Puisi-Puisi Adonis; Tanah tanpa Peraduan

in Puisi by
saimg-a.akamaihd.net

 

Adonis

 

Siapa engkau? Dari keturunan mana kau berasal?

Oh, bahasa yang masih perawan:

bahasa yang selain kau tak seorang pun tahu

Siapa namamu? Bendera apa yang kau bawa atau yang hendak kau lepaskan?

 

Kau bertanya tentang Alkainus?

Kau ingin menyingkap wajah kematian?

Kau tanya dari golongan mana aku?

Kau tanya namaku? Namaku Adonis

Aku berasal dari bumi tanpa batas

yang dipikul di atas punggung manusia

Aku hilang di sini

hilang di sana bersama puisi-puisiku

Aku takut dan pucat pasi

Aku tak tahu bagaimana caranya

menetap atau kembali

 

 

Negeri Ini Migrasi Kepadaku

 

Wajahku menjelma bayangan.

Waktu tercipta dari batu seorang pecinta

yang berjalan di dekatku

Aku adalah orang pertama yang mencintai api:

api betina yang menjerat hari-hariku

Darah di bawah payudaranya

adalah bau anyir yang menyengat

Ketiaknya adalah sumur-sumur air mata;

adalah sungai-sungai yang tersesat

dan matahari di atasnya menggantung serupa gaun

tergelincir pada luka yang disayat dan disinari

dengan bangga oleh sinarnya sendiri

 

Janin itu milikmu.

dan kesedihanku adalah mawar

yang kujumpai kala kumasuki hamparan padang rumput

Keningku pecah, darahku melepaskan mahkotanya

Aku bertanya-tanya: apa yang harus kulakukan?

Haruskah kuubah kota ini menjadi sepotong roti?

Aku terpelanting ke dalam kobaran api

Para penguasa mendermakan darahnya pada kita

sedang kita sudah cukup sakit membawa zaman

mengumpulkan kerikil dan bintang-gemintang

mengendalikan awan bagai kuda-kuda liar

 

 

Tanah tanpa Peraduan

 

Bahkan andai kau kembali, Adonis

andai jarak begitu pendek untukmu

dan bukti-bukti telah dibakar

di wajahmu yang masygul

atau dalam rasa takutmu yang payah;

kau tetap akan menjadi sejarah bagi perjalanan

kau tetap berada di tanah tanpa perjanjian

kau tetap berpijak di tanah tanpa peraduan

bahkan andai kau kembali, Adonis

 

 

Barangkali Kau Benar-benar Negeriku

 

Inilah aku

memanjat dan bertengger di atas pagi negeriku

di atas bangunan-bangunan dan kepungan debu

 

Inilah aku

terbebas dari segala misteri kematian

pergi dari negeri ini

untuk kelak dapat melihatmu lagi

sebagai benar-benar negeriku

 

 

Pengkhianatan

 

Ah, nikmat pengkhianatan

Wahai dunia yang terserak di bawah langkahku

sebagai jurang dan tungku pembakaran

Wahai tubuh renta

Wahai dunia yang telah dan akan kukhianati lagi

Aku adalah orang yang tenggelam

hendak menebaskan pedangku pada gemericik air

Akulah tuhan:

tuhan yang akan memberkati tanah penuh dosa

 

Akulah pengkhianat

Kujual hidup ini

di jalan kejahatan

Akulah tuan pengkhianatan

 

 

Puisi-puisi ini diterjemahkan langsung dari bahasa Arab yang diambil dari kumpulan puisinya, Diwan Adonis.

Sumber : al-hakawati.net/arabic/Civilizations/diwanindex6a8.pdf 

 

Tentang Penerjemah:

Fazabinal Alim, Lahir di Sumenep, 2 Januari 1993. Penerjemah buku-buku bahasa Arab. Mahasiswa akhir Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di tengah kesibukannya menunaikan ibadah skripsi, ia juga mengasuh akun instagram @sastra.arab.

Adonis

Adonis

Adonis bernama asli Ali bin Ahmad bin Said Isbir. Ia lahir di desa Qassabin, Suriah, pada 1 Januari 1930 M. Penyair yang juga kritikus sastra ini termasuk pembaharu dalam kesusastraan Arab sekaligus pelopor puisi modern (Syi’r al-Hurr), yaitu puisi yang keluar dari pakem kerangka puisi klasik. Tidak sedikit penghargaan yang disematkan kepadanya, baik dalam sastra maupun pemikiran. Berulang kali namanya tercatat sebagai nominator peraih Penghargaan Nobel Sastra karena dipandang sebagai satu-satunya penyair Arab yang banyak berkontribusi dalam aspek pemikiran dan kritik sastra.
Adonis

Latest posts by Adonis (see all)