Puisi-Puisi Afrizal Malna; puisi dan krikil di tokyo

in Puisi by
Puisi-Puisi Afrizal Malna; puisi dan krikil di tokyo
Puisi-Puisi Afrizal Malna. Sumber gambar: pinterest.com

puisi dan krikil di tokyo

awalnya gue kenal puisi didefinisikan oleh sekolah, buku-buku, tulisan tangan, aturan bahasa, kabut di puncat gunung, cinta monyet. monyet. selanjutnya gue kenal puisi didefinisikan oleh mesin tik, kehabisan kertas ketik, kehabisan pita mesin tik, yang habis yang hilang, sampah, truk sampah, kebisingan kota, kontrol orde baru, banjir dan rumah bocor. bocor. kemudian gue kenal puisi yang mulai didefinisikan oleh TV, ac, pesawat terbang, ada aplikasi cancel dalam komputer, dunia internet yang gokil, kesunyian yang biasa, cinta gue yang indah, jilan untuk seluruh kesedihan gue, dan teman-teman yang gue sayangi, tapi juga bayangan kematian di hari tua gue. gue nggak mau bayangin ada alam lain setelah kematian. nggak nggak nggak. mungkin akhirnya puisi didefinisikan oleh kematian.

 

edisi politik di luar spiker
: setelah pidato ibu mega dan suara <yang> diam

 

di bandara yang menggunakan nama bapaknya

seorang pendiam  |  tak tersentuh  |  berdiri di depanku

anak perempuan pertama dari presiden pertama

sanggul dan bau jamu jawa

 

sebuah rumah  >  baru saja diciptakan dari sebuah pidato

rumah untuk semua bangsa

ditopang kaki-kaki bergegas — dengan makna baru

keberagaman: pantun menjelang ronggeng

suara noise radio tengah malam

 

apakah rakyat  |  apakah bangsa  |  apakah negara

pada mata-air yang diam setelah sedimentasi debu-debu

sayur-sayuran yang membuat toxin lindungi tubuhnya

apakah partai >> rumah sebelum sedimentasi suara-suara

batas antara kiri dan kanan

 

sebuah nama yang tumbuh dari pemberontakan kwang zu

gerakan turki muda, perang boer, lumernya monarki lewat

revolusi 1848  >>  amsterdam yang juga berubah

suaranya sampai juga di sini:

kediri, surabaya, medan, batavia melintasi krakatau

kota-kota dengan derit kereta api, kapal-kapal dagang

penyamaran makna dalam lalulintas politik

 

setelah noise sejarah, irisan pisau dalam arsip

spionase dan bayangan yudhistira dalam jaring laba-laba

>> yang memangsanya

wayang yang menyeret bayangan silau

aku mulai tumbuh sebagai seorang pendiam

di luar bahasa penuh laba-laba sianida

lalu kamus — langit kata-kata yang bolong

mulai asing setiap berpapasan dengan kata lalu

 

setelah usai pidato — keheningan dan partai di luar spiker

anak perempuan pertama dari presiden pertama  > dia

seorang presiden perempuan pertama

sebelum pause, jaringan digital di atas kesunyian arsip

dia hembuskan oksigen ke dalam mimpi-mimpi kami

suara gemuruh tepuk tangan partai: untuk keberagaman

seorang pendiam yang berdiri di lantai setelah makna

>> sebuah nama, ibu — yang membuatku tahu:

                                kenapa aku jadi pendiam, antara [R] dan [C]

dan partai yang dilumeri di lantai pertama keberagaman

ditopang bau kenanga yang tropis

 

apakah makna, ibu?

sebuah diam yang meninggalkan hiruk-pikuk

radio yang dilempar ke jaringan urat-syaraf

                apakah makna, ibu?

setelah kamus tak mengenali lagi kata lalu

kehilangan “apakah” pada urutan pertama alfabet A

dalam jaring laba-laba politik bahasa

500 tahun lalu bisa datang lagi di sini

seperti fosil dari teriakan-teriakan gelap

>> membusukkan keberagaman

 

cahaya matahari dan butir-butir gula jadi mengherankan

 

aku jadi pendiam di depan deklarasi bogor, desember 1964

aku jadi pendiam di depan penyelesaian politis 16 januari 1978

aku jadi pendiam di depan gambir berdarah

aku jadi pendiam di depan 27 juli 1996

kepada setiap pendiam setelah kata

 

apa yang harus kita tahu

setelah hujan menanam oksigen

dalam tubuh sehelai rumput

hembusan angin dan keringat laut

menatap >> keberagaman dalam deburnya

seperti lingkaran kulit bawang ke titik awalnya

yang pedas >> melawan jebakan laba-laba

 

edisi politik yang tidak bisa disobek dari semua

yang diam.

 

 

teknoteks: panembahan senopati

 

matahari tinggal sepertiga dalam blangkonku

sisa panas pada kepala kura-kura

aku datang dengan rambut palsu

lima konde dan buku tentang mataram

menatap makamku sendiri

empat abad langit yang lain

sunyi tambah tebal setiap darah basahi kerisku

setiap seseorang tumbang dari tanganku

kematian begitu takut mendengar sunyi kerisku

karena aku harus jadi raja jawa

karena jawa selalu jadi yang pertama, hujan panah dari luar

di tepi pekik kuda gagak rimang arya penangsang

letusan merapi yang mengusir pasukan pajang

setiap mata pejam, lintasan garis surjan emas

aku lihat keris ki bocar jatuh, nancap di lantai istana

tapi tak pernah bisa nembus tubuhku

setiap mata pejam, lintasan jarik emas

aku lihat pistol dan pisau cukur retno jumilah

menembus bantal tidurku

tapi tak pernah bisa nembus tubuhku

perempuan yang kini tidur sebagai permaisuriku

raja yang mewarisi derita dan kesunyian jawa

dari Jalan mondorakan, kemasan dan jalan karang lo

masih kudengar ratapan batu gilang

tempat terpisahnya kepala ki ageng mangir

pembayun, putriku, “apakah hatimu juga menyimpan keris?”

untukku, untuk cintamu, pembayun yang nelongso

ledakan bunga kemboja di kaki singgasanaku

betapa kematian takut mendengar sunyi kerisku

karena aku adalah air mata jawa yang tak pernah menangis

jalan berbelok antara kalijaga dan kanjeng ratu kidul

aku datang, nyekar ke makamku sendiri, empat abad

tanah yang lain

semua yang telah kulepas, yang tak bernyawa lagi

datang dan hidup lagi

aku kenakan rambut palsu

bau serat wedhatama di pasarean mataram

di desa kajenar, tempat kulepaskan nyawaku

aku peluk jawa – garis yang luruh dalam titiknya

melepaskan semua baju dan nama untukku

untuk kesunyian seorang jawa di luar mesjid.

 

teknoteks: Ajisaka

 

ha     na     ca    ra    ka

da    tha    sa    wa    la

pa   dha    ja   ya    n’ia

ma   ga   ba   tha   nga

 

dua pengawal mati

di depan gerbang bahasa

 

anonymox aurat

 

klik: anonymox

unduh >> add to firefox

instal

aplikasi sudah terpasang pada aurat kita

 

next

 

http://www.berangkat-ke-batas-sepi.com

tancap

doa-doa digital

 

<<->>

 

koyak

immaterial bahasa

 

tinggalkan makna

di luar batu nisanmu

Afrizal Malna

Afrizal Malna

penyair terkemuka Indonesia, karya-karyanya sudah meraih pelbagai penghargaan penting di antaranya Khatulistiwa Literary Award dan S.E.A. Write Award.
Afrizal Malna

Latest posts by Afrizal Malna (see all)

  • Fauziah Salsabila (salsaclaf17

    Sangat kreatif…