya tersenyum. Ketika aku menyatakan perasaanku kepadanya, dia hanya tersenyum. Ketika aku berniat mendatangi rumahnya di malam Minggu, dia hanya tertawa. Duniaku berjalan semanis senyumnya. Aku tak tahu pasti apakah kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih atau belum. Ada masa di mana segalanya mengambang. Aku mencintainya dengan hanya berpegang pada senyumnya yang kadang misterius.

Setelah melewati fase abu-abu sekitar sepuluh pekan, akhirnya kepastian itu datang juga. Di pagi hari yang akan kukenang sepanjang hidup, Mariati memberiku dua keping DVD bajakan berisi film “Don Jon” dan “Malena”. Dia memintaku menonton kedua film itu. Sepulang kerja aku buru-buru memutar kedua film itu, tetapi belum juga memasukkannya ke pemutar DVD Mariati meneleponku dan memintaku membawa kedua film itu ke rumahnya.

Aku bergegas ke rumahnya. Di depan pintu, Mariati telah menungguku. Dandanannya bersahaja tapi menggoda iman. Rupanya rumah itu sepi. Kedua orang tua Mariati pergi ke Trenggalek untuk mengikuti turnamen lovebird tingkat nasional. Kami jadi leluasa menonton film bersama di ruang tamu. Kami menonton “Malena” pada kesempatan pertama. Aku langsung jatuh hati pada film ini, terutama pada adegan saat si tokoh utama, seorang remaja pria ngeloco dengan berkerudungkan sempak Malena, perempuan dewasa yang dipujanya secara diam-diam. Saking menghayati ritual ngeloconya, remaja pria itu terlalu semangat mengocok sehingga ranjangnya di lantai atas berkereotan dan membangunkan ayahnya di lantai bawah. Kedua lantai itu hanya dipisahkan papan kayu. Sontak sang ayah meradang lalu menghajarnya, serta mendakwanya sedang kesurupan setan sembari mengatakan bahwa kebanyakan ngeloco akan membuat matanya buta.

“Don Jon” ternyata juga film tentang kebiasaan ngeloco. Film ini makin memanas ketika Mariati merapatkan tubuhnya kepadaku dan dengan sepenuh perasaan menggerayangiku. Aku menerima segala perlakuannya itu dengan tidak merasa terpaksa sama sekali. Aneh! Puncaknya adalah ketika Mariati melocokan aku. Aku pasrah dalam haribaan kebahagiaan. Dan, ketika aku hendak melakukan hal serupa kepadanya, Mariati menolak.

Begitulah, setelah kejadian itu kami resmi berpacaran. Kenangan akan ciuman pertama raib disapu ingatan akan ngeloco bersama pertama. Mulai saat itu agenda ngelocoku sering kali mengandalkan jasa ketelatenan tangan Mariati. Aku mensyukuri kenyataan bahwa Mariati sama sekali tak keberatan dengan ritual ngelocoku. Dia selalu ada dan tak jemu menawarkan diri. Tepatnya, tangan. Meskipun berada di puncak gairah, kami tetap tahu batas. Keperawanan Mariati resmi kurenggut setelah dia resmi menjadi istriku. Dan keperjakaanku, selain kuserahkan kepada losion beraroma lautan dan tanganku sendiri, hanya kupasrahkan kepadanya.

/4/ Menulis Epitaf

Ngeloco itu abadi.

Ternyata kebiasaan ngelocoku ini tak berhenti meski aku sudah menikah dan punya anak. Dan, Mariati masih seperti dulu. Baginya, perkara seks dan pemuasannya adalah pilihan. Dia selalu memberi penawaran kepadaku, apakah ingin menuntaskan hasrat dengannya atau lewat tanganku sendiri. Aku melakukan keduanya secara bergantian. Biar adil. Bukankah sebagai lelaki aku harus bisa adil? Ketika sedang menstruasi, Mariati jadi lebih perhatian. Dialah yang memberiku losion beraroma rumput laut dan mengeluarkan kembali poster lawas Kalis Mardiasih dari persembunyiannya. Setelah itu dia kembali menawarkan bantuan tetapi jika aku ingin menuntaskan hasratku sendirian, dia akan memberiku kesempatan. Dia menemanimu sembari tersenyum manis. Betapa bahagianya memiliki istri sepertinya.

Bagi Mariati, hal ini tentu lebih baik ketimbang aku harus jajan lonte atau berselingkuh. Dia pernah mengatakannya. Dengan memberi kebebasan ngeloco kepadaku dan menyediakan perlengkapannya, dia menggaransi kesetiaanku. Aku meneken perjanjian batin ini dan bersumpah bahwa seumur hidupku hanya akan penetrasi di gua garba satu wanita ini.

Kupikir aku akan lebih sering ngeloco di masa tua karena Mariati akan tiba ke masa menopause tapi ternyata aku keliru. Aku divonis dokter menderita penyakit jantung di usia yang relatif muda, yakni paruh empat puluhan. Kedua anakku baru sekolah di tingkat SMP dan SMA. Kemungkinan besar aku akan berpulang lebih cepat ketimbang mereka. Aku senantiasa terteror dengan keadaan ini dan berusaha kuredakan dengan mempergencar ritual bercinta dan ngeloco dengan Mariati.

Mariati tahu betul apa yang aku pikirkan. Dia juga merasakan kecemasanku. Dan, di suatu malam setelah bercinta dia membisikkanku sebuah cara yang dipercayanya dapat mengusir rasa takut kepada kematian. Kami sepakat untuk menertawakan kematian.

Keesokan harinya, kami sepakat mengambil cuti kerja dan pergi ke toko perlengkapan pemakaman. Kami melihat-lihat batu nisan. Aku menyentuh tekstur nisan yang terbuat dari batu kali, keramik, dan marmer, lalu duduk-duduk di atasnya dan Mariati menjejeriku. Tak ada kesedihan. Aku merasa sangat dekat sekaligus merasakan hangatnya kematian. Kubisikkan nisan yang kupilih kepada Mariati dan Mariati juga melakukan hal serupa. Sebelum pulang, kami membeli kayu penanda pusara beserta cat untuk menulisinya.

Sesampai di rumah, Mariati menyerahkan cat dan kayu penanda pusara itu kepadaku. Dia memintaku memulai terlebih dahulu menulis apa saja di kayu itu dan akan dia tancapkan di pusaraku kelak. Jika pusara itu diganti nisan, tulisan pada kayu itu akan disalin ke batu nisan.

Dengan gemetar kutulis epitafku sendiri pada kayu penanda pusara itu beserta nama lengkapku:

telah ngeloco dengan tenang di alam baka

Rudolf Lakang

Mariati tersenyum seperti biasa tetapi matanya basah dan air matanya meleleh di pipi saat membaca epitafku itu. Aku memeluknya erat dan berbisik ke telinganya dengan penuh keyakinan bahwa hidupku masih akan lama. Rajin ngeloco akan membuatku panjang umur.

Solo, 2016

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)

  • Puput Palipuring Tyas

    ngakak ra mari-mari

  • rizki pinandito

    “Onani itu abadi”

    Terimakasih untuk wejangannya.

  • Allissia Ang

    Cerpen yg membuatku mengerti kenapa laki laki senang sekali bercinta dengan tangan hahahaha