Pesan Moral

in Cerita Pendek by
pinimg.com

Hari itu aku pulang sedikit lebih malam dari biasanya. Di sebuah depaato (dari department store—penerj.) tak jauh dari stasiun sedang ada obral besar-besaran untuk beberapa jenis daging dan sayuran, dan aku sengaja mampir dulu ke sana; menghabiskan waktu di sana sekitar setengah jam—empat puluh menitan jika waktu tempuh dari stasiun ke sana pun dihitung. Tak ada sama sekali firasat atau perasaan tak enak yang biasa menghubungkanmu pada akan terjadinya sesuatu yang buruk. Apa yang kurasakan saat itu biasa-biasa saja; sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku bahkan sesekali bernyanyi saat mengayuh sepeda dari depaato itu ke rumah. Cuaca juga, kebetulan, sedang enak. Langit cerah-lengang dan tampak tidak akan turun hujan. Angin yang seperti datang cepat dari depan menyusupkan semacam rasa hangat ke dalam diriku dan dengan sendirinya aku pun tersenyum.

Di sepanjang perjalanan bersepeda itu, aku benar-benar masih tidak merasakan sesuatu buruk apa pun. Beberapa gambaran tentang apa-apa yang kulakukan di pabrik seharian itu melintas di benakku; melintas dan hanya melintas; menjadi semacam latar pengiring untuk lagu-lagu yang kunyanyikan. Muncul juga wajah-tersenyum seorang rekan kerjaku, yang darinya aku mengetahui obral besar-besaran tadi—ia mengaku tahu itu dari seorang teman-dekatnya yang tinggal tak jauh dari depaato tersebut. Aku sejatinya lelah sebab berjam-jam di pabrik adalah berjam-jam penuh aktivitas fisik—aku mengangkut (dan mendorong) kardus-kardus berisi bahan makanan untuk kemudian kutata dan kucatat—dan benar aku merasakannya di kedua bahuku. Namun, entah kenapa, aku justru seperti bahagia; suasana hatiku begitu segar layaknya rumput-rumput di halaman belakang rumah yang baru saja dikenai hujan. Seandainya saat itu seseorang sedang merekamku dengan handycam dan memfokuskan pengambilan gambar pada wajahku, bisa jadi ia mendapati kedua pipiku bersemu merah, seperti aku sedang jatuh cinta.

Dan perasaan nyaman tersebut masih melingkupiku ketika aku tiba di rumah, ketika aku menginjakkan kaki di genkan (ruang pemisah antara pintu depan dan ruangan utama—penerj.) dan melepaskan sepatuku di sana, ketika aku berada di kamar mandi dan mengambil gelas dan mengisinya dua kali dengan air keran, ketika aku menutup pintu toilet dan setelahnya buang air kecil dan bersih-bersih, ketika aku membuka pintu ofuro (kamar mandi ala Jepang dengan bak persegi panjang yang besar—penerj.) untuk mengecek apakah anakku sudah menyiapkannya atau belum, juga ketika aku memasuki ruangan utama menyalakan televisi dan menontonnya sejenak dan setelahnya menaiki tangga. Dan ternyata, begitulah. Setelah mendorong pintu kamar anakku, aku mendapati anakku itu mati. Beberapa meter di samping kirinya seorang lelaki yang adalah kekasihnya juga mati, dengan kondisi yang berbeda.

___

Di tempat tidurnya, anakku terbaring menelentang dengan mata terbuka—membelalak. Pisau dapur yang biasa kugunakan untuk memotong-motong sayuran tertancap di dadanya, dan darah membual-mengental dari sana menyisakan sebentuk pulau asing di kaus kuning yang dikenakannya. Sebagian dari noda itu ada juga yang meluas ke sisi kiri kausnya; menggantung, tertahan—seperti lelehan cokelat pada ujung gelas. Sementara kekasihnya, yang berada di lantai tak jauh dari tempat tidur, hampir-hampir menelungkup. Ia agaknya mati tercekik sebab seikat tali tebal meliliti lehernya—matanya juga membelalak dan lidahnya menjulur keluar. Sisa tali yang membantunya melepaskan diri dari kehidupannya itu terlihat di atasnya, jatuh tegak ke bawah dan mati—tak bergerak. Sebuah kursi, tergeletak tak jauh dari kakinya. Lampu di kamar itu menyala.

Barangkali semestinya reaksiku saat itu adalah berteriak, histeris, bahkan pingsan. Tetapi justru, aku malah begitu tenang. Aku tak meneriakkan atau mengatakan apa pun. Bahu dan tanganku tak gemetar, begitu juga kakiku. Ketika aku melangkah, memasuki kamar itu, aku tidak dalam keadaan tertekan oleh sisa kematian dua sosok itu. Benar, yang mati di kamar itu salah satunya anakku, anak kandungku, anak perempuanku yang kusayangi. Namun, entah bagaimana menjelaskannya, aku seolah-olah dengan mudahnya memafhumi kepergiannya; aku seperti merelakan ia terlepas dari penderitaannya lebih dulu meski dengan cara seperti itu. Soal kekasihnya, aku jelas tak peduli. Tetapi mungkin tetap saja semestinya ada kengerian yang kurasakan saat menghampirinya dan mengamati mayatnya.

Kekasih anakku ini seorang gaijin (sebutan untuk orang asing, terutama yang tinggal di Jepang—penerj.). Bukan dari Eropa, tapi dari salah satu negara di Indocina. Aku tidak menyukainya di detik pertama aku melihatnya dan aku masih tidak menyukainya di detik aku mendapati ia tinggal seonggok mayat—bisa jadi dengan tingkatan yang lebih tinggi. Ia telah memacari anakku selama kira-kira dua tahun, dan yang sering kudengar tentangnya dari anakku adalah keangkuhannya sebagai seorang lelaki—orangnya tinggi meski sedikit kurus; ia juga payah dalam mengendalikan amarahnya dan ia bisa dengan entengnya memaki-maki anakku di saat ia sedang kesal—ini aku menyaksikannya sendiri di beberapa kesempatan. Sejak lima bulan yang lalu ia tinggal bersama kami, di rumah kami. Ide ini sebenarnya gila dan yang mengajukannya adalah dirinya sendiri, dan aku harus menolaknya, tentu saja. Tetapi anakku, justru, menginginkan itu terjadi. Alasan yang ia kemukakan membuatku seketika putus asa dan sakit hati: ia mengatakan si gaijin itu bisa menjamin kami, atau paling tidak dirinya, secara finansial.

___

Sejak suamiku meninggal karena serangan jantung hampir tiga tahun lalu, aku dan anakku harus benar-benar berhemat untuk bisa bertahan hidup. Anakku kala itu baru mulai bekerja di sebuah restoran; gajinya tidak besar dan aku sendiri tak bekerja. Kami merasakan sendiri bagaimana beratnya menjalani hidup berbulan-bulan sampai akhirnya anakku merelakan dirinya melakukan sesuatu yang sebelumnya dibencinya—menjadi seorang hostess di sebuah kelab malam. Aku sesungguhnya ingin menentang keras-keras pilihannya itu, sebab bagaimanapun itu bukanlah pekerjaan yang bisa kau nilai baik. Namun jauh di dalam hatiku, aku menyadari: kami butuh uang dan memperolehnya tidaklah mudah.

Aku sendiri mulai bekerja paruh waktu di sebuah toko bunga tak jauh dari rumah beberapa lama setelah anakku menjadi seorang hostess. Tujuannya, tentu saja agar kami beroleh uang bulanan yang lebih banyak, meski tak bisa kupungkiri ada semacam keinginan untuk menunjukkan kepada anakku bahwa aku pun bisa berguna; aku bukan parasit yang hanya bisa hidup dengan mengandalkannya dan mengandalkannya. Apakah dari segi finansial itu membantu? Sedikit. Anakku itu sendiri pada akhirnya banyak menghambur-hamburkan uangnya untuk kesenangannya sendiri; seakan-akan ia ingin menegaskan bahwa ialah yang mencari uang itu dan ialah yang memilikinya. Bulan demi bulan berlalu, tahun berganti, dan kehidupan kami tak juga membaik. Dan muncullah si gaijin itu, di kehidupan anakku.

          Si gaijin ini adalah pelanggan anakku di kelab malam tempat ia bekerja dan ia punya banyak uang dan entah bagaimana anakku tertarik padanya; ia bahkan mengabulkan permintaan si gaijin agar ia tak lagi bekerja sebagai hostess di kelab malam itu—tidak juga di kelab malam mana pun. Semestinya ini mungkin kabar baik; sekaligus peluang juga bagiku untuk melihatnya sebagai sosok protagonis dalam kehidupan kami. Akan tetapi, kenyataan bahwa setelah itu anakku jadi dibuatnya sangat bergantung padanya, menghapus peluang itu. Si gaijin ini dengan angkuhnya mengatakan akan membantu anakku dari segi finansial sampai ia memperoleh pekerjaan yang baik untuknya, dan ia benar-benar melakukannya; ia memberi anakku itu uang bulanan dan ia tidak jarang menemaninya berbelanja dan membelikan anakku apa-apa yang anakku itu inginkan. Anakku pun pada akhirnya melupakan niat awalnya; ia tak lagi berusaha mencari pekerjaan—yang baik untuknya itu—dan semakin mengandalkan si gaijin untuk kelangsungan hidupnya. Aku tadi bilang aku ingin menunjukkan kepada anakku bahwa aku bukan parasit. Ternyata, malah anakku yang jadi parasit.

Dari mana si gaijin memperoleh kekayaan yang melimpah itu? Jujur saja, aku tidak tahu. Anakku hanya pernah bilang bahwa ia pengusaha dan apa yang dikelolanya adalah sesuatu yang besar. Sebesar apa? Barangkali sebesar keangkuhannya. Ia bisa jadi terlibat dalam sebuah bisnis ilegal yang melibatkan orang-orang penting, atau orang-orang luar, atau orang-orang jahat. Aku pada akhirnya tak peduli. Toh aku merasa tak pernah memakan sepeser pun uang misteriusnya itu.

Mudah ditebak bahwa dengan begitu bergantungnya anakku pada si gaijin maka lelaki itu jadi merasa punya hak untuk berlaku dominan dan sesuka-hati. Pertama kali anakku membawa si gaijin ke rumah adalah tak lama setelah hubungan mereka berkembang ke arah sana; aku bahkan sudah bisa membacanya dari bahasa tubuh mereka berdua dan itu sejujurnya membuatku jengkel. Si gaijin ini tidak tampan, dan aura yang dipancarkannya juga tidak baik. Di sepanjang kami mengobrol ia banyak menoleh ke sana-sini seperti tengah menakar seberapa menyedihkan hidup kami dan seberapa jauh ia harus membantu kami—secara finansial. Ia mengaku berencana untuk menetap di negeri ini dan beroleh status kewarganegaraan, yang artinya: suatu saat ia akan meminta anakku menikah dengannya. Aku ingin sekali menyela ocehannya saat itu dan mengatakan padanya bahwa aku tak akan mengizinkannya; aku bahkan tak akan membiarkan itu terjadi. Akan tetapi, rupa-rupanya, aku hanya diam saja; senantiasa memasang senyum palsu di hadapannya.

Dan tibalah hari di mana si gaijin akhirnya tinggal bersama kami, di rumah kami. Itu sungguh hari yang menjengkelkan. Ia tidur di kamar anakku dan sudah pasti mereka melakukan “banyak hal” di sana selama aku tak ada, selama aku sedang bekerja paruh-waktu atau sedang berbelanja. Sebenarnya aku curiga juga mereka melakukannya saat aku sedang tidur; suatu kali aku pernah terbangun sekitar pukul dua dan aku seperti mendengar bunyi-bunyi semacam itu dan itu benar-benar membuatku kesal. Akan tetapi, hal tersebut sebenarnya belumlah apa-apa. Yang paling membuatku kehilangan kenyamanan adalah melihat sosoknya di rumah ini, setiap hari, setiap waktu, seakan-akan ia telah menghuni rumah ini sejak lama.

Beberapa minggu setelah ia tinggal bersama kami, aku memutuskan berhenti bekerja di toko bunga. Tentu aku butuh uang untuk diriku sendiri, sebab aku tidak pernah mau menyentuh sepeser pun uang yang ditawarkan si gaijin kepadaku. Tapi lebih dari itu, aku butuh tak melihatnya; aku butuh berada jauh darinya; aku butuh tak menyaksikan ia bertingkah layaknya kepala keluarga atau sosok dominan di rumah ini. Untuk mewujudkannya aku mencari pekerjaan lain yang jauh dari rumah, dan aku menemukannya beberapa hari kemudian—pekerjaanku di pabrik itu. Hampir satu jam perjalanan dengan kereta. Itu cukup menjanjikan bagiku. Dan di sana aku bekerja penuh-waktu, di mana ini lumayan membuatku lega. Aku tetap bertahan hidup dengan uangku sendiri, dengan usahaku sendiri. Setidaknya dengan begitu aku bisa menjadi tempat bergantung anakku kelak seandainya ia tidak lagi bersama si gaijin itu—sesuatu yang tentunya kuharapkan.

Hubungan anakku dengan si gaijin mulai memburuk di satu bulan terakhir sebelum malam itu. Aku tak tahu akar masalahnya apa. Dan tak mau tahu juga, sebenarnya. Agak aneh memang aku tidak berusaha mencari tahu hal ini semisal menanyakannya langsung kepada anakku, sebab bagaimanapun itu terjadi di depan mataku dan salah satu pihak yang terkena dampaknya adalah anakku, anak perempuanku yang kusayangi. Tapi aku tak melakukannya. Sudah kelewat kesal barangkali aku. Atau bisa jadi aku sebenarnya kecewa berat terhadap anakku, sejak lama, dan kekecewaan ini terus kubiarkan mengendap dan mengendap di dalam diriku, membuatku pada akhirnya seperti itu. Sebelum satu bulan terakhir itu aku beberapa kali mendengar si gaijin memarahi anakku, meneriakkan kata-kata kasar kepadanya. Di satu bulan terakhir itu, frekuensinya melonjak drastis. Dalam seminggu bisa tiga atau empat kali.

Dua hari sebelum malam itu adalah kali terakhir aku mendengar caci-maki si gaijin. Menariknya, anakku kali itu tidak diam saja, tetapi balas mencaci, bahkan dengan nada tinggi—hampir-hampir berteriak. Diam-diam aku senang dan memuji reaksinya itu. Sambil memotong-motong sayuran, aku membayangkan pertengkaran mereka itu terjadi di depan mataku, persis di hadapanku, dan itu membuatku tersenyum dan mengangguk-angguk. Entah kenapa tebersit juga niat menyodorkan pisau yang kupegang itu kepada anakku untuk kemudian ia tikamkan ke perut si gaijin. Dan ternyata, yang terjadi dua hari kemudian, adalah sebaliknya.

___

Sebab kulit anakku saat itu masih hangat, pastilah pisau itu belum lama ditikamkan si gaijin ke dadanya. Bisa jadi saat aku masih di kereta. Atau bahkan, saat aku sedang mengayuh sepeda dari stasiun ke depaato. Mereka berdua pastilah bertengkar lagi dan anakku membantah lagi dan terjadilah semua itu dengan cepat—si gaijin menjatuhkan anakku ke tempat tidur dan pisau itu melesak cepat menghantam dada anakku dan rasa sakit membuatnya terhenyak dan kemudian ia mati. Soal pisau itu sendiri, dugaanku, anakkulah yang membawanya. Pertengkaran itu mungkin diawali di dapur, memanas, lalu anakku mengambil pisau itu dan si gaijin dengan kondisi fisiknya yang dominan berhasil menahan anakku dan mendesaknya ke kamar. Aku bisa membayangkannya, dengan jelas, meski entah kenapa aku masih saja baik-baik saja. Malam itu di kamar tersebut aku terdiam cukup lama—ada barangkali setengah jam. Dan yang kumaksud “terdiam” di sini adalah diam dan tak melakukan apa pun. Di pinggir tempat tidur, aku duduk. Aku menghadap ke arah pintu yang terbuka penuh dan sesekali aku memandangi si gaijin dan sesekali anakku. Aku teringat pada belanjaanku yang kutaruh di meja makan. Aku teringat juga pada ofuro yang belum kusiapkan. Aku lelah, mulai mengantuk, tetapi aku baik-baik saja.

___

Begitulah yang sebenarnya terjadi. Yang terekspos ke media jauh berbeda dan itu memang sesuatu yang kusengaja, meski sejujurnya aku tidak tahu juga motifku apa. Jadi, setelah puas hanya terdiam itu, aku mencabut pisau dapur dari dada anakku, lalu menghampiri si gaijin, duduk berlutut di sampingnya, lantas menikamnya di punggungnya berkali-kali, berkali-kali, sampai-sampai cipratan darah mengotori kaus dan celanaku. Setelah itu aku menggeser tubuhnya, membuatnya menelentang, dan kembali aku menikamnya berkali-kali, kali ini di dadanya. Tentu saja ia tidak bereaksi apa-apa karena ia sudah mati. Matanya masih membelalak, dan lidahnya masih menjulur. Aku pegang lidahnya itu dan aku memotongnya seperti memotong daging. Terakhir, saat tersadar tali tebal itu masih melilit di lehernya, aku memotong tali tersebut, dan menikamkan pisau itu di sana, di lehernya, berkali-kali.(*)

Bogor, 2017

Ardy Kresna Crenata

Ardy Kresna Crenata

Tinggal di Bogor. Ia bergiat di Wahana Telisik Seni-Sastra dan Rumah Belajar.
Ardy Kresna Crenata

Latest posts by Ardy Kresna Crenata (see all)