Poros Semesta

in Tajalli by

Alam semesta ini bukanlah sepur gila yang berlari serampangan dan ugal-ugalan dengan seenak perutnya sendiri. Bukan tanpa rel dan tanpa hukum kehidupan. Semua berjalan dengan irama keteraturan yang pasti, dengan melodi, harmoni, dan keseimbangan yang sejati.
Keteraturan semesta itu bertumpu pada sebuah sumbu atau poros yang merupakan fondasi paling utama bagi rancang bangun dan tegaknya proses-proses kehidupan. Dari zaman keazalian sampai keabadian, dari ujung paling barat sampai ujung paling timur, dari tepi paling utara sampai tepi paling selatan, dari seluruh rangkaian wujud, semuanya senantiasa mengitari poros itu dengan penuh khidmat dan kepatuhan.
Sampai sesaat sebelum Nabi Adam diciptakan dengan kedua tangan Allah Ta’ala sebagai manusia pertama, sumbu semesta itu diampu secara langsung oleh al-Haqiqah al-Muhammadiyyah atau cahaya primordial Nabi Muhammad Saw. yang merupakan gerbang satu-satunya bagi segala yang ada dari kalangan makhluk. Selama jutaan atau bahkan miliaran tahun ia menjadi poros alam raya.
Ketika Nabi Adam diciptakan sekaligus dinobatkan sebagai khalifah yang mesti memerankan kehadiran hadiratNya di dalam mengelola kehidupan dan menjadi sais bagi perjalanan sejarah, maka poros itu diejawantahkan secara lebih gamblang oleh leluhur seluruh umat manusia itu. Dalam konteks ini, sumbu semesta itu tidak hanya eksis secara batiniah belaka sebagaimana sebelumnya, tapi juga bernuansa lahiriah yang memang sangat korelatif dengan realitas alam semesta yang empiris ini.
Tidak ada satu zaman pun di mana seorang nabi diutus kecuali dia menjadi poros bagi alam semesta dengan denyut kehidupan yang menyertainya. Generasi demi generasi silih berganti. Tumbang dan tumbuh lagi. Begitulah seterusnya. Demikian pula dengan para nabi yang diutus untuk senantiasa membimbing mereka. Dan para nabi itu adalah poros demi poros yang bergantian menjadi nakhoda bagi perjalanan kereta semesta dan kehidupan ini.
Poros demi poros itu silih berganti. Tapi pergantian itu hanya berlangsung pada dimensi lahiriahnya semata. Batiniah mereka tetaplah dihuni oleh al-Haqiqah al-Muhammadiyyah atau cahaya primordial Nabi Muhammad Saw. Itu sebabnya kemudian bisa diungkapkan bahwa secara hakikat mereka sebenarnya satu jua. Kemudian orang-orang yang beriman secara hakiki dengan tegas memberikan pengakuan dengan suatu pernyataan sebagaimana direkam dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 285: “Kami tidak membeda-bedakan di antara seseorang dari kalangan para utusanNya itu.”
Perbedaan di antara para nabi itu sama dengan perbedaan di antara berbagai macam gelas. Ukuran gelas-gelas itu tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Demikian pula bentuk, ukiran, dan warnanya. Tapi secara substansial isi dari masing-masing gelas itu sama. Lidah rohani yang sehat pasti bisa merasakan adanya kesamaan itu. Tidak mungkin tidak.
Dan pada periode kerasulan Nabi Muhammad Saw. poros alam semesta itu betul-betul mencapai puncak kesempurnaan yang tidak pernah terbayangkan untuk dicapai baik sebelum maupun sesudahnya. Karena secara lahiriah beliau merupakan satu-satunya wadah yang paling mumpuni, luas dan tangguh untuk dihuni sekaligus mengejawantahkan seluruh nilai yang terkandung di dalam al-Haqiqah al-Muhammadiyyah itu.
Setelah periode kenabian dan kerasulan beliau, poros alam semesta itu diperankan oleh para wali quthub yang senantiasa silih berganti hingga hari ini. Selama poros itu masih ada, kehidupan alam semesta ini akan terus berjalan. Dan ketika telah ditarik oleh hadiratNya, dunia ini akan ambruk. Lalu, terbentanglah hamparan akhirat dan keabadian. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)