Puisi-Puisi Acep Zamzam Noor; Batupacakop

in Puisi by
untuk-puisi-basabasi-oktober-1
https://navasotaair.files.wordpress.com/2015/08/desperateeveningsun.jpg

BATUPACAKOP

 

Bibirku hanya mendarat di kening batu karang

Ketika angin mengabarkan seseorang pergi ke selatan

Dan menghilang di balik ombak. Maka kecupanku

Kecupan pertamaku sebatas menyentuh jejak

 

Jejak sunyi yang kemudian menjadi sangat panjang

Dalam ingatanku. Di sinilah akhirnya aku membuang diri

Menjadi layar bagi nelayan, menjadi jaring bagi pencari ikan

Menjadi petunjuk jalan bagi para pecinta yang kehilangan

 

Jungjunan, kurenungi waktu sambil memejamkan mata

Kuhayati kesementaraan dengan menyumbat kedua telinga

Terus berlari mengejar bayangan yang sebenarnya tidak ada

 

Jampang dan Sancang adalah satu dalam napas panjang waktu

Hulu dan muara adalah rangkaian niat, ucapan serta perilaku

Berabad-abad menunggu hingga rinduku semekar bunga batu

 

2015

 

CIPATUJAH

 

Aku mengumpulkan lembar demi lembar daun

Pada hamparan pasir. Di bawah rimbun ketapang

Segala kesedihan dunia kupadatkan menjadi seloka

Tembang tercipta dari alun ombak dan kesiur angin

 

Aku menyusun kalimat demi kalimat persembahan

Seperti merapal untaian doa. Lalu pada baris terakhir

Kemurungan yang bertahun-tahun kulebur dalam amin

Mantera dan jampi kugali dari makam dan artefak sunyi

 

Junjungan, aku telah berjalan dengan kaki pada kepala

Tersaruk-saruk menyusuri jejak panjang para pecinta

Dari Ciheras ke Sindangkerta semakin lebar wilayah luka

 

Kini sukmaku terapung dalam pusaran udara yang naik

Menggapai rindu. Perjalanan batin telah digariskan semesta

Antara Cikawungading dan Cilangla hanya genangan airmata

 

2015

 

KALAPAGENEP

 

Aku merindukan matamu seperti halnya pucuk sadagori

Menanti sinar matahari. Pagi sekali aku berjalan ke barat

Tanpa alas kaki menyusuri pantai, sungai dan perbukitan

Lalu berhenti di muara dan melihat kesedihan dilabuhkan

 

Aku mengenangkan matamu seperti halnya bunga angsana

Rindu pada udara. Menjelang petang aku beranjak ke utara

Menghirup aroma kandang pada penghujung musim hujan

Terus belok ke timur menuruni undakan-undakan sawah

 

Kadang aku menghindari matamu seperti halnya kelelawar

Memilih kegelapan. Aku sembunyi di bawah rimbun janitri

Sambil menggelantung pada dahan-dahannya yang tinggi

 

Junjungan, aku kembali ke pantai ketika malam sempurna

Di kejauhan sebuah pulau karang menjelma titik cahaya

Lalu aku meyakini titik tersebut adalah bola matamu

 

2016

 

NUSAMANUK

 

Ketika segala sesuatu terbungkus remang kabut

Itu pertanda senja mulai merumbaikan tirai-tirainya

Pendaran cahaya biru menyelinap di antara ranting serut

Bagaikan jemari lentik yang menggapai-gapai angkasa

 

Tebing-tebing pemecah gelombang menjadi sebuah jeda

Bagi sejumlah pelayaran panjang yang menguras airmata

Mungkin masih ada suara yang tak terwadahi samudera

Ketika badai awal musim kemarau menyergap segala duka

 

Di pulau tanpa penghuni aku merasakan resonansi rindu

Setelah kutemukan setumpuk mantera yang tertimbun batu

Juga segulung lontar yang berasal dari gerbang istana camar

 

Jungjunan, dari Cineam kudengar karinding dimainkan

Dari Cikatomas sayup-sayup tarawangsa disenandungkan

Dari Cirangkong beluk tak henti-hentinya bersahutan

 

2016

Acep Zamzam Noor

Acep Zamzam Noor

Acep Zamzam Noor adalah penyair kelahiran Tasikmalaya. Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan di kota kelahirannya. Bukunya yang terbaru kumpulan puisi Like Death Approaching and Other Poems (Trilingual Inggris, German dan Indonesia, 2015).
Acep Zamzam Noor

Latest posts by Acep Zamzam Noor (see all)