Puisi-Puisi Abdul Wachid BS; Jalan Pulang

in Puisi by
iso.500px.com

Masjid Saka Tunggal

 

masjid satu pilar

di tengahnya empat sayap

seperti totem tergambar

bawah tiang kaca pelapis senyap

 

ada tahun pendirian prasasti

 

abad 12 sebelum wali sanga

di tanah yang disucikan agama kuna

sebuah batu menhir tegak meraja

di hutan dengan ratusan kera

 

empat sayap penopang yang

menempel di saka empat kiblat dan lima lurus

empat mata angin dan satu pusat tak terputus

 

manusia dikelilingi

api, angin, air, dan bumi

bahwa hidup haruslah seimbang

yang hidup mestinya seperti alif

jangan bengkok

yang bengkok bukanlah manusia

empat penjuru

mata memandang

hati berdendang

lagu

 

“jangan terlalu banyak air

kalau tak ingin tenggelam

jangan banyak angin

bila tak tahan masuk angin

jangan bermain api

jika takut terbakar

jangan terlalu memuja bumi

jika tak ingin terjatuh”

 

empat kiblat dan lima lurus

sufiyah, amarah, lawwmah, muthmainnah

bertarunglah jiwajiwa manusia

hingga hidup hanyalah alif

 

 

 

Cikakak, Wangon, 4 januari 2016

 

 

Syi’iran Sunan Bonang

 

bunyi bonang di masa kecil itu

ditabuh kembali oleh hati yang

sembahyang di sebuah surau sentana

di sini tidak ada cagak yang menegak

namun hidup selalu tegak

 

ketika kanjeng sunan terjatuh

tersebab tangannya, tercerabut rumput

menangislah penuh sesal

bahwa ketentuan hanyalah hak milik hyang

maha tuan

 

ketika tongkatnya menunjuk pohon siwalan

sebuah tongkat azimat keramat

tak pernah lepas tangan, ke mana hati berkiblat

bernapas makrifatullah hingga tamat

 

sebuah tongkat lebih berharga dari pohon emas

tangan kebaikan, tongkat saling berpegang cinta berbalas

tongkat kebaikan, tangan saling menyambung cinta tak terwatas

 

sebuah tongkat yang menuntun istiqamah

lebih mulia dari seribu nasab yang karamah

 

bunyi bonang di masa kecil itu

ditabuh kembali oleh jamaah hati yang

berdendang di ribuan surau

menjadi penenang jiwa yang galau

 

Tombo ati iku limo perkarane

Kaping pisan moco Qur’an lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo iso ngelakoni

Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

 

 

 

kutorejo, tuban,

kamis, 21 januari 2016

 

Syekh Siti Jenar

 

 

sebuah cinta di dalam puisi

mengingatkanku kepada penciptaan kali pertama

ketika ia sendirian merekareka sunyi

belumlah ada namanama

 

sebuah cinta di dalam puisi

mengingatkanku kepada mimpi indah kali pertama

ketika aku sendirian merekareka arti

belumlah ada maknamakna

 

sebuah cinta di dalam puisi

mengingatkanku kepada mataair bengawan

ketika ia menggemericik dari puncak pegunungan

sesampainya di muara menjelma menjadi

 

banjir bandang yang

menenggelamkan aku

ke dalam samudera makrifat cinta

sekaligus hujatan sepanjang usia

 

 

 

yogyakarta, 7 februari 2016

 

 


Jalan Malam

 

 

aku ingin jalan lagi menyusuri malam sendirian

sambil menelponmu, ibu

aku ingin mendengar rasa sakitmu di paruparu

sesak nafas mengeras seperti

suara kereta api yang melintas

di belakang rumah masa kecilku

 

aku mau menjagamu sepanjang waktu

sambil mengipasi rasa gerahmu, ibu

aku mau membaca 10 surah wasiatmu di sampingmu

laju darah yang tersedot dari paruparu

menyalip tetes infus sebagai

satunya nutrisi yang masuk ke tubuh

 

aku ingin tidak pergipergi lagi

agar setiap adzan terdengar aku bisa

mengenakan mukena untukmu, ibu

padahal ibu dalam koma

padahal dalam pejam mata

kepadaku ibu sering bertanya

“panjenengan siapa

apakah ini masih di bumi?”

 

tetapi setiap adzan terdengar

ibu mendadak tersadar

membuat gerakan tayamum

menegakkan salat begitu khusuk

begitu usai salam

kembali ibu dalam koma

 

aku tidak ingin pulang ke jogja

aku mau menggendongmu ke kamar mandi

ibu tidak mau pipis di tempat tidur

ibu malu kepadaku kuceboki, tapi?

 

ibu, ini waik kecilmu yang

ketika balita sepanjang malam diare

bapak sedang kirim tembakau ke kota

dan dokter tidak ada

ini putramu yang paling menyusahkan hatimu

ini anak lanang yang tidak pulangpulang

 

aku tidak ingin pulang ke jogja karena

aku tidak akan pergipergi lagi

aku mau menjagamu sepanjang waktu

 

aku ingin mendengar rasa sakitmu di paruparu

sesak nafas mengeras seperti

suara kereta api yang melintas

di belakang rumah masa kecilku

 

tetapi stasiun kereta api itu telah tak ada

suara sesak nafasmu juga telah tak ada

di jogja, aku pergi ataukah pulang darimu?

aku ingin jalan lagi menyusuri malam sendirian

sambil menelponmu, ibu

aku sangat rindu kepadamu

 

 

 

yogyakarta, 21 april 2016

 

 


Wajah Puisi

 

 

sampai hari ini aku tidak juga mengerti

bagaimana kelahiran sebuah puisi

berjuta kata mungkin saja ada di kepala

tetapi metafora tidak juga bicara

 

yang ada hanya kata yang

diindahindahkan

tetapi bukan kata yang

diindahkan

 

hingga tiap mata tidak cuma membaca

tetapi tiap mata berkacakaca

sampailah sebuah wajah terkaca

utuh penuh terbaca sebagai manusia

 

 

 

yogyakarta, 28 mei 2016

Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S.

Lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.
Berikut beberapa buku karya Achid. Buku kajian sastra dan tasawuf, Gandrung Cinta (2008). Buku kajian sastra, Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (2009). Buku puisi, Yang (2011). Buku puisi, Kepayang (2012). Buku puisi, Hyang (2014).
Website: www.wachid.8m.com
Abdul Wachid B.S.

Latest posts by Abdul Wachid B.S. (see all)