Puisi-Puisi Ardy Kresna Crenata; Bercermin, 4

in Puisi by
mirror-madness_4ae193d9c7749_hires
playbuzz.com

Bercermin, 4

seseorang di dalam cermin bukanlah diriku

wajahnya tertutup malam yang kehilangan tangan

tubuhnya sebuah kecemasan

di antara lampu jalan yang menyala

dan mobil-mobil yang melintas

kau akan melihat sebuah hitam yang padam-balam pada matanya

—mengerkahmu dengan getah api

yang tercipta atau tersisa dari madah suci

kau akan bersyukur jika sebelum ini

kau telah mengisap darah pagi

atau sekadar membaui langkah-langkah lesi

yang membawamu tiba di sini

 

baiknya kuning yang kaukenakan itu kautanggalkan

dan putih yang mendekapmu lekat, bisikilah agar ia tak

membutakanmu terlampau lama

di hadapan cermin kita akan sosok-sosok

yang telanjang, yang balita dan telanjang, yang tak lagi peduli

dari mana firman menghujan

dan lindap ke mana tuhan menghilang

kita akan memejamkan mata, dan memeluk diri kita sendiri

aku akan menciummu jika engkau menggigil dan bibirmu membiru

seseorang di dalam cermin itu tak akan terganggu

sejak awal, ia memang hanya berharap

kita berdua saling merelakan

tatapan mata

dan bisu suara

 

seseorang di dalam cermin itu akan memanggilmu

tak perlu takut, justru relakanlah merahmu bertumpahan

dari tanganmu dari kakimu

dari lubang-lubang yang ditimpakan waktu kepadamu

penderitaan dan kita adalah dua sisi dalam kertas

terpisahkan namun dekat dan saling menghantui satu sama lain

jangan dulu menanyakan apalagi meminta kebahagiaan

jangan dulu, sebab kita masih sisa mani

yang amat fani dan tak murni

 

aku akan menuntunmu untuk merasai

cairnya duka dalam dagingmu

dan sampai lengking nyaring di tempat yang jauh itu terdengar

aku akan berpura-pura kekal di sampingmu

memastikan kau mengira kita dan sebuah cermin itu

juga seseorang di dalamnya itu

tidaklah pernah lebih samar dari apa pun

tidaklah lebih rapuh dari apa pun

tidaklah lebih bias dari apa pun

 

kita bercermin

dan kita tahu segala sesuatu

tak benar ada

 

pada akhirnya itu

 

 Cianjur, 5 September 2016

 

Satori

sembari mengangkat gelas kosong di hadapannya

ia terpukau pada matanya, matanya sendiri, yang melesak lekas

menuju piring

untuk kemudian kembali

kepada rongga yang mencintainya

 

ia putar-putar lemah gelas di tangannya itu

seperti tengah memecah-mecah doa, atau mungkin dosa,

yang konon menjalar-jalar di dalam dirinya

 

masa kanak-kanak mengerubungi rambutnya

juga telinganya, juga lehernya, juga punggungnya

dari atasnya seperti matahari sejurus sinar-tampak turun

layaknya wahyu

tegak di hadapannya dan memurnikan apa pun itu

yang barangkali ada di sana

tersisa di sana

di gelas itu

 

sedikit pun ia tak peduli

atau setidaknya terlihat seperti itu

pada alunan musik yang merambat masuk serupa gelombang

lewat celah pintu atau celah jendela

atau celah di dalam dirinya

di dalam jiwanya

 

sebuah pisau seumpama perjanjian

yang ditanggungkan

bukan kepadanya, tetapi kepada layar yang saat itu memerangkapnya

kepada ruang yang saat itu mengurungnya

sehingga kita yang sesungguhnya tak berada di sana

tak bersamanya dan sama sekali tak dikenalnya

bisa melihatnya

menyaksikan ia merelakan satu-satu

bagian dirinya terlepas

hingga hanya menyisakan sedikit saja

hingga ia di hadapan kita itu

tak lebih dari sebuah kontur yang terkhianati

yang terluka oleh warna-warna

dan dirinya sendiri

 

“pada akhirnya, merah itu akan menguasainya,” ujarnya

kita tak tahu apakah ia sedang bicara soal pisau itu, atau gelas itu,

atau mata itu

 

semua yang tadi tergambar itu masihlah ada

lalu seketika ia bangkit, meninggalkan bayangannya sendiri

yang membusuk seperti waktu

 

ia letakkan kembali gelas yang kosong itu

dan ia untuk kesekian kalinya terpukau, pada matanya

yang kali ini meloncat jauh dan meninggalkannya

dan melupakannya

 

“sebab yang kita miliki

seluruhnya adalah apa yang tak kita miliki,”

ujar biru

yang begitu saja muncul di sebuah sudut

lantas membesar, dan membesar

menjadikan yang tersaji itu sepenuhnya dirinya

sepenuhnya… adalah dirinya

 

dan kita menyadari

barangkali

sedari tadi kita ini hanyalah sehimpun mimpi

 

mimpi-mimpi purba

yang baru akan kalis sempurna

sesudah sirna

 

2016

 

Kildren

/1/

 

di antara kita berlima

entah siapa yang akan kembali lebih dulu

 

langit yang selalu sama

jendela yang seperti mereka

—terlampau besar

untuk tubuh kita yang belia

yang remaja

 

seseorang yang terbang

kelak menjadi seseorang yang hilang

kecuali jika ia seorang pemenang

 

di dalam pesawat

kita sesuatu

yang begitu tahu apa arti peluru

 

di luar itu

kita meraba-raba

bagaimana kita bisa tahu

dan mengenal waktu

hanya untuk mendapati

semua ini

pasti palsu

 

/2/

 

di antara kita berlima

entah siapa

yang akan melupakan kehidupan ini lebih dulu

 

ciuman-ciuman

pelukan-pelukan

 

malam yang kerap singgah

di sebuah rumah

 

sepasang kursi di sebuah meja

yang menyimpan perjumpaan-perjumpaan

di mulut mereka

 

kita adalah maut

yang tersamarkan lengang jalan

 

sewaktu-waktu hujan turun

dan ia tak menghapus apa pun

selain jejak

dan dirinya sendiri

 

apakah tidak ada air mata

di kawasan ini?

 

apakah asap rokok

tak merasuk dan melukai kita

seperti dosa?

 

seolah-olah aku selamanya berdiri

dan bersiap menghabisimu

 

di saat yang sama

seperti yang mungkin pernah terjadi

getir bibirmu melumatku

dan kita tak lain

sejumlah baling-baling

yang terus berputar

dan berputar

 

tak sekalipun

kita peduli pada mati

 

atau kita pernah seperti itu

namun kita melupakannya

 

/3/

 

di antara kita berlima

entah siapa

yang akan terlupakan lebih dulu

 

perjalanan bermobil

hujan yang seperti berupaya

melenyapkan

luka dan kekalahanmu

seekor naga yang meliuk-liuk dan mati

di punggung seseorang

dan di mataku

 

pada nyala api

kita embuskan putih sepi

 

gelap tak pernah ilusi

 

ia ada di hadapan kita

seperti kita selalu ada di hadapannya

 

tidak apa kau kembali menyentuhku

dengan tangan penuh masa lalu

 

tidak apa

bahkan jikapun yang tersisa

setelahnya hanya biru

 

atau abu

 

/4/

 

setelah ini

satu per satu dari kita

akan menempuh

jalan yang sama

 

setelah ini

satu per satu dari kita

akan menemukan hal-hal baru

pada jalan

yang kita tempuh itu

 

Bekasi, 12 Juli 2016

 

 

Ardy Kresna Crenata

Ardy Kresna Crenata

Tinggal di Bogor. Ia bergiat di Wahana Telisik Seni-Sastra dan Rumah Belajar.
Ardy Kresna Crenata

Latest posts by Ardy Kresna Crenata (see all)