Puisi-Puisi Mario F. Lawi; Lahir

in Puisi by
deviantart.net

Matria

 

Sulmo mihi patria est, gelidis uberrimus undis

(Publius Ovidius Naso, Tristia)

 

Sebelas tahun berlalu dan kembali ia susuri

Hutan kopi dan cengkeh,

Menghirup wangi sungai yang memanggil

Lelaki kecil di dalam dirinya

Untuk mendengar desis yang terlalu jelas

Atau “c” yang selalu menjadi “s”

Dari sebuah lidah yang tak pernah mencela.

 

Sambil mengunyah sirih-pinang

Kau berkata kepadanya yang akhirnya

Tiba di rumahmu dengan jiwa dan raga

Yang lelah,

 

“Nenek bahagia sekali di sana, Ndio.”

 

Ia menyalakan sebatang lilin,

Menerima ludahmu yang merah

Dengan kedua telapak tangannya,

Mengusapkannya pada wajahnya.

 

Kau menunjuk langit untuk membuatnya

Sadar akan dua belas malaikat

Yang melayang di atap rumahmu.

 

“Mereka akan menjaga jalanku kembali.”

 

Adegan-adegan dari masa lalu

Menghamparkan diri dalam sepia:

 

Seorang perempuan dengan susah payah

Melahirkan seorang bayi laki-laki

Dengan sekujur tubuh memancarkan cahaya

Tanpa ditemani suami;

 

Seorang putri yang ditelantarkan ayahnya tewas

Disantap sebuah penyakit misterius

Dan hanya tangis para saudara dan para paman

Yang mengiringi pemakamannya;

 

Seorang misionaris Eropa enggan memberikan

Hosti yang dirindukan seorang perempuan

Yang berulang kali menyeka kaki Kristus

Dengan rambutnya dan mengurapinya

Dengan air matanya;

 

Seorang perempuan cantik yang begitu dicintai

Saudara-saudaranya diceraikan suaminya karena

Gelombang politik yang memorak-porandakan desa;

 

Seorang nenek memuntahkan darah

Dan duduk sendiri di dalam dapur tanpa jendela

Sambil merindukan seorang anak lelakinya

Di seberang pulau.

 

Seorang pria yang pernah kauselamatkan

Menanamnya di sebuah ladang persemaian

Tiga bulan setelah mengantarkanmu kembali

Ke tanah yang sangat kaucintai.

Hari itu, untuk pertama kali, ia fasih

Menyanyikan “Requiem” sambil menanam

Pohon-pohon air mata di ladang yang sama.

 

“Aku akan ke Barat, Nek, menjadi pohon yang lain

Di sana. Kau boleh meminta buah apa saja padaku.”

 

“Hirup dalam-dalam aroma yang menguar

Dari harta berharga ini,” katamu sambil menyodorkan

Ke hidungnya cengkeh yang baru saja kau petik

Dari pohon di halaman rumahmu,

Mengubah mereka menjadi serbuk-serbuk kristal

Dan menghamburkannya ke sekujur tubuhnya.

 

Lilin yang meleleh menutupi epitaf “M”

Dan “A” kedua. Api di ujung lilin

Bergoyang mendengar suara angin.

 

Dua belas malaikat merendah mengelilingimu.

Didengarnya dentang yang begitu asing.

 

“Menjagamu dari atas selalu lebih mudah, Ndio.”

 

Ia memelukmu, menyentuh kedua pipimu

Dan menyerap anak lelaki dalam dirinya

Yang kausegarkan sebelum kedua belas

Malaikat menuntunmu kembali ke surga.

 

(Golo Dopo-Papang-Naimata, 2016)


 

Pulang

 

And I call out your name

The moment you are gone

(Saybia, The Day After Tomorrow)

 

Kau tahu laut begitu ramah padamu,

Mempersembahkan hasil-hasilnya

Ketika kau berdiri di pantai saat paceklik

Mencekik kampungmu, saat musim dan angin

Mengeringkan nira dari mayang lontar, saat

Anak-anak dan istrimu hanya berharap

Sepenuhnya pada hasil tangkapanmu.

 

Kau tahu seorang cucu sepenuhnya

Menyukai segala yang ada padamu,

Menjadi seseorang yang sama sekali tak

Mengenal kata “pulang” dalam bahasa daerah

Ayah maupun ibunya, tapi merawat cintanya

Pada ruang yang sudah kaubukakan pintu-pintunya.

 

Kau tahu langit mengerti rahasiamu, seperti

Sebaliknya, dan kaubiarkan kata-katamu diserap

Alam ketika kaubutuhkan tanda dan petunjuk,

Nubuat dan wasiat dari Penguasa Alam Semesta

Dan leluhur yang menjadikanmu bijak dan sabar.

 

Kau tahu cerita seorang santa pernah disebarkan

Para pelaut Portugis sebagai dongeng yang mengisi

Masa kecilmu dengan bahasa yang kelak

Kaupakai untuk bercakap-cakap dengan

Tuhan dan para leluhurmu ketika seisi

Kampung menaruh harapan suksesnya panenan

Pada kata-kata yang keluar dari mulutmu.

 

Kau tahu istrimu begitu terpesona pada

Motif yang tergurat pada kain yang dikenakan

Para pedagang Bugis yang singgah di pelabuhanmu,

Dan membiarkannya bahagia ketika ia mulai mampu

Mencuri dan memiuhkan motif menjadi bunga

Miliknya sendiri pada kain tenun ikat terbaik

Yang menguarkan harum ke seluruh penjuru Mehara.

 

Kau tahu para penggantimu akan

Mengabaikan rima seperti dirimu ketika

Menyanyikan puisi-puisi dan menanti

Jawaban yang diturunkan dari atas.

 

Kau tahu air mata yang mengucur dari jasadmu

Meredakan topan dan badai, membuat pelayaran

Yang membawa dedahanan dan rerantingmu

Kembali menjadi lancar dan terkendali,

Dan di dalam kerang yang sekarang

Kaududuki ada sebuah mutiara yang terbuat

Dari air mata semua orang yang mencintaimu.

 

Kau tahu ibu selalu berharap kau bahagia

Di dalam sana dan di atas sana, menyampaikan

Pada Tuhanmu hal-hal yang tak kunjung

Kaupahami selama hidup di dunia, menjadi bagian

Dari terang yang memancar dari lautan.

 

(Pedarro-Naimata, 2014-2016)

 


 

Lahir

 

Der Tod ist groß.

(Rainer Maria Rilke, Schlußstück)

 

“Pada mulanya adalah air,” kaugubah sebuah kalimat

Yang terdengar dalam khotbah seorang misionaris Austria

 

Di hari pembaptisan putri sulungmu, setelah mencampurnya

Dengan sedikit wahyu yang kauterima dari para leluhur.

 

Ketika memasuki seminari, cucumu sibuk bermain dengan laut

Dalam sebuah dongeng penciptaan, dan banyak belajar

 

Darimu untuk menggubah dongeng yang sama,

Karena percaya kisah itu benar-benar terjadi.

 

Di musim paceklik, tetap kaularungkan panenan terbaik, bagi dada

Ibu yang mengalirkan susu termurni dan cinta paling lestari.

 

Sebagai bekal terakhir bagi semua anak-anakmu yang memilih

Gereja, kautinggalkan apa yang penting mereka jaga.

 

“Laut tak mengenal dosa asal, anak-anakku, tak ia kenali murka.

Semata cinta yang membuatnya memeluk segala yang berasal darinya.”

 

Semua orang yang memandangmu dan para leluhur yang mengajarimu

Berbagai hal dan memilihmu menjadi pendaras doa begitu bahagia

 

Saat engkau akhirnya kembali ke laut yang menyusuimu, kepada rentang

Lengan perkasanya yang sejak awal mula menghalau sakit dan kutuk.

 

(Naimata, 2016)

 

Naik

 

Mengenakan celana cinta buatan ibunya,

Yesus naik ke surga.

(Joko Pinurbo, Celana Ibu)

 

“Ini buatan ibu,” kata Yesus

Menjawab pertanyaan lain Tomas

Ketika ia mengangkat jubahnya

Untuk menunjukkan luka di lambungnya.

 

Sebelum meminta lagi sepotong ikan goreng

Dan memakannya di hadapan para murid,

Dengan jubah yang masih terangkat

Yesus berkata lagi kepada Tomas,

“Sentuhlah juga ini, Tomas.

Celana ini menutupi malu yang ditimpakan

Bangsa-bangsa kepadaku.”

 

Kisah ini telah lebih dahulu dicatat dalam kitab

Lain seorang penyair yang kemudian mengaku

Menjadi domba yang tersesat di jalan yang benar.

 

Jauh sebelum si penyair menulis kisah Paskah.

 

(Naimata, 2016)

Mario F Lawi

Mario F Lawi

Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Buku puisi terbarunya adalah Mendengarkan Coldplay.
Mario F Lawi

Latest posts by Mario F Lawi (see all)

  • Tilaria Padika

    Saya suka sekali yang berjudul “Naik.” Di sana Jesus menjadi sangat manusiawi.Seperti membaca Gibran.

    Salam
    PADIKA’S