Perspektif Bidak Catur dalam Sepak Bola

in Extra by

catur sepak bola 2

Catur dan sepak bola merupakan dua olah raga untuk kaum pemikir. Sama-sama membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi serta menggunakan taktik strategi yang jitu dalam permainannya. Namun, tak banyak pelatih atau pemain sepak bola yang berasal dari pemain catur. Umumnya, orang hanya memainkan catur sebagai pengisi waktu senggang. Begitu pula, jarang dijumpai pemain catur yang beralih profesi menjadi pelatih atau pemain sepak bola.

Padahal jika ada, bisa saja menjadi pelatih atau pemain sepak bola yang hebat. Membayangkan Garry Kasparov, Anatoly Karpov, Magnus Carlsen, Vladimir Kramnik, maupun pecatur-pecatur dunia lain beralih profesi menjadi pelatih sepak bola pasti sangat menarik. Mereka tentu akan menerapkan taktik strategi yang tak kalah jitu dari Pep Guardiola, Jose Mourinho, Diego Simeone atau Carlo Ancelotti.

Tak bisa dipungkiri, catur dan sepak bola memang tak jauh berbeda. Ini terbukti dengan adanya sejumlah prespektif bidak catur dalam sepak bola.

Pertama

Mulai dari bidak Raja. Di sepak bola, diumpamakan kiper. Mengapa bukan playmaker atau kapten? Karena kiper di sepak bola mempunyai peran penting sebagai orang terakhir di depan gawang.

Perannya sama seperti bidak Raja di catur yang dilindungi agar tak terkena sekakmat. Kiper juga begitu. Ketika kiper mendapat cedera di tengah pertandingan maka wasit akan segera menghentikan pertandingan sementara waktu. Lalu pada saat tendangan bebas langsung maupun tidak, para pemain lain akan membentuk pagar betis untuk membantu kiper dari kebobolan gol.

Kedua

Beralih ke bidak Benteng. Di sepak bola, bidak Benteng bisa diumpamakan pemain bertahan. Sama seperti bidak Benteng yang gerakannya kanan kiri mendatar, naik dan turun. Dalam membantu penyerangan, pemain bertahan dalam sepak bola juga sering ikut naik, lalu kembali turun ketika mendapat serangan balik.

Ketiga

Lalu bidak Kuda yang jalannya mirip huruf L. Di catur, peran bidak Kuda cukup penting karena sering kali menjadi penentu kemenangan. Pergerakan bidak Kuda yang tak terduga bisa membuat lawan terkena sekakmat. Maka tak heran, bidak Kuda yang pertama kali harus dimakan dulu. Di sepak bola, bidak Kuda mirip seperti peran playmaker dalam mengoordinasikan permainan. Jika peran playmaker bisa dimatikan, tentu akan menjadi awal yang buruk bagi permainan tim.

Keempat

Ada juga bidak Menteri yang jalannya miring. Di sepak bola, bidak Menteri diumpamakan pemain sayap. Bergerak menyisir pinggir, lalu tak jarang ikut menusuk masuk ke dalam daerah pertahanan lawan, atau langsung mengirimkan umpan-umpan matang pada penyerang.

Kelima

Setelah itu, ada bidak Ratu. Di catur, bidak ini menjadi yang kedua yang harus dimakan dulu jika ingin menang. Karena bidak Ratu, pergerakannya memang tak terbatas atau bebas bergerak kemana pun. Di sepak bola, bidak Ratu memang tepat diumpamakan sebagai penyerang. Pergerakannya harus bisa dimatikan oleh pemain bertahan.

Keenam

Jangan dilupakan bidak Pion. Dalam catur, peran bidak Pion tak bisa dianggap remeh. Karena ikut juga memberikan dukungan bagi terciptanya kemenangan. Apalagi jika sudah berada di barisan belakang pertahanan lawan, bidak Pion akan berganti menjadi Perdana Menteri, Kuda, Benteng atau Menteri.

Di sepak bola, bidak Pion diumpamakan suporter. Mirip bidak Pion di catur, suporter selalu berada di garda terdepan membela kehormatan klub. Tak sedikit supoerter yang menjadi korban. Bahkan ada yang harus pula kehilangan nyawa.

Benang Merah

Perspektif bidak Raja, Benteng, Kuda, Menteri, Ratu dan Pion dalam sepak bola memang menarik. Masing-masing mempunyai peran penting dan juga berbeda. Namun semuanya harus bekerja sama dan bisa saling melengkapi karena bertujuan sama yakni meraih kemenangan. Itulah benang merahnya.

Yogyakarta, 2016

Herumawan P.A.

Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta.

Latest posts by Herumawan P.A. (see all)