Puisi-Puisi Abinaya Ghina Jamela; Menembus Kaca

in Puisi by
claudiatremblay.com

Menembus Kaca

 

Alice mengejar kupu-kupu sebiru kemeja ibuku

Alice melihat, ternyata teman lama. Alice melihat,

ia masuk ke dalam kaca seperti air bergelombang.

Alice mengikutinya, gerombolan burung pulang ke sarang

dan tersesat seekor. Tapi Alice menjadi sekecil bayi

kangguru. Ia bertemu Hatter yang tak ingin tersenyum.

Ia sekarat dan mengusir Alice, seperti pengamen

diusir keluarga tercinta. Tetapi tidak seperti bundaku, menyayangiku.

 

2016

 

 

Di Warung Kopi

 

Rumah putri duyung dipenuhi orang-orang.

Seseorang memanggil nama mereka

memberi secangkir kegembiraan dan tawa

mereka di piring putih. Ada yang mengobrol,

suara jangkrik di belakang rumahku. Ada yang

diam saja, ada yang membaca koran, ada yang

sedang menelepon, ada yang belajar, ada yang

mengantre. Barista mengaduk minuman, menaruh

krim seperti sorban ditaruh di kepala, menuang

susu, menabur bubuk cokelat.

Setangkai mawar layu di vas, lampu-lampu

kecil menggantung seperti bintang-bintang di langit

pohon natal kesepian di meja, botol-botol minuman

berbaris serapi prajurit. Aku gembira seperti musik yang diputar.

 

2017

 

 

Lelaki yang Enggan Mengangkat Senjata

 

Tentara Jepang bagaikan singa kelaparan

namun tentara Amerika sekawanan kerbau

hutan yang gagah berani. Salah satu dari

mereka tak ingin mengangkat senjata. Ia

bernama Desmond. Ia ingin menyelamatkan

satu sama lain, menyelamatkan prajurit terluka.

Langit seburam kertas project-ku yang kutempel

di dinding, tanah dipenuhi mayat-mayat, bom

membuat sakit telinga. Saat mendengar teriakan,

ia menghampirinya, ia bertanya, ia memberi obat,

ia menyeretnya ke tandu, ia mencuci mata prajurit

yang hampir buta, ia menyembunyikan temannya

dengan pasir saat tentara Jepang lewat, ia menurunkan

prajurit dari tebing yang menyeramkan itu.

Dengan tali, mereka diselamatkan laki-laki yang enggan

mengangkat senjata itu.

 

2016

 

 

Mars

 

Kata ibuku, kami akan pergi ke Mars

tetapi esok, sesampainya di Mars, aku

akan merasa panas seakan matahari

mendekati dan aku tidak boleh membuka

helm. Tak ada oksigen, sepertinya aku akan mati.

Kami juga akan ke Pluto, planet sekecil

bola ping-pong. Tempatnya sangat jauh

seakan menghabiskan banyak waktu

di perjalanan. Aku terbangun dari mimpi.

 

2016

Abinaya Ghina Jamela

Abinaya Ghina Jamela

Lahir di Padang, Sumatera Barat, 11 Oktober 2009. Saat ini duduk di bangku sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta, kelas satu. Suka memasak, menonton bioskop, membaca, dan ngomong-ngomong konyol. Resep Membuat Jagat Raya merupakan buku kumpulan puisinya yang pertama.
Abinaya Ghina Jamela

Latest posts by Abinaya Ghina Jamela (see all)