Pernikahan Sesama Jenis; Diharamkan tapi Tak Dilarang

in Hibernasi by
Pernikahan Sesama Jenis; Diharamkan tapi Tak Dilarang
Sumber gambar snowvillageinn.com

Kegelisahan bangsa kita terhadap pergerakan bawah tanah kaum pencinta sesama lagi-lagi meningkat setelah terunggahnya video seremonial pernikahan dua pria saling cinta di Bali dua bulan silam. Kalangan LGBT menyebut yang seperti itu sebagai seremonial, tersebab hukum agama tidak memberikan lampu hijau untuk segala hal yang menjurus pada ikatan hubungan pernikahan selain lelaki dan perempuan. Jika pun itu benar pernikahan, mungkin ada yang perlu dijelaskan lebih lanjut bagaimana mungkin bisa terjadi. Di kemudian hari, bisa jadi berbondong-bondonglah pasangan gay dan lesbian datang ke Bali untuk menikah.

Ah, Bali memang berbeda dari Indonesia bagian mana pun. Kepopuleran Bali dibandingkan Jakarta sebelas dua belas dengan Rio de Janeiro dan Brasilia. Ke Bali pula tujuan wisata yang dipilih sejumlah selebriti dunia, termasuk supermodel Victoria’s Secret keturunan bangsawan Inggris, Cara Delevingne, berlibur dan membuat sejumlah foto telanjang dan berpose aneh-aneh untuk dipamerkan lewat akun Instagramnya.

Mau nyari apa di Jakarta? Polusi dan kemacetan? Dih!

Bali memiliki tingkat toleransi tinggi pada perilaku manusia, yang di luar pulau tersebut dianggap aneh. Mampu mengakomodasinya dengan catatan tidak mengusik kekhusyukan orang-orang Hindu taat yang beribadah. Kuta tidak pernah tidur di malam hari. Deretan kafe dan bar berisi orang-orang asing yang sudah lupa mereka berada di dalam negara yang penduduknya mayoritas muslim. Yang presidennya harus muslim. Yang libur panjangnya selalu menyesuaikan hari raya umat muslim. Yang di setiap kemasan layak makan adalah tertera label kecil berbahasa Arab terbaca“halal”.

Maka, jangan heran pula dengan kebaikan orang-orang setempat membuat kaum LGBT turut merasa merdeka di sana. Tidak perlu memperlihatkan sikap jijiklah jika melihat dua perempuan berbikini beradu bibir di tepi pantai sehabis berselancar. Tidak perlulah sampai update status apa diam-diam mengabadikannya buat bahan berfantasi di malam hari karena itu perbuatan orang kampungan. Bali sudah menjadi home sweet home bagi para turis asing dan gaya hidup bebasnya. Di pulau lain Indonesia, penduduknya belum tentu bisa menerima adanya hubungan seperti itu, minimal tidak dijadikan bahan lelucon penuh hinaan sepanjang waktu oleh orang-orang yang katanya berpendidikan dan beragama hingga entah siapa yang sebenarnya perlu ditertawakan.

Saya pernah berkata pada seorang kawan, “Kalau mau nikah, nikah saja di luar negeri sana. Dan jangan kembali. Percuma tho, di Indonesia masih dianggap pendosa.” Hukum pernikahan yang sah kemudian berubah nihil ibarat meteor yang melewati atmosfer, hancur berkeping-keping jauh sebelum menyentuh tanah. Kalaupun sampai ke tanah, sudah berupa kepingan-kepingan tanpa makna. Paling banter jadi santapan lezat para pengrajin batu satam.

Ucapan itu meluncur dari mulut saya beberapa tahun setelah presenter kondang Amerika Serikat, Ellen deGeneres, menyematkan cincin di jari manis Portia de Rossi plus menyeret aktris Australia itu resmi sebagai warga negara Amerika Serikat. Jika kami bukan sahabat, pastilah dia langsung melempar muka saya dengan hape lalu berkata, “Emangnya nikah nggak pake duit!”

Saya tahu kok, nikah sesama jenis biayanya lebih mahal ketimbang yang lawan jenis ijab kabul di kantor KUA. Dan setelah menikah pun tidak mungkin tinggal di lingkungan yang isinya orang-orang nyinyir dan senang bergunjing. Dekat masjid pula yang tiap ceramah sengaja speaker-nya disetel agar terdengar sampai radius dua ratus meter dan temanya kok ya kebetulan tentang sejarah kaum Nabi Luth melulu. Mau punya anak pun masih nyari-nyari siapa yang mau jadi donor sperma atau ibu bayi tabung. Mencari berita di internet eh malah nemunya fatwa MUI nomor 57 Tahun 2014. Jangan memimpikan hidup yang ideal jika kau seorang LGBT yang tinggal di lingkungan tak bisa diajak kompromi dengan pilihan hidup semacam itu. Lebih baik berpura-pura menjomblolah dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Niscaya orang lama-kelamaan akan lupa menanyakan, “Kapan lu kawin?” atau, “Pacar lu yang mana, sih?”

Larangan keras atas pernikahan sejenis belum mendapatkan dukungan pemerintah. Masih belum diputuskan juga undang-undang yang secara jelas membatasi ruang gerak LGBT yang hendak membina rumah tangga. Majelis Ulama Indonesia tentu tidak bisa mengatur gerak-gerik seluruh penduduk Indonesia, terlebih bagi yang: 1. Bukan seorang muslim, 2. Muslim taat tapi progresif, 3. Muslim tapi cuma hafal Pancasila bukan Juz Amma, 4. Sebenarnya ateis tapi di kolom agama di KTP harus diisi.

Seberapa patuh umat Islam dengan fatwa-fatwa haram versi MUI? Orang-orang awam saja masih sulit menjauhi “yang haram-haram” tapi enak, versi Tuhan. Yang doyan nenggak bir, yang langganan tongseng jamu, yang bobok siang malam sama pacar. Bagaimana dengan yang ditetapkan haram belakangan ini, mengikuti setiap perkembangan baru di negara kita, keharaman rokok, golput, nikah beda agama, infotainment, SMS berhadiah, Syi’ah, hingga beryoga? Tidak ada kepentingan saya yang terusik dengan fatwa-fatwa haram MUI, tapi kok ya saya juga tidak merasa diuntungkan dengan itu semua. Semoga ke depannya, MUI tidak mengeluarkan fatwa haram ngekos atau makan ramen.

Gagasan seputar undang-undang larangan pernikahan sesama jenis lagi-lagi timbul tenggelam di antara tumpukan rancangan undang-undang yang sedang digodok DPR saat ini. Sembari menunggu, di pihak lain, gerakan bawah tanah akan terus berproses selangkah demi selangkah. Seremonial-seremonial yang menyerupai prosesi pernikahan tidak hanya terjadi lagi di Bali. Pasangan-pasangan yang akhirnya merasa tenang karena adanya sebuah ikatan sudah makin terhitung jari-jari tangan. Jangan tanyakan apakah mereka tidak pingin benar-benar berstatus resmi. Pingin banget! Menikah itu satu dari sekian penanda sisi manusiawi manusia.

Kita mengenal HAM, punya aktivis-aktivis dengan totalitas berjuang untuk melawan sekian banyak pelanggaran. Bukan hanya hak seorang LGBT, tapi sederetan pelanggaran hukum masih belum menemui titik terang. Bertahun-tahun menghadapi jalan buntu, karena pelakunya punya tameng tebal dan mampu memantulkan setiap serangan yang datang. Akhirnya, korban-korbannya hanya bisa mengharap datangnya keajaiban. Peradilan yang seadil-adilnya. Tanggal 11 November 2000, penyerangan sebuah ormas Islam di acara Kerlap-Kerlip Warna Kedaton Kaliurang hanyalah satu dari perbuatan tidak menyenangkan terhadap kaum LGBT. Seminar-seminar LGBT sering mendapat ancaman sehingga dibubarkan oleh polisi sebelum menjadi rusuh dan memakan korban. Artikel-artikel dari sejumlah media berbasis agama selalu mengarahkan para pembacanya untuk memiliki kebencian yang sebesar-besarnya menganggap LGBT sebagai penyakit berbahaya yang akan merusak generasi muda, jauh lebih berbahaya dari rokok campuran ganja yang didapatkan dengan harga murah atau video porno amatiran terinspirasi oleh Ariel-Luna Maya yang khilaf.

Apalah daya kaum LGBT. Tuhan saja melaknat. Manusia pun merasa berhak menjadi tangan dan kaki Tuhan tanpa menunggu bisikan dari malaikat. Jangankan mau mengikat janji suci dengan pasangan sehidup semati, mengucap, “Saya ini gay” di depan keluarga saja gemetar dan keringat dinginnya bukan main. Ya, kisah percintaan happy ending pasangan LGBT hingga ke jenjang pernikahan memang mudah ditemui dalam film-film layar lebar, bukan realitas di mana segalanya lebih rumit dan sulit ditoleransi. Dan satu kutipan bijak untuk mengakhiri tulisan ini:

Happiness can exist only in acceptance.

-George Orwell-

Tags:

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co