Presisi di Kamar Ganti

in Cerita Pendek by
untuk cerpen Gunawan Tri Atmodjo
pinterest.com

Shakespeare menulis cerita ini ketika harga dirinya tergores. Seorang wartawan senior dari Tabloid Infotainment Sastra, yang akan mengadakan Anugerah Pengarang Terpopuler Sepanjang Masa, membocorkan sebuah informasi penting bahwa ia akan bersaing ketat dengan JK Rowling untuk meraih predikat paling masyhur ini. Dari angket yang sudah masuk ke redaksi, perbedaan perolehan angka di antara keduanya terbilang tipis. Responden yang berasal dari masyarakat pembaca seluruh dunia secara umum terbelah menjadi dua kutub besar ini.

Shakespeare memang patut merasa waswas. Reputasi JK Rowling sebagai pengarang sangat menggetarkan. Ia disanjung-sanjung banyak kalangan, terutama penggemar garis kerasnya sebagai penulis fiksi perempuan paling moncer di dunia. JK Rowling juga ditahbiskan sebagai miliarder karena seri novel Harry Potter-nya jadi best seller di seluruh dunia. Novelnya difilmkan dan selalu menjadi box office. Para calon penonton harus mengular panjang di depan loket untuk mendapatkan tiketnya.

Shakespeare merasa predikatnya sebagai penulis paling dikenal sepanjang sejarah terancam. Apalagi kandidat pelengsernya adalah seorang perempuan. Hal paling menyakitkan baginya adalah jika kalah dari perempuan. Tak ada istilah kesetaraan gender dalam kamus hidupnya. Ia tak ingin sekadar jadi dagelan zaman, berjaya di masa lalu tapi berakhir mengenaskan karena ditelikung pengarang perempuan.

Pesan dari wartawan senior itu jelas tertangkap. Shakespeare harus mendongkrak kembali popularitasnya. Ia harus kembali menulis, membumi, dan eksis. Rentang waktu malam penganugerahan masih cukup panjang sehingga ia masih punya cukup waktu untuk mengarang cerita baru yang akan mengenalkannya kembali kepada publik pembaca muda.

Detik itu juga, Shakespeare memutuskan menulis cerita dengan tokoh-tokoh yang pernah dilahirkannya. Tokoh-tokoh yang telah begitu melegenda di benak tiap pembaca yang kemungkinan besar akan menjadi karya fenomenal yang laris di pasaran. Sebuah dekonstruksi mematikan telah ia rancang untuk menyayat imajinasi calon pembaca. Amunisi-amunisi fantasi telah meruncing di ujung kata-kata. Semua itu semata demi gelar pengarang paling populer sepanjang masa. Maka di pagi yang tak begitu indah itu Shakespeare mulai menulis kisah.

Dalam kehidupan kedua, Romeo menampakkan sifat aslinya. Tiada lagi profil seorang pria setia yang menggenggam sebutir cinta hanya untuk seorang wanita sampai akhir hayatnya. Kesetiaan telah luruh, terbentur keras tembok realitas. Masih terngiang jelas ratap tangisnya di alam kubur ketika menyesali kebodohannya semasa hidup di dunia. Di liang lahat ia tak henti berbalas ode dengan penghuni kubur lainnya. Seperti orang mati lainnya, ia berharap untuk hidup kembali walau hanya sehari saja. Hingga akhirnya, Shakespeare memberi kesempatan padanya untuk menjalani kehidupan kedua.

Sekarang Romeo sudah menjelma lelaki malam. Pekerjaannya hanya ngelayap dari satu kafe ke kafe lainnya, dari satu diskotek ke diskotek lainnya. Dugem adalah pilihan utama hidupnya. Karaoke adalah pilihan keduanya. Tak ada satu pun pub atau klub malam di kota ini yang tak mencatat namanya sebagai anggota tetap. Tapi lagi-lagi kenyataan tak selamanya berpihak kepadanya. Kondisi ekonomi yang bergejolak menjadikannya tak selalu dapat untuk menyalurkan bakat dan minat, sedang nafsu kian sulit disiasati. Maka, lokalisasi menjadi alternatif pilihan, ekonomis meski sedikit berisiko.

            “Selamat tinggal cinta sejati, kau sudah menjelma noda di sempak lelaki hidung belang, atau bekas ciuman menghitam di payudara perempuan malam.”

            Petualangan begitu panjang. Lenguh pada tubuh menggelinjang sesaat merasuk kemudian hilang. Menanti keinsyafan datang bagaikan mengurai pasir di padang gersang. Tapi garis hidup seseorang siapa mampu memastikan, selain Shakespeare si pengarang.

            Pada sebuah keremangan yang pekat, Romeo menemukan masa lalunya yang hilang. Seorang bidadari yang baru bangkit dari kerak kuburan memincut mata dan hatinya. Cinta pada pandangan pertama, hal yang paling diharamkan bagi lelaki malam, menjangkitinya.

            Perempuan itu bernama Ophelia, primadona di sebuah lokalisasi terpencil di pinggir kota, yang menghanyutkan ribuan duka dalam matanya. Memaksa Romeo membeli bunga eceran dan sebuah cincin imitasi untuk melamarnya. Dan, Ophelia hanya mengangguk, menyetujuinya.

***

Setelah menuntaskan dendam pada pamannya, Hamlet menjadi seorang yang gila kerja. Waktu istirahatnya teramat singkat. Dengan bantuan beberapa ahli, ia berhasil melipatgandakan kekayaannya. Hal itu tampak jelas dalam neraca inventarisasi harta kerajaan terakhir. Naluri bisnisnya yang tinggi juga membuatnya gemar berinvestasi. Mulai dari peternakan kuda, industri agrobisnis, sampai pemilikan klub sepak bola. Matanya yang kebiruan telah mencekung hitam. Hanya deretan angka-angka yang membayang di sana. Ya, ia sudah lupa untuk memikirkan seekor makhluk bernama cinta.

Kerajaan itu pun tidak dibangun atas dasar cinta. Sebab cinta tidak pernah lahir dari pertumpahan darah, perang saudara, dan semacamnya. Cinta hanya lahir dari keikhlasan memberi dan penyerahan tanpa syarat. Suatu kekuasaan yang dibangun tanpa cinta akan menjadi tiran, monster haus darah yang selalu meminta korban. Itulah ucapan sakti seorang pemuka agama pada acara santapan rohani di televisi yang selalu ditelan mentah-mentah dan dimuntahkan kembali oleh Hamlet setiap dini hari sejak mengidap insomnia.

Sadar atau tidak sadar, rela atau tidak rela, karena kekayaan dan popularitasnya, Hamlet pun menjadi publik figur, orang terkenal alias selebritas yang setiap gerak-geriknya selalu diintai kamera. Sebagai imbalan dari status barunya, ia harus sedikit merelakan kehidupannya menjadi milik orang banyak. Ia harus selalu membuka pintu lebar-lebar untuk setiap wartawan, baik dari berita serius ataupun kacangan, yang ingin mengorek ludahan kata-katanya. Hamlet juga mulai sering mendapat undangan untuk menghadiri pesta para pejabat dan pesohor lainnya. Pertama kali ia malas menghadirinya tapi lama-kelamaan ia merasa asyik juga dan mulai kecanduan. Siang kerja, malam pesta, dan ia merasa gembira.

Nasib selalu berputar-putar dengan cadar gelap lagi senyap. Hidup tidak cukup hanya dengan gembira tapi harus mencapai level bahagia. Di sebuah pesta dansa, Hamlet menyadari hal ini ketika ia bertemu Juliet. Ia rasa Julietlah jalan yang akan mengantarkannya mencapai kebahagiaan.

Juliet adalah seorang artis muda, lahan gosip tapi sepi cinta. Wajah dan tingkahnya yang tidak pasaran mampu merangkum kelu di lidah dan meledakkan ribuan paku di jantung Hamlet.

Menurut hemat Shakespeare, Juliet adalah kertas kosong, Hamlet adalah pena, sedang ia ingin menulis sajak cinta, maka hal yang paling masuk akal untuk dilakukan adalah mengombinasikan keduanya menjadi sebuah senyawa yang membara.

***

Kafe itu bergetar dindingnya seolah ada ribuan jantung yang berdetak di dalamnya. Ingar suara musik membelah rongga udara, menyayat dan meletup panas di telinga. Di panggung utama, si jenius Mozart beraksi gila-gilaan. Ia memainkan orkestra seperti setan yang mengidap kelainan jiwa. Seolah ingin menyengat kebisuan Beethoven yang duduk di sudut ruangan. Tapi Beethoven tetap tenang, asyik dengan ketuliannya. Sebab ia menganggap irama paling merdu dan menyentuh perasaan adalah keheningan.

Malam ini di kafe itu akan diselenggarakan Kongres Luar Biasa Tokoh-Tokoh Fiksi se-Dunia. Anehnya tak ada tujuan jelas dalam kongres ini. Menurut panitia kongres, acara akan dibiarkan mengalir begitu saja, lebih sebagai wahana silaturahmi dan pereratan rasa persaudaraan. Jadi apa pun keputusan kongres nanti menjadi tidak begitu penting, tidak wajib sekaligus tidak mengikat. Tujuan paling hakikat adalah sebagai penanda atas eksistensi mereka di dunia nyata dalam rangka menyambut globalisasi di segala bidang, termasuk di bidang fiksi. Ya, eksistensi. Racun racikan Sartre itu bahkan telah merambah ke ranah yang tidak nyata.

Di meja yang hanya diterangi pendar lilin, tampak Sherlock Holmes dan Hercule Poirot berbincang hangat. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari kasus paling rumit yang berhasil mereka pecahkan, karier, perkembangan angka penjualan cerita detektif di pasaran, sampai dana pensiun yang terlambat mengucur. Terus terang setelah pensiun menjadi detektif keduanya praktis menganggur, hidup hanya dari royalti penjualan buku petualangan dan film yang senantiasa diproduksi ulang. Untuk masalah film, kedua detektif kawakan itu sepakat bahwa kisah mereka menjadi agak payah dan picisan.

Pada meja lain, Romeo dan Hamlet terlibat dalam diskusi menarik. Mereka coba mengkritisi kebijakan-kebijakan Shakespeare dewasa ini yang kian tidak membumi. Sementara di meja tulisnya Shakespeare hanya tersenyum kecil, ia yang menjadi sasaran pembicaraan merasa geli dengan ulah kedua tokoh rekaannya itu dan tidak menghentikan imajinasinya untuk mengakhiri sikap kritis mereka.

Malam semakin menemukan bentuknya ketika Beethoven memainkan Fur Elise. Jari-jarinya menari dengan gemulai di atas tuts piano membentuk komposisi menggetarkan sekaligus musik paling digemari orang sebagai nada dering ponselnya. Di tengah kesyahduan suasana, tiba-tiba seorang perempuan datang dan langsung mengambil tempat duduk di antara Romeo dan Hamlet.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya perempuan itu kepada keduanya.

Romeo dan Hamlet hanya mengangguk perlahan. Pembicaraan mereka terhenti, suara mereka tercekat, tersendat hanya sampai tenggorokan. Ada aura luar biasa yang sukar sekali dimaknai dalam diri perempuan itu. Ada sejenis sihir yang membuat Fur Elise-nya Beethoven menjadi biasa-biasa saja. Ada daya pikat purba tanpa tandingan bagi tiap lawan jenis yang menatapnya. Romeo dan Hamlet merasakan desiran panas dalam urat nadi mereka. Debar jantung tak terkendali yang belum pernah terasakan seumur hidup menyergap mereka.

“Cleopatra… bukankah kamu nyata? Acara ini hanya untuk tokoh rekaan, kecuali Mozart dan Beethoven sebagai bintang tamu. Lalu apa perlumu?” tanya Romeo setelah sesaat mengidap gagu.

“Shakespeare yang mengirimkanku ke tempat ini. Untuk menciptakan romantika dan tragedi, membangun konflik dalam cerita karangannya. Terlepas dari itu semua, jujur saja kukatakan bahwa aku telah jatuh cinta pada kalian berdua. Aku juga paham bahwa kalian juga akan langsung jatuh cinta begitu pertama kali melihatku secara langsung. Telah kupelajari baik-baik profil kalian berdua. Kujanjikan pada kalian sebuah kisah cinta tak terlupakan. Tapi aku tak ingin mengulang sejarah, mencintai dua orang lelaki bersamaan dalam satu waktu. Cukup Marc Anthony dan Julius Caesar yang menjadi luka masa laluku. Aku hanya ingin satu lelaki. Kalian putuskan sendiri, siapa di antara kalian yang paling pantas. Tapi ingat satu hal, ini penting, aku menginginkan lelaki yang tidak beristri. Aku tak sudi dipoligami. Bagaimana? Aku percaya iman kalian pastilah telah goyah karena aku penggoda yang tak pernah gagal. Kutunggu salah satu dari kalian satu minggu lagi di tempat ini!”

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Cleopatra berlalu. Ia pergi tapi kata-katanya seperti angin, tak terbendung dan terbantahkan. Romeo dan Hamlet hanya tercengang, memandangi siluet Cleopatra yang berangsur lenyap. Mereka saling tatap, dalam dan agak lama. Salah satu bentuk komunikasi paling misterius di dunia. Sebelum memutuskan meninggalkan tempat itu.

Dalam benak mereka sekarang hanya terbayang tubuh merangsang Cleopatra. Terbayang pinggul Cleopatra yang bulat bagai sabda yang tak bisa diralat. Mereka akan melakukan apa saja demi menjadi saksi bergulirnya sebutir peluh di paha Cleopatra.

 

***

Romeo telah menggerus sepuluh butir viagra, dua bungkus racun serangga, dan satu plastik penawar rasa menjadi serbuk-serbuk halus. Sebuah komposisi kematian yang lumayan kejam telah diraciknya. Ia akan melarutkan serbuk-serbuk itu ke dalam secangkir teh yang biasa diminum Ophelia tiap sore.

Entah mengapa, sejak bertemu dengan Cleopatra ia merasa Ophelia semakin tidak menarik saja. Ia merasa Ophelia yang mengidap obesitas itu lebih pantas dikebumikan segera.

Di kehidupan yang lalu Romeo pernah mati konyol dengan cara menenggak racun. Kini ia ingin mengimpaskan kedudukan dengan membunuh Ophelia dengan cara ini. Pengalaman adalah guru yang terbaik, pikirnya. Dalam benaknya ia merasa akan menciptakan sebuah karma yang adil. Keadilan membabi-buta dengan imbalan si cantik Cleopatra.

Seperti kehidupan sebelumnya, Ophelia mati. Kali ini mati sebagai tumbal untuk cinta yang dikhianati.

***

Hamlet menyusun skenario pembunuhan dengan perhitungan matang. Ia ingin membunuh Juliet dengan pedangnya sendiri. Hal itu memungkinkan karena sebagai bangsawan keduanya biasa bermain anggar di sore hari. Hamlet ingin pembunuhan itu seperti sebuah kecelakaan. Dan dengan sendirinya ia akan terbebas dari segala tuduhan.

Pagi itu ia mengasah pedangnya hingga berkilau, hingga tajam yang paling kejam. Dalam kilau itu terbias tubuh kurus kering Juliet yang mengidap anoreksia yang akan ia tusuk, juga bayangan Cleopatra yang hanya akan mampu digapainya jika ia berada di puncak pengkhianatan.

Seperti kehidupan sebelumnya, Juliet mati. Tidak berbeda jauh, dulu ia mati dengan belati, kini ia mati dengan ujung pedang terbenam di dadanya. Ternyata tipis sekali jarak antara cinta sejati dan pengkhianatan di mata kematian.

Kemudian Hamlet menelepon Romeo.

***

Romeo telah menyelipkan sebilah belati di balik kemejanya. Sebilah belati untuk kematian Hamlet. Ia telah berlatih dengan sangat keras agar lihai menggunakan belati. Setelah merasa sangat yakin bahwa lemparannya tidak akan meleset sedikit pun dari sasaran, ia bergegas pergi menemui Hamlet.

***

Hamlet menyiapkan pistol di balik jasnya. Puluhan botol telah pecah oleh ketepatan bidikannya. Ia hanya menyisakan satu peluru dalam pistolnya, sebutir untuk melenyapkan nyawa Romeo. Sebelum menanti Romeo di taman itu.

 

***

Keduanya bertemu di taman itu dengan raut wajah palsu, dengan percakapan palsu. Mereka hanya bermanis bibir saja ketika mengatakan akan menyelesaikan masalah itu dengan kepala dingin, tanpa kekerasan, sebagai dua orang lelaki dewasa. Padahal di benak mereka hanya terbayang kemolekan tubuh Cleopatra yang konon gemar berkelamin dengan dikelilingi cermin.

Pada intinya mereka hanya menunggu satu hal, kelengahan lawan bicara. Kelengahan yang akan menjadi kesialan besar berujung kematian. Sudah satu jam mereka di taman itu, menghirup udara yang sama, menginjak tanah yang sama, dan gumpalan nafsu membunuh yang sama besarnya.

Penantian harus segera diakhiri dan alam tanggap akan hal itu. Kali ini langit kelabu, perlahan-lahan memeras awan jadi rintik-rintik gerimis. Inilah saat yang tepat, tindakan harus dilakukan. Romeo bangkit seperti hendak meninggalkan tempat itu tapi tangannya meraba ujung belati. Sementara Hamlet berbalik, tangannya siap menarik pelatuk pistol.

Beberapa saat kemudian….

Don’t stop me now… suara Fredy Mercury melengking dari ponsel Shakespeare di tengah keliaran imajinasinya. Dilihatnya sejenak, pesan dari Steven Spielberg: Tn. Shakespeare, saya undang Anda ke Hollywood, membicarakan pembuatan sekuel film Shakespeare in Love. Saya tunggu hari ini juga.

Wajah Shakespeare tiba-tiba semringah seperti anak kecil yang mendapatkan kembali hadiahnya yang hilang. Eksistensi yang menjadi tahtanya kemungkinan besar masih akan terjaga. Di era modern ini, langka dijumpai seorang penulis yang biografinya dilayarlebarkan berseri dua kali oleh pabrikan besar Hollywood. Bisa dipastikan pula ia akan menjadi miliarder karena royalti yang luar biasa besar atas pengangkatan riwayat hidupnya ke layar lebar. Shakespeare terbayang filmnya terdahulu yang diganjar Piala Oscar. Kemungkinan besar popularitasnya akan naik secara drastis. Meski baru sebatas rencana tapi berita itu akan dibesar-besarkan koran dan majalah hiburan. Berita panas yang akan melibas popularitas JK Rowling. Kiranya musim keemasan itu kembali tiba. Shakespeare pun segera berkemas untuk pergi dengan penerbangan pertama.

Dan kelanjutan cerita ini? Mungkin Shakespeare sudah tidak peduli. Mungkin cerita ini hanya sebatas ide gila dari lelaki yang terluka atau luapan emosi sementara dan jadi sampah setelahnya. Begitu Shakespeare beranjak, setiap tokoh telah kembali ke kamar ganti dan memakai kembali baju kodratnya dengan keyakinan yang dibulatkan bahwa cerita ini sungguh tak benar-benar terjadi. Mereka kembali menjadi diri sendiri dalam cerita melegenda yang mereka huni sebelumnya.

Shakespeare melangkah keluar rumah dengan wajah cerah. Sepanjang perjalanan menuju bandara ia bersiul-siul renyah. Pagi ini tiba-tiba terasa menjadi indah baginya. Bukankah pagi yang indah merupakan awal yang baik bagi sebuah cerita indah?

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)