Puisi-Puisi Arafat Nur; Ramai Sekali Orang Mengajakku Berbincang

in Puisi by
cloudinary.com
Kata-Kata
Indah Menyihir

 

Kata-kata indah menyihir—itulah

yang kaupikirkan sejak kaulahir.

Sebagai takdir menjadi penyair

yang menikmati puisi-puisi basi

penulis lain. Kadang kau bingung

sendiri membedakan kata-kata yang

saling membentur, membaur mirip

ocehan orang gila. Lanturan orang gila

sekalipun punya makna. Sebab orang

sehat sedang sakit.

 

Kau ingin membuat puisi indah

dari kata-katamu yang terakhir. Tapi ajal

belum datang, hingga kau berpikir ulang.

Sejak kata pertama diciptakan, buah dan

bibir saling dipertemukan. Kitab suci masih

di angin, dan kekasihmu masih tulang,

mungkin juga air. Kau membaca baris

pertama di awan. Hujan menjatuhkannya

sebagai rintik. Kau terkikik.

 

Kata-kata indah menyihir akhirnya

kautemukan di Kamis malam akhir

tahun, saat kekasihmu mengucapkan

salam perpisahan. Air matamu jatuh satu-

satu, sebagai kata indah pertama puisimu

yang lahir kemudian. Setelahnya begitu

banyak kekasih yang terkapar. Bukan sebab

mabuk, melainkan lapar.

 

 

Orang-Orang Bergegas
dan Lainnya Menunggu

 

Orang-orang bergegas, sebagiannya

menunggu, dan aku ke kota untuk

membeli jam tangan baru.

 

Seperti kebelet hajat, di jalan, orang-

orang berkendaraan melaju kencang,

begitu tak sabar, saling mendahului,

memburu lesatan waktu yang menolak

untuk menunggu. Tapi mereka yang

lebih dulu tiba pun gagal menangkapnya.

Di genggaman tangan, mereka tidak

menemukan apa-apa.

 

Mereka yang nekat melesat tajam

memacu motornya gila-gilaan, langsung

mendarat di bulan—di bulan neraka.

Tanpa sempat mengucapkan selamat

tinggal pada kekasih cantiknya yang

menunggu di ujung jembatan surga.

 

Di tempat piknik, di tempat-tempat

hiburan, di kedai-kedai, dan di kafe-kafe,

waktu begitu banyak melimpah.

Terbuang serupa sampah.

 

Orang-orang duduk santai, mengobrol

seharian panjang-lebar tanpa pernah takut

kehabisan waktu. Waktu tak akan ada

habisnya, dan mereka akan hidup selama-

selamanya di dunia. Mereka tak percaya

ada kehidupan lain setelah mati.

 

Di kamar yang pengap aku tenggelam

sendirian, sibuk menulisi tentang waktu,

puisi, dan riwayat hidupku sendiri. Tanpa

terasa tiba-tiba usiaku telah tua.

 

Waktu begitu cepat bergerak di kamar kerja,

juga dalam diri. Di luar sana waktu belum

terlalu jauh beranjak, bahkan seperti tidak

bergerak. Semua masih berada di tempat

semula, di tempatNya.

 

Aku telah banyak kehabisan waktu,

terbuang sia-sia tanpa sempat memikirkan

diriku sendiri yang tak pernah bahagia,

tak pernah dimanja, dan tak sempat

menikmati kemewahan dunia, tidak ada

kesenangan, juga hiburan. Dan, aku tidak

pernah tahu tentang adanya keindahan

dunia selain dalam buku-buku yang

terabaikan di perpustakaan.

 

Kekasihku tidak tahan, tidak betah tinggal

lama bersamaku. Bahkan di awal bulan

pertama perkenalan dia sudah pergi.

 

Sekarang waktunya aku ke toko untuk

membeli jam tangan baru, karena yang

lama telah rusak. Aku membeli jam

banyak-banyak, berharap waktuku bisa

bertambah, menggantikan semua yang

telah hilang.

 

 

Ramai Sekali Orang
Mengajakku Berbincang

 

Akhir-akhir ini orang-orang sering

melihatku berbicara sendiri. Sama sekali

itu tidak benar. Aku tak pernah bercakap-

cakap seorang diri seperti orang gila.

 

Di dalam diriku ramai sekali orang yang

mengajakku berbincang macam-macam.

Mereka mengajukan berbagai pertanyaan

yang tidak semuanya kutemukan jawaban

sampai-sampai aku kerap melupakan

janji menemui kekasihku yang lama

menunggu di taman.

 

Dengan mereka aku membahas

banyak hal tentang hidup yang pada

akhirnya harus mati; kenapa keajaiban

hidup ini tidak menakjubkan lagi; kenapa

orang-orang enggan membaca novel, puisi,

dan buku-buku, seolah benda itu sangat

berbahaya dan bisa membunuh manusia.

 

Di dalam diriku, kami menelaah

soal agama, politik, sastra, dan tonggak

filsafat yang tersembunyi di balik celana.

Juga perihal benda sejarah yang tetap

kenyal mendekam dalam kutang.

 

Aku menulis puisi dari orang-orang

dalam diriku yang membisikkan kata

perkata ke telinga. Bila tak ada petunjuk,

sesekali aku memandang langit, berharap

awan dan hujan menjatuhkan ilham.

 

Ribuan puisi telah kumamah dari

berbagai buku para penyair hebat

dunia yang tak kuingat lagi namanya.

Mengingat nama-nama mereka membuat

pikiranku sakit.

 

Aku menulis puisi sebagai hiburan.

Bukan kerumitan yang membuat

pikiranmu tambah tegang.

 

 

Motormu Jatuh Cinta
pada Truk Kontainer

 

Setiap mahkluk hidup dan benda mati

punya kelamin, kata kekasihmu. Hewan,

tumbuhan, batu, bahkan besi sekalipun;

masing-masing berkelamin; laki-laki dan

perempuan. Mereka punya pasangan

sendiri-sendiri layaknya manusia. Mereka

kawin, punya anak, dan bahagia.

 

Motor yang kaupakai setiap hari untuk

bepergian memiliki pasangan. Ketika

kaukendarai, ia mencari-cari jodohnya

yang sedang berkeliaran. Matanya tak

henti berkeliaran, kadang menggoda motor

lain dengan tatapan atau lirikan nakalnya.

 

Kau tak tahu, motormu sedang sibuk

mencari-cari kekasihnya dengan rasa

yang telah lama mendamba. Seharusnya

kau paham kendaraan memiliki perasaan

halus dan dalam. Kadang mereka tak

mampu membendung luapan kebahagiaan

yang begitu besar untuk saling bertabrakan.

 

Tak jarang ada motor yang jatuh cinta

pada sedan, bus penumpang, atau truk

besar yang sedang melintas di jalan.

Saat bertemu jodohnya, kendaraan-

kendaran itu saling melaju kencang,

menyongsong kekasihnya untuk saling

berpelukan manja.

 

Sebagaimana manusia, mereka sering

pula terlibat cinta terlarang yang kadang

amat mencengangkan.

 

Begitu pula motormu yang terpikat

kejantanan truk kontainer raksasa,

membuat setangnya terlepas jauh dan

kedua pelaknya terlipat-lipat jadi angka

delapan saat mereka begitu menggebu

melesat tajam untuk saling berciuman;

begitu lekat dan menggairahkan.

 

Kau hanya sempat sadar sebentar

sebelum tubuhmu melambung tinggi

lalu terempas sangat kuat ke aspal,

dan akhirnya terkapar menggelapar-

gelepar dalam neraka.

 

Arafat Nur

Arafat Nur

adalah penulis puisi dan prosa. Novelnya Lampuki (Serambi, 2011) memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan meraih Khatulistiwa Literary Award 2011, kini sedang dalam upaya penerbitan edisi Inggris di Amerika. Sedangkan novel Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) telah terbit dalam edisi Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Novel terbarunya Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015).
Arafat Nur

Latest posts by Arafat Nur (see all)