Puisi-Puisi Dadang Ari Murtono; Kwatrin Pararaton

in Puisi by

 

kwatrin pararaton

 

tuhan, siapa pun engkau, bahkan bila bukan tuhan

dalam kisah panjang ini, restui hamba,

sempurnakan ini karangan

seperti hamba sempurnakan sujud, semampu hamba

kwatrin singasari

 

mulanya adalah berahi

brahma turun ke bumi

takdir membawa ken endog ke ladang ani-ani

dan sang batara berkata, “terimalah mani ini, air suci ini”

 

“tapi batara, aku bersuami,” perempuan itu berujar

“namanya gajahpara, dan ia lelaki baik,” tambahnya

“maka tinggalkan dia,” brahma membuka tubuhnya yang bersinar

“segala kehendakku mesti jadi, hamba, sebab aku dewa”

 

sembilan bulan ken endog menyimpan bara dalam rahim

panas, begitu panas, panas yang menghanguskan

gajahpara setelah menyumpah batara lalim

panas yang memaksa ken endog meninggalkannya di kuburan

 

agar bara itu, janin itu, jatuh ke tangan lembong

yang mengajarinya jalan hidup seorang pencuri

lalu ke sarang bango samparan, gembong

yang mengujarinya cara berjudi

 

sebelum ia, yang dinamai arok

tersesat di sagenggeng, tenggelam dalam kitab-kitab

yang memberinya kemampuan mengeluarkan kelelawar dari batok

kepala, dan memulai perampokan-perampokan paling biadab

 

sedang di langit, atau yang kita kira langit

dewa-dewa berembug tentang jawa yang goyah

“adakah satria yang wingit, satria piningit

untuk menguatkan pulau yang sebegitu lemah?”

 

maka brahma berkisah tentang sebuah hari di pangkur

“sebab aku tahu hari ini akan tiba, maka kutinggalkan benihku

di sana,” katanya, “berahiku berahi yang luhur,”

tambahnya, awan tampak kelabu

 

dan begitulah wahyu diturunkan

pada seorang brahmana dari jambudipa

“temui arok, si berandalan

di taloka”

 

di taloka, lohgawe, sang brahmana

keliru menyebut wisnu di sebuah rumah judi

“namaku arok, bukan wisnu, bapa,”

“tapi aku tak mungkin salah, aku orang suci”

 

ke tumapel kemudian mereka pergi

kepada tunggul ametung arok pura-pura mengabdi

dan ia dengar cerita tentang sang akuwu

yang suatu ketika mencuri putri seorang mpu

 

“namanya mpu purwa, seorang buddha mahayana

dan ia telah menjatuhkan kutuk

tiga jam setelah dedes, putri kinasihnya

dibawa lari sang akuwu yang berkelakuan seperti beruk

 

: semoga yang melarikan anakku

tak lanjut mengenyam kenikmatan

semoga keris merobek hatinya yang membatu

dan melarikan istrinya seperti yang telah ia lakukan

 

di taman boboji, suatu kali

sang putri, dedes namanya

turun dari kereta kencana

jariknya tersingkap, betisnya terbuka, dan arok jatuh pada berahi

 

“akan kupenuhi kutukan mpu purwa, bapa”

sumpah arok, sore itu, sepulangnya dari taman

lohgawe tahu, bisikan wahyu akan segera terlaksana

“ya arok, untuk itulah kau dilahirkan”

 

ke lulumbang arok beranjak

menempuh ribuan kilo jarak

“sebab ametung hanya akan mati oleh sebilah keris

dan gandring adalah penempa paling bengis”

 

“ini keris yang terlalu haus darah, arok,” kata gandring

arok tahu meski tidak diberitahu

sama seperti gandring tahu, dengan kuduk merinding,

ia akan mati di ujung keris itu

 

“mau apa lagi, takdir ada

untuk dijalani begitu saja

aku memang harus mati

agar bisa kujatuhkan kutuk, meski tak benar-benar aku ingini”

 

kutuk itu merentang begitu panjang

dari kebo ijo hingga apanji tohjaya

“tujuh kematian, arok yang malang

termasuk kau, putra brahma!”

 

tumapel, mungkin tak lebih dari meja judi

arok tahu kapan mesti melempar kartu

ia pandai menahan diri

dari pertaruhan (dan pertarungan) yang tak perlu

 

maka ia beri kebo ijo, si tukang pamer

keris dari lulumbang

“kau akan menunjukkan itu ke semua orang, ngger?”

“tentu saja, keris ini sangar dan garang”

 

malam itu, seekor kelelawar menyelinap

ke dalam keraton, menyaru dengan gelap

ametung damai dalam tidur

dan si kelelawar berbisik, “jangan lagi bangun dari tidur”

 

esok harinya orang-orang berkata

“akuwu mangkat, dan keris kebo ijo bersarang

di dada beliau yang mulia”

“tapi aku tak tahu apa-apa,” lirih kebo ijo sebelum nyawanya teregang

 

“ya, ngger, kau tak tahu apa-apa,

aku yang tahu segalanya, tapi kau harus mati

sebab akuwu mati

dan aku hendak jadi raja”

 

arok berbisik,

dalam kuasa dua kutukan,

sebuah nujum baik

dan kisah cinta yang menggetarkan

 

kisah cinta yang membawanya memasuki

dedes, memasuki keraton, memasuki

sejarah, memasuki kediri

sebelum singasari berdiri

 

sebelum dandang gendhis dari daha

memerintahkan penganut siwa dan buddha

menyembahnya sebagai batara,

sebab ia mampu duduk di ujung tombak yang mendongak ke langit sana

 

dan ia berlengan empat, dan ia bermata tiga

dan ia membuat lohgawe murka

“kirim balak ke daha, arok, kirim balak!”

dan arok menjadikan daha pesta makan para gagak

 

1144 saka

ketika daha sempurna tak ada

dan arok menjelma sri radjasa batara sang amurwabumi

dan tumapel jadi singasari

 

dan seorang anak yang kehilangan bapa

membalas dendam 24 tahun setelahnya

“namaku anusapati, putra ametung

dan aku membawa pati, membawa keris yang di lambungmu mesti bersarung”

 

di kagenengan, pada kamis pon minggu landep, dan matahari

surup, dedes ngungun bersama madunya

“umang, umang, aku mencium bau luka, bau duka,”

“bau dendam tak sudah, yunda, bau mati”

 

bau itu tinggal dalam keris yang sama

yang kini dibawa apanji tohjaya

dan di kidal, sewaktu anusapati dicandikan

ia berujar, “aku memang anak selir, kanda, tapi dendam tetap mesti dituntaskan”

 

di kidal itu pula, 1171 saka

samar-samar, dedes dan umang kembali meratap

“setelah ini apa, dinda?”

“mungkin anakmu, mahisa wonga teleng, yunda, yang giliran menyelinap

 

atau ranggawuni, putra anusapati

aku tak tahu lagi

aku tak tahu lagi

anakku dan anakmu, turunanku dan turunanmu, akan terus saling membunuhi”

 

mereka memang tak tahu lagi

dan kematian terus terjadi

juga pada mereka

sampai masa kertanegara

 

yang silau pada ambisi nusantara

mengirim pasukan ke pamalayu

ketika ia terlena dalam arak dan ilusi belaka

dan di kediri, jayakatwang menyiapkan upacara lelayu

 

untuk singasari

untuk warisan amurwabumi

dan seorang pujangga, kelak, akan menggubah sebuah kakawin

“dari sinilah sejarah agung majapahit dijalin”

 

kwatrin majapahit

 

sesungguhnya, ini lakonmu belaka, wiraraja

“aku tak tahu kenapa aku diusir,” ia berujar

“ia bukan sang hyang siwa-buddha, itu, si kertanegara,

ia hanya raja celaka,” tambahnya

 

maka ke kediri, ke daha,

ia berkirim surat, dendam membuatnya dahaga

dan jayakatwang, terlalu lama

merawat kesumat sejarah yang diwariskan leluhurnya

 

“tuanku, jika paduka hendak berburu ke padang lama

inilah waktu yang tepat untuk berangkat

tak ada bahaya, tak ada jerat

hanya seekor harimau tak bergigi, ompong dan tak berdaya”

 

raganata, harimau tua itu

tak mampu membendung banjir darah dari utara

sedang kertanegara tenggelam dalam arak bau

dan tak tahu sejarah akan mencatatnya dengan penuh nista

 

setelah perang usai

jayakatwang bertanya tentang siapa yang mati

siapa yang selamat, “dari singasari,

paduka, hanya wijaya dan sejumlah pengawalnya yang berhasil lari”

 

dan kebo mundarang bercerita tentang wijaya

: ia bertarung layaknya batara

ia memakai cawat dari kain ikat berwarna

merah, begitu juga pasukannya

 

kadang ia menyaru sebagai kegelapan

kadang ia menyilaukan bagai sinar mentari

namun sora telah melihat dewa kematian menari-nari

di atas kepala pasukan

 

jumlah mereka terlampau sedikit, paduka

dan begitulah mereka memutuskan pergi

setelah menyelamatkan satu dari dua istri

wijaya yang kita sita”

 

ke sumenep, ke sarang wiraraja

wijaya meminta perlindungan

“kenapa harus ke sini, nak mas, kenapa?”

“sebab begitulah kehendak dewa, paman”

 

dan wijaya berkisah tentang pelariannya

: kutinggalkan gajah pagon di pandakan

sebab tombak melubangi pahanya

tapi telah kubekali ia sebutir kelapa yang menyimpan keajaiban

 

: tiap dibelah, beras tak habis-habislah yang ada”

dan sora menyahut, “benar-benarlah batara, raden ini, paman”

“duh, sora,” wijaya berkata, “jangan berlebihan

tanpa kau, tak tahu lagi aku apa jadinya

 

tak tahu aku membalas budimu

bahkan kau relakan tubuhmu sebagai alas

aku duduk, istriku duduk, ya sora, hambaku

satria yang sekuat padas”

 

di sumenep, wiraraja yang penuh misteri

mengurai strategi

“pergilah ke kediri, raden, menghambalah pada jayakatwang

dan mintalah hutan tarik, di sana, kelak, kita siapkan gelar perang”

 

wijaya tiba di kediri ketika galungan dirayakan

dan jayakatwang yang terlena oleh kemenangan

menggelar sayembara olah keprajuritan

antara senopatinya dengan wijaya beserta kaum pelarian

 

kebo mundarang menghadang sora

panglet menyerang lawe yang cekatan

dan nambi bermuka-muka dengan mahisa

“lihatlah para pengawal raden mengalahkan mereka,” wiraraja berujar pelan

 

“namun jayakatwang tak akan menyadarinya

tak akan, selama raden tak jenuh menjilatnya

hanya sementara, hanya sementara

sampai hutan tarik jatuh ke tangan paduka”

 

di tarik, berbulan-bulan kemudian

seorang prajurit, mungkin dari madura

terjebak haus dan lapar dan sebutir buah hijau berkilatan

“pahit sekali ini buah,” teriaknya, dan seorang menyahut, “itu buah maja”

 

di sumenep, wiraraja menulis muslihat

: aku kenal raja tatar, dan ia gampang terjerat

putri cantik, maka biar kukabarkan padanya

di jawa, hidup dua putri yang berasal dari surga

 

dan ia boleh mengambil mereka

hanya bila tatar bersedia menyerang daha dari utara

dan kita, majapahit dan madura

akan menyerbu dari timur sana

 

maka begitulah yang terjadi

sora mengirim panglet kepada mati

nambi mengirim mahisa kepada mati

dan lawe mengirim kebo mundarang kepada mati

 

dan serdadu tatar mengirim jayakatwang kepada penjara

dan wijaya mengirim dirinya sendiri ke dalam istana

demi istri yang dulu gagal ia selamatkan

yang ia tinggalkan sebagai putri pampasan

 

di majapahit, wiraraja menyusun siasat sangar

: tentang bagaimana semestinya laskar tartar

menjemput dua putri di wilwatikta

“katakan pada mereka untuk tidak membawa senjata

 

sebab putri-putri itu gentar dengan senjata”

orang-orang tatar itu tak tahu

sora yang perkasa telah menunggu di balik pintu bayangkara

dan di luar, lawe siap berburu hingga pelabuhan canggu

 

1216 saka

rasa rupa dua bulan

wijaya menjelma sri kertaradjasa

namun singgasananya tak pernah benar-benar aman

 

tahun kuda bumi sayap orang

seseorang tanpa sejarah

menyelundupkan namanya dalam kitab terang

“aku datang memberi ujian, agar cerita kejayaan semakin sah”

 

namanya mahapati

dan kepada ranggalawe ia susupkan niat pemberontakan yang kecut

ia sitir kitab partayadnya, di mana ranggalawe pernah bersaksi

“jangan banyak bicara, tak ada tempat bagi para pengecut”

 

dan pada tahun itu pula, setelah lawe ketemu pati

wiraraja pergi ke lumajang dan bersedih hati

sora menjadi demung

dan mahapati mengiriminya aji linglung

 

aji linglung yang pada tahun baba tangan orang

menjadikan sora bagian dari kaum pembangkang

dan mengundang bala perang

dan menenggelamkan sora dalam darah yang menggenang

 

16 tahun dari penobatannya

sri kertarajasa mangkat

mahapati tetap ada

kalagemet naik tahta dan ia buta pada jerat

 

dan mahapati terus bekerja

meludahkan bisa pada nambi, membikin wiraraja

mati dalam murung, menumpas gajah biru, juru demung, pelenyapan orang mandana,

pembunuhan patih pengasuh, tumenggung jaran lejong, dan sekian satria

 

dari masa awal majapahit

juga tujuh orang darmaputra raja,

para petarung sengit

: ra kuti, ra wedeng, ra yuyu, ra tanca, ra banyak, ra semi, ra pangsa

 

semi yang mati di bawah pohon kapuk

tahun ular menggigit bulan

kuti yang mampu mengusir jayanegara ke bedander yang sumuk

sebelum gajahmada tiba, memulai sejarahnya, atau mitosnya, atau sekadar rerasan

 

dan mahapati tiba-tiba tak ada

dan kalagemet kembali sebagai jayanegara

yang berahi pada semua yang beryoni

juga adiknya, juga istri para abdi

 

mada tahu, meski tak ada wahyu jatuh padanya

bila seorang raja dengan lingga tegak melulu

tak layak terlalu lama bertahta

“jayanegara harus segera jadi masa lalu,”

 

maka ia datangi tanca, satu dari tujuh ra

yang tersisa, dan berbisik,

“prabu celaka itu mendatangi istrimu, setiap kau tak ada

pantatnya kini bengkak karena bisul, dan kau tabib paling cerdik

 

kau tahu apa yang mesti kau lakukan”

dan hari itu, di kamar sang raja

dengan pintu tertutup, tanca menuntaskan

dendam, di luar mada berjaga

 

“maafkan aku, tanca,” mada berkata

tiga menit setelah jayanegara jadi mendiang

“ini demi negara, demi negara,”

di dada tanca, mada membuat sebuah liang

 

pada tahun sunyi keinginan sayap bumi

sri ratu di kahuripan, istri cakradara, jadi

perempuan penguasa pertama di majapahit

wajahnya bercahaya, auranya begitu wingit

 

tiga tahun kemudian, arya tadah, si patih tabah

yang telah beranjak renta, yang pandai membaca tanda-tanda

berujar kepada mada, “kaulah mada, hanya kaulah

yang mesti menggantikanku menjadi patih, itulah kehendak dewa”

 

“eyang, siapalah hamba sehingga mesti menanggung beban

sebegitu berat, sedang menjadi mangkubumi saja hamba belum,”

mada berkata, sesungguhnya ia berpura-pura, seperti yang sering ia lakukan

“sadeng sedang menghimpun kekuatan, bikin mereka alum

 

mada, maka tak satu pun akan sanggup meragukanmu”

namun selagi mada mengatur gelar perang,

ra kembar telah berangkat lebih dulu

“aku lebih tahu teknik mengepung,”

 

dan mada yang murka menghadiahinya bilur

bilur cambukan, sebelum sadeng tumpas

dan ra kembar kembali sebagai menteri araman, matanya lamur,

mada pulang dan menjadi mangkubumi dan ia belajar berkata keras

 

sekeras kepalan tangannya sewaktu di wilwatikta

ra kembar bersama jabung terewes dan ra banyak dan lembu peteng

meracau tentang betapa lemahnya mada yang konon perkasa

“kuenyahkan mereka, eyang tadah, kukirim ke semesta peteng”

 

mada berujar

arya tadah tersenyum dengan bibir bergetar

“kitab-kitab akan ditulis untukmu, mada,

untukmu belaka, meski kau tidak akan pernah menjadi raja”

 

tiga petir bersahutan

seekor jago cerdik dilahirkan

(kelak kita memanggilnya hayam wuruk, atau raden tetep, atau batara prabu,

atau pager atimun, atau gagak ketawang, atau mpu janeswara, atau tritaraju

 

atau, setelah ia bermahkota,

sri baginda sang hyang wekasing sukma

atau ketika dinobatkan para tetua,

si rajasanagara)

 

sewaktu mada bersumpah di makam panggung

sira gajah mada patih amangkubhumi tan ayun

amukti palapa, sira gajah mada: lamun huwus kalah nusantara

isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, tanjung pura

 

ring haru, ring pahang, dompo, ring bali

sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa

dan begitulah ekspedisi dan penakhlukan dimulai

kapal-kapal bergerak ke pulau-pulau, menciptakan desawarnana

 

tapi sunda adalah apa yang tak tertembus

gelar perang, tak tumbang oleh pengepungan

dan mada tahu, yang tak mempan dikerasi, baiknya dielus

dengan halus, “pernikahan, batara prabu, pernikahan”

 

kabar itu memang telah lama sampai

tentang putri sunda dengan kecantikan ilahi

dan ke sanalah mada pergi membawa lamaran

“hayam wuruk yang agung belum berpermaisuri, dan beliau ingin bersandingan

 

dengan paduka putri,”

memang layaklah, memang layaklah,

dan lamaran itu tak tertampik, segala puji

diluncurkan, mengiringi sang putri, madah-madah diunggah

 

dan rombongan itu tak tahu

di bubat, dewa kematian telah menunggu,

tiga ribu gagak mencium bau darah

dan mada berujar, “putri itu tanda takluk, tanda sunda menyerah”

 

itulah saat larang arung, tuan sohan, tuan gempong,

orang-orang tobong barang, rangga cahot, tuan usus, orang panghulu, dan panji melong

meradang bersama baginda mereka, raja sunda

“kami kerajaan merdeka, dan kami selamanya kerajaan merdeka!”

 

dan mada, beserta arya sentong, patih gowi, patih margalewih

patih teteg, dan jaran baya, menyambut mereka dengan pedang haus getih

1279 saka, tahun sembilan kuda sayap bumi

sang putri dari sunda belapati, jauh dari negeri sendiri

 

“kenapa mada?” raja lajang itu bertanya

dengan paras pasi dan bibir getir

“padahal aku telanjur mencintainya,”

“jangan terlalu sentimental, paduka, cinta macam itu terlalu sumir,

 

akan selalu ada putri untukmu, untuk jadi permaisuri,”

lanjut mada, dan putri itu berasal dari benih prameswara

“namanya paduka sori, paduka, paduka sori

dan ia tampak seperti bidadari dari nirwana”

 

setelahnya, catatan hanya berisi nama-nama

seorang pangeran atau raden lahir tahun ini

seorang pangeran atau raden mati tahun ini

seseorang menjadi raja dan pengantin dan berputra

 

dan mengambil sebuah nama dari leluhur

“agar kelak ia seperti itu, agung dan luhur,”

selanjutnya, seusai srada agung 1284 saka

dan mada mangkat 1290 saka

 

dan majapahit memerlukan tiga tahun untuk

menemukan pengganti sang patih dalam wujud gajah enggon,

dewa kematian tiba seolah petani dalam musim panen yang tidak buruk,

ia lepas gendewanya, dan ia bernyanyi seperti bocah angon

 

seri ratu di daha mangkat, seri ratu di kahuripan wafat

1307 saka, pada minggu madasia, gunung meletus, gunung entah yang mana

sebelum baginda di tumapel mangkat, baginda prameswara mangkat

pada tahun langit rupa menggigit bulan, lalu seri ratu di matahun, di pajang, juga

 

paduka sori, baginda paguhan, dan 1311 saka

tahun bumi rupa ayah itu, menyusul hyang wekasing tiada

dan hyang wisesa naik tahta, gunung kembali membawa prahara

dan gajah enggon pindah ke alam baka

 

dan hyang wekasing suka (mungkin ia hyang yang berbeda)

pada 1321 saka, setahun setelah kepergian gajah enggon, mangkat

dan dicandikan di tanjung, dan hyang wisesa menjadi pendeta

tahun mata sayap api bulan yang gawat

 

dan naiklah sri ratu batara istri ke tampuk kuasa

dan arak-arakan kematian terus menyala

: sang ratu di kahuripan, sang ratu di lasem, baginda di pandan salas

lalu hyang wisesa (benarkah ia yang telah menjelma pendeta cergas?)

 

bersengketa dengan wirabumi,

saling diam mendiamkan, hingga ajal menjemput

setelah sebelumnya, perang antara mereka terjadi,

dan raden gajah, sang narapati, merenggut

 

kepala wirabumi di pinggir kali

tahun ular sifat menggigit bulan

kemudian gunung meletus kembali

dan sri ratu daha wafat, sri ratu matahun, juga sri ratu mataraman

 

dan wabah kekurangan makan menjangkit

1348, ketika seekor ular menggigit orang

maut terus menguntit

sang ratu prabu istri, 1351, jadi mendiang

 

lalu tuan kanaka, sri ratu di lasem, baginda

di pandan salas lagi,

pembunuhan raden gajah, yang mulia sri daha

naik tahta dan memegang kendali

 

yang segera digantikan baginda tumapel

di mana baginda di paguhan melakukan pelenyapan

orang-orang tidur galating, dan musibah menempel

: gempa bumi dan lebih banyak lagi kematian

 

begitulah terus menerus, hingga rajasawardhana wafat

dan tak ada raja selama tiga tahun, tiga tahun yang singun

dimulai tahun  1375 saka, tak ada mufakat

hingga baginda di wengker datang dengan segala yang agung dan anggun

 

ia bergelar sang hyang purwa wisesa

dan akan wafat pada 1388 saka

baginda pandan alas, yang telah jadi raja

di tumapel, naik tahta hanya untuk mengerti betapa

 

sengitnya sengat kuasa

dua tahun bertahta

1400 saka,

zaman sunyi dan orang tak ada

 

sebuah gunung kembali berjumawa

lalu segalanya seperti tak pernah ada

tak pernah hadir

dan begitulah kitab sampai pada akhir

***

inilah kitab omong kosong tentang para datu, para raja,

aslinya ditulis 1535 saka, selesai pada sabtu pahing

minggu warigdayan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua,

dan tahun 2016 hingga 2017 masehi, seorang asing

 

menggubahnya dalam kwatrin-kwatrin,

menambah ini membuang itu sedang tahun-tahun dibiarkan kacau

sejarah dan cerita, fakta dan dusta saling berpilin

sebelum tuntas ini tulisan, ia berpesan, “ini sekadar derau”

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)