Produk Pemutih Itu Bernama Hollywood

in Hibernasi by
Produk Pemutih Itu Bernama Hollywood
Produk Pemutih Itu Bernama Hollywood. Sumber gambar: financialgazette.co.zw

“Delapan dari sepuluh wanita mengatakan (masukkan sebuah nama produk) memang jelas-jelas memutihkan.”

Itulah yang setiap kali kita dengar dari iklan produk pemutih kulit untuk wanita Asia—khususnya Indonesia, yang mendambakan kulit putih. Penulis di sini tidak akan mengejek dengan usaha para wanita ataupun para dokter dan ahli kimia yang menghabiskan sisa waktunya demi mencari formula membuat kulit putih. Toh penulis juga demen mandangin cewek putih, kok. Hehehe….

Penulis yakin, dokter dan alkimia-alkimia yang mencari cara untuk menyenangkan hati para wanita—yang tidak pernah dipandangi oleh lelaki karena kulitnya nggak putih—juga pernah mendengar kisah-kisah bahwa perbedaan warna kulit pernah menjadi sebuah masalah sangat besar di luar sana. Untuk menyetarakan kelas saja susah, maka ragamulah jalan terakhir yang harus dibuat setara.

Membicarakan tentang hal ini, tentu akan sedikit menyinggung unsur SARA, tapi kita memang sedang dibawa ke arah sana. Baik itu pemilik modal atau oleh orang yang jauh lebih berkuasa. Kemungkinan besar namanya bukan Cersei Lannister.

Manusia selalu punya cara untuk membedakan dirinya sendiri dengan orang lain. Mulai dari pikiranmu sampai dengan bentuk fisikmu. Secara tak sadar pula, dinding-dinding tak kasatmata mulai menyelubungi diri kita. Menjauhkan kita dari sesama walau semua bisa dipersatukan oleh cinta. Kalau ini terlalu muluk, ya wis kita bisa lupakan cinta dan gempita luar biasa dari kids zaman now yang baru mendengar lagu Akad—kita hibur saja dengan nonton film. Toh ya nonton film nggak sama pasangan yang saling cinta nggak ngaruh apa-apa.

Cuma sayangnya, film bioskop kita ya isinya gitu-gitu aja. Kalau nggak film lokal ya interlokal. Kini banyak yang sok-sokan nggak mau nonton film bioskop, mereka bikin sinema sendiri. Filmnya? Bikin sendiri. Yang nonton? Kawan sendiri. Lalu yang lebih sok lagi, mereka ini bisa bikin lomba film sendiri. Ya maksudnya sih memang bagus. Lawan dengan karya katanya. Tapi ya mbok jangan langsung menghakimi kalau film bioskop itu jelek.

Apalagi pas bilang anti-Barat. Nggak mau nonton film Barat kalau nggak yang festival. Atau minimal hanya mau ke bioskop kalau film yang diputar masuk nominasi Oscar. Wah ya kalau gini kasihan mbak-mbak penjaga tiket yang udah dandan tiga jam pakai pakaian silat hitam-hitam kayak dari perguruan kungfu itu. Orang-orang yang nolak ke bioskop ini belum pernah dilirik manja sama mbak-mbak penjaga tiket, toh? Pun belakangan mereka getol menolak nonton film karena sepele, filmnya adalah hasil remake.

Remake-nya pun nggak nanggung-nanggung. Para pemilik modal di Hollywood membeli hak cipta beberapa film dari luar Amerika untuk dibuat ulang agar mendapatkan pasar baru di Amerika sana. Ya, kayak kalau ke kondangan, makannya prasmanan terus makanannya dibawa pulang dan sampai rumah dijual lagi.

Hollywood akan lebih suka jika film yang di-remake itu film yang dari negara asalnya punya fanbase besar—baik domestik dan internasional. Karena, itu akan menguntungkan mereka dari segi finansial jika ternyata film yang mereka remake laku di pasar mereka, Amerika. Untungnya, Hollywood tidak peduli dengan jumlah penonton dalam film yang mau mereka remake. Karena mereka tahu, angka penonton itu fana. Bayangkan aja, Gal Gadot waktu promoin Wonder Woman tiba-tiba nge-twit:

Alhamdulillah, ternyata WW sudah mencapai 35.975.384 penonton. Tonton terus ya, Gaes!”

Berapa banyak yang akan unfollow coba?

Proyek pemutih Hollywood memang biasanya mengincar film-film Asia. Apalagi yang statusnya sudah menjadi film cult. Tidak hanya itu, sebelum kasus-kasus mereka mengincar film Asia, Hollywood juga melancarkan serangan pemutih ke semua filmnya. Gampangnya gini, jika ada aktor atau aktris asal Amerika dan dia memerankan sebuah karakter di mana dia tidak berasal dari asal karakter tersebut. Ilustrasinya: Brad Pitt di sebuah film Star Wars dia memerankan Stromtroopers, tapi pakai logat Batak.

Pemutih Hollywood tak memengaruhi warna kulit aktor dan aktrisnya. Alasan masuk akal, mungkin untuk menekan biaya produksi jika harus mempekerjakan orang aslinya sehingga aktor yang mudah didapatlah yang memerankannya.

Contohnya, Tilda Swinton saat memerankan Ancient One di Dr. Strange. Di komik, A1 itu cowok dan berasal dari Tibet. Namun, Hollywood menggantinya jadi genderless dan diperankan oleh aktris berkebangsaan Inggris. Contoh lain, di saat Liam Neeson menjadi guru Bruce Wayne di Batman Begins. Ras Al Ghul di dalam komik adalah seorang Arab. Jadi, apa mungkin Hollywood menyewa pangeran Arab untuk adu akting dengan Christian Bale, di mana ada Christ-nya di situ. Ya, mending mereka ke gurun, naek onta nyari minyak trus beli klub bola.

Terutama film Jepang yang notabene berdasarkan dari komik sehingga untuk di-live action-kan butuh biaya mahal. Kalau diputihkan lalu menjadi bagus sih nggak apa-apa. Selama ini, film Asia yang diputihkan oleh Hollywood belum ada yang berhasil. Bukti nyata ya Dragonball: Evolution. Mau nyewa kapster dari barbershop Dubai atau tukang cukur Madura, tak akan ada yang bisa membuat rambut manusia jadi kayak rambutnya Son Go Ku. Gitu kok dipaksakan? Hasilnya? Ya kayak lirik lagunya SID: rambut spikey dibilang fanky.

Kasus terbarunya menimpa film Jepang yang diangkat dari manga terkenal, Death Note. Semenjak keluar trailer pertamanya saja, warganet sudah menutup hidung dan membuang muka. Terbukti setelah filmnya keluar dari Netflix, beberapa ancaman pembunuhan langsung dialamatkan ke sutradara Adam Wingard—yang menurut penulis adalah sutradara spesialis thriller berbakat, tonton You’re Next dan The Guest, serta remake Blair Witch Project—yang membuat dirinya harus menutup akun twitter.

Atau, ketika film Korea Selatan, Old Boy yang juga di-remake oleh sutradara andal Spike Lee. Hasilnya juga tak mampu menyaingi film aslinya. Untuk film Indonesia sendiri, yang sedang direncanakan untuk diputihkan adalah The Raid. Mungkin yang pernah menonton Dredd, menyangkal bahwa The Raid meniru film Dredd. Namun apa yang terjadi jika akting kakunya Iko Uwais diganti dengan aktor bule yang jauh lebih kaku lagi.

Jika disebutkan, formula pemutih Hollywood tidak bekerja sempurna. Mereka jadi tiga dari sepuluh wanita yang tidak cocok memakai produk pemutih. Bukannya menambah keuntungan, cacian di tomat busuk pun dilayangkan. Padahal, daripada proyek-proyek pemutih semacam ini, Hollywood bisa mengadakan kerja sama dengan pekerja industri film Asia dan bekerja sama untuk membuat sebuah kisah bagus seperti yang Okja.

Kalau begini, siapa yang salah? Apakah Hollywood karena mereka punya semuanya sehingga bisa semena-mena mengambil hak cipta sebuah produk yang laris lalu mencuci sampai putih dan tidak kelihatan lagi orisinalitasnya?

Bayangkan kalau Warkop DKI diputihkan oleh Hollywood. Rami Malek menjadi Dono, Benedict Cumberbatch jadi Kasino dan yang jadi Indro, Dwayne “The Rock” Johnson. Ya kalau ini kejadian sih, bakal lebih seru dari yang “Reborn” sampai mau sampai entah part berapa itu~

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian
  • Tedo Sanditia

    apik cuy…. jadi ingat seseorang yang memakai produk pemutih wajah, hanya wajah ternyata lupa leher dan bagian lainya juga blum di putihkan,