Puisi-Puisi Deddy Arsya; Nukilan dari Kitab Raja-Raja

in Puisi by
alexcompgraph.files.wordpress.com

Dari Naskah Tuanku Imam

Ada sebuah bukit emas di balik Tajadi, bukan Manggani, dan tak seorang pun tahu itu. Bahkan kafir-kafir pucat itu. Tapi mereka mungkin telah mencatat diam-diam ketika kita berbisik. Mereka telah kencing di mihrab. Sering kulihat—mengintip gadis-gadis kita mandi. Sebentar lagi, istri-istrimu yang akan mereka kangkangi.

Maka kumintakan kirimkan kawat ini

—dengan kuda yang paling cepat!

Mungkin kita harus kembali mendarahi mihrab.

Revolusi tak akan pernah tak ada lagi. Seperti sungai ini, yang berkala meluap, dia akan membawa apa saja. Kerbau-kerbau kita, sawah dan ladang, juga dangau dan kincir air.

Kini asah kelewang, kataku, asah!

 

  

Basa Bandaro di Pasar Mudik

Sasaran-sasaran silat, dan pendekar-pendekar yang di udara berkelabat.

Tapi ketika tentara-tentara itu tiba, tak ada langkah yang tak patah,

bahkan jurus paling tua bagai hanya cerlang suasa. Baik aku peragakan kini di depan reporter tv

cara membunuh yang orang tak mati,

cara mencuri yang tak apa pun hilang.

 

Toh darimu sekarang tersisa hanya pepatah. Usang.

 

Kita akan menyerang benteng—seperti dahulu kala,

dari sisi terlemah, dari arah yang mereka lengah-guyah.

 

Tapi senja raya telah tiba, kita akan roboh bersama robohnya kala.

 

Tapi waktu tak roboh-roboh.

 

Walau terbuat dari jaring lawa, kita bisa juga dijeratnya. Betapa rentan engkau terhadap masa. Jurus-jurus lupa di awal, dan baru kau ingat ketika kelahi bubar. Itu sebabnya tiap berperang kita selalu kalah. Khianat membuncah.

 

Kau lempar lencana. Katamu, tanda pangkat ini apalah arti,

 

tertelungkup kita sama makan tanah.

Tertelentang sama makan angin.

 

Lalu bersorak kami yang pandir ini.

 

Kita lemparkan mereka jadi mangsa ikan hiu ke amuk samudera.

Sebab di sini berserak sasaran-sasaran silat, dan pendekar-pendekar yang di udara berkelebat. Tapi ketika tentara-tentara itu tiba ….

 

Pepatah itu juga yang tersisa.

 

Mungkin memang kau hanya bisa menang berkata-kata.

 

 

 

Versi Lain Basoeki

Aku setiap hari lewat di sini,

dalam lukisan mooi indie.

 

Di pinggir sungai kecil, ada mata bajak

dan—sedang merapikan bulu—setengah lusin itik serati.

 

Ibuku dulu petani, katamu.

 

Aku setiap hari lewat di sini,

dalam lukisan mooi indie

lewat saja saban petang & pagi.

 

Sambil berangan-angan punya sepetak ladang.

 

Sebab aku telah jadi urban pada pikiran.

 

 

Nukilan dari Kitab Raja-Raja

Di mana kamu ketika mereka memanjati dinding kota? Dengan pirang jumbai jembutnya, dengan kelabu-hijau mata pucatnya, diterornya bentengku dengan insomnia.

 

Aku bersembunyi dalam kitab-kitab tulisan tangan para fuqaha, dalam hikayat-hikayat stensilan para mistikus istana. Aku ke sini bersama kapal-kapal ini, kapal-kapal dengan layar koyak oleh keras garam, dinding somplak oleh ombak nikam.

 

Tapi tak seorang pun pernah melihat seorang kelasi pun turun dari situ.

 

Dan mengikuti angin berpusar, telah kembali aku ke sini, mengulurkan jangkar dan gemerincing tali-temali lewat lubang pada sulur meriam, lewat celah pada kancing yang lepas di kedua dadamu.

 

Huh, apa yang kaubawa dari pelayaran yang begitu lama? Tak ada apa-apa tampaknya, badan buruk sehelai ini juga? Sobekan nasib, atau kepingan firman dari sebuah jazirah yang tua?

 

Jangan terlalu banyak bertanya. Aku membawa kebenaran yang nyata.

 

Senyata ujung tombak berkarat ini yang bisa menembus tujuh lapis dadaku yang semenjana. Tapi kain kebenaranku—tujuh lapis baju perang yang tak akan koyak oleh tujuh garis mata pedangmu

 

—matamu bilah sembilu, lebih takut aku pada itu!

 

Kebenaran punya wajah yang tak sama di tiap tempat, kawanku.

 

Jangan panggil aku dengan sebutan itu.

 

Cintamu juga punya muka yang tak serupa.

 

Jangan banyak bicara, sultan sedang bersanggama dengan selir terakhirnya. Pangeran terakhir telah pergi berburu rusa bersama tiga kuda sebelum katapel raksasaku melontarkan batu ke bilik penyimpanan harta.

 

Titah telah diwakilkan pada bendahara. Apa kamu akan menunggu musim Barat reda, sayangku? Aku akan beri kau sebuah rumah kecil di tubir kuala. Aku dan sultan sering minum kahwa di situ.

 

Aku tak butuh apa-apa lagi kini, dalam diriku telah mengalir darah resi—kapalku membawa selusin sufi dan turbus merah karmizi. Aku telah memasang perangkap untuk kota ini, seribu meriam api dari asmara yang tak jadi.

 

Kau terlalu cepat tua oleh huru-hara.

 

Barangkali setelah ini tak akan ada waktu lagi untuk siasat atau kudeta.

Deddy Arsya

Deddy Arsya

Tinggal di Sumatera Barat. Buku puisinya berjudul Odong-Odong Fort de Kock (2013).
Deddy Arsya

Latest posts by Deddy Arsya (see all)