Puisi-Puisi Al-Fian Dippahatang; Sebab, Jarak dan Kepergian ialah Khianat

in Puisi by
3b736e53fa3a2014ecb57e22eafb64c0 (1)
pinterest.com

MANUSKRIP LAKU PERTAPA

 

Betapa aku gagal jadi laku pertapa

layaknya Santo Paulus demi menyepikan

cintaku yang ingin suci dari muaknya aku

dengan kegaduhan. Mengibadahkan beberapa ratapan

karena rinduku tak pernah cukup

dengan pertemuan, tanpa bertahan menantang malam

yang mudah mengajakku melangkah pamit

sebelum isyarat menggamit engkau pahami

muara bagi perindu.

 

Engkau pernah mendengar kisahku bukan?

Kapal karam yang dihantam tebal ombak

seperti kepal tanganku yang mudah terbuka,

merasa lemah menjagamu—rapuh tanpa

engkau menyebut dirimu tepi pantai

demi menjaga rebahku dari sisa-sisa

yang sia-sia merenangi lautan.

 

Ajarilah aku menjadi yang bukan

engkau mimpikan. Ajarilah aku menjadi

apapun, kecuali jangan engkau mengajariku

mengejar mimpi-mimpimu, agar aku

jadi pendongeng yang susah berhenti

sebelum lonceng berdenting.

 

Sejak menjadi perindu,

aku tak mahir menipumu dengan bisikan.

Sebab, yang kudalami dari seketika,

ranting kokoh juga bakal rapuh dibanting cuaca.

 

Serapuh-rapuhnya aku,

ingin engkau memilihku

tanpa menengok masa lalu

adalah memiliki dengan cara yang

tak mesti jadi pertapa.

 

 

MANUSKRIP BAHAYA MENGHIRUP UDARA

 

Tak kupasrahkan mataku menumpu ketiadaan

tanpa meneteskan airmata.

Sebab kutahu kehilangan selalu kejam

layaknya pembunuhan Yesus di kayu salib.

 

Tak kukehendaki sesal kutampung.

Tubuh ini tak kuat tanpa pelampung.

Kusadari akan ada yang tumbang

jika benar-benar dukacita yang paling lara menumpuk.

 

Engkau tetap bertahan,

kendati yang kuharapkan

bukan diinginkan perasaanku.

Engkau tak ingin aku berlari sejauh

sekencang-kencangnya pada apa yang masih engkau tempuh

dari beratnya aku menimbang masa lalumu.

 

Duka seorang yang tulus menjadi pecinta,

walau terkubur, kaki yang selalu kuat bertengger

di ranting kehidupan yang kebal diterpa musim.

Dan aku merasa, engkau tak pernah keberatan

memompa jantungku yang selalu bahaya

menghirup udara.

 


MANUSKRIP TUBUHMU DI TUBUHKU

 

Kehilanganmu, jatuh cinta

yang amat dalam, tapi perlahan tertutup

dengan perih yang coba aku sepakati.

Walau, banyak perihal yang sulit kuterima,

salah satunya, jejak kebersamaan yang kuharapkan aman,

tak lagi nyaman layaknya pelukan

yang pertama kali di darat tubuhmu di tubuhku.

 

Aku tak tahu bagaimana cara

melarangmu lagi, tapi sungguh aku sedikit lelah

walau, aku sadar bukan penakluk yang baik

layaknya Jenghis Khan yang menyatukan bangsa Mongolia.

Tak kupandang yang kuperbuat ini sia-sia belaka

kendati yang kuperoleh mungkin celaka

demi mengupayakan membuatmu jera.

Tak membiarkan tanganmu

digamit orang yang membuatku

mengenal tangis, sungguh tak bisa kutepis.

 

Tak ada ketulusan yang sungguh-sungguh mulus kutangkis

dari caramu membuang seluruh langkahku kedepan

—misal, berhati-hati menjaga kunci perasaanmu,

agar tak salah memasuki lubang

yang selama ini engkau percayai

letak tubuhmu di tubuhku.

 


SEBAB, JARAK DAN KEPERGIAN IALAH KHIANAT

 

You walked into my life to stop my tears.

Everything’s easy now I have you here.

—Diana Ross “When You Tell Me That You Love Me”

 

Engkau telah mengatakannya.

Walau, hati terluka.

Sebab, jarak dan kepergian ialah khianat.

 

Aku membuang ragu, tanpa canggung

membayangkan dagu ini

pernah dibuat runcing airmata

yang gagal tumpul.

 

Cintaku bersemayam, engkau tak tahu pendam.

Merawat rindu demi melawan

tekanan batin yang belum tuntas kukatakan.

 

“Aku hanya ingin melakukan berdasarkan hatiku

dan kepada orang yang tidak akan pergi,” katamu.

 

Sebelum engkau tersipu.

Engkau memukau lewat matamu

yang terbuka lebar seperti jendela pada pagi hari.

Aku mengundang jatuh cinta ini seumpama

rekaman lagu yang kuciptakan demi membuatmu tidur lebih cepat.

 

Engkau membuatku berani meregang nyali.

Sekalipun aku direnggut takut.

 


AKU INGIN SETERUSNYA MENCINTAIMU

DARIPADA MEMILIKIMU SELAMANYA

 

Kata-kataku tercabut dari lidah burung.

Merdu berkicau—di hatimu bergurau.

Tapi, tak kupahami,

ia merinding pilu atau mengulang luka.

 

Aku rela mengecil jadi apapun,

jika engkau menginginkannya.

Hanya engkau rahasia segala persembunyianku.

 

Secukupnya kuberi engkau tangis.

Tak lebih dari mencapaimu menjadi bulan bulat penuh.

Menebus yang sulit kujangkau di alam tidur matamu.

 

Ketika badai rindu datang menjerat jelang petang.

Di sudut keningmu, aku berpegangan sekuat-kuatnya.

Agar, kutahu tenaga dan ketenangan

macam apa yang mesti kuperbuat.

 

Engkau lubang jarum dan aku benang.

Saling tak berdaya percaya menyatu

menyulam kain hati yang belum jadi.

 

Gigil tanggal di tubuhmu,

sedang selimut tinggal di tubuhku.

Masih enggan saling berdekatan dan berdekapan

membunuh curiga.

 

Kata-katamu tertancap mengakari lidahku.

Kian tertambat tak tumbang menampung

tetes kecemasan.

 


JIKA SALING MEMBELAKANGI

 

Kita rekat, walau sempit dan sempat

adalah misteri yang bergemuruh beriringan pecah

di dada. Demi cinta datang mengakali pagi,

siapa sangka? Kita mengawali hari

dengan penjelasan-penjelasan

yang memalaskan ketakutan mengerjap pikiran.

Kemudian, kita meraut harapan yang larut

ke dalam laut jiwa—yang pada mata kita

diganggu gelap. Tapi, tak surut di kulit.

 

Angin berhembus malas melewati daun jendela dengan diam.

Kipas angin yang kaku dihinggapi debu.

Kita raup keringat yang ragu bersikeras terpaut

meleleh tanpa rasa bersalah panas yang berlebihan.

Atau teriakan yang punya alasan pada gabungan suara kita.

Betapa rebah, walau tak cukup kuat dikatakan lemah.

Menempuh detik demi detik yang leluasa

meluas di tubuh kita dengan menata jarak paling lekat.

 

Menekan perih yang menangis di pundak.

Perihal bahagia yang disesali tertancap menyantap.

Tertampung menumpu tubuh yang tak pandai

kenal pelampung dan merampung hal-hal kecil

yang meredam sesal jika  tak berhadapan.

Mungkin saling membelakangi punya daya.

Meski, waktu mengurang dan mengurung napas kita yang panjang.

 

Singkat yang penat telah hilang lebih dulu

sebelum kita melepas resah. Kadang-kadang rindu

kuat bersembunyi di balik ketakutan

dan dari segala rahasia yang percuma menegangkan.

Kita merawat rindu demi melawan masa lalu.

 

 


CARA MEMILIH KEBAHAGIAAN

 

1.

Aku tak akan pernah menyadap tanggapmu,

jika bahagia mengerang,

karena meregang rindu yang mengalah

dengan pertemuan.

Engkau rekat menatapku, dari kebeningan

yang kusiapkan di mataku, agar engkau

bisa bercermin kapan pun.

 

2.

Bahagia memiliki kedalaman yang kususuri

bukan hanya di hatimu.

Ingatanmu mesti tetap terarah pada jalanku

memilihmu sepenanggungan denganku.

Agar, hati menjaga hati

tetap berhati-hati menimbang hari-hari

yang menumpuk tantangan

di setangkup tangan yang sulit teraba.

 

3.

Sederhananya, kita mengalimatkan apapun.

Kebahagiaan selalu terbatas diindah-indahkan

jika diluapkan berlebihan atau hanya dipendam.

Sebab, lebih memilih menimbang-nimbang

kebersamaan yang penuh derita,

cara bahagia yang bisa dipahami pengajaran

menghilangkan kekurangajaran kita dalam menerka.

 

 


IBUKU SENANG MEMASAK

Buat: Sitti Nurhaedah

 

Cerita ini berlangsung ketika aku masih di tanah asal.

Perantauan adalah rindu pada ibu dan masakannya.

 

Ibuku senang memasak. Aku senang memakan masakannya.

Tak sekalipun kudengar keluhan atas keinginanku yang selalu berubah-ubah.

Selalu mengutarakan aba-aba berbagai keinginan menu makanan yang mesti kumakan.

 

Aku senang dimasakkan ibu beserta semua yang menyedot perhatianku

pada seorang yang entah dari mana datangnya kusebut kekasih.

Aku tak pernah menyatakan, sesuatu yang menyangkutkan hatinya bersamaku.

Hanya saja, bahasa yang tubuh kami utarakan sudah mewakili segala hal

yang dirasakan sampai pemahaman yang dibenci juga mengikut.

 

Aku senang menyebutnya kekasihku.

Soal ini, tak tahu, apakah ibuku senang mendengar,

bahwa aku sudah memiliki kekasih yang suka memakan apa saja.

Kecuali, hati dan segala yang membuatnya terluka.

 

Aku dan kekasihku pandai memaksudkan cerita,

terkait dengan ibuku yang senang memasak.

Aku beruntung, memiliki dua wanita.

Di tanah asal dan perantauan.

 

Dimiliki selalu memberitahuku

cara meminta masakan enak pada keduanya.

 

Cara yang hanya dibisikkan sekali saja,

selalu jatuh cinta pada masakan.

 

 


PUISI INI MENGAJARKANKU UNTUK BERTERUSTERANG SEKALIGUS MENJAWAB PERTANYAANMU, MENGAPA AKU MELAKUKAN HAL YANG BISA MEMBUATKU MALU NAMUN AKU YAKIN TAK AKAN PERNAH KETAHUAN SAAT MELAKUKANNYA

 

Aku jatuh cinta pada pekerjaanku saat ini

dan membuatku betah menjalani segalanya.

 

Perpustakaan dan toko buku yang sama-sama memiliki rak

dan memampang beragam jenis sampul buku.

Kulahap, kendati sesempit apapun peluangku

untuk mengambilnya.

 

Tentu, aku pun pemilih. Memilih buku yang jarang dibaca orang.

Jarang diperbincangkan oleh teman-temanku.

 

Dua saku lebar di celana gombrangku

telah melewati berbagai macam ketegangan.

Hingga, suatu waktu aku memberhentikan ia dari pekerjaannya.

Aku menggantinya yang baru, yang lebih mudah menyelesaikan masalah

dan lebih membuat ketakutanku sedikit menghilang.

Pemberian mantan kekasih yang masih kucintai

dan sebaliknya (konon ia kembali belajar menerimaku apa adanya).

 

Suatu waktu, pekerjaan ini tak sendiri kulakukan.

Aku mengajak teman untuk membuat ketegangan dalam hidupnya.

Alhasil, ia berkesimpulan, nuansa ketegangan mendapatkan seorang wanita

tak akan melebihi apa yang pernah ia kerjakaan selama ini bersamaku.

 

Bagaikan lalat, aku mencium bau-bau buku

lalu mencicip—cecap di kamarku  yang senyap.

Dengan buku, aku selalu memahami, bahwa di diri ini

ingin selalu jatuh cinta.

Al-Fian Dippahatang

Al-Fian Dippahatang

Lahir di Bulukumba. Kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin angkatan 2014. Sehari-hari belajar sastra di Komunitas Lego-Lego, Komunitas Lamaruddani, Malam Puisi Makassar, dan Pembatas Buku.
Tulisannya termuat dalam beberapa antologi: Ground Zero (2014), Kisaeng (2014), Jejak Sajak di Mahakam (2013), Kitab Cinta Kota Batik Dunia (2014), Negeri Laut: Dari Negeri Poci 6 (2015).
Al-Fian Dippahatang

Latest posts by Al-Fian Dippahatang (see all)